
Rania duduk berdiri di depan cermin dengan memegang bibirnya dengan jarinya. Rania malah mengingat apa yang terjadi beberapa jam tadi di mana untuk pertama kali suaminya menciumnya dengan lembut yang membuat jantungnya bergetar hebat selama ciuman itu berlangsung.
Rania tersenyum seakan menggambarkan suasana hatinya yang begitu bahagia. Tangannya turun pada dadanya mengusap dadanya yang masih merasakan getaran di dadanya. Getaran yang sama sekali tidak bisa di jelaskannya.
" Tidak mungkin Rania. Ini terlalu cepat apa mungkin kamu menyukainya," batin Rania yang tidak dapat menjelaskan seperti apa perasaannya sebenarnya.
" Huhhhhhh, Rania membuang napasnya perlahan kedepan.
" Sudahlah Rania kamu kepikiran apa-apa dulu. Mungkin saja Rendy melakukan itu. Juga sama seperti mu hanya terbawa suasana dan dia juga tidak mungkin menyukaimu," Rania terus berbicara sendiri di dalam hatinya yang tidak mau kepedean dulu. Dia hanya menganggap hal itu biasa tanpa berpikir yang lain-lain dulu.
********
Sementara Rendy berada di dalam mobil menyetir. 1 tangannya memegang setir mobil dan satu tangganya lagi menggaruk-garuk alis matanya dengan jarinya dengan siku tangannya yang di sanggahan ke pintu mobil. Sepenjang menyetir Rendy.
Hanya senyum-senyum tidak jelas. Senyum yang sama sekali tidak tau apa artinya. Ya Rendy pasti tidak jauh-jauh mengingat kejadian tadi pagi. Pagi di mana dia dan istrinya berciuman dan mungkin itu hal tidak terduga dan tidak terencana sama sekali.
Dari tadi malam perasaannya memang sudah tidak menentu dan dalam waktu yang sesingkat banyak hal yang membuat perasaan itu semakin bercampur aduk dan ternyata tadi pagi akhirnya harus di tuntaskan dalam sebuah ciuman seolah Rendy ingin mengetahui bagaimana perasaannya pada Rania.
Tidak seperti Rania yang bergerutu di dalam hatinya. Rendy hanya tersenyum manis. Layaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta. Begitulah exsperesi wajah tampan itu yang tersenyum berseri-seri indah.
***********
Lain kebahagian pasangan itu. Anisa harus menahan sakit hatinya di dalam kamarnya. Air matanya yang tidak henti-hentinya menetes. Di mana Anisa yang terluka melihat Pria yang di cintainya bermesraan dengan wanita lain. Sebenarnya bukan wanita lain. Karena itu memang istri Rendy dan sudah menjadi suka-suka Rendy mau ngapain kepada istrinya.
Suara tangis Anisa yang senggugukan membuat Sarah sang mama harus datang kekamar itu untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.
" Kamu kenapa Anisa?" tanya Sarah yang langsung menghampiri Anisa, duduk di samping Anisa.
" Apa yang terjadi kepada kamu. Bukannya tadi kamu Kerumah Rendy dan semuanya baik-baik saja. Lalu kenapa kamu pulang-pulang menangis?" tanya Sarah yabg panik dengan anaknya
" Mama, kenapa Rendy jahat. Kenapa dia tidak tau perasaanku. Kenapa dia terus menyakitiku," ucap Annisa dengan linangan air matanya yang memenuhi pipinya.
__ADS_1
" Apa yang kamu katakan. Kenapa Rendy. Apa lagi yang di lakukannya kepada kamu?" tanya Sarah dengan wajah mulai marah.
" Aku melihatnya bermesraan dengan Rania," jawab Anisa menahan sesak di dadanya.
" Ma, aku tau Rendy hanya terpaksa menikahi Rania. Pasti Rania melakukan sesuatu untuk memanfaatkan Rendy. Dia hanya menjebak Rendy. Sampai pada akhirnya mereka menikah. Aku tau itu ma," ucap Anisa yang tampak tidak terima dengan pernikahan Rendy dan Rania.
