
Sarah berada di salah satu Restaurant dan terlihat duduk sendiri dengan makanan yang sudah di pesannya. Sarah memesan 2 kopi yang sepertinya Sarah sedang menunggu seseorang.
" Kenapa dia lama sekali," gumam Sarah melihat di sekelilingnya yang sepertinya mencari seseorang yang di tunggunya. Tetapi tidak tau siapa.
" Sorry lama," tiba-tiba seorang wanita berbicara yang berdiri di sampingnya. Ternyata wanita itu adalah Willo, kakak dari Rania.
" Duduklah!" titah Sarah mempersilahkan Willo untuk duduk dan Willo pun langsung duduk menatap wanita itu dengan sinis.
" To the point saja, kenapa menyuruhku untuk bertemu di sini. Sorry aku tidak punya banyak waktu," ucap Willo yang bicara lempang tanpa pedulian siapa wanita yang di depannya itu.
" Dasar wanita ini benar-benar sombong," batin Sarah tampaknya kesal dengan Willo. Namun Sarah tersenyum menanggapi kata-kata Willo.
" Aku tau, hubunganmu dengan adikmu tidak baik. Ya kamu itu dengannya. Karena dia bisa mendapatkan apapun yang di mau. Termasuk pernikahannya yang sangat mudah dan lagi-lagi dia selalu menang darimu. Kamu sudah bercerai dan dia bahagia berada suaminya," ucap Sarah.
" Apa tujuanmu untuk menemuiku. Hanya untuk memamerkan kebahagiannya yang membuatku langsung panas. Apa kah hanya itu tujuanmu?" tanya Willo dengan geram.
" Jelas tidak. Jujur saja. Aku sangat membenci adikmu sama seperti mu dan aku panas melihat dia yang bahagia bersama Rendy. Yang seharusnya menjadi suami anakku. Ya aku sangat membencinya," ucap Sarah dengan menekan suaranya.
" Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan. Kau membencinya dan apa tujuanmu memanggilku kemari. Apa hanya mendengar keluh kesahmu," ucap Willo.
" Mari bersama-sama menghancurkannya," sahut Sarah langsung to the point. Hal itu membuat Willo menaikkan alisnya saat mendengar kata-kata wanita itu.
" Jika menghancurkannya, aku tidak perlu bantuanmu. Kau masalah sendiri dengan dia dan aku juga. Jadi masalah kita berbeda. Jika kau menghancurkannya sendiri aku juga untung. Jadi tidak ada masalah sama sekali," sahut Willo.
" Aku tau Willo, kau hanya menjadikannya sebagai ladang duit saja. Tapi aku juga bisa memberimu uang yang banyak," sahut Sarah mulai melakukan penawaran.
Tidak basa-basi Sarah langsung mengambil amplop tebal dari dalam tasnya dan langsung menggeser ke hadapan Willo dan membuat mata Willo turun pada amplop tebal itu. Bola matanya langsung hijau dengan melihat segepok uang itu.
" Apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Willo yang sepertinya langsung tertarik dengan penawaran itu. Hal itu membuat Sarah tersenyum miring.
" Ya memang sangat mudah untuk mengajak wanita bekerja sama. Hanya karena uang dengan cepat dia langsung setuju tanpa basa-basi," batin Sarah yang merasa menang.
" Kau tidak ingin melakukan apa-apa?" tanya Willo dengan menaikkan 1 alisnya.
" Aku mau kamu membantuku. Untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Rendy. Dia harus berpisah dengan Rendy," jawab Sarah.
__ADS_1
" Kau ingin aku jadi pelakor?" tanya Willo.
" Jelas Rendy tidak akan melirikmu. Karena aku tau siapa Rendy," sahut Sarah.
" Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Willo.
" Rania, dia yang harus hancur. Aku ingin kamu menghancurkannya. Membuatnya tidak di percaya siapa-siapa. Membuatnya menghiyanati suaminya sehingga Rendy langsung menceraikannya," ucap Sarah menegaskan dengan menyunggingkan senyumnya.
" Apa perlu aku harus melibatkan masa lalunya?" tanya Willo yang sangat cepat mendapat ide.
" Masa lalu, apa dia punya semua itu?" tanya Sarah.
" Ya Rania punya masa lalu dan itu mungkin bisa merusak rumah tangganya," ucap Willo menegaskan.
