
Owe Owe owe owe owe owe owe owe owe
Suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruang persalinan. Suara tangisan yang membuat Ratih, Oma, Nia, Rudi dan juga Willo terharu.
" Alhamdulillah!" ucap mereka serentak dengan mengusap wajah mereka dengan tangan. Ratih bahkan langsung sujud syukur mendengar suara tangisan bayi yang di perjuangkan seorang wanita yang menjadi seorang ibu.
Wanita yang begitu kuat dan yakin dengan segala usahanya dan semua di lakukannya untuk suaminya. Ratih dan yang lainnya yang berada di luar ruangan persalinan begitu bahagia dan haru dengan linangan air mata yang hadirnya warna baru di dalam hidup mereka.
Sementara di dalam ruang persalinan Rania tidak kalah meneteskan air mata. Saat bayi mereka yang masih polos itu terlungkup di dadanya yang terus menangis. Rendy yang berada di kepalanya beberapa kali mencium pucuk kepala Rania.
Perasaannya bercampur aduk melihat anak yang di perjuangan istrinya itu. Jangan tanya air mata. Pasti sudah keluar.
Perlahan kepala Rania menoleh ke arah suaminya, " sudah tidak sakit lagi," ucap Rania dengan pelan. Rendy menganggukkan kepalanya dengan mencium kelopak mata istrinya dengan Rania tersenyum penuh kebahagian yang di berikan kesempatan untuk melihat bayinya dan bahkan bayinya ada di atas dadanya yang sekarang sudah diam yang sepertinya bayinya merasa nyaman.
***************
Setelah bayi itu di bersihkan Rendy langsung di azdhan kan, Rendy berdiri di samping Rania dengan Rania masih sadar. Tetapi jangan tanya kondisinya semakin melemah. Namun senyum masih di pancarkan nya yang menggambarkan kebahagiannya.
Selesai di azandkan Rendy meletakkan bayi cantik itu di samping Rania.
" Dokter! kita akan siapkan operasi Bu Rania, pengangkatan tumor di rahimnya," sahut salah seorang Dokter mengingatkan operasi akan berlanjut setelah bayi berhasil di keluarkan dari rahim itu.
" Siapkan semuanya!" sahut Rendy memerintahkan dan Dokter tersebut langsung keluar.
Setelah ini Rendy akan berperang lagi untuk menyelamatkan nyawa istrinya.
Rendy mencium lembut kening istrinya sembari memeluknya dengan erat. Rendy melepas pelukan itu dan kembali mencium kening Rania duduk di samping Rania di bagian kepala Rania.
__ADS_1
" Anak kita mirip dengan kamu, dia sangat cantik sama seperti kamu," ucap Rendy.
" Alhamdulillah, jika anak kita mirip denganku. Kamu tidak akan akan kehilangan apa-apa," sahut Rania.
" Sayang kamu akan tetap di sini. Kamu tidak akan pergi," sahut Rendy menolak untuk di tinggalkan.
" Aku juga menginginkan hal yang sama. Tetapi seperti yang aku bilang. Allah sudah memberikan semuanya kepadaku. Dia sudah mengabulkan doaku dan kali ini. Aku tidak berani meminta lagi," sahut Rania. Air mata Rendy menetes.
" Jaga anak kita baik-baik. Terima kasih sudah mencintaiku. Maafkan aku sayang, aku sedikit egois yang tidak membahas pernikahan kamu setelah aku tiada, sayang aku sangat mencintai kamu. Aku rasanya tidak ingin ada wanita yang menggantikan ku di hati mu. Maafkan aku jika aku begitu egois yang ingin menjadi satu-satunya di hati kamu," ucap Rania.
Kebanyak wanita memang jika berada di dalam posisi Rania pasti sibuk mencari istri untuk suaminya atau menjaga anaknya. Namun tidak dengan Rania yang tidak melakukan itu sama sekali.
" Kamu jangan bicara terlalu jauh sayang, aku tidak mungkin menggantikan mu. Aku sangat mencintaimu. Kamu akan tetap menjadi istriku adab dan tidaknya kamu sisiku. Aku tidak akan pernah menggantikan kamu sampai kapanpun itu," ucap Rendy yang berjanji pada Rania sembari mengusap-usap rambut Rania.
