
Rania memasuki kamarnya. Rania duduk di pinggir ranjang, menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan napasnya yang naik turun. Dia pastinya sudah lumayan tenang ketika berada di rumah Rendy yang mendapat perlakukan baik dari Ratih yang membuatnya nyaman dan penuh keteduhan.
Tapi hanya beberapa saat Rania kembali frustasi dengan kehadiran Gilang yang jelas membuat dirinya membuka luka. Rasa kecewa yang kembali teringat dengan cepat.
Rania mengusap wajahnya kasar sampai menyibakkan rambutnya dengan ke-2 tangannya. Dia beberapa kali membuang napasnya kasar. Pertengkaran tadi membuat ya cukup merasa sesak. Tetapi seakan lega dengan keputusan yang di ambilnya.
" Ini memang jalan yang terbaik. Aku tidak mungkin melanjutkan pernikahan ini dalam keadaan seperti ini. Gilang yang sudah menghancurkan pernikahan ini bukan aku dan ini yang terbaik," ucapnya ketika merasa keputusannya sudah tepat.
" Aku tau mama pasti kecewa dan pasti akan banyak lagi hal yang terjadi. Aku akan kembali mendapat ejekan dari kak Willo dan yang pasti aku akan kembali mendapat hinaan kembali," batinnya yang sudah tau bagaimana nasibnya selanjutnya.
" Tapi tidak apa-apa Rania, ini sudah pilihan mu. Ini jauh lebih baik. Dari pada kamu harus menikah dengan Pria yang sama sekali tidak menghargaimu. Kamu harus menikahi laki-laki yang sudah menghancurkan semuanya. Harapan dan mimpimu berantakan. Jadi ini tidak salahmu Rania. Keputusan yang kamu ambil sudah benar. Kamu sudah memilih jalan dengan tepat," ucap Rania yang yakin dengan keputusannya sendiri.
Rania kembali membuang napasnya perlahan kedepan. Dia beberapa kali menyibak rambutnya kebelakang. Antara sudah cukup lega, atau bisa di katakan dia juga tidak lega. Karena batalnya pernikahannya pasti akan menjadi bumerang untuknya.
*************
" Wanita itu benar-benar gila, kenapa dia bisa seenaknya membatalkan pernikahan itu!" teriak Iren dengan suaranya menggelegar saat mendapatkan informasi dari Gilang bahwa Rania membatalkan pernikahan itu.
Ternyata Gilang langsung mengumpulkan keluarganya dan menyampaikan apa yang di katakan Rania. Bukan hanya ada mama dan papanya.
Tetapi ada juga Ratih, ada Rendy, Zahra, dan Nia dan pastinya Oma Wati yang dituakan yang juga hadir di sana yang mendengarkan kata-kata Gilang yang membatalkan pernikahan yang membuat orang tua Gilang kaget. Tetapi jelas Ratih, Rendy dan Zahra tidak kaget dengan hal itu.
" Kak Rania membatalkan pernikahannya, kenapa tiba-tiba?" batin Nia yang bertanya-tanya. Karena Nia memang tidak tau apa yang terjadi.
" Jadi Rania membatalkan pernikahannya. Memang itu jalan yang harus di ambilnya. Lagian mana mungkin Rania melanjutkan pernikahan dengan apa yang sudah terjadi di depan matanya.
" Dia pikir siapa dia berani-beraninya dia membatalkan pernikahan itu dengan sesukanya," sahut Iren yang tampaknya tidak terima.
" Apa alasan Rania membatalkannya pernikahannya Gilang?" tanya Oma Wati.
" Rania, hanya mengatakan kami tidak cocok untuk menjalani pernikahan. Banyak perbedaan di antara kami sehingga pernikahan itu harus di batalkan," jawab Gilang yang mengarang cerita yang membuat Ratih, Rendy dan Zahra saling melihat.
Jelas mereka tau apa yang terjadi sebenarnya. Karena Rania sudah menceritakannya. Rania juga tidak mengada-ada. Karena Rendy juga telah menjadi saksinya. Tetapi Gilang mengarang cerita pada keluarganya yang jelas itu bukan kebenarannya.
" Tidak cocok katanya. Benar-benar tidak tau diri. Seharusnya dia bersyukur. Karena kaku masih mau menikahinya. Tetapi apa yang di lakukannya. Seenaknya membatalkan pernikahan itu. Apa dia ingin mempermalukan keluarga kita," sahut Iren semakin emosi ketika mendengar alasan sang putra yang memberikan alasan pembatalan pernikahan itu.
