Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 172 sama-sama mempersiapkan.


__ADS_3

Memang hanya Rania yang bisa meluluhkan hati suaminya itu. Akhirnya mendapatkan izin untuk liburan ke Bali sekitar 2 hari. Selain keluarga Rendy lengkap dengan Oma Wati, Ratih, Zahra, Elang, Nia dan Anisa juga ikut. Keluarga Rania Della, Willo, keponakannya Lulu dan Deddy juga ikut.


Itu liburan pertama kali mereka setelah menikah. Baik keluarga Rania maupun keluarga Rendy.


Rania sibuk di dalam kamar memberes-bereskan pakaian dan perlengkapan yang seperlunya saja. Mereka hanya menggunakan 1 koper besar untuk pakaian mereka berdua. Ribet bawa koper banyak-banyak hanya 2 hari saja kok.


Krekkk. Rendy memasuki kamar dan melihat istrinya malam-malam masih sibuk beres-beres. Rendy langsung menghampiri Rania.


" Sudah biar aku saja, kamu sana istirahat ini sudah malam," ucap Rendy yang langsung mengambil alih pekerjaan istrinya.


" Nggak apa-apa sayang, sebentar lagi kok akan selesai," sahut Rania yang tetap melanjutkan pekerjaannya.


" Rania jangan membantah. Kamu dari tadi pulang kerja. Kerjakan ini, itu dan sekarang sudah jam 10 masih saja tetap bekerja. Kamu tidak boleh terlalu lelah," ucap Rendy yang sekarang sangat posesif pada istrinya.


" Iya sayang, sebentar lagi akan selesai," sahut Rania yang tetap saja keras kepala.


Rendy harus menatap Rania dengan serius dulu. Menatap dengan menaikkan satu alisnya. Rania yang merasa suaminya sedang melihatnya. Rania langsung memberhentikan pekarjaannya dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.


" Oke, aku akan istirahat," ucap Rania tersenyum pada Rendy. Sudah di beri kode baru mengerti. Rania mencium pipi Rendy, lalu langsung beralih ketempat tidur. Dan Rendy melanjutkan pekerjaan Rania.


" Hanya tinggal ini kan?" tanya Rendy.


" Iya sayang," sahut Rania yang menarik selimut yang memiringkan tubuhnya menghadap Rendy yang melanjutkan pekerjaannya di pinggir ranjang.


" Kamu tidak mau di bantuin?" tanya Rania.


" Kamu istirahat saja. Ini hanya tinggal sedikit saja," sahut Rendy, " ayo tidur, jangan melihati ku lagi," ucap Rendy.


" Bagaimana aku tidak melihatmu. Kamu begitu tampan," goda Rania. Rendy hanya tersenyum dengan kata-kata istrinya itu.

__ADS_1


" Ya kalau begitu kamu lihati aja aku. Tapu jangan salahkan aku. Kalau besok kamu akan bangun kesiangan," sahut Rendy mengingatkan.


" Mana mungkin aku bangun kesiangan. Saat adzan subuh. Kalau aku belum bangun dan kamu sudah bangun. Mana mungkin kamu tidak membangunkanku. Jadi pasti aku tidak mungkin kesiangan," ucap Rania.


" Iya kamu menang," sahut Rendy. Rania tersenyum lebar yang sekarang sangat suka membuat berdebat manis dengan suaminya.


" I Love you," ucap Rania.


" I love you to," sahut Rendy yang melihat ke arah istrinya.


Dengan perlahan Rania memejamkan matanya dan Rendy kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia memang tidak ingin Rania terlalu lelah yang harus mengerjakan semuanya. Rania istrinya yang seharusnya menjadi ratu. Bukan pekerja rumah tangga. Karena nyatanya Rendy tidak pernah menuntut apapun dari Rania.


***********


Sama dengan Rendy dan Rania yang juga mempersiapkan perlengkapan untuk keberangkatan besok. Ternyata Zahra juga melakukan hal yang sama. Di mana dia dan Elang sama-sama memasukkan pakaian ke dalam koper.


Namun mereka sama-sama sendiri. Zahra yang duduk di lantai menyusun kopernya. Sementara Elang berdiri menyusun pakaiannya ke dalam koper yang ada di atas tempat tidur.


