
Rania terlihat sibuk di dalam kamar di meja kerjanya. Dengan laptop yang hidup di depannya dan tumpukan-tumpukan berkas. Rania memang membawa pekerjaannya pulang. Agar dia lebih tenang. Karena kalau lembut di kantor dia tidak enak dengan Rendy.
Sementara Rendy belum pulang dari rumah sakit. Rendy mengatakan pulang terlambat. Ya padahal memang baru jam setengah 8 jadi wajar belum pulang. Rendy biasanya pulang paling lama jam 9.
" Hmmmm, pekerjaan ini tidak pernah selesai-selesai," gerutu Rania dengan membolak-balikkan dokumen.
" Hmmm, papa sudah makan belum ya, aku tanya saja dulu," ucap Rania yang tiba-tiba teringat dengan papanya. Rania pun langsung mengambil handphonenya dan langsung menekan kontak papanya untuk menghubungi sang papa.
📞" Assalamualaikum pah," sapa Rania dengan lembut ketika telpon itu sudah tersambung.
📞" Walaikum salam Rania!" sahut Rudi.
📞" Papa lagi di mana?" tanya Rania.
📞" Di rumah sakit," jawab Rudi.
📞" Papa sudah makan?" tanya Rania.
📞" Papa baru mau makan. Tadi sebelum Rendy pulang. Rendy menyempatkan diri membelikan papa makanan," ucap Rudi.
📞" Oh, begitu. Ya sudah papa langsung makan ya. Jangan di tunda-tunda. Dan istirahanya jangan lama-lama. Kalau ada apa-apa dengan kak Willo papa kabari Rania ya," ucap Rania dengan pesannya yang sangat banyak kepada papanya.
📞" Iya Rania juga jangan lupa makan. Jangan bekerja terlalu malam. Kamu jaga kesehatan juga," ucap Rudi memberikan perhatian pada Rania.
📞" Iya pah, makasih pah. Ya sudah Rania tutup telpon dulu. Papa makan ya setelah ini. Assalamualaikum," ucap Rania menutup telponnya. Rudi yang ada di rumah sakit menjawab salam itu dengan tersenyum tulus.
Sama dengan Rania yang menurunkan telpon dari telinganya dengan wajahnya yang berseri-seri. Dia sangat bahagia ketika mendengar lembutnya papanya bicara dan bahkan memperhatikannya.
" Assalamualaikum," sapa Rendy yang memasuki kamar. Membuat lamunan Rania tersadar.
" Walaikum salam," jawab Rania. Rendy menghampiri istrinya dan Rania langsung mencium punggung tangan suaminya itu.
" Ini juga sekalian," sahut Rania menunjuk keningnya. Rendy tersenyum dan memegang kedua pipi istrinya dengan kepala Rania sedikit mendongak. Rendy langsung mencium lembut kening Rania.
Tidak hanya mencium keningnya. Bahkan pipi kanan dan kirinya juga di cium begitu lembut dan romantis.
" Apa ada lagi?" tanya Rendy. Rania menggeleng.
" Tapi aku masih ada," sahut Rendy mengecup bibir Rania sekilas. Saat melepas kecupan itu. Rendy kembali ingin mengecupnya. Namun Rania langsung memundurkan kepalanya. Membuat Rendy menaikkan 1 alisnya.
" Aku masih ada pekerjaan. Aku takut terbuai dan akhirnya kerjaan ku tidak selesai," ucap Rania dengan pelan. Membuat Rendy tersenyum.
" Aku hanya mencium saja," sahut Rendy yang berhasil mengecup bibir itu lagi dan langsung melepasnya dan beralih dari hadapan Rania duduk di pinggir ranjang membuka sepatunya.
" Kamu sudah makan?" tanya Rania.
__ADS_1
" Belum," jawab Rendy, " kamu sendiri sudah makan?" tanya Rendy balik pada istrinya.
" Belum juga," sahut Rania.
" Ya sudah nanti kita makan. Aku mandi dulu dan juga mau sholat isya, kamu sudah sholat?" tanya Rendy.
" Sudah," jawab Rania.
" Ya sudah aku mandi dulu. Kamu kerjain kerjaan kamu saja," ucap Rendy. Rania mengangguk dan akhirnya Rendy pun langsung menuju kamar mandi.
***********
Rendy yang sudah selesai mandi langsung melaksanakan sholat isya, sementara Rania masih tetap di depan laptopnya yang sekali-kali melihat ke arah suaminya yang sedang melakukan ibadah.
