
Setelah selesai sholat. Rania terlihat membersihkan tempat tidur. Mengatur posisi bantal ke semula, merapikan selimut. Tiba-tiba Rendy mendekatinya berdiri di sampingnya untuk mengambil hanphonnya.
Tetapi Rania yang menoleh kesamping tersentak kaget dengan keberadaan Rendy tiba-tiba sampai ingin jatuh dan dengan cepat Rendy menahan pinggangnya yang akhirnya Rania tidak jadi jatuh. Dan malah saling beradu pandang dengan Rendy yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh dengan jarak pandang yang begitu dekat.
Ke-2 pasang bola mata yang indah itu saling mengamati wajah lawan masing-masing. Mungkin benih-benih cinta sudah tumbuh di dalam hati ke-2 nya. Karena saat dalam kondisi seperti itu debaran jantung ke-2nya pasti tidak normal dan Rendy.
Mereka mungkin hanya tidak menyadari perasaan mereka masing-masing. Perasaan yang sebenarnya sudah ada. Tetapi masih butuh waktu untuk memperjelas perasaan itu.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendy dengan suara pelannya.
" Tidak apa-apa," jawab Rania pelan dengan suaranya yang bergetar. Lalu Rendy perlahan membuat Rania berdiri tegak lagi dan Rendy melepas tangannya dari pinggang Rania. Dan Rania malah salah tingkah kembali melanjutkan pekerjaannya. Rendy hanya tersenyum tipis melihat Rania yang tampak gugup.
" Aku mau kedapur, mau memakan kue kukus jagung, apa kamu mau?" tanya Rendy menawarkan.
" Hmmm, boleh," jawab Rania tanpa melihat Rendy.
" Baiklah, akan aku ambil sebentar," sahut Rendy. Rania mengangguk dan Rendy langsung keluar dari kamar. Rania membuang napasnya panjang kedepan.
" Hhhhhhh, Rania apa yang terjadi dengan mu. Kenapa kamu terus seperti ini. Sebenarnya kamu kenapa Rania. Kenapa setiap dekat-dekat Rendy kamu sellau berdebar tidak jelas. Dan kamu juga kenapa tadi malam sampai tidur di pelukannya. Apa yang terjadi coba. Kenapa semuanya sampai seperti itu," batin Rania yang mengusap-usap dadanya yang tidak mengerti ada apa dengannya.
" Rania, kamu harus lebih tenang lagi. Jangan sampai kamu terus gegabah seperti itu. Kamu jangan bikin malu. Kamu terlihat bodoh di depan Rendy," batin Rania yang sedang galau.
**********
Rendy menuruni anak tangga dan langsung kedapur yang sudah ada mama dan adiknya Nia yang ada di dapur. Di mana Nia membantu sang mama menyiapkan sarapan.
" Pagi ma," sapa Rendy.
" Pagi," sahut Ratih. Rendy mengambil piring dan langsung mengambil kue jagung kukusan sang mama memasukkan kedalam piring dan Ratih melihat Rendy memasukkan lumayan banyak dan wadahnya juga sedikit besar.
" Untuk Rania juga?" tanya Ratih.
" Iya mah," jawab Rendy.
" Lalu kak Ranianya mana?" tanya Nia.
" Di kamar," jawab Rendy.
" Mau di bawa kekama juga? tanya Ratih. Rendy mengangguk.
__ADS_1
" Mama ngapain sih, pakai tanya segala. Kalau sudah menikah. Ya pasti mau makan di kamar berdua lah," goda Nia.
" Kamu ini ya, jahil banget," ucap Rendy menjewer telinga Rania.
" Ishhh, sakit kak," keluh Nia mengusap-usap telinganya yang memerah. Ratih hanya tersenyum geleng-geleng.
" Makanya jangan sok tau," ucap Rendy.
" Ishhh, memang benar kok, kakak itu nggak pernah makan di kamar. Sekarang ada istrinya mau di kamar mulu," goda Nia lagi.
" Kamu ya benar-benar," sahut Rendy yang lama-kelamaan malu di depan mamanya dengan adiknya yang terus menggodanya.
" Sudah-sudah, kalian ini malah berantam, sekalian Rendy kamu bawa susu untuk Rania," ucap Ratih yang langsung menyiapkan susu.