" Ya ampun Tante Iren aku juga akan membatalkan pernikahan itu ketika melihat kelakukan Gilang yang benar-benar tidak terpuji itu," batin Zahra yang geram dengan Gilang.
" Jadi Rania membatalkan pernikahan itu dan Gilang tidak mengakui kepada keluarganya bahwa dia yang menyebabkannya. Gilang apa yang sebenarnya kamu inginkan. Kenapa di saat kamu jelas bersalah. Kamu masih menyalahkan Rania. Kamu memojokkannya seakan dia yang bersalah dengan keputusan yang memang seharusnya diambilnya," batin Rendy yang hanya bisa diam saja.
Dia tidak punya hak untuk mengambil tindakan. Karena itu bukan urusannya.
" Pernikahan ini tidak bisa hanya di putuskan dengan satu pihak saja. Apa lagi alasannya hanya seperti itu. Pernikahan hanya tinggal beberapa hari lagi. Jadi masalah ini harus cepat di selesaikan. Dan tidak bisa di batalkan begitu saja," sahut Oma Wati.
" Aku memang berharap Oma memutuskan segalanya dan bisa berbuat sesuatu. Agar Rania tidak punya pilihan selain menikah denganku," batin Gilang yang masih ingin menikah dengan Rania. Makanya melakukan banyak cara dan mencari pembelaan dari keluarganya.
" Maksud mama apa. Apa kita akan menemui Rania dan akan memohon untuk agar tidak membatalkan pernikahan itu?" tanya Iren.
" Benar ma, apa kita akan kesana?" sahut Jaya yang juga bertanya.
" Bukankah memang itu yang harus kita lakukan. Kita akan membicarakannya dengan kepala dingin," sahut Oma Wati membuat Iren mendengus kasar.
" Aku yakin dia pasti sengaja melakukan hal seperti ini di tengah-tengah acaranya yang sudah dekat. Dia memang ingin kita datang dan mengemis kepadanya. Dia dan keluarganya sangat suka sensi malu. Tetapi tidak untuk kita. Dia pasti sengaja. Karena kita tidak punya pilihan selain mengemis kepadanya. Karena kita yang akan malu," ucap Iren yang geram dengan Rania.
" Ma, tenanglah, kamu jangan emosian terus," sahut Jaya menenangkan istrinya.
" Tenang kamu bilang. Bagaimana aku bisa tenang dengan semua ini. Kamu lihat wanita sialan itu berani-beraninya mempermaikan keluarga kita. Aku sudah berbaik hati menerima dia di keluarga kita. Aku melupakan kejadian malam itu dan juga menutup mata untuk perbuatan hinanya. Tapi apa, apa yang di lakukannya dan sekarang lihat apa yang di lakukannya," sahut Iren marah-marah.
__ADS_1
" Tante semuanya tidak salah Rania," sahut Zahra yang tidak bisa menahan dirinya dengan temannya yang di hina di salahkan. Padahal Rania tidak bersalah.
" Semuanya terjadi karena perbuatan..."
" Zahra, sudah," sahut Ratih yang memegang tangan Zahra yang membuat Zahra tidak jadi bicara. Ratih menggelengkan kepalanya yang seakan memberikan kode kepada Zahra untuk tidak mengatakan apa-apa. Wajah Zahra langsung kesal dengan membuang napasnya perlahan kedepan.
" Apa maksud Zahra, tidak mungkin Rania menceritakan apa yang terjadi pada Zahra," batin Gilang.
" Perbuatan siapa lagi jika tidak perbuatannya," sahut Iren, " Zahra Tante tau dia teman kamu. Tapi tetap saja. Kamu tidak bisa berpihak pada wanita yang salah. Dia memiliki kekuasaan dan tidak punya urat malu. Makanya bisa dengan sesukanya membatalkan pernikahan itu.
" Dia sangat tidak tau diri wanita hina yang membuat keluarga kita malu," ucap Iren terus menghina Rania membuat Zahra mengepal tangannya dengan napasnya yang tidak teratur dengan kata-kata Iren yang begitu menyakitkan.
Padahal temannya tidak melakukan apa-apa. Dan sepupunya yang bersalah. Tetapi Gilang yang tidak mengakui perbuatannya membuat Iren marah dan menuduh Rania yang tidak-tidak. Sampai menghina Rania dengan kata-kata pedas.
Dia saja mendengarnya sangat sakit. Apa lagi jika Rania yang mendengarnya. Pasti akan jauh lebih sakit.
" Jadi stop kamu membela wanita itu," tegas Iren. Zahra yang kesal dan tidak bisa berkata apa-apa memilih pergi. Dari pada nanti mulutnya semakin tidak tahan.
