Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 76 Membalas sindiran dengan tenang.


__ADS_3

Rendy memang harus pergi untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter untuk beberapa hari kedepan dan sekarang Rania sedang membantu Rendy untuk memasukkan pakaian ke dalam koper. Karena besok pagi suaminya akan berangkat.


" Kamu akan masuk kerja kapan?" tanya Rendy. Sambil menyusun pakaian ke dalam koper.


" Mungkin lusa. Aku istirahat sebentar dulu," jawab Rania yang duduk di pinggir ranjang di samping koper. Dia sebenarnya tidak membantu hanya melihat-lihat saja.


" Kamu hati-hati ya, jangan sampai kejadian itu terulang lagi," ucap Rendy memberi pesan pada istrinya.


" Iya Rendy, aku akan terus sama Zahra dan sama Astri. Aku akan menggunakan supir mulai sekarang. Untuk menjaga keamanan dan di kantor juga sudah di tambah pengawasan. Jadi semuanya sudah lumayan aman," ucap Rania.


" Baguslah kalau begitu, kalau ada apa-apa, langsung telpon Kerumah," ucap Rendy memberi pesan. Rania menganggukkan kepalanya.


" Kamu juga ya, hati-hati di sana, aku mendengar di sana juga sebenarnya tidak begitu aman," ucap Rania memberi pesan.


" Iya, kamu tenang saja aku tidak sendiri dan di sana juga banyak orang," jawab Rendy. Rendy pun meres kopernya ketika sudah selesai semuanya menyusun pakaiannya. Rania tetap saja sendu dia merasa begitu berat jika harus di tinggalkan.


" Ya sudah, ayo kita turun di bawah sudah menunggu yang lain untuk makan malam," ucap Rendy. Rania mengangguk dan akhirnya bangkit dari ranjang dan langsung keluar kamar bersama Rendy yang langsung menuju dapur untuk menikmati makan malam.


Ternyata rumah itu kedatangan tamu yang mana ternyata Iren, Jaya sedang berkunjung Kerumah itu dan juga ada Oma Wati dan di sana dan pastinya ada Ratih, Zahra dan Nia. terlihat Anisa yang super caper yang sudah menghidangkan makanan. Rania dan Rendy pun menghampiri meja makan.


" Yang menantu siapa yang sibuk siapa, menantu malah asyik-asyik kan di kamar santai-santai, sementara Anisa sedari tadi harus repot-repot menyiapkan makan malam," sahut Iren yang penuh sindiran lada Rania. Anisa tersenyum mendengar kata-kata Iren.


" Mbak!" tegur Ratih pada kakak iparnya yang sangat suka membuat suasana menegang.


" Nggak ada nyuruh Tante," celetuk Nia.

__ADS_1


" Ya bagus dong tidak di suruh tapi langsung mengerti," sahut Iren.


" Mbak sudahlah. Ayo Rania, Rendy duduk!" ajak Ratih. Rania mengangguk. Walau hatinya pasti sudah mulai tidak nyaman.


" Kamu ya Ratih, memilih menantu tidak pernah tepat. Untuk apa menikah. Kalau ujung-ujungnya kamu yang masih mengurus segalanya, kamu bisa-bisa mati berdiri," ucap Iren lagi yang terus memojokkan Rania.


Rania hanya diam menunduk. Dia memang tau banyak yang tidak menyukainya. Apa lagi kekurangannya yang begitu banyak pasti akan di permasalahkan.


" Anisa saja yang hanya berteman dengan Rendy. Tau diri tinggal di rumah ini masih membantu memasak. Bahkan masakan ini buatannya semuanya," sahut Iren lagi yang membuat kuping Anisa melebar karena mendapat pujian.


" Apaan, sih Tante Iren. Malah Banding-bandingkan kak Rania dengan kak Anisa lagi," batin Nia yang kelihatan kesal.


" Mbak, sudah, kenapa harus membahas masalah itu," sahut Ratih yang merasa tidak enak dengan Rania.


" Memang apa yang aku katakan salah. Untung saja Gilang tidak jadi menikah dengan wanita ini," sahutnya dengan sinis.


" Kapan kita makan, kalau hanya bicara terus," sahut Oma Wati.


