
Ratih, Sarah dan Anisa terlihat berada di ruang tamu yang mengobrol serius yang tidak dapat di ketahui apa yang di obroli 3 wanita itu.
" Assalamualaikum," sapa Rendy sudah pulang bekerja.
" Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak.
" Rendy kamu sudah pulang," sahut Ratih
Rendy mengangguk dan langsung menghampiri ruang tamu dan mencium punggung tangan mamanya. Juga tangan Sarah. Rendy melihat ke arah Anisa dan Anisa tersenyum lebar.
" Rendy naik keatas dulu," ucap Rendy pamit.
" Rendy, sebentar Tante ingin bicara," ucap Sarah yang tiba-tiba yang membuat Rendy heran.
" Ada apa Tante?" tanya Rendy.
" Duduk dulu Rendy," ucap Ratih. Rendy mengangguk dan duduk di samping mamanya.
" Rendy, Tante kemari ingin menitip Anisa kepada kamu," ucap Sarah membuat Rendy kebingungan dengan kata-kata Sarah.
" Maksud Tante apa ingin menitip Anisa,x sahut Rendy heran.
" Hmmm, begini Rendy. Tante akan pergi ke Luar Negri untuk menyusul papa Anisa. Tante akan menetap lama di sana. Jadi Anisa akan tinggal di rumah ini," ucap Sarah menyampaikan apa yang ingin di katakannya.
" Bukannya memang itu hal biasa. Anisa kan memang sering tinggal di sini. Kalau Tante keluar Negri," sahut Rendy.
" Iya Rendy. Tapi Tante tetap minta bantuan kamu seperti biasanya untuk menjaga Anisa dan kalau ada apa-apa kamu harus ada di sampingnya. Kalian ini sudah bersahabat lama dan kamu pasti mengerti Anisa seperti apa. Karena memang hanya kamu satu-satunya Pria yang di percayai Anisa," ucap Sarah.
" Jadi titip Anisa ya untuk kamu. Jangan kamu marah kepadanya atau menyakiti perasaannya," ucap Sarah.
" Insyallah Tante, saya dan keluarga akan menjaga Anisa selagi Tante pergi," ucap Rendy. Anisa tersenyum lebar mendengarnya.
" Tapi aku juga mengingatkan kepada kamu Anisa. Aku bukan Rendy yang biasa lagi. Aku sudah menikah dan kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan. Kepada Pria yang sudah menikah. Kamu sudah dewasa dan kamu tau itu dan terutama untuk menjaga perasaan istriku," tegas Rendy dengan jelas-jelas bicara pada Anisa membuat Anisa kesal mendengarnya.
" Kenapa dia harus mengingatkan ku masalah Rania. Dia tidak perlu mengingatkan ku tentang pernikahan sial itu," batin Anisa dengan geram pada Rendy.
" Rendy apa kamu keberatan Tante menitipkan Anisa di rumah ini?" tanya Sarah dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
" Mbak bukan itu maksud Rendy," sahut Ratih langsung bicara sebelum Sarah salah paham.
" Mbak Sarah, saya jelas tau kalau Rendy sudah mempunyai istri. Lalu kenapa Rendy mengatakan seperti itu. Seolah Rendy menganggap Anisa hanya mengganggu saja di rumah ini," ucap Sarah dengan wajah yang seakan kecewa.
" Rendy, maafkan aku jika kemarin apa yang aku lakukan membuat kamu marah, tersinggung, kecewa dan mungkin menyakiti istri kamu. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan berdasarkan fakta dan mungkin kebenaranku. Tidak kamu terima dan membuatmu malah marah menyalahkanku. Tapi tidak apa-apa mungkin memang itu salahku. Aku mengakuinya Rendy," ucap Anisa yang terlihat menyesal.
" Bukan itu maksud ku Anisa. Aku hanya tidak ingin ada salah paham selanjutnya," sahut Rendy menegaskan.
" Aku tau, tapi aku sungguh tidak akan menyusahkan keluarga ini. Dan selama ini mama hanya percaya pada keluarga ini," sahut Anisa.
" Mbak, Anisa, mohon tidak salah paham dan mengerti dengan apa yang di katakan Rendy. Ini hanya untuk menjaga situasi kedepannya. Anisa juga sudah dewasa dan pasti mengerti apa yang Anisa lakukan selanjutnya. Jika mbak menitipkan Anisa kepada kami akan menjaganya seperti biasanya. Jadi jangan khawatir," sahut Ratih mencairkan situasi.