" Zahra!" panggil Ratih.
" Lihatlah, baru berteman saja dengan wanita itu. Sudah mulai terlihat bibit-bibit buruk dari Zahra," sahut Iren geleng-geleng.
" Mbak, sudah cukup. Jika kita ingin ketempat Rania. Mari kita bicarakan semuanya. Memang alangkah baiknya kita menemui Rania untuk menanyakan kepadanya. Alasannya membatalkan pernikahan ini. Kita tidak bisa hanya mendengar dari satu pihak saja apa alasannya. Apa yang di katakan Gilang belum tentu sama dengan Rania," sahut Ratih mengambil keputusan yang tepat.
" Apa maksud Tante Ratih, apa dia tidak mempercayaiku. Tetapi mana mungkin dia tidak mempercayaiku. Rendy mana mungkin Rendy mengatakan tentang apa yang terjadi. Jelas apa yang di lihat Rendy juga tidak membuktikan apa-apa. Dan lagian Rendy bukan lah orang seperti itu yang akan berbicara kepada semua orang," batin Gilang yang wajahnya mulai panik.
" Mama setuju dengan Ratih, kita Kerumah Rania bukan untuk mengemis pernikahan. Tetapi untuk mendengarkan alasan Rania membatalkan pernikahan ini dan apa memang harus di batalkan. Kita juga tidak bisa hanya mendengar dari satu pihak saja," sahut Oma Wati yang mengambil keputusan.
" Baiklah, kalau begitu, aku juga sekalian ingin melihat wajah anak itu. Bagaimana wajahnya yang bicara segampang itu membatalkan pernikahan," sahut Iren yang akhirnya menyetujui.
" Bagiamana ini. Jika Rania mengatakan aku berselingkuh. Semuanya bisa benar-benar selesai," batin Gilang yang malah kepanikan sendiri.
Ternyata di sisi lain yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Anisa mendengarkan pembicaraan itu.
" Jadi Rania membatalkan pernikahannya. Apa alasannya melakukan semuanya. Kenapa dia membatalkan pernikahan itu. Ini sangat aneh tiba-tiba dia membatalkan pernikahan yang padahal hanya beberapa hari lagi. Dia membatalkan pernikahan setelah dia pergi dari rumah ini. Dia juga datang tidak tau tujuannya apa dan tiba-tiba sudah membatalkan pernikahan begitu saja. Sangat aneh," batin Anisa yang penuh kebingungan.
*********
Rania berada di kamarnya yang duduk di meja riasnya dengan memegang ponselnya. Rania dengan gaun tidurnya yang panjang. Piyama berbahan sifon berwarna merah mencolok dengan panjang semata kaki nya dengan lengan pendek dan bagian dadanya yang terbuka.
Rania tampaknya sudah ingin tidur. Dia hanya menscroll ponselnya saja, melihat-lihat dengan random saja.
tok tok ketukan pintu membuat Rania menoleh kebelakang.
" Masuk!" perintah Rania dari dalam kamarnya. Dan pintupun terbuka yang menampilkan Aditya pembantu rumah tangganya.
" Ada apa?" tanya Rania.
" Non Rania sedang di tunggu di ruang tamu sama bapak dan ibu," jawab asisten rumah tangga tersebut.
" Di tunggu, untuk apa?" tanya Rania heran.
" Saya juga tidak tau non," sahut bibi.
" Ya sudah saya akan kesana," sahut Rania.
" Baik non," jawab bibi yang langsung pergi.
__ADS_1
" Mau ngapain mama dan papa menungguku. Tumben sekali. Biasanya juga tidak seperti itu," batin Rania penuh kebingungan. Rania pun tidak menunggu lama lagi. Rania langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi keluar dari kamarnya.
Rania keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Batu di beberapa anak tangga yang bisa melihat ke ruang tamu. Rania sudah di kagetkan dengan tamu yang datang kerumahnya yang ternyata adalah keluarga Gilang.
Di sana ada Gilang, mama dan papanya, ada juga Ratih, dan Rendy dan juga Oma Wati. Zahra dan Nia tidak ikut.
" Untuk apa mereka kemari," batin Rania dengan perasaannya yang tidak enak.
" Rania, turunlah! jangan hanya berdiri di sana saja," sahut Rudi yang sudah melihat Rania dan yang lain juga melihat wanita cantik itu melangkah dengan wajahnya yang cemas.
Sampai akhirnya Rania pun menghampiri ruang tamu dan Rania duduk di samping mamanya yang berhadapan dengan keluarga Gilang.
