
Rendy memang harus ambil alih atas apa yang terjadi karena istrinya yang emosian dan bertengkar dengan kakaknya.
" Rania, sudah sekarang kita pulang," ajak Rendy dengan lembut.
" Tuh, dengarin suami kamu. Sudah nikah, masih aja tidak berubah, kerjanya bikin ulah aja," sahut Willo langsung menyambar.
" Diam ya kakak, kakak yang bikin ulah dan tidak tau diri. Kakak menjual mobil ku tanpa izin. Itu mobil kesayanganku. Bukan masalah harganya. Tapi perjuangan membelinya. Saat aku memilih karir. Itu mempunyai sejarah dan kakak seenaknya menjualnya," teriak Rania menunjuk-nunjuk Willo dengan kemarahannya.
" Lebay, nggak usah berlebihan," sahut Willo yang sangat santai menghadapi Rania. Sudah bersalah. Tetapi seakan-akan tidak mengakui kesalahannya. Bagaimana Rania tidak semakin kesal. Sampai Rania geleng-geleng dengan tersenyum penuh kekesalan.
" Kakak bilang lebay. Kakak memang tidak akan tau apa yang aku rasakan. Kakak hanya mengatakan seenaknya saja. Karena kakak tidak tau apa itu uang. Kakak hanya menikmati dan tidak tau bagaimana cara bekerja. Makanya kakak bicara seenaknya. Kakak bicara segampang itu. Karena kakak tidak tau diri, tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak menggerakkan tangan kakak itu untuk bekerja," teriak Rania yang membuat Willo geram.
" Tutup mulut kamu ya," teriak Willo.
" Kenapa marah? itu adalah kenyataan. Kakak harus menjual mobil orang lain hanya untuk mengisi kantung yang sudah kosong itu. Kerja supaya bisa menghargai hal sekecilpun!" geram Rania.
" Rania, cukup!" bentak Rudi. Sementara Faridah sudah semakin panik.
" Papa mau belain dia lagi. Papa sudah tau jika dia telah menjual mobilku dan papa masih membelanya. Seharusnya papa yang menanggung hidup pemalas seperti dia. Papa yang harus membiayainya. Supaya jangan menjual milik orang sembarangan," teriak Raina membuat Rudi mengepal tangannya.
" Rania cukup, sebaiknya kamu pergi dari sini," sahut Rudi.
" Apah papa mau mengusir Rania. Papa mau mengusir si pemilik rumah. Bukan aku tapi wanita ini yang benar-benar akan aku tendang. Supaya dia dan suaminya pemalas itu bisa bekerja dan tidak hanya bisanya berfoya-foya," teriak Rania. Willo naik pitam.
" Kurang ajar kamu!" teriak Willo yang mengangkat tangannya untuk memukul Rania. Tetapi Rendy langsung sigap dan memegang tangan yang ingin memukul istrinya.
Rania sudah memejamkan matanya. Namun membuka perlahan dan melihat Rendy yang memegang tangan Willo yang masih ingin memukulnya.
" Jangan menyentuhnya," ucap Rendy dengan tatapan dinginnya pada Willo dan Willo melotot saat Rendy berani bicara padanya.
" Lepaskan tangan ku!" protes Willo yang langsung melepaskan sendiri tangannya dari Rendy.
" Nggak usah ikut campur kamu. Ini urusan ku dengan dia," ucap Willo.
" Aku jelas ikut campur, dia istriku," sahut Rendy Rania yang masih menelan salavinanya mendengarnya seakan jantungnya berdebar dengan kata-kata itu.
" Dia adalah tanggung jawabku. Dan aku sebagai suami tidak mungkin membiarkannya di pukul di depanku. Setelah pak Rudi aku yang bertanggung jawab atas dirinya. Jadi jangan coba-coba memukulnya di depanku," ucap Rendy menegaskan pada Willo yang membuat Willo naik pitam mendengar kata-kata Rendy.
Bahkan perkataan Rendy merupakan sindiran untuk Rudi yang tidak bertanggung jawab dengan Rania. Bahkan sebagai ayah Rudi hanya diam saat Rania di tampar di depannya padahal jelas Rania tidak bersalah.
" Jadi aku tegaskan kepadamu sekali lagi, untuk tidak main tangan," ucap Rendy menegaskan lagi.
