
Rendy dan Nayra berada di dalam mobil. Mereka hanya diam tanpa ada obrolan dan hujan sudah berhenti. Mungkin memang tidak tau mereka haru bicara dari mana.
Rania mungkin masih mengingat perkataan ustadz yang membuat hatinya tersentuh dan merasa jauh lebih baik setelah mendengarkan ceramah ustad tersebut. Dia memang tidak pernah mendapat pencerahan dari manapun itu.
" Ya Allah apa orang sepertiku. Masih memiliki kesempatan untuk menghadap kepadamu. Apa aku pantas meminta kepadamu, apa kau akan menerima apa yang aku ucapkan apa kau akan mendengarkan nanya," batin Rania dengan kebimbangan hatinya.
" Apa engkau akan menerima manusia sepertiku. Yang tidak pernah bersyukur dan selalu mengeluh. Selalu merasa salah dengan semua yang aku dapatkan. Apa sebenarnya masalah yang terus berdatangan kepadaku adalah sebuah teguran agar aku bisa lebih dekat denganmu. Tetapi apa aku pantas mendapat ampunan dari mu. Apa orang sepertiku masih memliki harapan itu?" tanya Raina di dalam hatinya yang sepertinya ingin mengubah secercah hidupnya di dalam perasaannya ada sesuatu hal yang membuatnya tidak damai.
" Ya Allah apa kah aku pantas menyebut namamu," batinnya lagi dengan matanya berkaca-kaca yang mungkin terharu ketika menyebut nama Tuhannya yang dia tidak tau kapan terakhir kali dia menyebut nama itu.
" Aku ingin hidup bahagia. Aku ingin seperti orang-orang yang selalu damai dan mendapatkan kebahagian. Aku ingin seperti itu. Tetapi apa mungkin engkau akan memberikanku kesempatan itu. Apa aku akan merasakan hal itu," batinnya yang benar-benar galau dengan kebimbangan hatinya.
Rania terus bergerutu di dalam hatinya perang batin yang terjadi di dalam hatinya sementara Rendy menyetir fokus dan bahkan mereka sedang berada di lampu merah.
Raina melihat orang-orang di sekelilingnya melihat anak-anak yang hidupnya begitu sulit tetapi terlihat tenang dan damai bahkan bersama dengan orang tuanya yang saling merangkul dan terlihat bahagia dengan kekurangan yang ada pada mereka sangat berbeda dengan dirinya walau berkecukupan bahkan sangat lebih. Tetapi tidak pernah mendapatkan kebahagian.
" Mereka tidak kaya, pakaian mereka tidak cantik, bahkan makan mereka sangat sederhana. Tetapi kenapa wajah mereka masih tersenyum. Wajah mereka begitu tenang. Seperti tidak ada beban yang mereka hadapi. Apa kah tanganmu hanya akan di ulurkan untuk orang-orang seperti mereka dan sementara aku tidak pantas mendapatkan semua itu," batinnya yang menyadari dirinya.
Rania terus memperhatikan orang-orang itu dengan matanya yang berkaca-kaca. Dan bahkan ada tetes butir air mata yang akhirnya terjatuh juga.
" Kamu ingin di antara kemana?" tanya Rendy menoleh ke arah Rania dan Rania masih diam karena masih ada perang di dalam sana. Dan Rendy lagi-lagi mendapati Rania dengan tetes air matanya.
" Ada apa dengannya. Kenapa dia sangat mudah menangis. Apa yang sebenarnya terjadi padanya," batin Rendy yang merasakan jika Rania sangat banyak masalah.
" Rania?" tegur Rendy yang tidak mendapatkan respon apa-apa dan membuat Rania tersentak kaget dan terlihat seperti orang linglung.
" Ha iya, kamu bertanya apa?" tanya Rania dengan gugup dan langsung menyeka air matanya.
" Aku mengatakan. Kamu mau di antarkan kemana?" tanya Rendy lagi.
" Mobilku parkir di taman jadi antar saja aku kesana," jawab Rania dengan pelan.
" Baiklah kalau begitu," sahut Rendy.
__ADS_1
" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rendy tanpa menoleh kearah Rania dan fokus menyetir kedepan dan bukannya menjawab Rania malah bengong melihat Rendy. Sepertinya setiap apa yang di ucapkan Rendy membuat ada getaran di dalam sana yang tidak dapat di mengertinya.
" Apa aku salah bertanya," sahut Rendy menoleh kearah Rania dan lagi-lagi Rania akan tersentak kaget.
" Tidak. Tidak sama sekali," jawab Rania gugup dan terlihat membuang napasnya dengan perlahan kedepan.
" Hmmm, ada yang ingin aku tanyakan," ucap Rania tiba-tiba.
" Ada apa katakan?" sahut Raihan yang sepertinya tidak akan masalah mendengar apa yang ingin di tanyakan Rania.
