Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 281


__ADS_3

Hari demi hari di lewati tanpa istrinya merawat bayinya yang terus menangis, seperti sekarang ini Asyifa sedang di gendong Rendy sambil memberinya susu menggunakan dodot.


" Cup, cup, cup, sayang," Rendy berusaha untuk mendiamkan Asyifa yang tidak henti-hentinya menangis.


Mana mungkin mudah menjaga seorang anak bayi tanpa seorang ibu. Tetapi itu harus di lakukan Rendy karena janjinya pada istrinya. Asyifa memang terkadang begitu rewel bahkan sering bangun tengah malam. Kayaknya anak kecil seperti biasanya.


Mendengar suara tangisan bayi cantik itu Ratih memasuki kamar Rendy. Melihat putranya yang berusaha untuk mendiamkan bayi tersebut. Ratih pun langsung menghampiri Rendy dan mengambil alih untuk mendiamkan Asyifa.


" Kamu istirahat sana, biar mama yang diamkan," ucap Ratih. Rendy mengangguk dan langsung menghampiri ranjang membiarkan anaknya di pegang mamanya, Rendy berbaring miring membelakangi mamanya yang berdiri di tempatnya.


" Aku tidak sanggup Rania, aku tidak sanggup melakukannya. Kenapa secepat ini Rania. Apa kamu tidak kasihan melihat anak kita. Aku tidak tau Rania kapan aku bisa menerima semua ini. Apa boleh aku meminta untuk kamu kembali. Aku tidak sanggup dengan semua ini," batin Rendy meremas dadanya yang begitu perih.


Dia pikir dia akan kuat kehilangan Rania istri tercintanya. Tetapi ternyata tidak semakin hari kesedihan yang di dapatkan Rendy. Ratih mengerti perasaan putranya. Mungkin semakin melihat Asyifa Rendy semakin mengingat Rania. Apa lagi kamar itu penuh dengan kenangan mereka. Ya pasti tidak akan mudah untuk Rendy secepat itu untuk melupakan Rania.


*******


Dalam merawat Asyifa Rendy selalu membaca tulisan-tulisan yang sebelumnya di persiapkan Rania. Rendy mengikuti semuanya dari memandikan cara memakaikan baju. Hal itu lama-lama terbiasa untuk Rendy lakukan.


Sama dengan hal ini di mana Rendy sedang memakain popok untuk putrinya sambil mengajaknya bermain di mana Asyifa yang tertawa-tawa dengan tangannya yang memegang mainan yang berbunyi-bunyi.


Sambil memakaikan popok Rendy menoleh kearah samping melihat wanita cantik yang membuatkan susu. Siapa lagi jika bukan Rania. Hanya halusinasi Rendy saja. Tersenyum melihat istrinya yang seolah ada di sampingnya.


" Sayang susunya sudah selesai," ucap Rendy dengan menjulurkan tangannya untuk mengambil susu itu. Namun menghilang tidak ada orang Rendy hanya berhaluan saja.


Rendy membuang napasnya perlahan dan tersenyum kembali saat melihat putrinya yang sekarang tertawa-tawa. Rendy tidak lupa untuk mencium putrinya yang wanginya begitu khas wangi istrinya Rania.


Rendy memang semakin terbiasa untuk merawat sendiri Asyifa yang terkadang pasti di bantu Ratih, Nia dan bahkan Willo kakak iparnya sering datang kesana untuk membantu mengurus keponakannya itu. Kalau bukan dia siapa lagi. Rania juga berpesan padanya sebelumnya.


************

__ADS_1


Supermarket. Karena perlengkapan Asyifa sudah habis, mau tidak mau Nia harus membelinya di supermarket. Yang pasti tidak lupa Nia membawa catatan dari Rania. Karena Rania memang menuliskan merek dan kelengkapan lainnya.


Nia yang mendorong troli belanjaan itu sudah hampir penuh.


" Oh iya tinggal susunya," gumam Nia yang langsung menuju rak susu untuk mengambil merek yang sesuai.


" Kok tidak ada ya. Apa habis," batin Nia heran yang tidak melihat merek susu yang sesuai dengan catatannya.


