
Ruang operasi.
Rania sudah di pindahkan keruang operasi, hari ini dia akan di Operasi pengangkatan tumor yang ada di rahimnya. Hal itu memang akan di lakukan jika sudah tidak ada lagi bayinya di dalam rahimnya.
Sesuai permintaan Rania. Jika terjadi sesuatu padanya yang mengharukannya untuk operasi. Rania harus di pegang Dokter wanita. Ya hanya suaminya yang Dokter Pria itu memang permintaan Rania.
Randy menuruti semua permintaan itu. Hari ini permintaan itu di kabulkan Rendy. Lampu operasi sudah menyala. Seperti biasa Rendy dan tim Dokter akan berdoa dulu sebelum operasi di laksanakan.
Rania sendiri pasti di suntik bius. Setelah selesai berdoa. Mata Rendy tidak hentinya menatap wajah istrinya yang terlihat teduh. Tidak ada tanda-tanda jika Rania sakit. Dia lebih seperti orang tidur yang begitu cantik.
" Mari Dokter!" sahut salah seorang Dokter menegur Rendy untuk di mulainya Operasi.
" Baiklah!" sahut Rendy mengangguk.
Operasi di mulai dengan mesin jantung yang pasti menyala. Menjadi seorang Dokter ini yang paling terberat untuk Rendy. Operasi terberatnya di mana nyawa istrinya ada di tangannya. Pastinya di tangan tuhan. Tapi Rendy yang mengoperasi istrinya.
Sementara di luar ruang operasi semua orang sudah menunggu. Dengan cemas dan penuh ketegangan. Sebelumnya mereka juga pasti sudah sholat berdoa meminta yang terbaik untuk kesembuhan Rania. Untuk operasi yang berjalan dengan lancar. Agar penyakit Rania di angkat.
Operasi terus berlangsung dengan ketegangan di dalam operasi, suara mesin jantung itu menakutkan untuk di perdengarkan di telinga Rendy. Beberapa kali dia hanya melihat istrinya yang tetap pada tidurnya.
Lama operasi di lakukan sampai terlihat tangan Dokter yang di berikan sarung tangan itu mengangkat tumor dari rahim Rania.
" Jantungnya lemah!" sahut salah satu Dokter yang membuat kepanikan di dalam ruang Operasi.
Mereka dengan cepat bertindak termasuk Rendy yang sekarang memompa jantung istrinya.
" Maafkan aku, aku tidak bisa ikut membesarkan anak kita bersama-sama. Kamu jangan takut ank kita akan menjadi obat hati untuk kamu. Aku tidak akan pernah kemana-mana, aku akan tetap berada di hati kamu," kata-kata Rania teringat di telinga Rendy dengan air mata Rendy yang sudah keluar yang memompa jantung istrinya. Dia mana kondisi Rania yang semakin lemah.
__ADS_1
" Rania aku mohon bertahan, kamu harus bertahan. Aku tidak bisa Rania membesarkan anak kita sendirian. Jadi bertahanlah Rania aku mohon," batin Rendy yang terus berdoa dengan wajahnya yang penuh dengan ketakutan saat suara mesin jantung itu semakin menandakan sesuatu hal buruk yang akan terjadi.
Asyifa sekarang sedang di gendong Ratih yang mana Asyifa terus saja menangis. Air mata Ratih pun tidak terbendung saat cucu pertamanya itu menagis yang mungkin tau jika ibunya akan pergi.
" Sayang, kamu jangan nangis, ibu akan baik-baik saja. Kita berdoa ya sayang untuk ibu. Ayahmu sedang berusaha di dalam sana, jangan menagis ya," Ratih menyuruh cucunya untuk tidak menagis sementara dirinya sendiri tidak bisa membendung kesedihannya.
" Ya Allah tolong selamatkan menantuku. Lihat anak ini dia tidak ingin ibunya pergi meninggalkannya. Selamatkan ya Allah menantuku," batin Ratih yang terus berdoa.
Sama dengan Willo yang juga sama-sama berdoa, dengan Rudi. Bahkan selesai berdoa di salah satu mesjid mereka yang keluar dari mesjid itu berpelukan dengan tangisan yang saling menguatkan.
