Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 209 Rania kembali.


__ADS_3

" Anisa kenapa kamu diam?" tanya Agam. Anisa langsung seketika tersentak ketika mendengar Agam menegurnya dan Anisa tiba-tiba merasa canggung.


" Kamu_ kamu sungguh akan bertanggung jawab?" tanya Anisa untuk memastikan. Sebenarnya dia merasa lega jika Agam telah bertanggung jawab kepadanya.


" Iya, aku sungguh akan bertanggung jawab kepadamu," sahut Agam membenarkan apa di katakannya.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Kapan?" tanya Anisa yang butuh kepastian.


" Apa harus hari ini juga?" tanya Agam dengan menaikkan 1 alisnya.


" Ya nggak mungkin hari ini juga. Kamu aja masih ada wanita di kamarmu," sahut Anisa mendadak kesal.


" Ya namanya kamu tanya kapan ya kan aku juga minta pendapatmu," sahut Agam. Anisa mengeluarkan handphonenya dari dalam tasnya.


" Simpan nomormu!" ucap Anisa yang memberikan handphone itu pada Agam dan Agam langsung mengambilnya dan mencatat nomor handphone.


" Aku tidak percaya. Kalau kamu akan meminta nomorku," sahut Agam.


" Sudah diamlah aku butuh nomormu untuk berkomunikasi," sahut Anisa. Agam hanya mengangguk saja dan selesai menyimpan nomornya di ponsel Anisa. Di juga memiskol ke handphonenya.


" Aku juga sudah menyimpan nomormu," sahut Agam yang mengembalikan ponsel Anisa dan Anisa langsung mengambilnya.


" Baiklah aku permisi dulu! kamu selesaikan masalah kamu dengan wanita itu dan jika ingin serius bertanggung jawab aku tidak ingin ada ini itu lagi," ucap Anisa menegaskan dan dia pun langsung pergi yang tidak banyak bicara lagi yang mungkin memang tidak ada lagi yang harus di bicarakan.


" Aku akan menghubungimu," teriak Agam. Anisa yang sudah berjalan tidak merespon lagi dan langsung pergi begitu saja.


" Aku tidak percaya. Ternyata malam itu bukan pertemuan terakhir kami ternyata akan ada pertemuan dan pertemuan lagi," batin Agam dengan tersenyum tipis.


Dia memang pasti bahagia. Karena sebelumnya dia juga sudah menyukai Anisa dan Anisa saja yang menolaknya. Karena memang perasaan Anisa untuk Rendy.


Tapi sekarang Anisa menemuinya dan meminta untuk bertanggung jawab dan apa lagi jika itu bukan kesempatan baginya untuk lebih serius dengan hubungannya dan Anisa yang pasti akan menjalani hubungan dalam pernikahan.

__ADS_1


***********


Anisa yang berada di dalam Taxi yang sudah pulang dari Apartemenmu Agam bernapas lega.


" Aku tidak sia-sia datang kesana dan mungkin yang terbaik. Dia memang harus mempertanggung jawabkan anak ini. Dari pada aku menjalankan rencana ke-2 ku untuk menggugurkan kandunganku yang adanya aku semakin berdosa," batin Anisa yang ternyata pernah berpikir untuk mengugurkan kandungannya.


" Syukurlah jika Agam bertanggung jawab. Tapi siapa wanita itu apa itu wanita kencannya. Apa dia memang sering seperti itu. Ahhhhh, pasti iya. Lalu bagaimana aku menghadapi Pria seperti itu dalam pernikahan. Apa aku akan tahan," Anisa bergerutu kebingungan di dalam hatinya.


" Argggghhh, sudahlah Anisa biarkan saja dia mau ngapain aja yang dia bertanggung jawab dan masalah yang lainnya biar di yang menyelesaikannya asal kan kamu tidak ikut-ikutan," batinnya yang tidak mau ambil pusing dengan beberapa hal yang sama sekali tidak perlu di pikirkannya.


Anisa sudah merasa lega dengan pertanggung jawaban Agam yang membuatnya tidak jadi berbuat yang aneh-aneh dan pasti orang-orang tidak akan ada yang tau jika dia sudah hamil tanpa adanya pernikahan.


