
Pagi hari kembali tiba. Memang waktu sangat cepat berlalu dari malam sampai pagi. Namanya juga perputaran dunia.
Terlihat Rania mengobrol berdua dengan Della adiknya di taman. Mereka duduk berhadapan dengan meja bundar di antara mereka dengan 2 cangkir kopi yang ada di depan mereka.
" Maksud kakak Della harus melanjutkan sekolah di Luar Negri gitu?" tanya Della memastikan. Rania memang menyampaikan apa yang di bahasanya dengan Rendy kemarin. Dan pasti Della kaget mendengar ucapan kakaknya itu.
" Kakak tidak mengatakan itu. Kakak hanya menyarankan kamu saja. Kakak merasa itu jalan terbaik," ucap Rania.
" Hmmm, ya sudah kak tidak apa-apa," sahut Della tampaknya tidak keberatan dengan saran sang kakak.
" Kamu mau?" tanya Rania tidak percaya. Della mengangguk.
" Jika memang itu jalan yang terbaik. Ya sudah mau gimana lagi. Della tidak apa-apa. Tapi boleh tidak Della. Kalau Della request tempatnya," ucap Della.
" Iya, pastilah, kan kamu yang mau sekolah. Jadi kamu boleh memilih tempatnya," ucap Rania.
" Memang kamu mau sekolah di mana?" tanya Rania penasaran.
" Della tidak mau di luar Negri, Della mau di Luar Kota saja," sahut Della.
" Iya, terserah kamu. Tapi di mana?" tanya Rania.
" Kak boleh tidak Della melanjutkan sekolah di pesantren. Della mau masuk pesantren," ucap Della membuat Rania kaget mendengarnya.
" Della ingin melanjutkan sekolah menengah atas di pesantren. Della ingin menimba ilmu agama. Karena Della membaca buku. Katanya kalau mau ketemu sama mama nanti di surga kita harus bisa sholat, ngaji, dan Della tidak bisa melakukan itu. Lagian Della bukannya harus mendoakan mamanya. Agar mama juga berada di tempat yang indah," ucap Della membuat air mata Rania harus jatuh dia seakan tertampar dengan kata-kata adiknya.
" Dari pada Della sekolah umum dan apa lagi di Luar Negri yang mungkin budayanya lebih bebas Della tidak akan pernah tau apa-apa tenteng agama. Jadi sebaiknya Della di pesantren saja," lanjut Della yang sudah meniatkan itu sejak lama.
" Lagian kak Della pengen seperti orang di rumah ini. Pas tadi Della bangun Della melihat mereka sholat, mendengar mereka mengaji membuat Della ingin seperti mereka. Della ingin melakukannya kak. Makanya Della ingin masuk pesantren untuk menimba ilmu agama," ucap Della lagi yang salah satu menjadi dorongannya karena dengan apa yang di dengar dan di lihatnya
" Ya Allah, Della saja bisa punya pikiran sejauh itu. Dia baru menginap semalam. Tetapi hatinya sangat mudah terbuka. Tetapi aku kenapa rasanya aku sulit sekali. Bahkan beberapa kali Rendy memberi kode. Tapi aku seakan menutup diri untuk dekat dengan mu," batin Rania yang malu dengan Della adiknya itu.
" Kak Rania kenapa diam, kakak tidak setuju ya?" tanya Della.
" Tidak Della, kakak hanya tidak percaya jika kamu meminta untuk pindah kesana," sahut Rania.
" Itu memang sudah tekat Della. Della sudah punya segalanya di dunia ini. Tetapi Della belum punya seujung kuku pun bekal di akhirat. Jadi Della ingin mengumpulkan tabungan itu," sahut Della dengan bijak bicara bahkan sangat dewasa bicara membuat Rania hanya terdiam mendengarnya. Kepergian mamanya memang membuat Della. Banyak belajar arti hidup yang sebenarnya.
" Jadi bagaimana kak? Bolehkan kak?" tanya Della memastikan pada kakaknya. Rania mengangguk cepat. Lalu memegang tangan adiknya.