Mendengarnya pernyataan itu membuat wajah Rania tersenyum mengembang, " makasih sayang untuk semua yang kamu lakukan. Aku sangat bahagia. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sayang," ucap Rania. Rendy hanya mengangguk dengan mencium lagi-lagi kening istrinya.
Krekkk.
" Kamu sudah menjadi seorang ibu. Kamu wanita yang kuat," ucap Rudi tidak bisa membendung air matanya.
" Makasih pah. Rania minta maaf selama ini Rania banyak salah sama papa. Kita sering bertengkar, kata-kata Rania pasti menyakiti papa. Maafkan Rania pa," ucap Rania.
Rudi melepas pelukan itu dengan memegang ke-2 pipi Rania dan mencium kening Rania lembut. Menatap intens wajah putrinya yang sangat teduh itu.
" Kamu tidak salah, papa yang salah. Tidak ada kesalahan kamu untuk papa. Papa yang minta maaf, kamu lihat Putri kamu dia sangat cantik. Jadi kamu harus kuat. Putri kamu harus berkembang bersama ibunya," ucap Rudi. Rania hanya mengangguk dengan senyuman.
" Papa juga jaga dia ya, jangan biarkan dia kekurangan kasih sayang. Katakan kepadanya. Jika Rania ibunya sangat menyayanginya," ucap Rania.
__ADS_1
" Jangan bicara seperti itu Rania. Kamu harus kuat, kita rawat anak kamu sama-sama," sahut Willo.
Rania hanya tersenyum mendengar kata-kata Willo, " kakak juga ya jaga anak Rania seperti anak kakak sendiri," sahut Rania yang malah berpesan pada kakaknya dan mengabaikan kata-kata kakaknya.
" Della tidak ada?" tanya Rania yang tidak melihat adik bungsunya.
" Della dalam perjalan, sebentar lagi dia sampai," jawab Willo.
" Sampaikan pada Della, Rania juga menyayanginya dan maafkan segala kesalahan Rania," sahut Rania yang lagi-lagi berpesan.
" Mah!" Rania melihat ibu mertuanya dan Ratih mendekat dengan memegang tangan menantunya itu.
" Mama di sini," sahut Ratih.
" Makasih ya ma, sudah menerima Rania menjadi menantu. Rania sangat beruntung bisa menjadi menantu mama. Rania merasa adalah seorang anak dan bukan menantu. Makasih ma untuk semuanya. Jaga suami Rania dan juga anak Rania. Cucu pertama mama. Hanya ini yang bisa Rania berikan sebagai hadiah," ucap Rania.
" Nia makasih juga, kamu sudah menjadi teman kakak selama ini. Kamu jangan lupa ya dengan semua yang kakak katakan. Jaga anak Kaka ya," lanjut Rania berpesan pada adik iparnya. Nia tidak menjawab dan hanya menagis saja.
" Makasih Oma yang juga menjadi nenek untuk Rania. Rania begitu bahagia dengan semua kehidupan yang Rania dapat setelah menikah. Terima kasih Oma," ucap Rania lagi. Oma Wati hanya mengangguk-angguk saja dengan air matanya yang tidak hentinya menetes.
" Aku sangat bahagia dengan kehidupanku. Terima menjadi istrimu. Makasih untuk cinta yang kamu berikan kepadaku. Aku mencintaimu suamiku," ucap Rania lagi.
" Aku juga mencintaimu, jangan banyak bicara, kamu harus kuat kita akan berjuang lagi," ucap Rendy dengan mengusap-usap pipi istrinya
" Dokter ruang operasi sudah siap!" sahut Dokter yang memberikan informasi.
Rania tersenyum menoleh kearah bayinya yang ada di sampingnya.
__ADS_1
" Ibu sangat menyayangi Asyifa. Jadilah anak yang Sholeh, yang pintar dan berguna untuk orang lain dan tetaplah bersama ayahmu," ucap Rania yang berusaha mencium putri kecilnya yang di bantu oleh Ratih.
Bersambung