Mereka memang bicara hanya seperlunya saja dan sama dengan hal ini bicara hanya seperlunya saja.


" Hmmm, aku boleh minta tolong tidak?" tanya Zahra melihat ke arah Elang. Elang yang melihat Zahra tanpa sepengetahuan Zahra langsung mengalihkan pandangannya.


" Hmmmm, boleh mau minta tolong apa?" tanya Elang gugup.


" Ambilkan jaketku di rak gantungan paling atas," jawab Zahra.


" Oh, ya sudah akan aku ambil," sahut Elang yang langsung menuju lemari.


" Yang mana ini?" tanya Elang yang melihat sangat banyak.

__ADS_1


" Yang warna coklat," jawab Zahra.


" Aku tidak melihat ada warna coklat," sahut Elang.


" Masa sih, apa kotor ya," sahut Zahra mengingat-ingat. Zahra terlihat bingung yang mana yang harus di inginkannya. Zahra pun akhirnya berdiri dan melihat yang mana yang harus di bawanya.


" Benarkan aku tidak ada sama sekali," ucap Elang melihat ke arah Zahra yang ada di sampingnya.


" Hmmm, iya ya, mungkin saja kotor, atau di pakai Nia," sahut Zahra. Gantungan jaket itu lumayan tinggi. Zahra pun berjinjit mencoba memilih yang mana yang ingin di ambilnya.


" Kamu mau yang mana biar aku saja yang ambil," sahut Elang yang terlihat kasihan dengan Zahra.


" Yang hitam saja," jawab Zahra.


" Hmmm, baiklah aku akan ambil," sahut Elang yang mengambilnya. Namun terlihat gantungan jaket itu sangkut dan ada kotak di atas rak yang tergeser. Elang sibuk mencoba mengambil jaketnya tanpa menyadari benda itu ingin jatuh. Namun Zahra menyadarinya dan kaget dengan matanya melotot saat melihat benda itu akan jatuh kepada Elang.


" Elang awas!" teriak Zahra mendorong Elang. Elang yang kaget pun malah menarik tangan Zahra dan akhirnya mereka jatuh bersamaan ke atas tempat tidur di mana Zahra menindih tubuh Elang.


Napas keduanya sama-sama tidak teratur. Di tambah debaran jantung yang tiba-tiba saja tidak normal di mana dada Elang dan Zahra saling bersentuhan. Wajah saling berdekatan dengan bola mata yang berkeliling yang saling bertemu.


Bola mata itu seakan mengamati wajah masing-masing ke-2nya. Dia mana mereka betah dengan posisi mereka yang seperti itu. Elang beberapa kali kesulitan menelan salavinanya dengan melihat sangat jelas wajah Zahra.


" Cantik, Zahra wanita yang cantik yang berhati baik, perilaku baik. Tapi aku sudah menghancurkan hidupnya, aku membuatnya tidak memiliki masa depan. Aku telah melukai wanita yang mengandung anakku," batin Elang yang menatap dalam-dalam Zahra.


" Kenapa perasaanku aneh seperti ini. Tidak Zahra. Kamu tidak boleh memberikan sedikit hatimu untuknya. Itu hanya akan menyakiti kamu nantinya. Zahrah sadarlah, dia sudah punya kekasih, sadar Zahra dia hanya mencintai kekasihnya. Dia menikahimu hanya karena kamu mengandung anaknnya dan pernikahan ini hanya kontra. Jangan bermain perasaan Zahra. Kamu yang akan terluka nantinya. Percayalah," batin Zahra yang mengingatkan dirinya sendiri.


" Ehemmm," sahut Zahra tiba-tiba yang menyadarkan dirinya dan Elang juga langsung mengalihkan pandangannya menatap Zahra. Mereka ber-2 sama-sama gugup dan salah tingkah. Zahra pun mencoba untuk bangkit dari tubuh Elang dan Elang membantunya sehingga mereka sudah sama-sama duduk.


" Aku minta maaf," ucap Zahra merasa bersalah.

__ADS_1


" Aku yang berterima kasih," sahut Elang. Zahra hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya dan Elang mencoba mengatur napasnya yang sedari tadi tidak aman.


Bersambung


__ADS_2