" Iya kamu boleh, masuk pesantren. Maafkan kakak, kakak yang bersalah dengan semua ini, kakak gagal menjadi kakak kamu," ucap Rania mengakui dirinya bersalah atas apa yang terjadi pada adiknya.
" Tidak kak, itu bukan kesalahan kakak. Lagian memang apa urusan kakak dengan masalah itu. Della bukan tanggung jawab kakak. Tapi mama dan papa. Yang juga seharusnya mengajarkan Della sejak dulu masalah itu. Tetapi sudah lah tidak ada gunanya mengingat masalah kebelakang yang penting semuanya belum terlambat dan Della ingin belajar agama secepatnya sebelum terlambat," ucap Della.
" Iya, kamu benar, memang tidak ada yang terlambat untuk belajar. Kakak setuju dengan kamu yang memilih untuk belajar agama. Kamu ingin sekolah di pesantren kakak akan masukkan kamu untuk sekolah di sana," ucap Rania dengan menyeka air matanya Della mengangguk tersenyum mendengarnya.
" Memang kamu mau sekolah di mana?" tanya Rania.
" Nanti Della coba cari-cari tempat yang bagus, Della juga akan minta saran dari Bu Ratih," sahut Della yang memang belum memikirkan tempatnya.
" Ya sudah terserah kamu saja. Kakak akan mendukung apapun yang kamu mau, dan di mana pun tempatnya. Kakak serahkan kepada kamu yang penting kamu nyaman," sahut Rania tersenyum m
" Makasih ya kak," sahut Della. Rania mengangguk tersenyum lebar.
" Pasti kakak sangat bahagia menikah dengan kak Rendy," ucap Della tiba-tiba.
" Kenapa kamu bicara seperti itu, memang apa yang kamuihat sampai bisa mengatakan kakak bahagia?" tanya Rania.
" Aku melihat keluarga ini sangat baik. Orang-orang di dalamnya membawa energi positif dan makanya aku percaya jika kakak begitu bahagia, mereka bicara dengan lembut dan sangat menenangkan. Jadi mana mungkin kakak tidak bahagia. Della saja di perlakukan dengan baik di rumah ini dan pasti kakak jauh lebih di istimewakan," ucap Della yang baru satu hari sudah merasa nyaman di rumah itu.
" Kamu benar Della. Di rumah ini memang sangat damai. Mereka semua bicara sangat lembut dan seakan penuh kasih sayang. Bahkan mereka tidak suka menilai orang atau mengkritik orang. Mereka sangat bijak dalam menghadapi semua masalah. Terlebih lagi mereka semua begitu tenang," sahut Rania berbicara apa adanya.
" Della berdoa semoga saja pernikahan kakak dan kak Rendy baik-baik saja. Della berharap. Kak Willo tidak mengganggu kakak lagi," ucap Della dengan harapannya yang besar.
" Iya, semoga saja. Kak Willo juga bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan tidak serakah," sahut Rania penuh harapan.
__ADS_1
" Amin," sahut Della dengan penuh harapan.
" Aku memang harus menyadari. Jika rumah adalah surga untukku. Aku menemukan banyak kedamaian di rumah ini. Aku begitu tenang dan mendapat banyak pelajaran saat aku berada di rumah ini," batin Rania.
*********
1 Minggu setelahnya.
Setelah satu Minggu berlalu Della sudah masuk sekolah pesantren yang di inginkannya. Niat tulusnya yang ingin menimba ilmu agama akhirnya berjalan dengan baik dan di tempatkan di tempat yang baik.
Yang pasti keluarga Rendy juga ikut untuk merekomendasikan pesantren untuk Della. Bukan hanya masalah Della selesai. Rania juga menuruti apa kata Rendy. Dengan berbesar hati Rania mengembalikan semua yang di sitanya dari Willo.
Tetapi Rania tidak bertemu langsung dengan Willo. Rania menyuruh asistennya untuk mengurus semuanya beserta beberapa peringatan untuk Willo.
Jika tidak Rania akan kembali menyita lagi. Pasti ancaman atau peringatan yang di berikan sekretaris Rania tidak akan mempan untuk Willo. Tetapi sejauh ini memang Willo tidak bertingkah sama sekali.