" Baguslah jika ada. Kamu laksanakan saja semuanya dengan jelas. Dan aku akan menambah lagi pundi-pundi uangmu," ucap Sarah dengan senyumnya. Willo juga tersenyum.
" Akhirnya aku bisa menemukan kelemahan Rania. Rendy mungkin bisa menahan segalanya. Tetapi jika Rania sudah menyimpang maka Rendy tidak akan tahan lagi dan Rania akan mendapatkan imbas dari segalanya," batin Sarah dengan tersenyum penuh kemenangan.
Ya dia harus turun tangan hanya untuk Anisa anaknya. Walau dia melakukan banyak cara dan sekarang harus melibatkan Willo kakak Rania yang jelas sangat membenci Rania.
Malam hari seperti biasa Rania dan Rendy pulang kerumah. Mereka sama-sama turun dari mobil dan tiba-tiba mata Rendy fokus pada mobil yang terparkir di depan pintu rumah.
" Kamu kenapa?" tanya Rania.
" Apa ada tamu di rumah?" tanya Rendy.
" Nggak tau memang kenapa?" tanya Rania.
" Bukan mobil orang rumah," jawab Rendy.
" Hmmm, mungkin iya ada tamu," sahut Rania.
" Ya sudah ayo kita masuk?" ajak Rendy. Rania mengangguk dan akhirnya mereka masuk Kerumah.
Dan benar di ruang tamu sedang ada tamu yang berbicara dengan Oma Wati, Ratih, Zahra, Anisa, Sarah, dan Anisa dan seorang Pria yang tidak tau siapa.
__ADS_1
" Kalian sudah pulang," sahut Ratih yang melihat anak dan menantunya yang sudah kembali. Dan Pria itu mengangkat kepalanya dan melihat Rendy dan Rania.
Rania langsung melotot saat melihat pria itu. Pria tampan yang mempunyai tubuh tegap itu yang mempunyai kulit sawo matang itu dan melihat Rania dengan tersenyum. Sarah dan Anisa sama-sama saling melihat dan mereka tersenyum melihat Rania dan Pria itu saling menatap.
" Kak, Elang," batin Rania yang terlihat schok melihat Pria yang di kenalnya itu yang ternyata bernama Elang.
" Hay Rendy!" sahut pria itu menegur Rendy dan membuat Rania semakin kaget. Elang pun langsung berdiri dan menghampiri Rendy. Berdiri di depan Rendy dan melihat sebentar ke arah Rania.
" Elang, kamu apa kabar?" tanya Rendy yang tampaknya mengenali Pria itu dan Elang langsung memeluk Rendy.
" Aku baik-baik saja," jawab Elang yang matanya fokus pada Rania dan Rania langsung membuang pandangannya. Elang langsung melepas pelukan itu.
" Kak Rendy, kak Elang sejak tadi nungguin kakak terus," sahut Nia yang tersenyum.
" Hmmm, lama sekali kita tidak bertemu. Aku juga tidak percaya, jika kamu sudah menikah sekarang," ucap Elang.
" Iya, ini istriku. Rania," sahut Rendy yang memperkenalkan istrinya pada Elang dan mata Elang langsung menatap Rania dengan tersenyum penuh arti.
" Hay, aku Elang, aku sahabatnya Rendy," sahut Elang dengan mengulurkan tangannya pada Rania.
" Rania," sahut Rania dengan menyatukan ke-2 telapak tangannya tanpa menyambut uluran tangan itu dan Elang harus menarik tangannya kembali.
" Hmmm, kamu sudah lama sampai?" tanya Rendy.
" Ya sudah," sahut Elang.
" Rendy, Elang baru pulang di Amerika dan bertugas di Indonesia, kebetulan adalah salah satu rumah sakit yang membutuhkannya dan untuk sementara dia akan menginap di rumah ini," sahut Oma Wati.
" Oh, begitu rupanya. Ya sudah, kamu nikmatilah suasana di rumahku," sahut Rendy tersenyum.
" Hmmm, Rendy, aku mau kekamar dulu. Aku capek," ucap Rania yang kelihatan sangat gugup dan merasa tidak nyaman.
" Oh, iya," sahut Rendy.
" Rania kamu sekarang sudah berubah, kamu semakin cantik dan berpura-pura tidak mengenalku," batin Elang yang seperti ada sesuatu dengan Rania dan makanya Rania terlihat sangat gelisah.
__ADS_1
Bersambung...