" Kau mau mengajariku. Kau pikir kau siapa. Tidak usah mengajari ku," bentak Willo. Rendy menarik napasnya panjang dan menghadap Rania. Rendy memegang lengan Rania.
" Ayo kita pulang. Ini sudah malam," ucap Rendy dengan pelan. Rania mengangguk yang menurut saja.
Sebelum pulang Rendy mencium punggung tangan Faridah.
" Kami pulang dulu," ucap Rendy pamit.
" Kalian hati-hati," sahut Faridah. Rendy melanjutkan mencium tangan Rudi dan dia langsung membawa istrinya pergi dari rumah itu.
" Argggghhh," teriak Willo mengacak rambutnya frustasi yang merasa di permalukan.
" Willo kamu, kembalikan mobil Rania secepatnya," tegas Farida.
" Mama apa-apaan sih," sahut Willo.
" Sudah jangan banyak protes lagi. Dengarkan kata-kata mama," sahut Faridah yang langsung pergi dan Rudi mengusap wajahnya beberapa kali juga langsung pergi.
" Tidak aku tidak akan mengembalikannya. Enak saja. Uangnya juga sudah habis," ucap Willo.
**********
Rania dan Rendy sudah pulang ke rumah mereka dan mereka sudah di dalam kamar. Rania pasti masih sangat marah dengan mobil kesayangannya yang telah di jual Willo. Itu mobil pertamanya yang di belinya saat memulai karir dan sangat bersusah payah membeli mobil itu.
Rania duduk di pinggir ranjang dengan beberapa kali menyibakkan rambutnya kebelakang dengan napasnya yang tidak stabil.
Rendy berdiri di depan Rania dan memberikan Rania segelas air putih.
" Minumlah!" ucap Rendy. Rania mengangkat kepalanya dan langsung mengambilnya.
" Terima kasih," sahut Rania. Rendy menganggukkan kepalanya.
" Kamu sebaiknya istirahat tenangkan pikiran kamu. Tidak ada gunanya marah-marah," ucap Rania menegaskan.
__ADS_1
" Hmmm, iya," jawab Rania dengan suara lemasnya lalu langsung meneguk air itu sampai habis.
Rendy pun mengambil bantal yang mungkin ingin tidur. Namun Rania menghentikan dengan memegang tangan Rendy yang menghentikan langkah Rendy dan Rendy melihat ke arahnya.
" Aku rasa tidak ada salahnya kamu tidur di sini," ucap Rania membuat Rendy menatap heran.
" Kamu ingin aku tidur di sampingmu?" tanya Rendy. Rania mengangguk pelan.
" Tidak mungkin kamu selamanya tidur di sana. Aku yang tamu di kamarmu. Jadi tidak seharusnya kamu tidur di sana. Kamu tidurlah di sini," ucap Rania.
" Kamu yakin aku tidur di sini?" tanya Rendy memastikan. Nayra mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Tapi..." ucap Rania tampak ragu.
" Tapi apa?" tanya Rendy.
" Walau kamu tidur di sini, kamu tidak akan berbuat apa-apa kan?" tanya Rania pelan. Mungkin dia memang belum siap untuk hal itu. Rendy hanya tersenyum tipis.
" Aku tidak tau," jawab Rendy Santai yang membuat Nayra panik
" Kenapa tidak tau apa. Apa kamu ada rencana untuk melakukan itu?" tanya Rania dengan wajah paniknya. Mengundang tawa kecil untuk Rendy.
" Sudahlah, kamu istirahatlah, aku sudah mengatakan aku tidak melakukan apa-apa, jika kamu tidak siap," sahut Rendy yang langsung pergi dan beralih ke tempat tidur. Sementara Rania masih diam di tempatnya dengan wajahnya yang tampak gelisah.
" Apa maksudnya apa menurutnya aku dia menungguku untuk siap. Lalu sampai kapan apa itu artinya aku harus melakukannya," batin Rania yang mendadak panik.
" Rania, tidurlah, apa yang kamu pikirkan," sahut Rendy yang sudah berbaring dan bahkan memejamkan matanya.
Rania menoleh ke belakang lalu beranjak dari duduknya dan dengan keraguan tidur di samping Rendy di bagian ujung. Dia yang mengajak tetapi dia sendiri yang malah kegelisahan. Bahkan mungkin Rania tidak akan nyaman tidur.