Rania juga mulai kekantor seperti biasa. Rendy sejauh ini memang tidak melarangnya untuk bekerja. Namun terkadang Rania sadar diri. Biasanya dia selalu pulang malam dan untuk mencegah pembicaraan yang tidak-tidak. Rania pun mengubah jadwal pulangnya dan pulang sebelum jam 7 malam.
Di mana nanti pekerjaan akan di lanjutkan ya di rumah walau sering merasa tidak enak dengan Rendy. Tetapi dari pada dia lembur.
Sudah malam dan sudah waktunya pulang. Rania mulai membereskan pekerjaannya.
" Rendy sudah pulang belum ya," batinnya yang mengambil ponselnya.
Dari pada penasaran. Rania pun akhirnya mengetik pesan untuk di kirim pada suaminya.
..." Assalamualaikum, kamu sudah pulang," Rania....
..." Walaikum salam sebentar lagi, aku masih ada operasi," Rendy....
..." Ya sudah kalau begitu aku pulang kerumah duluan," Rania....
..." Iya kamu hati-hati," Rendy....
Rania meletakkan kembali hanphonnya dan memasukkan apa-apa yang penting kedalam tasnya.
Karena masih jam 7 malam masih ada beberapa karyawan yang juga baru mulai selesai kerja dan sama ingin pulang seperti Rania. Setiap karyawan yang berpapasan dengan Rania pasti menyapa Rania dan Rania tidak pernah sombong untuk tidak membalas sapaan itu senyum manisnya pasti di berikannya
Rania melangkah terus melewati lobi. Saat jaraknya dari mobilnya tinggal 5 meter lagi. Rania memencet kunci mobilnya dan melangkah tampak santai menuju mobilnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang memakai sweater hitam dengan penutup kepala berjalan cepat mendekati Rania. Rania hanya biasa saja dan orang tersebut mengeluarkan pisau dari sakunya.
Syhkkk, Dan langsung menusukkan ke perut Rania.
" Aaaaa," Mulut Rania menganga memegang perutnya dan melihat orang itu. Namun orang tersebut kembali menarik pisau yang Rania kembali kesakitan dan langsung tergelatak di tanah.
Orang misterius yang tidak di ketahui Pria atau wanita itu pun berlari sebelum ada yang melihatnya.
Perut Rania sudah bersimbah darah dan perlahan matanya terpejam.
Rumah sakit.
Orang-orang yang masih ada di perusahaan kaget histeris saat melihat Rania yang tergeletak bersimbah darah. Lalu mereka buru-buru melarikan Rania Kerumah sakit.
Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu
Mobil ambulan berhenti di depan rumah sakit tepat rumah sakit Rendy bekerja. Beberapa suster langsung keluar menghampiri ambulan untuk mengalamatkan pasien darurat.
" Dokter, pasiennya ada di sana," sahut salah satu suster memanggil Rendy.
" Baiklah, ayo kita kesana," sahut Rendy yang buru-buru berlari.
Suster dan perawat yang sudah terlebih dahulu menuju ambulan langsung mengeluarkan Rania dari dalam ambulan dan mendorong tempat tidur dorong itu dengan pakaian Rania yang penuh darah. Salah satu suster memasangkan impus pada Rania.
Rendy dan suster yang tadi pun menyusul dan sudah melihat beberapa suster membawa pasien darurat tersebut.
__ADS_1
" Bagaimana keadaannya?" tanya Rendy yang belum melihat siapa pasien darurat itu.
" Kritis Dok," jawab salah seorang suster dan Rendy yang sambil berjalan buru-buru pun akhirnya melihat siapa pasien itu saat ingin memeriksanya.
Betapa terkejutnya Rendy. Saat melihat istrinya lah pasien darurat itu. Dengan matanya melotot dan terus berjalan melihat dengan betul-betul. Jika tidak salah lagi. Itu memang adalah istrinya.
" Rania," pekik Rendy masih tidak percaya bahkan dia kesulitan bernapas.
" Apa yang terjadi padamu?" tanya Rendy melihat Rania yang tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah di mana-mana.