" Anisa, mama juga tau. Karena tidak mungkin orang seperti Rendy mau menikah dengan wanita seperti itu. Tapi kita tidak bisa apa-apa karena semuanya sudah terlanjut," sahut Sarah.
" Tidak mah, tidak ada yang terlanjur. Aku tidak mau ma, jika Rendy benar-benar akan bersama Rania. Mereka harus bercerai. Aku yang pantas menjadi istrinya," tegas Anisa.
" Maksud kamu. Kamu tidak apa-apa. Jika akan menikah dengan Rendy. Walau dia duda?" tanya Sarah.
" Aku mencintai Rendy ma, dan dia hanya terjebak, aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia ada bersamaku," tegas Anisa.
" Bagiamana caranya Anisa. Mama akan mendukung kamu. Agar kamu bisa bahagia dengan Rendy. Tapi mama juga tidak tau bagaimana caranya untuk membuat wanita itu pergi dari hidup Rendy," ucap Sarah yang mendukung anaknya 100% walaupun dua tau itu adalah kesalahan terbesar.
" Mama akan mendukung ku penuh?" tanya Anisa. Sarah mengangguk.
" Maksud kamu?" tanya Sarah heran.
" Mama akan terus mendukungku kan? tanya Anisa memastikan. Sarah memegang tangan Anisa.
" Anisa mama akan terus mendukung mu. Kamu anak mama satu-satunya. Jadi mama akan terus ada bersama kamu. Apapun yang kamu rencanakan mama setuju yang penting kamu bisa bersama Rendy," ucap Sarah mendukung Anisa penuh.
" Makasih mah. Ini adalah awal untuk menghancurkan wanita itu. Ini awal segalanya," ucap Anisa dengan matanya yang penuh kebencian kepada Rania.
" Kamu lakukan saja apa yabg terbaik," sahut Sarah.
" Tamatlah kamu Rania. Kamu sudah mencuri Rendy dariku dan kali ini aku akan mengambilnya darimu. Aku tidak akan membiarkan Rendy bersama wanita seperti mu," batin Anisa penuh rencana dengan menyeka air matanya.
***********
__ADS_1
Rendy selesai menjalan kan operasi lalu langsung Keruangannya. Setelah selesai mencuci tangan dan lain sebagainya Rendy mengambil ponselnya yang di atas meja. Rendy tiba-tiba saja langsung menscroll hanphonenya dan malah stop di kontak nama Rania.
" Kenapa juga harus aku telpon. Memang apa yang ingin aku tanyakan," batin Rendy kebingungan yang tiba-tiba kepikiran dengan Rania sampai-sampai ingin menelpon Rania.
" Ahhhh, Rendy kamu ini kenapa sekarang kurang fokus, fokus lah Rendy," ucap Rendy menggoyang-goyangkan kepalanya yang terlihat tidak fokus. Tetapi jarinya tiba-tiba malah memencet tombol memanggil.
" Astagfirullah malah kepencet lagi," ucapnya panik dengan ulahnya sendiri.
" Assalamualaikum," sapa Rania yang ternyata mengangkatnya sebelum Rendy mematikannya. Rendy memejamkan matanya yang bingung harus mengatakan apa. Tetapi dia terlihat menarik napas panjang dan berusaha untuk tenang.
" Walaikum salam," sahut Rendy dengan sedikit gugup.
" Ada apa?" tanya Rania.
" Hmmm, itu, Hhhhh," Rendy malah gagap tidak tau mau bicara apa. Rania yang di kamarnya yang duduk heran dengan Rendy yang seperti itu.
" Ada apa Rendy?" tanya Rania lagi.
" Kamu sudah makan?" tanya Rendy dengan cepat.
" Iya sudah, baru saja makan," jawab Rania.
" Sudah minum obat?" tanya Rendy .
" Sudah juga," jawab Rania.
" Oh, yasudah kalau memang semuanya sudah," sahut Rendy yang membuat Rania kebingungan.
" Aku tutup telponnya dulu. Assalamualaikum," ucap Rendy yang tidak banyak bicara dan langsung menutup telpon begitu saja. Tanpa ada yang di bicarakan lagi.
" Rendy kamu benar-benar aneh-aneh saja," batin Rendy geleng-geleng dengan kelakuannya.
__ADS_1
Bersambung