**************


Setelah di pastikan kondisi Rania baik-baik saja akhirnya hari ini Rania pun di perbolehkan untuk pulang. Di mana Nia, Zahra, Elang, dan Ratih pasti ikut dalam mempersiapkan kepulangannya.


" Sudah selesai semuanya?" tanya Ratih.


" Sudah mah, pakaian kak Rania, obat-obatan dan lainnya sudah selesai," sahut Nia.


" Iya mah," sahut Rania yang masih duduk di dia atas tempat tidur.


" Ayo sayang!" ajak Rendy menyuruh istrinya turun dari tempat tidur.


" Kak Rania bisa berjalan. Apa tidak pakai kursi roda saja," sahut Nia.


" Benar Rania. Kamu lebih baik pakai kursi roda saja sampai mobil," sahut Zahra yang setuju dengan apa yang di katakan Rania.


" Ya sudah," jawab Rania yang memang sangat lemas untuk berjalan.


" Ya sudah biar aku ambilkan saja," sahut Rendy.

__ADS_1


" Nggak usah Rendy. Biar aku yang ambil," sahut Elang yang langsung mengambil tindakan.


" Baiklah," sahut Rendy. Elang pun langsung pergi mengambil kursi roda itu keluar dari kamar.


" Astaga 1 jenis obat Rania belum di tebus. Biar aku tebus dulu," sahut Zahra menepuk jidatnya yang merasa ceroboh.


" Ya sudah sana Zahra sekalian kita nungguin Elang," sahut Ratih.


" Iya Tante aku tebus sebentar dulu ya," ucap Zahra yang langsung pergi dengan buru-buru dan mereka semua hanya menunggu Elang dan Zahra di dalam ruangan itu dengan Rendy yang terus mengusap-ngusap pucuk kepala Rania.


**********


Elang pergi untuk mengambil kursi roda itu tiba-tiba berpapasan dengan Cindy mantan kekasihnya. Di man Cindy menatapnya dengan sendu.


Elang yang memang tidak ingin berurusan apa-apa langsung melewati Cindy begitu saja. Namun Cindy menahan tangan Elang yang membuat Elang kaget dan langkah itu terhenti.


" Aku minta maaf Elang!" ucap Cindy tiba-tiba. Elang langsung melepaskan tangannya dari Cindy.


" Kita lupakan semuanya kita sudah punya keluarga masing-masing dan aku harap ada sebaiknya kita menjaga keluarga kita yang sudah berjalan dan masalah di antara kita sudah selesai. Baik aku dan kamu sama-sama bersalah, sama-sama berhiyanat dan sebaiknya kita sama-sama belajar dan memperbaiki diri dengan keluarga masing-masing," tegas Elang yang langsung memilih pergi. Namun Cindy tiba-tiba langsung memeluk pinggang Elang dari belakang yang membuat Elang kaget.


" Apa yang kamu lakukan Cindy lepaskan," ucap Elang yang berusaha untuk memberontak. Namun Cindy tetap memeluk erat seakan tidak ingin lepas dari Elang.


" Aku pikir aku bisa melupakan kamu. Aku pikir aku bisa hidup tanpa kamu. Ternyata tidak aku tidak bisa Elang. Aku berhiyanat karena marah pada kamu," ucap Cindy dengan suara seraknya.


" Cukup Cindy. Kita sudah sama-sama menikah. Jadi hentikan semua ini," ucap Elang yang terus memaksa Cindy untuk melepaskannya.


" Aku tidak bisa menghentikannya Elang. Aku masih mencintaimu dan itu tidak adil untukku. Jika hubungan kita selesai begitu saja," sahut Cindy.


" Apa yang kamu bicarakan aku sudah menikah. Jangan gila kamu," sahut Elang.


" Pernikahan kamu hanya sampai bayi yang di kandung Zahra lahir. Aku tau itu dan aku akan tetap bersamamu sampai kapanpun itu," tegas Cindy. Elang kaget mendengarnya dan memaksa Cindy meletakkan pelukan Cindy.

__ADS_1


" Cukup Cindy," tegas Elang membalikkan tubuhnya setelah pelukan itu lepas. Namun Elang langsung kaget seketika melihat Zahra yang berada 4 meter dari belakang Cindy.


Bersambung


__ADS_2