
Sarah memang harus menanggung malu dengan perbuatannya dan suatu keajaiban yang luar biasa untuk Sarah mengakui kesalahannya.
" Jika tidak ada lagi yang di bicarakan. Maka saya akan pergi," sahut Rudi.
" Makasih pak Rudi untuk waktunya, maaf merepotkan bapak," sahut Ratih.
" Tidak apa-apa Bu Ratih. Yang penting ada kejelasan dan saya lega dengan semua ini. Untuk Bu Sarah mohon jangan mencampuri kehidupan anak saya lagi. Jika selama ini saya tidak ikut campur. Mungkin nanti kalau Bu Sarah masih mencampurinya. Maka saya akan ikut campur," sahut Rudi dengan penuh penekanan dan penegasan pada Sarah.
Rania tersenyum mendengar perkataan papanya yang seolah ingin melindunginya. Hal simple itu membuatnya begitu bahagia.
" Iya Pak, Rudi. Saya tidak akan ikut campur lagi. Saya akan jadikan ini pelajaran untuk saya dan Anisa," sahut Sarah.
" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," sahut Rudi pamit kembali.
" Biar saya antar Pak," sahut Rendy.
" Tidak usah Rendy. Tadi bapak sudah telpon supir dan sekarang pasti sudah sampai. Bapak pergi bersama supir saja," sahut Rudi.
" Baiklah kalau begitu hati-hati Pak," sahut Rendy.
" Nanti Rania dan Rendy juga akan kerumah sakit," sahut Rania.
" Iya papa tunggu. Mari semuanya, assalamualaikum," ucap Rudi pamit.
" Walaikum salam," sahut semuanya serentak.
" Mbak Ratih, maaf untuk kekacauan di rumah Mbak," sahut Sarah.
" Benar tante, kehadiran kami sudah membuat masalah yang banyak. Maafkan kami," sahut Anisa menambahi.
" Jika Rania menganggap ini tidak masalah. Maka saya juga sama," sahut Ratih.
" Tapi bukannya Masalah ini akan terus berulang sangat tidak baik di dalam rumah tangga Rania dan Rendy di campuri seperti ini," sahut Zahra.
" Maksud kamu apa Zahra?" tanya Anisa.
" Anisa maaf, kamu dan Tante Sarah, adalah tamu di rumah ini sama seperti aku. Tapi jika kehadiran kita sebagai tamu membuat orang lain tidak nyaman alangkah baiknya kita pergi," sahut Zahra dengan kata-kata penuh maksud tertentu.
" Kamu ingin mengusir kami," sahut Anisa menebak. Zahra diam yang memang itu adalah sindiran untuk Anisa dan Sarah agar lebih tau diri. Ratih dan Oma Wati juga saling melihat, mereka bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk hal itu.
" Tidak perlu," sahut Rendy, membuat semua orang melihat ke arah Rendy.
" Aku adalah kepala keluarga di rumah ini dan Rania istri yang sudah aku bawa Kerumah ini. Kenyamanan menjadi tanggung jawabku. Aku memutuskan pindah bersama Rania," sahut Rendy tiba-tiba dengan keputusannya.
Semua orang kaget mendengarnya termasuk Rania yang tidak tau menau masalah itu.
__ADS_1
" Rendy apa maksud kamu?" tanya Rania heran.
" Aku sudah menikah dan aku sudah seharusnya tinggal ber-2 dengan Rania," jelas Rendy.
" Tapi apa itu perlu Rendy?" tanya Ratih.
" Mah, bukannya ALM papa pernah bilang. Saat menjadi suami. Kewajiban yang paling penting memberikan istrinya rumah. Karena rumah yang di tempati bersama istri adalah awal dari pernikahan. Aku dan Rania sudah menikah 3 bulan lebih. Aku rasa ini waktunya tinggal bersama Rania," ucap Rendy yang sudah memikirkan keputusan itu.
" Hal ini juga untuk menghindari masalah yang sudah terjadi sebelumnya dan ini adalah keputusan yang sudah aku pikirkan matang-matang," lanjut Rendy dengan serius.
" Tapi Rendy. Bukannya aku pernah mengatakan sebelumnya. Kalau kita tidak perlu pindah," ucap Rania. Rendy hanya tersenyum mengangguk pada Rania.
" Jika Rendy pindah harapanku sudah tidak ada lagi," batin Anisa yang pasrah.
