Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 180 Agam dan Anisa.


__ADS_3

Elang akhirnya kembali ketempat Zahra dan duduk di samping Zahra.


" Maaf ya aku lama," ucap Elang merasa bersalah.


" Tidak apa-apa," sahut Zahra. Elang pun memberikan Zahra air kelapa muda dan Zahra langsung meneguknya dengan sedotan. Elang tersenyum melihat Zahra yang minum kenapa tiba-tiba sangat menggemaskan. Zahra yang di tatap seperti itu menjadi bingung plus salah tingkah.


" Nih," sahut Zahra menyodorkan pada Elang dengan apa yang di minumnya. Yang mungkin Zahra merasa Elang juga kehausan dan memang benar Elang pun meminumnya dengan menunduk sedikit di dekat Zahra menyeruput air kelapa itu dengan sedotan milik Zahra.


Zahra memegang kelapanya dan Elang yang minum dan bahkan Elang minum tidak bisa jika tidak menatap Zahra. Sampai wajah Zahra memerah karena ulah Elang. Mungkin ciuman tadi tidak jadi. Tetapi sudah di gantikan dengan minum 1 sedotan ya hampir sama lah dengan ciuman beda-beda tipis.


****************


Anisa yang liburan sendirian hanya bisa murung dan terasa sedih. Apa lagi dia melihat Rendy dan Rania yang menunjukkan kemesraan. Semakin membuatnya kepanasan dan liburan itu benar-benar terasa hampa.


" Hmmmm, tau begini aku mendingan tidak ikut. Mama sih kenapa tidak balik-balik. Yang adakan aku sendirian. Jadi obat nyamuk di tempat ini," batin Anisa yang merasa kesal dengan melihat Rendy dan Rania yang seperti anak kecil bermain air.


Matanya juga melihat Zahra dan Elang yang duduk berdua minum air kelapa. Dia juga melihat keluarga Rania yang kompak dengan Oma Wati dan Ratih yang benar-benar menikmati liburan itu. Sementara dirinya benar-benar hanya bisa melihat tanpa ada teman untuk mengobrol atau apapun.


" Haaaaa, mending aku cari makan," ucap Anisa yang akhirnya memilih pergi dari tempatnya.


Anisa berhenti di Restauran yang ada di sana dan Anisa langsung mengambil tempat duduk di bagian outdoor nya agar tidak terlalu jauh dari pantai dan juga masih bisa melihat rombongannya. Karena dia juga takut di tinggal.


Jarak tempat mereka sekarang dengan Villa lumayan jauh dan dia tidak tau jalan kesana. Jadi Anisa juga tidak mau cari gara-gara. Makanya mencari tempat untuk mengisi perutnya yang tidak jauh-jauh.


Anisa membolak-balik menu makanan yang ingin melihat makanan. Namun tiba-tiba seorang pria duduk di depannya. Dan siapa lagi jika bukan Agam. Sontak hal itu membuat Anisa kaget dan lebih kagetnya saat Pria yang berkacamata itu melepas kaca mata hitamnya. Anisa membulatkan matanya sempurna benar-benar schock melihat Agam.


" Kau!" pekik Anisa.


" Hai," sapa Agam dengan santainya.


" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Anisa dengan geram.


" Ya makanlah," sahut Agam dengan santai.


" Kenapa harus duduk di depanku? Pergi dari sini!" usir Anisa.

__ADS_1


" Ini tempat umum ya suka-suka dong," sahut Agam dengan santai.


" Aku tau ini tempat umum. Tapi tidak harus kau duduk di depanku. Cari tempat lain," tegas Anisa.


" Tidak ada tempat. Hanya ini yang kosong," sahut Agam santai. Kepala Anisa berkeliling melihat di sekitarnya yang memang benar tidak ada tempat kosong. Hal itu membuat Anisa semakin kesal dengan merapatkan giginya.


" Kalau begitu aku yang pergi," sahut Anisa berdiri.


" Heh, tunggu," sahut Agam menghentikan tangan Anisa menahannya untuk tidak pergi. Anisa langsung menepis kasar tangan Agam.


" Jangan kurang ajar kepadaku," sahut Anisa kesal.