Ketampanan suaminya memang akan bertambah jika sudah berhubungan dengan ibadah. Tidak lama Rendy selesai sholat. Rendy melipat sajadahnya dan meletakkan pada tempatnya.
" Aku ambilkan makan ya," ucap Rania yang sudah selesai melihat suaminya sholat.
" Tidak usah, biar aku saja yang mengambilkan. Kamu lanjutkan bekerja saja," sahut Rendy yang tidak ingin merepotkan istrinya.
" Hmmm, oke, makasih," sahut Rania tersenyum. Rendy mengangguk dan langsung bergegas kedapur masih menggunakan sarungnya.
************
" Lalu bagaimana," sahut Zahra terlihat panik.
" Zahrah maafkan aku. Aku akan menyelesaikan semuanya," sahut Elang.
" Caranya seperti apa, dari awal aku sudah mengatakan kepada kamu. Kamu terus bilang tidak akan terjadi apa-apa dan sekarang lihat. Apa yang harus aku lakukan," ucap Zahra dengan meneteskan air matanya.
" Percayalah kepadaku. Aku akan mengurusnya," sahut Elang dengan memegang tangan Zahra untuk menenangkannya.
" Bagaimana cara mengurusnya, hah!" tanya Zahra yang terlihat panik.
" Elang, Zahra," tegur Rendy yang tiba sampai di dapur. Elang dan Zahra tersentak kaget dan dengan cepat langsung melepas tangan dari Elang dan buru-buru menyeka air matanya.
" Rendy!" lirih Elang berbalik badan.
" Kalian sedang apa?" tanya Rendy heran.
" Hmmm, aku_ aku, tadi," Elang terlihat gugup yang tidak bisa menjawab pertanyaan Rendy.
" Elang menolongku," sahut Zahra dengan cepat. Namun Rendy bingung karena tidak jelas apa maksud Zahra.
" Tadi tanganku, terkena panci. Jadi untung ada Elang yang langsung mengambil tindakan untuk mengobatimu," ucap Zahra gugup dengan memberi alasan.
__ADS_1
" Oh, begitu," sahut Rendy.
" Hmmm, ya sudah, makasih Elang, aku kekamar dulu," ucap Zahra yang langsung pergi. Zahra jelas terlihat panik yang melewati Rendy. Sama dengan Elang yang juga salah tingkah.
" Aku pergi dulu," sahut Elang yang juga langsung menyusul. Rendy hanya mengangguk saja. Rendy terlihat bingung. Namun karena bukan urusannya. Jadi dua melanjutkan mengambilkan basi untuk istrinya.
" Aneh," gumamnya geleng-geleng. Saat Rendy mengisi nasi dan beberapa lauk ke atas piring, Anisa tiba-tiba ada datang ke dapur.
" Rendy!" tegur Anisa.
" Iya Anisa ada apa?" tanya Rendy datar.
" Kamu belum makan ya?" tanya Anisa. Rendy mengangguk.
" Mau makan di kamar juga?" tanya Anisa.
" Iya," jawab Rendy. Anisa hanya mengangguk-angguk kepalanya.
" Ya sudah aku kekamar dulu," sahut Rendy terlihat dingin yang langsung pergi kekamar. Anisa hanya mengangguk saja.
" Dia benar-benar sudah berubah sekarang," batin Anisa yang terlihat sedih.
**********
Rendy sudah berada di dalam kamar dan dia sedang menyuapi Rania makan. Rendy gemas dengan Rania yang sangat fokus bekerja dan mengangguri makanannya dan mau tidak mau Rendy pun menyuapinya agar istrinya itu tidak lapar.
" Kamu tadi belikan papa makanan?" tanya Rania dengan mengunyah makanan di mulutnya.
" Kamu tau dari mana?" tanya Rania.
" Tadi aku menelpon papa bertanya sudah makan apa belum. Papa bilang sebelum kamu pulang kamu membelikannya makanan," ucap Rania.
" Hmm, benar, aku takut papa tidak sempat membeli makanan ya makanya aku belikan," ucap Rendy.
" Makasih ya," sahut Rania. Rendy menganggukkan matanya..
" Buka lagi mulutnya," ucap Rendy.
" Masih penuh," sahut Rania menunjuk mulutnya yang penuh makanan.
" Makanya, waktunya makan harus makan jangan seperti ini," ucap Rendy.
" Iya Dokter Rendy," sahut Rania yang sama-sama tersenyum dengan Rendy.
Bersambung
__ADS_1