" Ada apa ini?" tanya Rania. Rania melihat satu-persatu wajah tamunya itu. Dan mendapat tatapan tajam dari Iren yang pasti membuat Rania seperti di sudutkan.
" Rania apa yang terjadi pada kamu. Benar apa kata mereka kalau kamu membatalkan pernikahan itu?" tanya Faridah dengan pelan. Dia pasti schock saat mendengar kedatangan tamunya yang to the point mengatakan hal itu.
Rania masih terdiam dan kembali melihat wajah-wajah itu satu persatu.
" Rania benar apa yang di katakan mereka. Kamu membatalkan pernikahan itu dengan tiba-tiba?" tanya Rudi yang juga ingin tau.
" Rania, jawab?" tanya Faridah yang membutuhkan jawabannya.
" Iya aku memang membatalkan pernikahan itu dan sudah membicarakannya dengan Gilang," sahut Rania menegaskan membuat Faridah dan Rudi benar-benar kaget.
" Rania, apa yang kamu lakukan?" tanya Faridah dengan suara menekan yang pasti tidak percaya dengan keputusan putrinya.
" Siapa kamu beraninya kamu membatalkan pernikahan ini. Kamu ingin membuat keluarga kami malu," teriak Iren.
" Ma, tenang dulu," sahut Jaya yang terus meredakan emosi sang anak.
" Rania, apa alasan kamu membatalkan pernikahan ini. Padahal ini hanya tinggal menghitung hari. Hanya tinggal 3 hari lagi dan kamu membatalkannya. Pasti ada alasan yang membuat kamu harus mengakhiri pernikahan ini secara mendadak," sahut Oma Wati yang hanya membutuhkan alsan yang tepat.
Rania melihat kearah Gilang. Pria itu jelas tampak panik dan sangat jelas ketakutan. Jika Rania memberikan alasannya.
" Sial, kenapa Oma malah bertanya seperti itu. Bagaimana jika Rania mengatakan aku berselingkuh," batin Gilang yang ketakutan.
" Rania, kenapa kamu diam, ayo bicaralah. Katakan alasannya kenapa kamu membatalkan pernikahan ini secara sepihak!" tanya Wati lagi.
" Aku dan Gilang tidak cocok. Kami tidak bisa menikah. Aku tidak bisa menikah dengan laki-laki seperti Gilang," sahut Rania yang memberikan alsan simple tanpa memberi tahukan apa yang sebenarnya.
" Apa maksud kamu. Memang apa yang di lakukan Gilang. Sehingga kamu bisa mengatakan tidak cocok untukmu," sahut jaya bertanya.
" Maaf, jika saya harus membatalkan pernikahan ini. Tetapi ini keputusanku. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan anak om dan Tante dan alasannya sudah saya berikan. Karena memang pada dasarnya aku dan Gilang memang seharusnya tidak merencanakan pernikahan sejauh ini. Rencana pernikahan ini adalah sebuah kesalahan," sahut Rania yang menegaskan lagi.
Rendy dan Ratih pasti kaget dengan Rania yang tidak mengatakan apa-apa mengenai Gilang.
" Kenapa Rania tidak memberitahu sebenarnya alasannya," batin Rendy bingung.
" Kamu bilang tidak cocok. Jadi maksud kamu anak saya tidak pantas bersanding dengan kamu. Kamu pikir kamu siapa. Kamu hanya wanita murahan yang seharusnya bersyukur. Telah di persunting anak saya," teriak Iren dengan emosinya yang semakin membuladak ketika mendengar Rania berbicara.
" Apa kamu pikir kamu wanita sempurna. Kamu tidak sadar diri dan juga tidak tau diri. Urat malu kamu benar-benar hilang. Kamu terbiasa mempermalukan keluargamu dan kami tidak terbiasa dengan hal sangat hina itu. Kami sudah memberimu kesempatan untuk mengangkat derajatmu dengan menikah dengan laki-laki yang berhak baik dan berilmu tinggi. Dari keluarga yang terpandang dengan agama yang kuat. Mau menjadi besan dengan keluargamu yang penuh kegelapan,"
" Tapi apa yang kau lakukan kau malah membatalkan pernikahan ini. Kau menganggap semuanya permainan. Kau benar-benar tidak tau diri," ucap Iren menunjuk-nunjuk Rania dengan marah-marah, menghina Rania.
Dan Rania hanya diam saja dengan matanya yang berkaca-kaca dan pasti sakit mendengar ucapan itu.
" Kau manusia tidak tau diri. Kau sungguh tidak tau diri!" teriak Iren.
__ADS_1
" Iren sudah cukup," sahut Oma Ratih yang melihat Iren terus bicara yang benar-benar kelewatan.
Bersambung