Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 105 si sindiran halus.


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa. Pasangan suami istri itu sudah siap-siap yang akan pergi kekantor bersama-sama seperti biasanya. Tidak kekantor sih. Rendy Kerumah sakit dan Raina kekantor.


" Kamu sudah tidak pilek lagi?" tanya Rendy sambil memakai jam tangannya.


" Sudah tidak. Aku sudah baik-baik saja," sahut Rania sembari memasukkan alat-alat make-upnya ke dalam tas kecilnya.


" Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa. Kamu telpon aku ya," ucap Rendy.


" Hmmm, pasti," sahut Raina tersenyum.


" Ya sudah, ayo kita turun," ajak Rendy. Rania mengangguk dan merekapun akhirnya turun menuju meja makan untuk sarapan di sana.


Rania dan Rendy sudah sampai dapur dan di sana sudah ada, Oma Wati, Ratih, Zahrah, Nia, Sarah dan Anisa.


" Ayo Rania, Rendy sarapan!" ajak Ratih.


" Iya ma," sahut Rendy. Rania melihat tempat duduknya yang biasa telah di duduki Anisa. Biasanya Rania duduk di sana di samping mamanya dan Rendy di sampingnya.


Namun tempat duduk itu di ambil Anisa. Yang itu artinya suaminya akan duduk di samping Anisa.


" Mau apa kamu. Ini baru tempat duduk yang aku miliki. Nanti Rendy akan menjadi milikku," batin Anisa yang sarapan dengan santai.


Rania seketika mengambil ide dan langsung berjalan menuju rak piring membuat semua orang heran.


" Mau ngapain kak Rania?" tanya Nia sambil mengunyah makanannya.


" Hmmm, kak Rendy sudah kesiangan Nia. Jadi sarapannya di buat dalam bekal aja," jawab Rania yang mengambil roti dan memberi selai.


" Ini memang baru jam berapa," sahut Ratih merasa masih pagi dan anaknya tidak mungkin telat.


" Tapi sudah mau telat ma, jadi nanti makan di mobil aja," sahut Rania.


" Hmmm, pasti gini nih, nanti kak Rendy yang nyetir. Lalu kak Rania yang suapin, ya ampun sosweet banget," sahut Nia senyum-senyum. Rania juga tersenyum malu. Namun Rendy yang tampak bingung hanya geleng-geleng saja.


" Namanya juga sudah nikah, jadi nggak boleh iri," sahut Zahra.


Anisa dan Sarah saking melihat dengan tangan mereka yang sama-sama saling mengepal yang penuh kemarahan. Namun tidak bisa mengeluarkan amarah mereka.

__ADS_1


" Hmmm, ya sudah ma, kami berangkat dulu ya," sahut Rania yang sudah menyelesaikan pekerjaannya dan pamit pada mama mertuanya dan juga Oma Wati.


" Kalian hati-hati. Menyetir pelan-pelan," ucap Oma Wati berpesan.


" Iya Oma, makasih sudah di ingetin," sahut Rania.


" Rendy pergi dulu ma," ucap Rendy yang juga pamitan bersama orang-orang di sana.


" Hati-hati ya," ucap Ratih. Rendy mengangguk dan akhirnya Rania dan Rendy pergi. Sebelum pergi, Rania tersenyum melihat Anisa yang diam tanpa bisa berbicara sepatah katapun.


" Makan tuh kursi," batin Rania yang merasa menang.


" Lagi dan lagi. Dia yang menang. Bahkan Rendy tidak memakan bubur yang aku masak. Rania benar-benar sudah menguasai Rendy. Rendy selalu saja menurutinya," batin Anisa yang penuh emosi.


" Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak ingin masalah ini tetap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu," batin Sarah yang mempunyai banyak rencana.


*********


Rendy dan Rania sudah berada di dalam mobil. Rendy fokus menyetir kedepan. Ya dugaan Nia benar. Rendy yang menyetir dan Rania yang menyuapinya. Seperti yang sekarang di lakukan. Di mana Rania menyuapi Rendy dengan roti yang tadi di siapkannya.


" Kamu juga sarapan," ucap Rendy menoleh sebentar ke arah Rania.