Keesokan harinya.
Operasi Rania berhasil. Tumor ganas yang selama ini menggerogoti dirinya berhasil di angkat. Tetapi kondisi Rania semakin parah. Dia bahkan kritis dan tidak siuman setalah hampir 15 jam dan detak jantungnya yang semakin menurun. Dari 50, turun 40 dan naik lagi. Detak jantung Rania tidak pernah stabil.
Rendy pun memasuki ruangan di mana istrinya berada. Dengan memakai APD hijau lengkap dengan penutup kepala, Rendy melangkah mendekati istrinya yang masih tertidur dengan mulutnya yang di berikan alat pernapasan.
" Sayang, aku memang tidak bisa menjaga anak kita tanpa kamu. Tetapi aku juga tidak mau melihat kamu yang terus berjuang. Aku tau ini begitu sakit. Jadi jika sakit itu membuat kamu tersiksa. Aku ikhlas sayang. Aku ikhlas. Karena aku yakin tempat kamu akan jauh lebih indah di bandingkan di sisiku. Walau kamu pergi seperti apa yang kamu katakan kamu akan selalu ada," bisik Rendy di telinga Rania.
Dengan air mata Rendy yang tidak terbendung lagi, " aku mencintaimu Rania sampai kapan pun. Kamu tidak akan tergantikan. Kamu akan tetap ada di sisiku. Aku dan anak kita akan baik-baik saja. Jangan takut aku akan mengikuti semua perkataan kamu. Jangan takut sayang. Kami berdua akan baik-baik saja," bisik Rendy.
Melihat kondisi Rania yang bertahan hanya dengan mesin membuat Rendy tidak tega melihat penderitaan istrinya dan akhirnya akan Ikhlas jika Allah lebih mencintai istrinya. Maka dia sudah ikhlas.
**********
Rendy yang duduk termenung di luar ruang perawatan istrinya dengan beberapa kali mengusap wajahnya sampai kepalanya, mengusap dengan ke-2 tangannya.
" Rendy!" Ratih datang menghampiri Rendy dan duduk di samping putranya itu.
__ADS_1
" Iya mah," jawab Rendy.
" Kamu baik-baik aja?" tanya Ratih.
" Mana mungkin aku baik-baik saja," jawab Rendy.
" Mama mengerti nak. Kamu sedang dalam kesulitan," sahut Ratih.
" Aku ikhlas jika akhirnya Rania akan pergi. Mungkin karena belakangan ini aku tidak rela doa meninggalkanku dan terus menyuruhnya bertahan. Mungkin karena itu kondisinya semakin memperhatikan," ucap Rendy yang ingin membuang egonya.
" Mama mengerti perasaan kamu. Mama tau sayang," sahut Ratih memegang tangan Rendy.
" Satu permintaan Rania yang belum aku turuti," ucap Rendy.
" Apa?" tanya Ratih.
" Rania ingin sekali aku berangkat umroh, dia ingin mendoakannya saat sebelum bersalin saat itu. Dia ingin meminum air zamzam sebelum bersalin. Tetapi karena tidak di duga Rania lebih cepat bersalinnya membuatku tidak jadi pergi.
" Aku ingin pergi untuk memenuhi keinginan terakhirnya," ucap Rendy yang sudah berniat untuk melakukan perjalanan umroh dan membawakan apa yang di inginkan istrinya.
" Jika menurut kamu itu yang terbaik dan yang di inginkan istrimu. Maka pergilah, lakukan apa yang masih bisa kamu lakukan. Jangan khawatir Asyifa akan baik-baik saja. Mama dan yang lainnya akan menjaganya," ucap Ratih yang mendukung apapun yang di inginkan putranya.
" Baiklah mah, aku akan pergi untuk perjalanan umroh, aku akan membawakan apa yang di inginkan Rania," sahut Rendy dengan yakin.
Ratih mengangguk dan langsung memeluk Rendy dengan erat, memberikan kekuatan untuk Rendy agar tabah dalam menghadapi semuanya.
Bersambung
__ADS_1