" Syukurlah, ternyata Anisa masih di terima di rumah ini," sahut Sarah tersenyum manis.
" Tidak ada yang tidak menerimanya. Kami semua menerimanya. Dan hanya kita tau apa yang harus di lakukan dan tidak perlu di lakukan. Agar kedepannya kita tidak ada masalah," ucap Ratih.
" Iya Tante. Anisa paham kok apa yang Tante maksud," ucap Anisa tersenyum seolah mengalah.
" Mah, Rendy naik ke atas dulu. Rania harus di beri obat," ucap Rendy berdiri. Ratih mengangguk. Rendy hanya menundukkan kepalanya sebagai sopan santun lalu meninggalkan ruang tamu.
" Sebentar lagi kamu tidak akan peduli dengan wanita itu. Karena sebentar lagi. Hanya aku yang akan kamu pedulikan bukan dia," batin Anisa tersenyum dengan menatap punggung Rendy.
Sementara Rania dan Nia berada di dalam kamar Rania dengan Nia menemani kakak iparnya makan. Rania menyuapi dirinya sendiri.
" Ngapain Anisa dan mamanya datang kemari?" tanya Rania penasaran.
" Tante Sarah, mau ke Luar Negri dan seperti biasa. Kak Anisa akan tinggal di sini," jawab Nia.
" Seperti biasa, apa itu memang hal yang biasa di lakukan?" tanya Rania.
" Iya kak, kak Anisa kalau tidak ada temannya di rumah akan menginap di sini," ucap Nia.
" Hmmm, lama dia tinggal di sini?" tanya Rania penasaran.
" Hmmm, aku tidak tau kalau ini. Kalau dulu sih, seminggu, 2 Minggu kayak gitu," jawab Nia
" Lalu kenapa dia tidak ikut ke Luar Negri?" tanya Rania.
__ADS_1
" Sejak dulu. Kak Anisa tidak bisa tinggal di Luar Negri. Karena ada masalah trauma waktu kecil pernah di culik," jelas Nia singkat.
" Begitu rupanya," sahut Rania mengangguk-angguk.
" Kenapa kakak kayaknya kepikiran sesuatu?" tanya Nia.
" Tidak apa-apa. Hmmm, ya wajar sih kalau misalnya Anisa tinggal di sini kan dia sahabatnya Rendy," sahut Rania yang dari wajahnya kelihatan tidak nyaman.
" Apa kak Rania, tidak suka ya dengan ke hadiran kak Anisa di rumah ini," batin Nia menebak-nebak.
Krekkk. Rendy membuka pintu membuat Rania dan Nia melihat ke arah pintu.
" Kak Rendy sudah pulang?" tanya Nia. Rendy mengangguk dan memasuki kamar.
" Kamu sudah minum obat?" tanya Rendy.
" Baru juga makan. Sudah di suruh minum obat. Takut banget istrinya kenapa-kenapa," sahut Nia sewot. Rania hanya tersenyum mendengarnya.
" Kamu ini ya banyak bicara terus," ucap Rendy mengusap-usap pucuk kepala adiknya.
" Ya habisnya kakak lebay sih," sahut Nia.
" Siapa yang lebay kan memang harus di tanya betul-betul," sahut Rendy.
" Iya,iya," sahut Nia, " ya sudah Nia mau kekamar aja. Mau ngerjain tugas kuliah dulu. Nia hanya menemani kak Rania makan dan selebihnya suaminya yang akan mengurusnya," ucap Nia yang langsung berdiri.
" Makasih ya Nia," sahut Rania.
" Sama-sama kak, orang cuma temani makan doang. Jadi apa yang harus terima kasihkan," sahut Nia.
" Ya sudah sana kerjain tugas kamu," sahut Rendy dengan mengusir dengan halus.
" Ya ampun pakai ngusir-ngusir segala lagi. Pengen banget berduaan sama istrinya," goda Nia membuat wajah Rendy memerah dengan ulah adiknya.
" Kamu ini ya," heran Rendy yang malu di depan Rania.
" Iya aku pergi. Nggak mau gangguin," sahut Nia yang langsung pergi.
__ADS_1
Bersambung