" Gara-gara semua ini masalahnya justru semakin melebar kesana-kemari," batin Dara
" Ya sudahlah. Mama tidak bisa berkata apa-apa. Jika itu memang keinginan kalian. Mau bagaimana lagi," sahut Ratih yang tampak berat melepaskan ananknya untuk tidak satu rumah dengannya.
" Ya, kak Rendy. Kalau pindah berarti kita nggak akan bisa sama-sama lagi," sahut Nia tampak lemas.
" Nia hanya pindah rumah bukan negara," sahut Zahra.
" Sama aja," sahut Nia.
" Ya Allah, aku tau suamiku melakukan ini untuk diriku," batin Rania yang sebenarnya tidak sependapat dengan Rendy. Karena dia memang lebih nyaman jika di rumah itu dengan perhatian dari Ratih yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
*********
" Rania!" tegur Oma Wati yang berada di ruang tamu.
" Oma!" sahut Rania menghentikan langkahnya yang tidak jadi ke ruang tamu.
" Kemari sebentar," panggil Oma Wati. Rania mengangguk dan langsung menghampiri Oma Wati.
" Ada apa Oma?" tanya Rania yang sudah duduk di depan Oma Wati.
Oma Wati mengambil kotak kecil dan memberikan pada Rania.
" Apa ini Oma?" tanya Rania bingung.
" Bukalah!" ucap Oma Wati. Rania mengangguk dan membuka isinya yang berupa satu set perhiasan. Hal itu membuat Rania kaget.
" Untuk apa ini?" tanya Rania heran. Oma Wati memegang tangan Rania dengan mengusap pipi Rania.
" Kamu menantu yang sangat baik. Oma memberikan ini sebagai hadiah. Karena kamu sudah menjadi istri cucuku. Aku bersyukur pada Allah yang telah mengirimkan menantu yang berhati lembut penyabar dan begitu tulus," ucap Oma Wati kepada Rania.
__ADS_1
" Tapi Oma apa ini perlu?" tanya Rania heran.
" Iya sayang itu untuk kamu. Oma tidak pernah memberikan hadiah kepada siapapun dan kamu satu-satunya yang Oma berikan hadiah. Kaku terima ya," ucap Oma Wati.
" Tetapi ini berlebihan Oma," sahut Rania merasa tidak enak.
" Tidak Rania ini tidak berlebihan. Justru ini tidak ada apa-apa di bandingkan dengan kehadiran kamu di rumah ini. Oma juga minta maaf sama kamu beberapa kali Oma salah paham dengan kamu," ucap Oma Wati.
" Tidak Oma tidak perlu minta maaf," sahut Rania.
" Kamu menerimanya kan?" tanya Oma Wati memastikan. Rania mengangguk dengan tersenyum dan langsung memeluk Rania.
***********
Rania duduk di meja riasnya yang merasa bahagia dengan apa yang di dapatkannya dari Oma Wati. Dia beberapa kali mengusap-usap lembut perhiasan itu.
Rendy keluar dari kamar mandi yang setelah selesai mandi. Melihat istrinya sibuk sendiri membuat Rendy menghampiri Rania.
" Apa itu?" tanya Rendy sedikit membungkukkan tubuhnya mencium pucuk kepala Rania.
" Cantik tidak?" tanya Rania.
" Hmm, cantik. Kamu baru membelinya?" tanya Rendy. Rania menggelengkan kepalanya.
" Lalu?" tanya Rendy.
" Oma memberikannya kepadaku," jawab Rania.
" Kok tumben, apa kamu ulang tahun?" tanya Rendy.
" Tidak, katanya ini hadiah," jawab Rania.
" Aku harus iri karena aku tidak pernah di beri hadiah sebagus ini," sahut Rendy. Rania tersenyum melihat ke arah suaminya.
" Kamu tidak pernah menerima hadiah?" tanya Rania.
" Pernah sih, tapu kalau dari orang special tidak pernah," jawab Rendy jujur.
" Kalau begitu kamu mau hadiah apa?" tanya Rania menghadap suaminya dan Rendy meletakkan ke-2 tangannya di pinggir meja rias dengan membungkuk mendekatkan diri pada istrinya.
" Kamu ingin memberiku hadiah?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
" Bukannya aku orang specialmu dan aku akan memberimu hadiah," jawab Rania. Rendy tersenyum dengan mencium kening istrinya lembut.
" Kamu sudah menjadi hadiah terindah dalam hidupku. Aku tidak butuh apa-apa lagi," ucap Rendy. Rania tersenyum mendengarnya dan langsung memeluk pinggang Rendy.
__ADS_1
Bersambung