Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 229 Agam yang dingin.


__ADS_3

Anisa yang berada di dalam mobil yang di sampingnya mamanya. Anisa terlihat terlihat pusing sambil menyetir yang bagaimana tidak pusing dengan mamanya yang ikut bersamanya.


" Bagaimana ini. Aku sama Agam ribut lagi dan sekarang mama menambah masalah. Bagaimana caranya aku mengatakan sama Agam. Kalau mama akan tinggal bersama kami. Dia saja sedang mengacuhkanku, apa dia akan memberi mama izin," batin Anisa yang penuh kebingungan.


Sebagai anak mau tidak mau Anisa memang harus menampung mamanya. Karena hanya dia yang di miliki mamanya satu-satunya.


" Anisa apa tempat tinggal kamu dan suami kamu besar?" tanya Sarah.


" Apa pentingnya sih mah, tempat tinggal, mau besar atau kecil," sahut Anisa yang kesal dengan pertanyaan mamanya tersebut.


" Kaku kenapa sih marah-marah mulu dari tadi," ucap Sarah.


" Ya namanya mama bertanya ini itu terus. Anisa pusing tau, yang nggak penting harus mama tanyakan," sahut Anisa yang benar-benar bisa gila kalau menghadapi mamanya.


" Apa itu maksudnya kamu keberatan mama tinggal sama kamu," sahut Sarah.


" Mash, udah deh, cukup nggak usah membahas yang lain-lain lagi. Jangan bicara apa-apa lagi," sahut Anisa.


" Baru juga menikah sudah sombong. Jika mama tidak ada kamu juga akan melarat. Punya orang tua bukannya di tanggung jawabi," desis Sarah yang sewot.


" Jangan mulai deh mah. Anisa cuma mau bilang sama mama. Jangan samain apa yang mama lakukan di ruang Rendy dengan di tempat Anisa nanti. Rendy sama Agam itu berbeda dan itu rumah Agam. Mama jangan membanding-bandingkannya Agam dengan Rendy. Anisa tidak akan bisa menolong mama lagi. Kalau Agam juga akhirnya melakukan apa yang di lakukan Rendy," ucap Anisa menegaskan.


" Kamu benar-benar mau durhaka dengan mama," sahut Sarah.


" Sudahlah ma, jangan melarikan cerita kemana-mana lagi. Aku capek," sahut Anisa.


" Semoga mama tidak menambah masalah baru saat di rumah nanti," batin Anisa yang hanya perlu berharap saja.


" Issss, anak ini juga semakin lama semakin menyebalkan," batin Sarah kesal dengan Anisa.

__ADS_1


*************


Tidak lama akhirnya Anisa dan Sarah sampai ke Apartemen Agam dan begitu masuk kepala Sarah berkeliling melihat isi Apartemen mewah itu.


" Ternyata Agam benar-benar anak orang kaya," batin Sarah yang wajahnya begitu takjub melihat isi Apartemen tersebut yang dia tau itu semua adalah barang-barang mewah.


" Mama duduklah. Anisa mau keatas dulu," ucap Anisa yang langsung pergi yang pasti dia ingin menemui Agam di dalam kamar.


Begitu sampai di kamar. Memang Agam ada di sana yang duduk di sofa dengan bersandar sambil menonton TV. Begitu Anisa datang Agam langsung menguatkan volume suara TV.


" Dia pasti marah kepadaku, sampai tidak mempedulikanku saat ini," batin Anisa yang melihat ekspresi Agam yang ketus yang tidak mempedulikan kehadiran Anisa.


Anisa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu langsung menghampiri Agam berdiri di samping Agam.


" Agam," tegur Anisa. Agam diam saja dan semakin menguatkan Volume suara TV. Anisa melihat ke arah TV. Lalu kembali melihat Agam.


" Agam, mama ada masalah dengan Rendy dan mama tidak bisa tinggal di rumah Tante Ratih lagi untuk sementara mama tinggal sama kita, sebelum mama menyusul papa keluar Negri," ucap Anisa yang takut-takut bicara dengan Agam. Agam diam dan tanpa merespon apa-apa. Walau suara TV kuat tetapi pasti Agam mendengar apa yang di katakan Anisa.


