
Rania menuruni anak tangga dengan buru-buru. Dan di ruang tamu. Ada Ratih, Oma Wati, Zahra, Nia, Anisa dan Sarah.
" Kamu mau kemana Rania, kok kelihatan buru-buru sekali?" tanya Ratih.
" Mah, Rania mau ketempat papa. Papa sakit dan tidak ada yang mengurusnya. Rania mau melihat kondisi papa dulu," ucap Rania tampak panik.
" Pak, Rudi sakit," sahut Ratih yang juga ikut khawatir.
" Iya mah, makanya Rania mau lihat papa dulu," ucap Rania.
" Biar aku temani ya Rania," sahut Zahra.
" Tidak usah Zahra, ini sudah malam. Mungkin aku juga akan menginap. Nanti kalau kamu ikut, nanti kamu kesulitan. Jadi tidak apa-apa aku sendiri saja," sahut Rania.
" Kamu yakin tidak apa-apa sendiri?" tanya Rania Oma Wati.
" Tidak apa-apa Oma," sahut Rania.
" Ya sudah nak kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa. Kamu telpon mama," ucap Ratih.
" Iya mah," sahut Rania yang langsung buru-buru pergi setelah berpamitan.
" Bagus, akhirnya dia pergi. Willo memang sangat pintar. Rencana pertama berhasil tinggal rencana selanjutnya," batin Sarah tersenyum miring.
" Dia sepanik itu. Sampai tidak tau, jika malam ini suaminya pulang. Ya baguslah kalau begitu. Jadi rencana akan lancar. Kamu catat saja Rania malam ini akan sebagai malam yang menjadi sejarah untukmu," batin Anisa yang melihat mamanya dan menyunggingkan senyumnya.
********
Tidak lama akhirnya Rania sampai di rumahnya. Hujan yang deras dengan sambaran petir membuat Rania tidak mengubah keputusannya untuk melihat papanya. Walau dia dan papanya tidak pernah akur. Tetapi Rania tetap ingin berbakti kepada orang tuanya.
Rania yang hujan-hujanan langsung keluar dari mobil dengan buru-buru dan berlari memasuki rumah agar tidak terkena hujan dan Rania langsung memasuki rumahnya dan menuju kamar papanya.
" Papa," sahut Rania ketika membuka kamar itu.
Namun Rania kaget melihat Elang yang sudah duduk di samping papanya yang terlihat memeriksa papanya. Elang dan Rudi sama-sama melihat ke arah pintu. Yang mana Rania masih mematung dengan terkejut.
" Rania!" lirih Rudi yang memang tampak lemas dengan memakai pakaian tebal.
" Pah," ucap Rania pelan dan melangkah masuk kedalam.
" Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rania pada Elang.
__ADS_1
" Willo menelponku. Pak Rudi tiba-tiba drop dan menyuruhku untuk memeriksa papa," jawab Elang membuka steteskopnya dari lehernya.
" Kak, Willo menelpon Elang. Kenapa harus Elang. Apa lagi yang di rencanakan kak Willo," batin Rania.
" Jangan salah paham Rania. Mungkin Willo tidak mempunyai nomor Dokter lain. Saat menelpon dia juga kelihatan panik. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya memeriksa pak Rudi saja," ucap Elang seakan tau apa yang di pikirkan Rania.
" Lalu di mana kak Willo?" tanya Rania yang memang tidak melihat kakaknya.
" Willo sedang membelikan makanan. Papa belum makan dari tadi," jawab Rudi tampak lemas.
" Begitu rupanya. Lalu bagaimana ke adaan papa?" tanya Rania yang melihat sang papa memang sangat lemas.
" Pak Rudi terkena demam berdarah. Kamu jangan khawatir aku sudah menyuntikkan obat dan kondisi Pak Rudi akan semakin membaik," jawab Elang.
" Oh, begitu. Kalau begitu terima kasih. Kamu pulanglah aku akan temani papa," ucap Rania tanpa basa-basi yang mengusir halus Elang.
" Baiklah kalau begitu. Pak Rudi saya pulang dulu. Jangan lupa obatnya di minum," ucap Elang memberi saran.
" Terimah kasih Elang," sahut Rudi.
" Permisi," sahut Elang yang memang langsung pergi. Rania membuang napasnya perlahan dan menghampiri papanya dan duduk di samping papanya.