" Mbak!" tegur Nia saat melihat seorang pelayan.


" Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.


" Susu merek, A di mana ya?" tanya Nia.


" Oh lagi kosong barangnya. Pakai ini aja mbak, ini hampir sama," sahut pelayan itu menunjukkan merek lain.


" Saya mau yang merek A, soalnya yang harus sesuai dengan catatan yang ada," jawab Nia.


" Tidak usah," tolak Nia.


" Mbak telpon orangnya. Pasti yang saya katakan benar. Karena kalau yang merek A tidak ada di ganti sama ini biasanya. Jadi tanya aja sama orangnya. Dari pada mbak capek-capek 2 kali kerjaan," sahut pelayan itu yang terus mendesak Nia.


Kelihatannya Nia kesal dengan pelayan itu bahkan dengan sembarangan karyawan itu memasukkan kedalam keranjang Nia tanpa persetujuan dari Nia.


" Saya bilang tidak mau!" bentak Nia yang membuang susu itu dari keranjangnya sampai terbuka dan berserakan di lantai. Marahnya Nia membuat pelayan itu terkejut bahkan orang-orang yang ada di sana sampai mencuri perhatian dalam keributan itu.


" Apa kamu tidak mengerti. Kakak saya menuliskan merek ini. Yang artinya hanya merek ini. Kamu menyuruh saya menelponnya. Dia sudah tidak ada!" teriak Nia yang tidak bisa mengendalikan dirinya.


Mario yang tadi ikut bersama Nia melihat keributan itu dan langsung menghampiri Nia.

__ADS_1


" Nia ada apa ini?" tanya Mario cemas dan melihat lantai berserak susu.


" Dia memaksaku membeli itu. Kak Rania tidak mau itu," sahut Nia yang air matanya jatuh. Mario langsung mengusap-usap rambut Nia.


" Sudah ya, kita cari tempat lain, kamu jangan marah-marah," bujuk Mario yang tau perasaan Nia seperti apa.


" Saya akan ganti kerugiannya. Lain kali jangan pernah memaksa orang," tegas Mario. Pelayan itu hanya menundukkan kepalanya.


" Ayo kita pergi!" ajak Mario dengan lembut. Nia mengangguk yang mana hatinya masih begitu panas.


*********


Nia duduk di salah satu bangku degan menetralkan napasnya yang masih naik turun. Mario datang menghampirinya dengan membakar air mineral, langsung memberinya pada Nia setelah membuka tutupnya.


" Kamu minum dulu!" ucap Mario. Nia mengangguk dan langsung meminumnya.


" Kamu jangan marah-marah lagi. Dia tidak tau apa-apa. Mungkin hanya salah paham. Kamu harus bisa mengendalikan diri kamu," ucap Mario yang masih berjongkok di depan Nia. Yang mana Nia menyeka air matanya.


" Kenapa kak Rania menyulitkanku. Seharunya aku mendengarkannya dari dulu. Tetapi tidak dah sekarang dia sudah pergi. Aku sama sekali tidak berguna, bahkan aku tidak bisa memenuhi kebutuhan Asyifa," ucap Nia yang jadi menangis tersedu-sedu.


Mario duduk di sampingnya dan mengusap-usap pundak Nia.


" Jangan bicara seperti itu. Kamu sudah banyak berusaha. Kamu akan menjadi Tante yang baik dan kak Rania tidak akan marah padamu. Dia mengatakan semua itu kepadamu. Karena sudah mempercayaimu," ucap Mario yang mencoba menenangkan Nia.


" Aku pikir mudah, ternyata tidak," sahut Nia.


" Aku mengerti perasaanmu. Percayalah kamu akan terbiasa untuk semua ini dan kak Rania akan bangga kepadamu. Kamu menjaga anaknya dengan baik. Bahkan tadi sampai bertengkar dengan pelayan itu. Hanya karena tetap mempertahankan apa yang di amanahkan. Jadi jangan menyalahkan diri kamu. Kamu wanita yang kuat dan akan bisa melewati semua ini," ucap Mario yang menyakinkan Nia.


Nia yang sedikit tenang menganggukkan kepalanya

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2