Para suster tidak terlalu memperhatikan ekspresi Rendy. Karena mereka juga sedang buru-buru untuk keselamatan pasien.
Tidak tau apa yang terjadi pada istrinya. Rania yang berada di unit gawat darurat langsung di tangani oleh Rendi bersama beberapa suster yang membantunya.
Rendy adalah Dokter yang paling tenang dalam menangani pasien. Tetapi kali ini dia bahkan terlihat panik. Mungkin itu karena Rania istrinya. Bahkan muncul ada rasa ketakutan di dalam dirinya.
" Hidupkan mesin jantungnya!" perintah Rendy. Suster mengangguk dan langsung melaksanakan apa yang di perintahkan.
Rania juga sudah di pasang alat pernapasan dan Rendy sudah mulai berhadapan dengan luka itu. Di mana Rendy melakukan tugasnya sebagai Dokter dan suster- suster juga membersihkan darah di perut Rania.
Kondisi Rania benar-benar kritis. Rania banyak kehilangan darah dan luka yang dalamnya sampai 7 cm. Nyawa Rania seakan ada di tangan Rendy.
**********
" Tante, Nia, Tante, Nia," teriak Zahra yang memasuki rumah dengan wajah paniknya memanggil-manggil orang yang ada di dalam rumahnya. Sampai akhirnya Ratih keluar dari dapur dan Nia menuruni anak tangga.
" Ada apa Zahra, kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Ratih heran. Namun melihat wajah Zahra panik membuat Ratih ikutan panik.
" Itu Tante, anu," sahut Zahra dengan gugup yang seakan tidak sanggup bicara.
" Anu apa kak, apa terjadi ada apa?" tanya Nia yang juga heran dengan Zahra.
" Iya Zahra apa yang terjadi, kamu tenang dulu dan bicara pelan-pelan," sahut Ratih
" Itu Tante Rania, Rania, Rania, Rania," sahut Zahra yang masih bertele-tele.
" Rania! ada apa dengan Rania. Kenapa Rania?" tanya Ratih panik.
" Rania masuk rumah sakit," jawab Zahra yang akhirnya bisa bicara.
" Apah," sahut Nia dan Ratih kaget.
" Kok bisa," sahut Ratih yang dengan jantungnya hampir ingin copot.
" Tadi di kantor, ada orang tidak di kenal menusuknya dan karyawan menyakannya sudah tidak sadarkan diri," ucap Zahra yang bicara tampak ketakutan.
" Astagfirullah Al Azdim," sahut Ratih.
" Lalu bagaimana kak Rania sekarang?" tanya Nia.
" Dia di rumah sakit tempat Rendy bekerja. Kita sebaiknya kesana. Untuk memastikan keadaannya," ucap Zahra.
" Ya sudah jangan membuang waktu lagi. Sebaiknya kita langsung kesana," sahut Ratih ikutan panik namun dia tetap harus tenang.
Tanpa menunggu lama-lama akhirnya mereka pun bergegas untuk kerumah sakit memastikan keadaan Rania yang semoga baik-baik saja.
Mereka memasuki mobil dengan wajah yang kelihatan cemas. Ternyata Anisa berdiri di depan rumahnya melihat 3 orang wanita itu tampak cemas membuatnya penasaran.
" Mau kemana mereka?" tiba-tiba Anisa di kagetkan dengan suara sang mama yang sudah berdiri di sampingnya.
" Aku juga tidak tau ma, mereka buru-buru sekali dan seperti ada masalah," sahut Anisa heran.
" Hmmm, mungkin pasti masalah menantunya itu. Kamu kan tau sendiri keluarga itu banyak mendapat kesialan karena kehadiran wanita itu," ucap Sarah.
" Ya mau gimana lagi mereka yang milih sendiri. Aku saja di permalukan hanya gara-gara dia," sahut Anisa masih kesal dengan kejadian itu.
__ADS_1
" Ya sudah lah nggak usah di urusin. Nanti juga tau mereka sedang apa," sahut Sarah. Anisa mengangguk saja. Namun dia sangat penasaran kemana keluarga itu akan pergi.
Bersambung