Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Epiosode 153 keputusan.


__ADS_3

Rania menyusul suaminya yang memasuki kamar. Di mana Rendy terlihat begitu frustasi sampai beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar. Rania membuang napasnya perlahan yang masih berdiri di depan pintu. Rania menatap nanar suaminya itu dan langsung menghampiri Rendy duduk di samping Rendy dengan mengusap-usap punggung Rendy.


" Aku bingung Rania," ucap Rendy dengan suara seraknya yang menghadap Rania. Wajah suaminya itu memang menunjukkan beban yang begitu berat.


" Aku tau apa yang kamu rasakan," sahut Rania yang hanya bisa menenangkan suaminya itu.


" Rania sangat tidak masuk akal. Jika Zahra tidak menikah dengan Elang. Mana mungkin dia mengandung tanpa suami. Bukannya perutnya akan semakin besar. Keputusan yang dia ambil Zahra hanya membuat kesulitan untuk dirinya sendiri. Orang-orang akan mencemohnya dan mental Zahra hanya akan rusak. Aku tidak bisa Rania membiarkan semua ini terjadi. Apa yang aku lakukan hanya demi kebaikannya kedepannya," ucap Rendy menjelaskan pada istrinya.


" Aku mengerti Rendy, aku tau. Kamu melakukan semua ini. Karena kamu begitu peduli pada Zahra. Aku tau itu," sahut Rania yang mengusap-usap lengan Rendy.


" Lalu kenapa Zahra tidak mengerti dan tetap egois," sahut Rendy.


" Rendy, Zahra mungkin tidak ingin menjadi orang ke-3 dalam hubungan Elang dan juga Cindy dan semua yang terjadi juga bukan kesalahan Zahra. Rendy aku seorang wanita. Aku hanya mengambil posisi Zahra seolah menjadi aku. Kita menikah tanpa cinta. Tetapi jelas aku juga akan cemburu, akan merah jika suamiku bersama wanita lain. Walau tidak ada cinta di dalam kehidupan itu dan itu yang di takutkan Zahra. Rendy walau tidak mencintai Elang. Tetapi perasaan itu akan terus menghantuinya dan coba kamu bayangkan rusakkan di mana mental Zahra menikah di penuhi amarah, kecemburuan saat sedang hamil atau mendengar cemohan orang lain yang jelas cemohan itu masih bisa di hindari," ucap Rania yang mencoba membuat suaminya mengerti dengan posisi Zahra.


" Jadi keputusan yang aku ambil tidak tepat," sahut Rendy.


" Tidak ada yang mengatakan keputusan kamu tidak tepat. Bagiku apa yang kamu ambil sudah sangat tepat. Tetapi kamu juga harus memikirkan 2 sisi," sahut Rania. Rendy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.


Mendengar kata-kata Rania yang lembut seakan Rendy sudah tenang dan bisa memahami situasi yang begitu sulit.


" Lalu menurut kamu seperti apa Rania apa aku harus menuruti apa kata Zahra?" tanya Rendy meminta pendapat dari Rania.


" Kita panggil Elang dan kita bicarakan kembali baik-baik. Melihat Elang aku yakin dia ingin bertanggung jawab. Tetapi juga tidak ingin menyakiti kekasihnya. Kita akan coba bicarakan lagi agar kita menemukan jalan tengahnya," ucap Rania memberikan pendapatnya pada suaminya.


" Baiklah Rania, kita akan coba bicarakan semuanya pada Elang," sahut Rendy yang setuju dengan Rania. Rania tersenyum dan memeluk Rendy dengan erat.


" Kamu itu sangat tampan jika marah. Tetapi aku menyukai kamu yang tenang, dan sangat sabar," sahut Rania dengan memeluk manja suaminya. Rendy membuang napasnya perlahan dengan mengusap-usap rambut bagian belakang Rania.


" Maafkan aku jika marahku membuatmu mengurangi cintamu kepadaku," sahut Rendy. Rania tersenyum mendengarnya.


" Mana mungkin cinta ku akan berkurang Rendy," batin Rania.

__ADS_1


" Makasih Rania kamu sudah ada di sampingku. Dia saat aku benar-benar membutuhkanmu," sahut Rendy.


" Itulah gunanya istri yang ada di samping suaminya," sahut Rania. Rendy merasa lega dengan hadirnya Rania dalam hidupnya.


