
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit akhirnya Willo pulang kerumah. Willo mau tidak mau harus menerima nasibnya yang lumpuh. Sebelum pulang kerumah Willo ternyata ingin ziarah ke makam mamanya.
Tidak tau saja kenapa Willo tiba-tiba ingat mamanya dan berkunjung ketempat mamanya. Tidak hanya Willo yang berkunjung ke makam mamanya. Raina dan Rendy juga ikut dan pasti Rudi menemani mereka.
Mereka semua sudah tiba di makam. Willo yang berada di atas kursi roda yang berada di samping makan mamanya. Willo menangis dengan menabur bunga di makam itu. Tidak ada yang di katakannya selain menangis.
Rendy dan Rania berjongkok di samping makam mamanya di hadapan Willo. Ini pertama kali untuk Willo mengunjungi makam itu. Sementara Rania dan Rendy sudah beberapa kali. Mungkin saja hati Willo terketuk untuk hadir di makam sang mama.
" Mah, sekarang Willo tidak bisa jalan. Apa yang harus Willo lakukan. Willo sudah tidak bisa berjalan lagi. Willo tidak mau seperti ini. Siapa yang akan membantu Willo nanti," ucap Willo yang mengadu kepada mamanya. Rendy dan Rania saling melihat. Rendy mengusap bahu istrinya itu.
" Ya Allah semoga saja. Kejadian yang menimpa kak Willo bisa menyadarkannya. Aku berharap kak Willo kuat untuk menghadapi semuanya dan bisa menjadi orang yang lebih baik," batin Rania dengan penuh doa dan harapannya.
" Apa yang harus Willo lakukan ma. Willo bingung ma?" tanya Willo.
" Willo, sudahlah, jika kamu seperti ini. Mama kamu akan sedih. Bukannya papa sudah mengatakan kepada kamu. Jika tidak ada yang tidak mungkin. Jika kamu berusaha dan berdoa. Percayalah kamu pasti sembuh," ucap Rudi yang terus menerus memberi nasehat pada putrinya itu.
" Dengan hadirnya kamu di makam mama kamu. Mama kamu sudah senang. Jadi jangan mengeluh di hadapannya. Nanti dia sedih," ucap Rudi.
" Bagaimana aku tidak mengeluh. Keadaan ku yang sekarang akan membuatku sendiri, orang-orang akan menjauhiku," ucap Willo dengan derain air mata.
" Kak, apa lah artinya orang-orang. Kalau kakak sendiri mempunyai keluarga yang terus di sisi kakak yang tidak akan meninggalkan kakak," sahut Rania.
" Kamu jangan sok baik, aku tau kamu senang kan aku seperti ini," sahut Willo.
" Kak, mana mungkin aku senang," sahut Rania dengan lembut.
" Sudah ya Willo jangan berpikir yang lain-lain. Tidak akan ada yang meninggalkan kamu percaya sama papa," ucap Rudi.
" Benar, papa juga tidak akan meninggalkanku tidak akan membiarkan ku sendiri?" tanya Willo butuh kepastian.
" Tidak ada seorang ayah yang akan meninggalkan anaknya. Tetapi jika kamu memilih jalur yang salah. Maka kewajiban papa untuk menegurmu dan memarahimu. Tapi bukan berarti apa yang papa lakukan karena sudah tidak menyayangimu," ucap Rudi menjelaskan dengan lembut.
Rendy dan Rania saling melihat. Terukir senyum indah di wajah ke-2nya.
__ADS_1
" Ya sudah sekarang kita pulang. Ini sudah sore," ucap Rudi. Willo mengangguk yang sepertinya merasa jauh lebih tenang.
" Kita berdoa dulu sebelum pulang," sahut Rendy. Yang lainnya mengangguk. Rendy pun langsung memimpin doa. Mereka berdoa dengan khusuk.
" Ya Allah tempatkanlah mama hamba di surga yang paling indah," batin Rania dengan matanya berkaca-kaca yang berdoa dengan mengadakan ke-2 tangannya ke atas.
" Amin!" sahut semuanya, begitu sudah selesai berdoa.
" Ayo kita pulang," sahut Rudi. Rania dan Rendy mengangguk lalu berdiri. Rudi mendorong kursi roda Willo.
