
Setelah mengganti pakaiannya. Rania menunggu-nunggu Rendy yang tak kunjung datang. Matanya tidak lepas melihat ke arah pintu. Kapan suaminya itu akan masuk kamar. Rania juga melihat sudah pukul 11 yang mana memang seharusnya Rendy datang.
" Bukannya tadi sudah sepakat akan tidur satu kamar. Lalau kenapa dia belum datang. Kemana dia. Tidak mungkinkan dia lupa kalau kita sepakat untuk tidur satu kamar," batin Rania yang tampak gelisah.
" Apa aku cek aja keluar. Siapa tau dia memang lupa dan aku akan mengingatkannya. Karena tidak mungkin aku tidur sendirian," ucap Rania yang akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Memastikan di mana keberadaan suaminya sesungguhnya.
Rania tidak menemukan Rendy di ruang tamu. Namun dia mendengar seperti ada kegiatan di dapur. Rania yang penasaran langsung menuju dapur. Melihat ke arah dapur dan ternyata Rendy ada di sana dan terlihat sedang memasak.
" Kamu ngapain?" tanya Rania.
" Hmmm, memasak mie, aku lapar," jawab Rendy melihat sebentar ke arah Rania.
" Kamu mau?" tanya Rendy.
" Neggak, kamu aja," jawab Rania.
" Baiklah," sahut Rendy. Mengambil.1 bungkus Mei instan dan langsung memasukkan ke dalam panci.
Rania pun berjalan melangkah pelan mendekati Rendy dan melihat-lihat di sekitar dapur.
" Teman-teman mu yang lain tinggal di mana?" tanya Rania.
" Maksudmu, Dokter yang ikut menjadi suka relawan juga?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
" Disekitar sini juga," jawab Rendy.
" Sendiri-sendiri juga tinggalnya?" tanya Rania.
" Kalau yang sudah menikah tinggal berdua dan yang masih lajang tinggal bersama, pria degan pria wanita dengan wanita," jawab Rendy.
" Memang ada juga yang sudah menikah?" tanya Rania.
" Ada, sama aku 4 pasang," jawab Rendy yang sudah menuang mie instannya ke dalam mangkok dan Rania sudah duduk di kursi meja makan.
" Lalu istri mereka ikut juga?" tanya Rania.
" Iya, ada juga anaknya yang ikut. Masih kecil. Karena memang cukup lama. Jadi mungkin para suami atau istri yang bertugas menjadi Dokter suka relawan. Harus membawa keluarganya," jelas Rendy.
" Lalu kamu kenapa tidak membawaku dari awal?" tanya Rania. Rendy duduk mendengus menarik kursi di samping Rania dengan membawa 1 mangkok mie instannya.
" Sewaktu aku pergi kamu sedang terluka dan tidak mungkin membawamu," jawab Rendy.
" Ya kan sama saja, aku juga masih luka dan belum sembuh. Lalu kenapa membawaku kemari?" tanya Rania.
__ADS_1
" Karena jika aku meninggalkan mu. Kamu hanya akan terluka lebih parah lagi," jawab Rendy. Menatap Rania dengan tulus. Membuat Rania salah tingkah dengan tatapan dan bicara Rendy. Rendy tersenyum. Lalu menikmati mie instanya menggunakan sumpit yang di bawanya dari rumah.
" Kamu sendiri kenapa mau ikut?" tanya Rendy sambil menikmati makanannya.
" Memang aku nggak boleh ikut?" tanya Rania.
" Bukannya kamu sudah meninggalkan pekerjaan kamu sudah sangat lama?" tanya Rendy.
" Iya sih, tapi aku mengambil cuti lagi. Lagian aku tidak pernah libur. Jadi apa salahnya sekarang aku libur," sahut Raina yang melihat Rendy makan. Nampaknya Rania selera melihat Rendy makan sampai dia menelan salavinanya.
" Ya, kamu memang sebaiknya cuti. Untuk proses kesembuhan kamu dan yang paling penting untuk keselamatan kamu. Jujur Rania aku khawatir meninggalkan kamu. Apalagi pelakunya belum tertangkap. Aku takut terjadi sesuatu padamu," ucap Rendy. Melihat kearah Rania. Rania tersenyum mendengarnya.
" Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku," sahut Rania.
" Sama-sama," sahut Rendy.
