Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 14. Pulang bersama


__ADS_3

Rania memang takut di bilang sok kaya. Yang memberi bantuan kepada Sandi dan juga nenek.


" Aku tidak mengatakan apapun," sahut Rendy yang memang tidak berpikiran apa-apa. Rania saja yang berpikiran aneh-aneh kepadanya.


" Begitu rupanya. Aku berpikiran kamu akan berpikiran apa-apa," ucap Rania. Rendy diam saja dan tidak menjawab lagi.


" Lalu apa kamu setuju?" tanya Rania dengan pelan.


" Kenapa harus meminta persetujuan denganku?" tanya Rendy heran. " Aku hanya Dokternya dan dia punya wali. Jelas masalah setuju dan tidak setuju. Tidak ada urusannya denganku," ucap Rendy.


" Iya aku tau. Lalu bagaimana pendapat kamu?" tanya Rania yang sepertinya betah berbicara dengan Rendy.


" Jika niat itu baik. Jelas tidak ada masalah, asalkan niat kamu tidak bermaksud lain," jawab Rendy.


" Tidak aku tidak bermaksud apa-apa," sahut Rania.


" Jika begitu maka lanjutkan lah," sahut Rendy.


" Iya pasti," jawab Rania. Rendy pun mengembalikan penglihatannya dan melihat kembali ke atas langit dan Rania pun begitu. Dia tersenyum tipis seakan sangat bahagia dengan Rendy yang berbicara dengannya yang membuatnya sangat nyaman.


Perlahan mata mereka memejam dengan air hujan yang masih mengalir deras dan karena itu gubuk suaranya memang terdengar lebih keras. Mungkin jika di rumah Rendy dan juga Rania suara hujan itu tidak akan terdengar.


***********


Pagi hari kembali tiba. Rendy dan Rania tadi juga di suguhkan sarapan dan pasti Rania merasakan nikmat kembali dalam sarapannya.


Mungkin yang menambah kenikmatan itu melihat ketulusan memasaknya dan dengan orang-orang di sekitarnya yang sangat baik dan memberikan energi positif.


Rania dan Rendy pun sudah berada di luar rumah yang berpamitan dengan sang nenek, sang nenek pasti sangat bahagia dengan kedatangan Dokter dan wanita yang pasti membawa kebagian untuknya.


" Kalau begitu kami permisi dulu. Tolong jaga Sandi dengan baik," ucap Rendy memberikan pesan.


" Pasti nak. Terima kasih untuk perhatian kalian," sahut nenek tua itu.


" Mari!" ucap Rendy pamit. Nenek mengangguk Rendy dan Rania pun melangkah meninggalkan tempat itu.


Rendy melihat Rania tampak gelisah dan seperti menunggu seseorang.


" Kamu pulang sama siapa?" tanya Rendy.

__ADS_1


" Aku menunggu Asisten ku. Tetapi tidak datang juga. Tadi malam aku menyuruhnya menjemput ku. Dan sekarang belum datang ponselku juga mati," jawab Rania dengan sedikit penjelasan.


" Kalau begitu mari pulang bersamaku," ajak Rendy menawarkan bantuan.


" Tidak usah, tidak. Aku tidak apa-apa," sahut Rania yang menolak karena merasa tidak enak.


" Terserah! yang jelas aku sudah menawarkan. Dan kamu hanya akan kesulitan nanti," ucap Rendy yang tampak datar.


Mengajak sekali jelas sudah cukup dan untuk 2 kali dan apa lagi membujuk-bujuk. Jelas itu bukan tipenya dan Rendy langsungang berjalan menuju mobilnya.


Rania malah bingung dan gelisah sendiri. Seakan tidak punya pilihan. Rania pun dengan cepat berlari menyusul Rendy.


" Aku ikut," ucap Rania langsung masuk ke mobil Rendy dan langsung duduk. Rendy hanya menanggapi biasa saja.


Rendy pun mengantarkan Rania pulang. Karena memang tidak membawa mobil dan ponselnya yang mati tidak bisa menghubungi Astri sang Asisten.


Jadi Rendy menawarkannya pulang bersama. Meski merasa tidak enak dan sempat menolak. Tetapi akhirnya Rania menerima tawaran itu.


Di dalam mobil mereka hanya diam saja. Hening tanpa obrolan. Karena memang tidak ada yang harus di bicarakan dan mereka juga tidak saling kenal dan bahkan tidak berkenalan Diamnya dan sampai kedepan rumah Rania yang perjalanan cukup memakan waktu 30 menit.