**********


Cindy dan Elang sedang menonton di bioskop. Mereka menonton film romantis di mana adegan yang ada di dalam Film sama persis dengan dia dan Zahra terjadinya one night stand.


Melihat film itu membuat Elang mengingat malam itu bersama Zahra. Walau dalam pengaruh obat tapi jelas Elang tidak melupakan kejadian itu. Dia bahkan seolah sadar dengan apa yang di lakukannya.


" Elang, aku mau popcornnya," ucap Cindy pada Elang yang masih bengong dan seakan tidak mendengarkan apa yang di katakan Cindy.


" Elang!" tegur Cindy lagi. Namun Elang masih tetap bengong


" Elang!" tegurnya lagi menyenggol Elang.


" Iya Zahra kenapa?" sahut Elang yang kelepasan menyebut nama Zahra.


" Siapa Zahra?" tanya Cindy dengan mengintimidasi Elang.


" Ya ampun Elang ada apa denganmu kenapa coba kamu harus memanggil nama Zahra," batin Elang kepanikan sendiri.


" Kamu kenapa diam Elang. Siapa Zahra kenapa tidak menjawabku?" tanya Cindy dengan wajahnya yang serius.


" Bukan, bukan siapa-siapa," sahut Elang dengan gugup.


" Kamu sedang memikirkan wanita lain?" tanya Cindy memastikan.


" Tidak Cindy bukan begitu, aku teringat dengan pasien anak kecil yang namanya Zahra dia begitu lucu sampai bisa-bisanya masuk kedalam pikiranku," sahut Elang yang mencari alsan pada Cindy.


" Ohhhh, sepertinya anak itu benar-benar lucu sampai kamu tidak mendengarkanku," sahut Cindy.

__ADS_1


" Iya maaf ya," sahut Elang. Cindy terlihat percaya-percaya saja dan mengangguk. Elang bernapas lega dengan percayanya Cindy kepadanya.


" Elang, ada apa denganmu bisa-bisanya kamu mengingat kejadian malam itu. Apa kamu gila Elang. Kau sungguh-sungguh gila. Kamu sedang bersama Cindy dan kamu bisa- memikirkan wanita lain," batin Elang geleng-geleng. Elang juga tidak percaya jika fokusnya bisa hilang.


*********


Akhirnya Elang, Zahra, Rania, Rendy dan Ratih bertemu mereka mencoba mengobrol kembali untuk mengambil jalan terbaik atas permasalahan Zahra dan juga Elang.


" Elang, Tante bertanya sama kamu sekali lagi. Apa jika kamu menikah dengan Zahra kamu masih akan tetap berhubungan dengan kekasih kamu?" tanya Ratih.


Elang melihat ke arah Zahra yang sama sekali tidak melihatnya, Elang melihat Rendy yang jelas tatapan Rendy masih menunjukkan kemarahan kepada Elang.


" Elang jawablah jangan diam saja. Kamu jangan merasa paling benar. Atau merasa korban di sini. Kamu mungkin bisa bersantai-santai dengan kekasih kamu. Tapi kamu tidak tau ada benih yang kamu tanam di rahim wanita lain," ucap Ratih.


" Bicaralah Elang jangan membuat kami menunggu," sahut Rendy dengan menegaskan.


" Keputusanku tidak berubah," sahut Elang dengan menundukkan kepalanya.


" Baiklah jika keputusan kamu tidak berubah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami juga tidak mau melihat Zahra nantinya menderita dan bahkan mentalnya rusak. Karena melakukan kamu," sahut Ratih yang menekankan pada Elang.


" Pertemuan hari ini akan di anggap selesai. Karena kamu sudah menentukannya. Mau sesempurna apapun hubungan kamu dengan wanita lain. Tapi percayalah apa yang lakukan kepada Zahra akan tetap membekas di otak kamu," sahut Ratih menegaskan.


" Sekarang pergilah Elang, kami memanggilmu hanya ingin membicarakan hal itu," sahut Ratih.


" Maafkan aku Tante," sahut Elang berdiri. Elang melihat satu persatu orang yang ada di sana dan mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.


...Jangan lupa mampir ya kak ke novel terbaru aku ya kak. Di tunggu like, koment, vote, ya para readers ku....



Bersambung

__ADS_1


__ADS_2