" Susu apa itu ma, susu ibu hamil ya," goda Nia lagi. Rendy hanya geram mendengarnya yang mati kutu di depan adiknya.
" Amin," sahut Ratih yang langsung mengaminkan dan berharap malaikat menjabahnya.
" Tuh, kak dengerin itu kode untuk kakak, mama sudah mau cucu," sahut Nia yang tidak henti-hentinya menggoda Rendy. Rendy hanya malu yang tidak bisa bicara apa-apa.
" Sudah-sudah, jangan menggoda kakak kamu terus. Kasian dia. Lihat wajahnya memerah, sana kamu bawain makanan dan susunya untuk Rania," ucap Ratih.
" Kamu ini ya jahat banget sama kakaknya," ucap Ratih.
" Biarin ma, biar kak Rendy peka," sahut Nia tertawa cengengesan.
" Assalamualaikum," sapa Anisa yang tiba-tiba datang dan langsung menuju dapur.
" Walaikum salam," sahut Nia dan Ratih serentak.
" Anisa," sahut Ratih.
" Aku kita tidak mau datang, karena sudah sempat di tegur kak Rendy," batin Nia yang memang semenjak kejadian masalah itu. Baru kali ini Anisa menginjakkan kaki di rumah mereka.
" Apa kabar Anisa?" tanya Ratih.
" Baik Tante, maaf Anisa baru bisa datang hari ini," ucap Anisa dengan tutur kata yang lembut.
" Tidak apa-apa," sahut Ratih.
__ADS_1
" Tante aku dengar Rania masuk rumah sakit. Jadi aku datang kemari ingin menjenguknya sekalian membawakan ini untuknya. Bubur ayam semoga Rania suka," ucap Anisa.
" Hmmm, makasih Anisa. Kamu sudah repot-repot pagi-pagi datang," sahut Ratih.
" Tidak apa-apa Tante, Anisa hanya ingin menjenguk Rania. Walau sepertinya sudah terlambat. Karena memang belakangan ini Anisa sedang sibuk makanya tidak sempat melihat ke adaan Rania," ucap Anisa.
" Ya sudah tidak apa-apa yang penting kamu sudah ada di sini. Rania sedang ada di kamar dia memang belum banyak bergerak. Karena masih proses penyembuhan. Jadi dia ada di kamar," ucap Ratih.
" Boleh Anisa melihat ke adaannya?" tanya Anisa.
" Boleh, silahkan naik, di kamar Rendy," sahut Ratih yang tampak keberatan.
" Ya sudah Tante. Aku akan melihatnya sebentar," ucap Anisa. Ratih mengangguk. Dan Anisa langsung pergi.
" Ma, kenapa di izinkan coba untuk kak Anisa ke atas. Kan kak Rendy sama kak Rania lagi ada di sana," ucap Nia.
" Nia, Anisa ingin menjenguk Rania lalu apa yang salah?" tanya Ratih.
" Salah dong ma. Siapa tau kak Rendy sama kak Rania sedang bermesraan dan kak Anisa malah mengganggu," ucap Nia.
" Sudahlah Nia, kamu ini pikirannya kemana-mana terus," ucap Ratih gelang-gelang.
" Lagi ngomongin apa sih," sahut Zahra yang masuki dapur dan mengambil air putih.
" Tidak ada Zahra. Anisa baru saja tiba dan ingin melihat ke adaan Rania," jawab Ratih.
" Anisa datang kerumah?" tanya Zahra kelihatan heran. Ratih mengangguk.
" Tumben amat," sahut Zahra.
" Memang kenapa. Bukannya biasanya dia juga sering datang kerumah?" tanya Ratih.
" Kan sudah lama tidak. Aku malah berpikiran dua segitu marahnya dengan Rendy, karena masalah kemarin. Tidak taunya dia ternyata masih mau datang," ucap Zahra.
" Aku juga sepemikiran sama kak Zahra," sahut Nia.
" Sudah-sudah, kalian ini bicara apa. Jangan mikir yang aneh-aneh. Ayo bantuin masak cepat," tegas Ratih. Nia dan Zahra hanya saling minat saja.
Bersambung.
__ADS_1