Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 90 Di luar bersama.


__ADS_3

Anisa berada di kamarnya alias kamar yang di siapkan untuknya sebagai tamu di rumah Rendy. Anisa duduk di pinggir ranjang dengan wajahnya yang tampak penuh dengan pikiran. Tetapi tidak tau apa yang di pikirkannya.


" Rendy dan Rania sudah 1 Minggu lebih bersama. Apa yang mereka lakukan di sana. Kenapa juga Rendy harus membawa Rania. Aku tidak bisa melakukan apa-apa jadinya," ucap Anisa ya g ternyata memikirkan Rendy dan Rania.


" Wanita itu sudah merusak segalanya. Gara-gara dia aku tidak bisa menikah dengan Rendy. Rendy juga selalu saja membelanya. Apa Rendy sudah jatuh cinta pada Rania. Tidak mungkin rasanya jika Rendy jatuh cinta pada Rania. Hal itu tidak mungkin," batin Anisa yang sangat takut. Jika Pria yang di cintainya pada akhirnya jatuh cinta pada Rania.


" Aku harus melakukan sesuatu. Rania tidak pantas terus bersama Rendy. Aku harus melakukan sesuatu agar Rania dan Rendy benar-benar berpisah," batin Anisa yang mempunyai banyak rencana.


Anisa pun langsung keluar dari kamarnya saat menuruni anak tangga di ruang tamu ada Oma Wati, Ratih yang tampaknya mengobrol serius.


" Apa kamu tidak pada Rania?" tanya Oma Wati.


" Mah, itukan hal yang sensitif lagian. Mana mungkin aku menanyakan masalah itu. Rania dan Rendy juga baru menikah. Jadi wajar saja. Kalau Rania belum hamil," ucap Ratih.


Anisa di ujung anak tangga mendengarkan percakapan itu.


" Mereka sedang membicarakan kehamilan," batin Anisa yang tampak berpikir sesuatu.


Anisa pun menuruni anak tangga yang sepertinya ingin ikut-ikutan dalam pembicaraan itu.


" Rania sudah pernah ke Dokter?" sahut Anisa yang langsung menyahut saja.


" Anisa, untuk apa?" tanya Ratih.


" Ya kan harus di periksa dulu. Apakah rahimnya bagus apa tidak. Seharusnya hal ini sebelum menikah harus di lakukan," ucap Anisa yang sangat lantam bicara.


" Apa yang kamu bicarakan Anisa. Rania dan Gilang baru menikah. Tidak ada yang perlu di desak untuk kehamilan. Apa lagi sampai-sampai periksa-periksa rahim," ucap Ratih dengan tegas.


" Ratih, bukan begitu. Kamu kan tau sendiri. Rendy adalah cucu pertama ku. Dan pasti harus jelas juga jika istrinya sehat," sahut Oma Wati. Lagian mereka memang harus punya keturunan," ucap Oma Wati.


" Maaf, Oma, kan kita juga tau Rania seperti apa dan mungkin saja kata sehat pada masalah itu pasti bermasalah," ucap Anisa.

__ADS_1


" Apa maksud kamu Anisa," sahut Ratih tampak terkejut mendengar lantangnya Anisa berbicara.


" Maaf Tante, mungkin aja Rania punya penyakit HIV," sahut Anisa membuat Ratih kaget.


" Anisa cukup!" gertak Ratih tidak habis pikir dengan kata-kata Anisa.


" Sudah hentikan, kamu jangan bicara keterlaluan seperti itu. Apa lagi menuduh- nuduh seperti itu. Rania dan Rendy. Baru menikah dan tidak ada yang harus di desak. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh," tegas Ratih geleng-geleng. Anisa hanya diam saja mendengarnya.


**********


Karena dia dalam gelap. Rania memutuskan untuk berada di teras. Di mana Rania duduk dengan santai di tangga yang terbuat dari kayu tersebut dengan memeluk tubuhnya yang tampak kedinginan.


Rembulan yang indah itu memang cukup membantu untuk menerangi bumi. Makanya Rania lebih memilih di luar melihat indahnya langit.


Rendy keluar dari kamar dan ingin kedapur melihat Rania yang duduk dengan kepala melihat-lihat ke arah langit.


" Kenapa dia belum tidur?" tanya Rendy di dalam hatinya dan Rendy pun kembali memasuki kamar. Tidak lama Rendy kembali keluar dari kamar yang ternyata Rendy membawa selimut dan Rendy pun langsung menghampiri Rania.