" Oma, biar Anisa ambilin nasinya," sahut Anisa yang langsung caper dengan mengambilkan nasi kepiring Oma Wati.


" Anisa apa kamu tidak capek apa. Ayo kamu duduk dan makan, kamu ini sangat baik," sahut Iren.


" Tidak apa-apa Tante, ini memang kegemaran Anisa," sahut Anisa tersenyum.


" Kamu ini ya Anisa, benar-benar menantu idaman, sudah cantik, pintar, menutup aurat, bisa memasak, tau agama, berakhlak baik, kamu ini idaman para mertua sangat sempurna," ucap Iren yang membandingkan Anisa dengan Rania.

__ADS_1


Rania tidak bisa bicara apa-apa. Karena takut akan salah. Kalau di tanya sedih pasti. Karena memang dia bukanlah wanita yang di inginkan para mertua.


" Tante bisa saja, aku seperti ini. Pasti karena didikan orang tua yang benar. Jadi mama dan papa yang harus mendapat pujian itu dari Tante," sahut Anisa yang merendah diri.


" Lihatlah, sampai sangat rendah hati. Untuk apa jadi wanita karir kalau tidak bisa apa-apa dalam mengurus suami dan rumah tangga," ucap Iren penuh sindiran pada Rania sampai Rania membuang napasnya perlahan dan Rendy pun melihat ke arah Rania yang tau Rania tidak nyaman dengan hal itu.


" Apa kita harus makan di kamar?" tanya Rendy dengan lembut melihat ke arah Rania membuat semua orang melihat ke arah Rendy dan Rania.


" Jika tidak nyaman makan di sini. Jangan memaksakan diri. Karena tugas suami hanya memberi kenyamanan untuk istrinya. Istrinya harus di beri kenyamanan karena sudah memberikan suaminya segalanya," lanjut Rendy menatap Rania dalam-dalam dan Rania tersentuh dengan kata-kata dan tatapan Rendy yang menenangkan.


Nia, Zahra dan Ratih tersenyum mendengar hal itu. Tidak ada gunanya panjang kata-kata atau emosi untuk menghentikan sindiran Iren kepada Rania. Karena Rendy adalah Pria dengan kelas atas tinggi dan harus menanggapi dengan cara yang sesuai dengan pendidikannya.


" Maaf Tante, di rumah ini juga sudah di tetapkan banyak peraturan dari mama yang aku, Nia dan Zahra harus mematuhinya. Jika waktunya makan. Maka makanlah dan bicaralah seperlunya. Untuk menjaga kenyamanan dalam makan. Jika tamu kami tidak bisa melakukan itu. Kami tidak mungkin menegurnya dan maka kami yang tidak nyaman akan memilih untuk makan di kamar," jelas Rendy seakan menampar ucapan Iren.


" Emang enak," batin Nia yang sangat puas.


" Rendy, bukannya makan di dalam kamar itu tidak baik," sahut Anisa yabg sok tau.


" Untuk, suami istri itu berbeda Anisa," sahut Rania yang baru bisa mengeluarkan suaranya dan Anisa kaget mendengarnya.


" Kamu belum menikah Anisa, jadi kamu tidak akan mengerti Anisa," lanjut Rania. Membuat mata Anisa melotot dengan kata-kata yang jauh lebih tajam.


" Sialan kamu Rania, berani sekali kamu mengatakan itu di depan semua orang. Kamu pikir kamu siapa. Kamu mempermalukan ku," batin Anisa yang kelihatan tidak terima.


" Ya ampun Anisa belum tau aja siapa Rania. Kalau sudah bicara pasti mati berdiri," batin Zahra yang juga ikut menikmati perang dingin itu.

__ADS_1


" Dan Tante Iren, jika Tante merasa bahagia atau bersyukur karena aku tidak menjadi menantu Tante. Aku hanya ingin mengatakan. Aku jauh lebih bersyukur tidak jadi menikah dengan Gilang. Karena dengan menikah dengan Rendy. Kau juga mendapatkan seorang ibu yang lebih paham segalanya dan pasti suami yang juga mengerti segalanya dan tidak hanya terlihat dari covernya saja," ucap Rania dengan tenang bicara dan sudah membuat Iren mengepal tangannya.


Bersambung


__ADS_2