" Terimakasih, sudah mengantarkanku," ucap Rania ketika mobil itu sudah berhenti dan Rania membuka seat belt nya.


" Kalau begitu aku masuk dulu," ucap Rania dengan gugup. Randy mengangguk. Rania pun membuka pintu mobil. Namun tiba-tiba tidak jadi.


" Kamu jangan pulang dulu. Tunggu sebentar," ucap Rania yang buru-buru keluar dari mobil.


" Jangan kemana-mana dulu," ucapnya lagi yang menegaskan. Rendy belum sempat menjawab kenapa Rania sudah pergi.


Rendy hanya terlihat pasrah saja dan Rania pun langsung berlari memasuki rumahnya. Rendy heran dengan Rania yang kenapa harus menghentikannya untuk tidak pulang.


Rania buru-buru memasuki rumahnya dan langsung bertabrakan dengan Willo yang berjalan fokus pada ponselnya.


" Brakk,"


" Auhhh," lirih Willo," pelan-pelan dong," protes Willo dengan Volume suaranya yang keras.


" Sorry," sahut Rania yang langsung pergi. Tidak ada waktu untuk meladeni Willo.


" Kenapa sih dia sampai kayak gitu amat, dasar bikin orang tensian aja," sahut Willo yang kesal dan melihat Rania buru-buru menaiki anak tangga.

__ADS_1


Rania memasuki kamarnya dan membuka lemarinya yang ternyata Rania mengambil jas putih milik Rendy.


" Ayo cepat Rania," batinnya dengan tergesa-gesa.


Tidak beberapa lama Rania kembali turun dengan membawa Jas milik Rendy.


Rania buru-buru keluar dari rumah dan menghampiri Rendy yang ternyata sudah keluar dari mobil dan menunggu Rania di depan mobil.


" Ini," ucap Rania dengan napasnya tersenggal-senggal yang sudah berada di depan Rendy memberikan jas Rendy padanya.


" Maaf, aku baru mengembalikannya sekarang. Karena aku baru sempat sekarang dan ini waktu yang tepat aku rasa," ucap Rania menjelaskan dengan bicara yang tidak stabil dan sangat ngos-ngosan.


Rendy pun meraih jas miliknya dia juga mengingat kenapa itu ada bersama Rania.


" Sekali lagi maaf," ucap Rania merasa bersalah. Karena lama mengembalikan.


" Tidak apa-apa," jawab Rendy, " Makasih," ucap Rendy.


" Aku yang makasih," sahut Rania.


" Ya sudah, kalau begitu aku kembali dulu," ujar Rendy pamitan


" Iya," sahut Rania dan akhirnya Rendy memasuki mobilnya. Rania menunggu mobil Rendy pergi dengan napasnya yang di tarik panjang.


" Syukurlah masalah pakaian itu benar-benar selesai," batin Rania merasa lega.


Ternyata di sisi lain Willo melihat Rania yang sepertinya ngobrol asik dengan Rendy dan melihat wajah Rania yang tampak bahagia.


" Aku seperti pernah melihat pria itu. Tapi di mana ya. Kenapa dia seperti tidak asing," batin Willo penasaran dengan Rendy.


" Ha iya, aku tau. Dia adalah sepupu Gilang," ucapnya ketika mengingatnya. " Benar, dia adalah sepupu gilang. Wah benar-benar sih Rania nggak tau diri banget, belum juga dapat lampu hijau dari keluarga Gilang sudah main belakang aja dengan sepupunya. Memang dasar gatel," batinnya yang berpikiran buruk pada Rania.


" Rania, Rania kamu benar-benar sangat ahli bermain belakang. Nggak tau diri banget jadi wanita," batin Willo dengan pikiran buruknya.


Memang otak Willo tidak pernah terpahat dengan benar makanya di dalam pikirannya itu hanya yang buruk-buruk saja kepada Rania. Karena memang itu tabiat Willo.


Setelah mobil Rendy yang tidak terlihat lagi. Rania pun akhirnya memasuki rumahnya. Rania berjalan di ruang tamu.


" Dasar ******," sahut Willo tiba-tiba menghentikan langkah Rania dan membalikkan tubuhnya melihat siapa yang berbicara seperti itu kepadanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2