" Biar Rania aja pah," sahut Rania mengambil alih. Willo terlihat tidak suka. Tetapi sepertinya Willo tidak bisa apa-apa dan walau tidak senang, Rania mendorongnya. Tetapi dia juga tidak bisa menolaknya.
Rania memang benar-benar menurunkan egonya untuk tidak bermusuhan dengan kakaknya. Bahkan belakangan ini dia banyak mengalah.
Walau beberapa kali Willo marah dan menganggapnya pura-pura baik. Namun Rania tidak peduli. Yang terpenting baginya. Apa yang di lakukannya tulus dan itu sudah cukup untuknya. Rania semakin hari memang berpikir begitu dewasa.
********
Sebelum pulang kerumah Rania dan Rendy mengantarkan Rudi dan Willo terlebih dahulu dan setelah itu mereka baru pulang menjelang Maghrib sampai rumah. Rendy dan Rania sama-sama keluar dari mobil menuju rumah mereka.
" Kamu juga terlihat lelah hari ini," ucap Rendy.
" Tidak, aku tidak lelah," sahut Rania menggoyang-goyangkan kepalanya.
" Ya sudah kita sekarang masuk sebentar lagi azand," ucap Rendy. Rania mengangguk tersenyum. Dan tangan itu saling menggenggam dan langsung memasuki rumah membawa kebahagian bersama-sama.
" Rania!" tegur Ratih begitu Rania memasuki rumah.
" Iya mah kenapa?" tanya Rania heran dengan Ratih yang tampak serius dan di sana ada juga Nia yang senyum-senyum sendiri membuat Rania dan Rendy bertanya-tanya.
" Ehmmm, kenapa sih kabar bahagianya harus di sembunyikan," sahut Nia dengan senyum cengengesan. Rania dan Rendy mengkerut dahi mereka bingung dengan kata-kata Nia.
" Kabar bahagia apa?" tanya Rania heran.
__ADS_1
" Ya ampun mentang-mentang yang mau jadi orang tua sebentar lagi," ucap Nia yang semakin membuat Rania dan Rendy bingung.
" Nia apa maksud kamu?" tanya Rendy.
" Hmmm, kak Rania hamil, dan nggak bilang kita-kita," sahut Nia. Rendy kaget mendengarnya dan melihat ke arah Rania. Dan ternyata wajah Rania lebih kaget lagi.
" Kamu hamil?" tanya Rendy dengan wajah terkejutnya. Namun dengan cepat Rania menggelengkan kepalanya.
" Tidak aku tidak hamil," sahut Rania benar-benar bingung kenapa Nia mengatakan dia hamil.
" Rania, mama tadi pas buang sampah menemukan tespeck di tong sampah di bagian depan. Ya di rumah ini kan kalian yang menikah. Ya pasti kamu hamil dan mungkin punya alasan belum memberi tahu kabar bahagian itu," sahut Ratih.
" Tapi bukan punya Rania," sahut Rania. Ratih, Rendy dan Nia bertambah heran.
" Ini bukan punya kamu?" tanya Ratih.
" Iya. Rania tidak hamil. Lagian kalau ham ya pasti bilang dan Rania juga tidak pernah ngecek pakai tespeck," jelas Rania benar-benar kebingungan.
" Lalu ini punya siapa?" tanya Nia.
" Ya kakak mana tau," sahut Rania menggedikkan bahunya yang benar-benar tidak tau. Karena dia memang tidak hamil.
" Mungkin saja itu punya orang lain. Mama kan menemukannya di tong sampah depan. Mungkin pas petugas mengangkat sampah, ada yang jatuh dari tempat sampah lain," sahut Rendy menyimpulkan dengan sendirinya.
" Hmmm, begitu, ya mungkin saja. Mama pikir punya Rania," sahut Ratih yang terlihat kecewa.
" Ya di kirain kak Rania hamil," sahut Nia yang malah menjadi lemas.
" Ya sudah kalau begitu kami naik dulu ya ma, sudah Magrib soalnya," sahut Rendy
" Iya Rendy," sahut Ratih mengangguk.
" Ayo Rania," ajak Rendy. Rania mengangguk dan langsung pergi bersama Rendy.
__ADS_1
Bersambung