" Apa tuhan maha mengampuni?" tanya Rania membuat Rendy langsung melihat ke arahnya dan mereka saling menatap dengan tatapan yang sangat dalam.
Pertanyaan Rania seakan mengetuk hati Rendy. Jika Rendy merasa wanita di sampingnya ini benar-benar kesepian karena mungkin tidak dekat dengan penciptanya.
" Apa pertanyaan ku salah?" tanya Rania dan Rendy mengalihkan pandangannya kembali menatap lurus yang bisa-bisa dia akan menabrak orang jika fokus pada Rania.
" Pertanyaan mu tidak salah dan jawabannya jelas tuhan maha pengampun," sahut Rendy yang sekalian menjawab pertanyaan itu.
" Lalu apa orang seperti masih akan mendapatkan pengampunan?" tanya Rania lagi.
" Jangan berprasangka buruk pada tuhanmu. Karena sesungguhnya dia selalu memberi, menyayangi dan juga mengampuni setiap kesalahan hambanya dan pasti memberi kesempatan untuk orang-orang yang mengakui kesalahannya," lanjut Rendy yang tampaknya mengeluarkan ceramahnya dan benar-benar masuk kedalam hati Rania bahkan Rania harus menahan air matanya untuk tidak keluar.
" Tetapi kenapa aku merasa tidak pantas," batin Rania.
Hanya singkat kata-kata menyejukkan dari Rendy dan Rania tidak bertanya lagi dan Rendy pun menyetir kembali fokus.
Tidak berapa lama akhirnya Rania pun dan Rendy sampai ketempat di mana Rania tadi dibawa Rendy dan mereka sudah sama-sama keluar dari mobil dan sama-sama menghampiri mobil Rania.
" Terimakasih sudah mengantarku," ucap Rania dengan wajahnya yang murung. Tetapi bisa di katakan jika dia sudah baik-baik saja. Rendy hanya mengangguk saja.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu aku permisi dulu," ucap Rendy pamit yang tidak mau basa-basi lagi.
" Tunggu!" panggil Rania menahan tangan Rendy dan membuat Rendy melihat kelengannya yang di pegang Rania.
__ADS_1
" Maaf," sahut Rania yang langsung melepas tangannya. Yang mungkin tidak biasa bagi Rendy.
" Ada apa?" tanya Rendy.
" Bagaimana caranya aku membalas kebaikanmu?" tanya Rania dengan lembut. Rendy mengeluarkan senyum tipisnya.
" Kamu tidak perlu memikirkan cara untuk membalas kebaikanku. Karena aku merasa tidak melakukan apa-apa," sahut Rendy.
" Begitujah! lalu bagaimana dengan pakaian yang kamu berikan. Bagaimana cara aku mengembalikannya," sahut Rania.
" Tania adikku, dan Zahra ukuran pakaiannya lebih besar darimu. Jadi tidak ada gunanya kamu mengembalikannya. Itu untukmu saja," sahut Rendy.
" Oh, begitu rupanya," sahut Rania yang menjadi sangat gugup di depan Rendy.
" Ya sudah. Kalau begitu aku kembali dulu," ucap Rendy kembali pamit.
Rania mengangguk dan Rendy langsung pergi. Rania diam terpaku melihat kepergian Rendy. Rania terlihat membuang napasnya kedepan dengan perlahan.
" *Kenapa dia begitu baik, kenapa Rendy seperti tidak pernah men zass orang. Padahal dia tau bagaimana keluargaku. Tetapi masih saja dia sangat baik dan terlihat begitu peduli,"
" Perkataannya sangat lembut dan sangat mudah untuk di cerna," batin Rania yang tidak pernah bertemu sebelumnya dengan orangseperti Rendy yang memberikan kenyamanan untuknya*.
**********
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini yang lebih tepatnya Rania tidak melakukan apa-apa dan sibuk galau-galauan dengan apa yang terjadi hari ini. Cukup banyak yang di dapatkannya padahal hanya 1 hari.
Tetapi Rania seakan merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Rania mendapatkan banyak kenyamanan dari seorang yang baru di kenalnya. Dia merasakan kenyamanan yang tidak bisa diucapkannya.
Rania melangkah memasuki rumahnya dengan wajahnya yang bisa di katakan tidak semurung saat pertama kali tadi dia keluar dari rumahnya tadi.
" Rania!" tegur Faridah yang ada di ruang tamu dan langsung menghampiri Rania.
" Kamu sudah pulang nak? tanya Faridah.
__ADS_1
" Iya mah," jawab Rania, " memang ada apa pa mah?" tanya Rania heran melihat wajah Rania yang melihat mamanya begitu bahagia dan bahkan Faridah memeluk Rania yang membuat Rania heran.
Bersambung