" Oke-oke aku minta maaf. Kau tidak perlu pergi. Bukannya kau ingin makan dan aku juga ingin makan dan apa salahnya kita makan bersama," sahut Agam.


" Aku tidak sudi makan bersamamu," sahut Anisa menolak.


" Wanita ini benar-benar sombong," geram Agam di dalam hatinya lama-lama kesal yang selalu di tolak.


" Permisi! mau pesan apa mas, mbak," sahut pelayan dengan ramah.


" Kami pesan ini," sahut Agam yang langsung mengambil alih dan memesan dengan suka-sukanya dan Anisa kaget dengan Agam yang memesan tanpa persetujuannya.


" Terima kasih mbak," sahut Agam.


" Kau saja yang makan aku tidak Sudi," sahut Anisa menolak yang melangkah pergi.


" Aku akan mendatangi keluargamu dan memberitahu semuanya," sahut Agam tiba-tiba yang membuat langkah Anisa terhenti dan membalikkan tubuhnya.


" Apa maksud mu. Kau mau mengancamku?" tanya Anisa dengan geram.


" Terserah menganggapnya apa?" sahut Agam dengan santai. " Hanya makan ber-2 apa susahnya dan kau malah menolak. Ya silahkan pergi. Aku bisa mengatakan pada mereka tentang malam itu," ucap Agam dengan serius yang benar-benar mengancam Anisa.


Anisa membuang napasnya kasar yang benar-benar tidak percaya jika dia di ancam. Karena tidak punya pilihan akhirnya Anisa pun kembali duduk membuat Agam menyunggingkan senyumnya yang mana Anisa benar-benar menurut.


" Seperti ini kan jauh lebih baik," sahut Agam. Anisa diam saja dengan penuh kekesalannya yang tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Tidak lama makanan itupun sudah terhidang di meja mereka. Anisa yang kesal tidak menyentuh makanan itu sama sekali.


" Kau yakin tidak mau makan?" tanya Agam.


" Aku tidak memesannya sama sekali. Jadi makan sesuakamu," sahut Anisa dengan ketus.


" Ya sudah kalau tidak mau. Kau akan menyesal tidak memakannya," sahut Agam.


" Aku tidak akan pernah menyesal. Tetapi aku akan lebih menyesal. Karena sudah bertemu denganmu," sahut Anisa.


" Kau benar-benar sangat sombong. Ya semoga kau benar-benar menyesal," sahut Agam dengan santai yang makan terus dan Anisa hanya diam di depannya.


*************


Seharian di habiskan untuk liburan di pantai, dari jalan-jalan menikmati kuliner, foto-foto dan yang lainnya. Mereka juga sudah kembali Villa yang mana malam ini mereka akan mengadakan acara inti tujuan mereka ke Bali. Apa lagi jika bukan untuk perayaan ulang tahun Nia.


Mereka mengadakan di taman belakang Vila yang sudah di sulap dengan penuh lampu-lampu yang indah dan dekor ala-ala ulang tahun. Ada kue ulang tahun yang sudah berada di atas meja dan juga alat-alat untuk baberque bareng-bareng.


Hanya seperti itu saja. Tetapi harus di Bali. Nia memang ada-ada aja dan dia harus berterima kasih pada kakak iparnya tercinta. Karena berkat kakak iparnya itu Nia bisa berada di Bali.


Zahra juga ikut membantu mempersiapkan semuanya.


" Nia tidak ada sosisnya ya," ucap Zahra yang tidak melihat ada sosis.


" Astaga kak, kelupaan di beli. Ya sudah biar Nia beli sebentar," ucap Nia.


" Biar kakak aja yang beli," sahut Zahra. Elang yang mendengarnya pun menghampiri Zahra dan Nia.


" Sudah biar aku saja," sahut Elang yang mengambil alih.


" Memang tidak akan merepotkan?" tanya Zahra.


" Tidak apa-apa. Ya sudah aku beli sebentar ya. Kalian lanjutin saja beres-beresnya," ucap Elang.


" Ya sudah makasih ya Elang. Kamu sudah membantu," ucap Zahra.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, aku pergi sebentar ya," ucap Elang. Zahra mengangguk.


Bersambung


__ADS_2