" Ehmmm, kamu cuma masak sedikit mienya?"tanya Rania pelan.
" Iya, cuma 1 bungkus. Kamu bilang tidak mau. Jadi aku memasak secukupnya untukku," jawab Rendy santai.
" Ohhhh," sahut Rania tampak kecewa membuat Rendy menatapnya aneh.
" Memang kenapa. Kamu mau?" tanya Rendy.
" Ya kalau mau, ya makanlah," sahut Rendy.
" Nggak dek, kayaknya kamu lapar banget," sahut Rania menolak. Rendy tersenyum lalu mengambil mie menggunakan sumpit dan langsung memberikan pada Rania.
" Makanlah!" ucap Rendy. Rania tampak ragu antara ragu sama malu-malu.
" Ayo makan!" ucap Rendy dengan menaikkan ke-2 alisnya dan Rania pun membuka mulutnya dan menerima suapan suaminya.
" Enak?" tanya Rendy. Rania mengangguk malu. Tadi di tawarkan tidak mau. Begitu tinggal sedikit langsung mau. Ya memang sangat aneh Rania.
" Kamu suka makan mie?" tanya Rania.
" Tidak. Ini kan makanan instan. Yang pasti kalau pergi-pergi akan di bawa. Bisa di katakan sebagai penyelamat," ucap Rendy.
" Kamu Dokter, tetapi bisa juga mengatakan makanan siap saji sebagai penyelamat," sahut Rania.
" Ya begitulah," sahut Rendy. Yang kembali menyuapi Rania dan Rania malah ketagihan dan memakannya lagi.
Rania memang menggangu Rendy saja makan. Sudah tau Rendy lapar. Tetapi Rania malah merusuh dan akhirnya harus berbagi makanan.
__ADS_1
" Apa makanan kesukaan kamu?" tanya Rania di sela-sela makan bersama.
" Kenapa? ada niat ingin membuatkannya?" tanya Rendy.
" Tidak, hanya bertanya saja, kalau mudah atau bisa di buatkan ya kenapa tidak," jawab Rania.
" Aku tidak punya makanan khusus apapun. Aku hanya memakan apa yang bisa di makan dan yang mungkin yang menjadi favorite pasti kue kukus jagung," jawab Rania.
" Berarti selama 1 bulan kamu tidak akan bisa memakannya. Karena kamu berada di sini," ucap Rendy.
" Iya, kamu benar, aku tidak akan memakannya," sahut Rendy.
" Andai aku bisa membuatnya pasti kamu masih bisa menikmatinya," batin Rania.
" Rendy!" tegur Rania.
" Hmmm," sahut Rendy.
" Di rumah ini kan kita berdua," sahut Rania.
" Lalu?" tanya Rendy heran.
" Kamu bagaimana kalau mau sarapan. Aku harus melakukan apa. Supaya kamu bisa sarapan sebelum bertugas?" tanya Rania. Rendy tersenyum mendengarnya. Rania memang selalu berusaha menjadi istri yang baik dan berguna.
" Tidak perlu melakukan apa-apa untuk sarapan. Aku juga di sini. Biasa makan roti. Itu sudah cukup," jawab Rendy.
" Bukannya di rumah kamu sarapannya dengan nasi goreng. Kalau tidak bubur," sahut Rania.
" Nggak juga. Aku juga sering memakan makanan lain, buah juga sering. Itu hanya ketepatan kamu ada di sana," ucap Rendy.
" Hmmm, benarlah begitu," sahut Rania.
" Sudah habis makanannya, tinggal kuahnya. Kamu yang mau minum apa aku?" tanya Rendy.
" Kamu saja," sahut Rania.
" Baiklah," sahut Rendy. Namun Rendy menyisahkan sedikit dan langsung memberikan pada Rania. Rania tersenyum dan meminum kuah mie instan yang simpel yang terasa enak itu.
" Ayo kita tidur!" ajak Rendy. Rania mengangguk. Dan Rendy berdiri ingin mencuci mangkok mie instannya tadi.
" Biar aku saja," sahut Rania yang langsung mengambilnya buru-buru dan langsung mencucinya Rendy tersenyum melihat Rania.
Ya tempat itu mungkin memang akan membuat mereka jauh lebih dekat lagi. Mereka bahkan tidak ada segan 1 sama lain lagi.
__ADS_1
Bersambung