************
Tidak terasa hari sudah subuh. Cuaca di subuh hari membuat Rania masih memegang erat selimut. Yang ternyata tidurnya nyenyak-nyeyak saja. Walau Rendy tidur di sebelahnya tidak gelisah sama sekali.
Rania membuka matanya perlahan dan melihat ke arah bawah yang ternyata ada Rendy di sana. Di mana Rendy sedang sholat subuh.
Hati Rania begitu teduh melihat pemandangan yang indah itu. Dia merasakan kedamaian di rumah itu yang tidak dapat di jelaskannya. Yang jelas dia sangat bahagia saat berada di rumah itu.
Rania terus menatap Rendy. Sampai tidak menyadari. Jika Rendy sudah selesai sholat dan Rendy melihat ke arah Rania. Membuat Rania terpekik dan menjadi salah tingkah.
Rania pun perlahan untuk duduk. Dan masih bingung harus ngapain pagi-pagi bangun. Dia tidak biasa bangun subuh. Tetapi hari ini bangun subuh membuatnya heran.
" Kamu mau kemana?" tanya Rania saat melihat Rendy membuka pintu kamar.
" Mau kedapur?" jawab Rendy.
" Mau makan kue kukus jagung ya," tebak Rania. Rendy mengangguk.
" Hmmm, kalau begitu aku boleh ikut!" tanya Rania.
" Ya ayo," sahut Rendy heran. Padahal hanya kedapur tetapi Rania malah minta ikut seperti mau kemana aja. Rania mengangguk dan dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya.
*********
Pasangan suami istri itu pun menikmati makanan wajib Rendy saat masih subuh. Rania juga tampaknya menikmati makanan itu. Mungkin makanan Rendy sudah menjadi favoritnya. Mungkin kue kukus jagung itu bertambah enak dengan makan bersama Rendy.
Hanya ada pembantu rumah tangga yang lalu lalang di dapur itu. Namun tidak menegur Rendy ataupun Rania mungkin tidak ingin mengganggu pasangan suami istri itu.
" Kamu suka ini dari dulu?" tanya Rania.
" Hmmm, aku dari kecil menyukainya. Mungkin karena ALM papa dulu suka memakannya. Jadi aku ikut-ikutan dan akhirnya menyukainya," jawab Rendy.
" Hmmm, begitu rupanya. Jadi karena biasa jadi terbiasa," ucap Rania.
" Bisa jadi," sahut Rendy santai.
*********
Rania pun kembali di antar Rendy untuk kekantor. Mungkin memang tugas Rendy untuk mengantar istrinya ke kantor sebelum dia Kerumah sakit.
Mobil itu berhenti di lampu merah, Rania membuka jendela mobil dan melihat ke sebrang ya yang ada seorang wanita yang turun dari sepeda motor dan terlihat Pria yang mengendarai motor itu membuka helmnya dan wanita yang sudah turun dari motor itu mencium punggung tangan Pria itu yang bisa di tebak Rania jika mereka adalah pasangan suami istri.
Tidak tau kenapa Rania harus tersenyum melihat apa yang di lihatnya. Pria itu juga mencium kening wanita itu dan terlihat kebahagian sederhana itu membuat wajah Rania tidak henti-hentinya tersenyum.
" Bukannya memang suami istri harus seperti itu," batin Rania menoleh ke arah Rendy yang fokus memandang lurus kedepan.
__ADS_1
Akhirnya Rania dan Rendy sampai di depan Perusahaan Rania. Rania membuka sabuk pengamannya.
" Makasih ya sudah mengantarkan ku," ucap Rania. Rendy menganggukan matanya.
" Ya sudah aku masuk dulu," ucap Rania pamit.
" Iya," jawab Rendy.
Rania pun membuka pintu mobil. Tetapi saat ingin keluar Rania tidak jadi keluar namun kembali menghadap Rendy dan meraih tangan Rendy lalu mencium punggung tangan Rendy dengan buru-buru. Jelas Rendy kaget melihat hal spontan yang di lakukan Rania.
" Aku pergi dulu," ucap Rania buru-buru keluar dari mobil dan bahkan lari.