Rendy duduk di satu anak tangga di atas Rani dengan kakinya terbuka lebar dan Rania berada di tengahnya. Rendy langsung memakaikan selimut pada Rania membuat Rania menoleh kebelakang.


" Di dalam gelap," jawab Rania yang memeluk erat selimut itu. Rendy melihat Rania kelihatan sangat kedinginan membuat Rendy turun satu anak tangga lagi yang akhirnya memeluk Rania dari belakang. Agar Rania tidak kedinginan.


Rania sempat kaget dengan spontanitas yang Rendy lakukan. Namun dia tersenyum dan malah lebih mendekatkan punggungnya pada Rendy. Seolah tidak keberatan di peluk seperti itu.


" Kalau di dalam gelap. Apa kamu akan di sini terus," ucap Rendy yang menempelkan wajahnya pada rambut Rania yang juga menghirup wanginya aroma rambut itu.


" Sementara lagi, sebentar lagi aku akan masuk," jawab Rania, Rania menoleh kebelakang sehingga mempertemukan 2 wajah yang saling berdekatan itu.


" Kamu sendiri bagaimana. Kenapa tidak tidur?" tanya Rania.


" Aku tidak mengantuk. Lagian kamu ada di sini. Jadi mana mungkin aku tidur," jawab Rendy membuat Rania tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya kedepan.

__ADS_1


" Rendy, aku tidak tau bagaimana perasaanmu kepadaku. Tapi aku sudah bisa memastikan hatiku," batin Rania yang sedang berbunga-bunga yang menyadari. Jika dia sedang jatuh cinta.


" Aku boleh tanya sesuatu," ucap Rania tiba-tiba.


" Hmmmm, boleh apa itu?" tanya Rendy.


" Kenapa memilih jadi Dokter?" tanya Rania.


" Hmmm, aku tidak tau. Dulu waktu kecil. Aku bercita-cita ingin menjadi Dokter. Karena aku ingin menyelematkan nyawa orang. Lalu begitu dewasa ternyata cita-cita itu tetap ada dan ya mungkin alasannya sesimpel itu," jawab Rendy. Rania hanya mengangguk menanggapinya.


" Lalu kamu apa cita-cita mu dulu?" tanya Rendy.


" Jadi orang kaya," jawab Rania singkat.


" Hanya itu?" tanya Rendy.


" Hmmm. Seperti yang pernah aku katakan kepadamu. Aku dan keluargaku hidup sederhana jauh dari kemewahan dan aku hanya ingin menjadi orang kaya. Agar mengubah hidup," jelas Rania.


" Berarti itu juga sudah terkabul," sahut Rendy.


" Ya terkabul. Tetapi tidak sesuai harapan. Aku mengira jika aku memiliki semuanya aku akan hidup bahagia, damai, tanpa beban. Ternyata aku salah. Aku tidak sebahagia itu. Justru semua yang aku miliki malah membuatku tidak bahagia," ucap Rania dengan wajah sendunya.


" Rania obsesi, keinginan itu hanya membuat kita ketagihan. Dunia ini fana Rania, semakin di kejar akan semakin jauh. Buka harta dan kemewahan yang menjanjikan untuk kebahagian. Tetapi rasa bersyukur dan selalu menyadari itu lah kebahagian sesungguhnya," ucap Rendy yang selalu bicara dengan lembut.


" Kamu benar, kebahagian itu baru aku dapatkan setelah aku menikah dengan mu," ucap Rania menoleh ke arah Rendy. Rendy tersenyum mendengarnya.


" Mungkin tidak adil Rendy. Kamu menikah dengan ku tidak mendapat kebahagian apa-apa sementara aku menikah dengan mu aku merasakan hidup yang sebenarnya," ucap Rania menatap dalam-dalam Rendy.


" Siapa yang mengatakan tidak adil. Aku yang merasakannya Rania bukan orang lain," ucap Rendy yang juga menatap dalam-dalam Rania.


" Apa itu artinya kamu bahagia menikah dengan ku?" tanya Rania memastikannya. Rendy menganggukkan matanya membuat Rania tersenyum. Rendy pun mencium lembut kening Rania.

__ADS_1


Rania memejamkan matanya dengan tersenyum bahagia. Dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan Rendy semakin memeluk erat tubuh istrinya itu. Keduanya benar-benar tidak ada kecanggungan lagi.


Bersambung


__ADS_2