" Agam!" lirih Anisa lagi yang meminta persetujuan. Dia juga tau diri itu rumah suaminya dan pasti harus persetujuan Agam.


" Terserah!" hanya suara dingin itu yang keluar dari mulut Agam. Agam langsung berdiri dan menuju kamar mandi yang tidak mempedulikan Anisa. Anisa hanya bernapas membuang napasnya perlahan yang melihat marahnya Agam kepadanya.


*************


Sarah pun akhirnya tinggal di rumah mertuanya dan sekarang sedang makan berdua dengan Anisa. Makanan yang tadinya di siapkan Anisa.


" Mana suami kamu. Kok dari tadi tidak turun. Mertuanya datang bukannya di sapa," sahut Sarah yang langsung proses.


" Agam lagi istirahat," sahut Anisa.

__ADS_1


" Ya walaupun istirahat. Seharusnya kalau mertuanya datang itu di sapa, atau di sambut. Memang anak itu tidak punya sopan santun. Kalau Rendy sangat menghargai orang tua," sahut Sarah.


" Ma, sudahlah kenapa harus bawa-bawa nama Rendy sih. Manusia itu berbeda-beda sifatnya, jangan samakan Agam dan juga Rendy," ucap Anisa yang semakin kesal dengan mamanya bahkan selera makannya hilang karena ulah mamanya.


" Ya kan memang kenyataan. Rendy itu anaknya baik. Kamunya aja yang harus menikah dengan Agam. Coba aja sabar sedikit dan pasti bisa bersama Rendy. Buka nya kamu sangat mencintainya dan saat ini kesempatan kamu untuk menjadi istrinya. Karena kamu wanita yang sempurna yang bisa hamil. Kamu malah memilih menikah dengan laki-laki yang tidak jelas dan lihat sekarang entah di mana yang padahal dia tau mertuanya sedang datang," ucap Sarah yang terus membandingkan- bandingkan Rendy dan juga Agam.


Anisa hanya berdecak kesal yang capek mengingatkan mamanya untuk tidak membawa-bawa nama Agam. Anisa tiba-tiba melihat kekirinya dan ternyata Agam berdiri di sana dengan ke-2 tangan Agam yang berada di sakunya.


" Agam!" lirih Anisa kaget dengan keberadaan Agam yang tiba-tiba dan pasti Agam mendengar apa yang di bicarakan mamanya tadi. Sarah pun melihat ke arah Agam.


" Kamu dari mana aja?" tanya Sarah yang terlihat ketus. Agam tidak bicara apa-apa dan langsung pergi.


" Agam!" panggil Anisa.


" Mama sih. Anisa sudah mengatakan jangan membawa-bawa nama Rendy di rumah ini. Mama ini benar-benar menambahi masalah aja," ucap Anisa yang kesal dengan masalahnya yang datang dan datang lagi.


" Kok malah nyalahin mama sih," sahut Sarah tanpa dosa.


" Tau ah, pusing," sahut Anisa dengan kesal memijat kepalanya yang semakin berat.


" Sekarang masalah bertambah banyak. Mama benar-benar keterlaluan. Agam pasti bertambah marah," batin Anisa yang semakin stres.


************


Malam hari, Agam berada di kamar mandi dan terdengar suara air yang pasti Agam sedang mandi. Sementara Anisa berdiri di samping tempat tidur dengan memakai pakaian untuk tidur dan jilbabnya juga sudah di bukanya.


" Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Agam. Masalahnya bertambah dengan kata- mama tadi yang pasti mama mengatakan hal yang tidak benar dan pasti Agam tersinggung dengan apa yang di katakan mama. Aku harus bicara padanya. Aku tidak bisa membiarkan Agam yang terus marah dan bersikap dingin kepadaku," batin Anisa yang ingin menuntaskan masalahnya dengan suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2