Karena malu dengan tingkah yang di lakukannya. Sementara Rendy masih bengong dengan posisi tangan yang sama dan melihat Rania lari memasuki Perusahaan itu membuat Rendy mendengus senyum lalu geleng-geleng dengan tingkah random Rania.
" Ada-ada saja," ucap Rendy melihat punggung tangannya yang di cium Rania. Mungkin memang menikah dengan Rania bukan untuk mengubah Rania.
Karena Rendy tidak punya hak untuk itu walau sudah menjadi suaminya. Dan mungkin pengaruh sekitar yang membuat Rania pelan-pelan berubah. Rania pasti menyadari apa yang harus di lakukan dan yang tidak di lakukan dan itu karena dia tinggal di lingkungan keluarga yang benar.
*********
Lain dengan Rania yang melakukan keanehan. Ternyata Willo sedang berdiri di depan kasir yang ada di Mall. Dengan kasir yang menghitung belanjaannya yang banyak itu.
" 84 juta 3 ratus ribu Bu," ucap kasir mengatakan total belanjaannya. Willo dengan angkuhnya mengeluarkan kartunya. Apa lagi bukan fasilitas dari adiknya. Pelayan kasir pun mengambilnya dan memeriksanya.
" Maaf mbak, apa ada kartu lain?" tanya pelayan itu.
" Maksudnya apa?" tanya Willo.
" Kartunya tidak bisa di gunakan," jawab sang kasir membuat Willo kaget dan kembali membuka dompetnya.
" Coba ini," ucap Willo memberikan lagi. Dan sang sakit kembali memeriksanya dan tetap tidak bisa dan Willo mengeluarkan semua kartu kreditnya tetap tidak bisa.
" Tidak bisa juga mbak, apa ada uang kes?" tanya Sang kasir.
" Kamu kali yang salah, mana mungkin tidak bisa, ada-ada saja," sahut Willo kesal.
" Tetapi memang kenyataannya semua kartu yang mbak berikan sudah di blokir," sahut pelayan itu.
" Tidak mungkin dong," sahut Willo yang tidak terima dengan wajahnya yang kaget.
" Sial, kenapa bisa seperti ini. Apa Rania yang memblokir kartuku," batinnya.
" Kurang ajar apa maksudnya melakukan itu. Seenaknya main blokir-blokir saja," batin Willo geram dengan Rania.
" Bagaimana mbak, apa ada uang cas?" tanya kasir lagi.
" Sudah nggak usah jadi," sahut Willo kesal dan langsung pergi. Sang kasir hanya geleng-geleng.
" Kalau tidak punya uang ngapain belanja," oceh sang kasir yang juga emosian.
********
Rania berada di ruangannya dengan Astri yang berdiri di depannya dan Rania menandatangi beberapa dokumen yang di berikan Astri padanya.
" Bagaimana dengan kartu kredit kak Willo. Apa kamu sudah mengurusnya?" tanya Rania dengan tangannya yang terus menadatangani.
" Hmmm, sudah Bu, saya sudah mengurus semuanya," jawab Astri.
" Baguslah," sahut Rania.
" Kakak harus mandiri mulai sekarang. Kakak harus tau bagaimana sulitnya jika tidak memiliki uang. Kakak sudah menikah dan seharunya suami kakak yang bertanggung jawab atas diri kakak. Bukan aku. Aku selam ini sudah baik dengan kakak. Tetapi apa yang kakak lakukan. Dengan mudahnya menjual mobilku. Seperti kekurangan duit saja," batin Rania yang memang ingin memberikan Willo pelajaran.
Rania kembali menandatangani berkas-berkas itu dan memberikannya pada Astri.
" Kamu atur pertemuan untuk klien kita hari ini!" perintah Rania.
" Baik Bu," sahut Astri.
" Lalu bagaimana dengan mobil ibu. Apa saya akan mencari yang baru?" tanya Astri.
" Tidak perlu, kamu beli kembali mobil itu pada temannya kak Willo, kamu berusaha agar dia menjualnya lagi," ucap Rania.
" Baiklah Bu," jawab Astri, " kalau begitu saya kembali bekerja dulu," ucap Astri pamit. Rania mengangguk. Astri keluar dari ruangan itu.
" Semoga kak Willo, bisa belajar dari kesalahannya," batin Rania.
__ADS_1
Bersambung