" Kenapa kamu datang?" tanya Rudi.
" Apa aku tidak boleh datang. Bukannya papa adalah papaku," sahut Rania. Rudi diam, dia yang begitu lemas tampak tidak bisa banyak bicara dan hanya menatap sendu Rania yang mungkin tidak percaya Rania bisa datang menemuinya padahal sudah sangat malam.
" Papa butuh sesuatu?" tanya Rania lembut.
" Tidak Rania. Sebaiknya kamu pulang. Kamu sudah punya keluarga. Papa bukan tanggung jawab kami," ucap Rudi.
" Tidak pah, papa tetap tanggung jawab Rania. Dan Rania juga sudah minta izin untuk datang kemari," ucap Rania.
" Papa tidak pernah bertanggung jawab pada kamu. Jadi kamu tidak perlu melakukan ini. Jadi pulanglah," ucap Rudi yang kelihatan tidak mau merepotkan Rania.
" Apapun itu. Tetap papa tanggung jawab Rania. Jadi papa istirahatlah jangan memikirkan apa-apa. Papa harus sembuh. Rania akan pulang besok pagi. Keluarga Rendy sudah mengujikan Rania. Jadi papa jangan khawatir," ucap Rania menatap nanar wajah Rudi dengan memegang tangan Rudi.
" Ya, sudah kalau begitu. Kalau begitu kamu juga sebaiknya istirahat. Papa akan istirahat," ucap Rudi yang akhirnya mengalah.
" Iya pa, Rania akan tidur di sini menemani papa," sahut Rania.
" Kamu istrirahat di kamarmu saja. Papa terkena demam berdarah. Nanti kamu bisa kenapa-kenapa," ucap Rudi.
__ADS_1
" Tidak apa-apa pa, yang penting Rania bisa mengawasi papa," sahut Rania yang tampak tidak masalah.
" Rania jangan mencari penyakit. Jadi dengarkan apa kata papa," sahut Rudi menegaskan.
" Baiklah pah," sahut Rania dengan berat hati menurut.
" Kalau begitu papa istirahatlah," sahut Rania berdiri menarik selimut Rudi sampai ke dadanya, " kalau ada apa-apa. Langsung panggil Rania," ucap Rania berpesan.
" Iya kamu jangan khawatir. Kamu istirahatlah," ucap Rudi. Rania mengangguk dan langsung pergi keluar dari kamar sang papa.
" Semoga saja papa cepat sembuh. Aku sangat bahagia dengan papa yang tampak lembut kepadaku," batin Rania yang masih berdiri di depan pintu.
" Maafkan papa Rania. Dalam keadaan seperti ini kamu masih menyempatkan diri untuk menemui papa. Padahal apa yang aku lakukan selama ini tidak pantas mendapatkan apa yang kamu berikan," batin Rudi yang mungkin menyadari perbuatannya selama ini.
*******
Elang pun memang akhirnya langsung ke luar dari rumah itu. Karena Rania menyuruhnya pergi dan dia juga tampaknya tidak mau mencari gara-gara dengan Rania. Saat keluar dari rumah Elang berpapasan dengan Willo yang baru keluar dari mobil.
" Elang kamu mau kemana?" tanya Willo heran.
" Aku harus pulang. Rania sudah menjaga Pak Rudi. Jadi aku sebaiknya pulang," ucap Gilang.
" Jadi Rania sudah datang. Baguslah," batin Willo tersenyum miring.
" Ya, sudah aku pulang dulu ya," ucap Elang pamit.
" Elang, tunggu dulu!" cegah Willo menahan.
" Ada apa?" tanya Elang.
" Nanti saja. Kalau hujannya reda kamu baru pulang. Kamu sebaiknya masuk lagi. Aku juga masih ingin bertanya banyak masalah kondisi papa. Jadi kamu jangan pulang dulu," ucap Willo melarangnya.
" Tidak Willo, aku tidak enak dengan Rania. Jadi mau tidak mau aku harus pulang," sahut Elang.
" Elang, aku yang memanggilmu kemari. Bukan Rania. Jelas itu tidak ada urusannya dengan Rania," tegas Willo.
" Tapi..."
" Sudah ayo!" Willo tampak memaksanya dan langsung menarik tangannya dengan yang memaksa Elang kembali memasuki rumah.
Bersambung
__ADS_1