" Rania!" tegur Rendy.


" Hmmm, kenapa?" tanya Rania.


" Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu?" tanya Rendy yang tiba-tiba serius.


" Ada apa memangnya?" tanya Rania penasaran.


Rendy pun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan yang membuat Rania kebingungan. Kenapa tiba-tiba berhenti. Apa sangat seserius itu yang ingin di bicarakan suaminya itu.


" Ada apa Rendy?" tanya Rania. Rendy menghadap Rania.


" Apa kamu tidak nyaman tinggal di rumah?" tanya Rendy. Membuat Rania bingung.


" Kenapa kamu tanya hal itu tiba-tiba," sahut Rania heran.

__ADS_1


" Aku memperhatikan. Semenjak Anisa dan Tante Sarah tinggal di rumah. Kamu terlihat sangat tidak nyaman," ucap Rendy yang ternyata begitu peka dengan suasana hati istrinya.


" Apa kamu memang tidak nyaman?" tanya Rendy lagi.


" Ya sebenarnya aku memang tidak nyaman tinggal di rumah itu," batin Rania.


" Rania!" tegur Rendy.


" Tidak kok Rendy. Semuanya biasa saja. Aku nyaman kok tinggal di rumah kamu," jawab Rania bohong.


" Rania, kalau tidak nyaman tinggal di rumah. Kita bisa cari rumah. Aku juga punya Apertemen kita bisa tinggal di sana untuk sementara," ucap Rendy yang begitu mempedulikan kenyamanan Rania.


Rania tersenyum mendengar kata-kata Rendy yang memang sangat memikirkan dirinya. Dia tidak pernah mengeluh masalah situasi yang di hadapinya. Namun Rendy langsung tau apa yang di hadapinya.


" Bagaimana, apa kita pindah. Aku akan bicara sama mama?" tanya Rendy menata Rania dengan penuh arti.


" Tidak usah Rendy," sahut Rania menjeda sebentar omongannya.


" Kamu dan keluarga kamu, sudah terbiasa tinggal bersama. Lagian aku merasa biasa saja tinggal di rumah. Walau sedikit berbeda. Karena ada Anisa dan juga Tante Sarah. Tapi aku masih biasa saja. Aku tidak mau pindah hanya karena masalah itu. Lagian masalahnya tidak-tidak besar-besar amat, semuanya masih dalam masa wajar. Nanti kalau sudah melewati batas aku akan bilang sama kamu. Perlu atau tidak kita pindah," ucap Rania dengan lembut.


Rendy meraih tangannya dan menumpuk dengan ke-2 telapak tangannya itu.


" Jadi kamu tidak mau pindah?" tanya Rendy memastikan.


" Iya, kita tidak perlu pindah. Sampai detik ini. Aku masih nyaman dan tidak perlu keluar dari rumah," jawab Rania dengan tenang dan santai.


" Baiklah, kalau memang begitu. Rania kamu adalah istriku. Aku membawamu kerumahku. Jika istri ku tidak nyaman berada di rumah itu. Maka aku wajib membawanya keluar untuk mencari kenyamanannya. Kalau kamu tidak nyaman dan ada masalah. Kamu bilang ya sama aku," ucap Rendy dengan lembut membuat Rania mengangguk tersenyum.


" Makasih Rendy, kamu sudah mempedulikanku dan aku tidak percaya kamu memperhatikan hal itu," sahut Rania. Rendy mengangguk.


" Ya sudah sekarang kita pergi, ayo nanti telat lagi," ucap Rania mengingatkan. Rendy mengangguk.


" Habiskan dulu sarapannya?" ucap Rania yang kembali menyuapi suaminya dan dengan senang hati Rendy membuka mulutnya dan menghabiskan makanan itu dengan lahap.


" Ya Allah, Rendy memang sangat baik. Apa ada kebaikan yang aku lakukan. Sampai engkau mengirimkan suaminya sepertinya. Dia sangat memperhatikanku. Bahkan tau apa yang membuatku nyaman dan tidak nyaman. Dia begitu baik ya Allah," batin Rania yang merasa bahagia.


Rania dan Rendy sama-sama sarapan bersama di dalam mobil. Dengan hati lega dan tenang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2