
Nia yang tadinya di jemput oleh Mario sekarang berada di dalam mobil. Yang mana Mario yang duduk di kursi pengemudi dan Nia yang berada di sampingnya.
" Kak, seharusnya tidak menjemput Nia tadi," ucap Nia yang merasa gugup.
" Maaf Nia, kalau tindakan saya membuat kamu tidak nyaman, saya juga melihat kakak kamu kelihatan tidak menyukai saya. Apa setiap cowok yang datang kerumah kamu, sikap kakak kamu seperti itu?" tanya Mario yang tiba-tiba begitu kepo.
" Nia tidak pernah bawak cowok kerumah. Nia selalu apa-apa pasti di ditemani kak Rendy. Walau dia begitu sibuk menjalankan Profesinya sebagai Dokter kak Rendy selalu menemani Nia dan sampai kak Rendy menikah pun dia juga menemani Nia terus menerus," ucap Nia yang memberi sedikit informasi mengenai kakaknya.
" Kamu begitu dekat dengannya?" tanya Mario.
" Iya kak, karena memang kita hanya berdua saja dan kak Rendy itu sudah menggantikan sosok papa juga," jawab Rania.
" Tadi kamu bilang tidak pernah membawa cowok kerumah kamu. Apa itu artinya saya yang pertama?" tanya Mario memastikan melihat sebentar ke arah Nia.
" Iya, kakak yang pertama dan makanya kak Rendy tadi terlihat seperti itu dan kemungkinan pasti kak Rendy juga mikir yang aneh-aneh. Aku tidak tau sih. Tapi aku hanya merasa seperti itu," ucap Nia wajahnya yang gelisah.
" Maaf ya Nia saya lancang sama kamu," ucap Mario yang merasa tidak enak.
" Mau bagaimana lagi sudah terlanjur. Nia juga minta maaf dengan sikat kak Rendy tadi," sahut Nia.
" Tidak Nia,saya yang salah dengan semua ini. Apa perlu nanti saya menemui kakak kamu untuk meminta maaf. Supaya kejadian ini tidak terulang lagi," sahut Mario dengan niat baiknya.
" Tidak usah kak, nanti biar Nia aja yang meminta maaf sama kak Rendy," sahut Nia.
Mario mengangguk saja. Namun terlihat jelas di wajahnya jika sebenarnya dia juga merasa tidak enak yang sepertinya mengganggu kenyamanan keluarga itu.
Dari gelagatnya sepertinya Mario memang tertarik pada mahasiswinya itu. Dan sepertinya di kampus mereka juga sering mengobrol. Tetapi mungkin Mario terlalu cepat bertindak. Belum mencari tau detail bagaimana keluarga Nia sudah memberanikan diri datang kerumah Nia.
Yang dia tidak tau. Justru kedatangannya kerumah itu membuat tidak nyaman dan pasti ini akan menjadi pengalaman yang berkesan dalam hidup Mario.
" Apa Nia tidak pernah pacaran?" batin Mario yang tiba-tiba penasaran, " tetapi masa iya harus aku tanya," batin Mario yang takut salah bertanya yang akhirnya membuat Nia hanya tersinggung saja. Jadi lebih baik dia mengurungkan niatnya.
" Aku hanya berharap kak Rendy Tidak berpikir apa-apa tentangku. Kau juga tidak tau kenapa semuanya bisa seperti ini. Aku tidak mau kak Rendy akhirnya berpikir yang lain-lain nanti," batin Rania yang juga jujur sangat takut kakaknya berpikiran yang aneh-aneh padanya.
__ADS_1
**********
Sementara Rendy dan Melody yang berada di dalam mobil terlihat wajah Ardian yang tampak gelisah yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Sampai Rania bingung yang melihat wajah suaminya yang berpikir kesat itu " Sayang kamu kenapa sih?" tanya Rania.
" Aku hanya kepikiran sama Nia," sahut Rendy.
Itu sudah di duga Rania sejak tadi. Jika suaminya memang memikirkan Pria yang sedang pedekate dengan Nia.
" Kan udah aku bilang sayang, mereka itu palingan hanya berteman saja," sahut Rania.
" Tetapi dia sudah kerumah Nia dan selama ini tidak pernah bawa Pria manapun untuk kerumah," ucap Rendy.
" Tapi bukan berarti Nia tidak punya teman cowok kan?" sahut Rania.
" Maksud kamu?" tanya Rendy.
" Sayang, seperti yang aku katakan Nia itu sudah dewasa. Dan Pria yang bernama Mario itu aku rasa Pria yang gentelment, dia sampai berani datang kerumah. Jadi menurutku dia sudah Pria yang baik," ucap Rania.
" Aku rasa saat ini tidak. Tetapi aku lihat dari Mario dia yang ingin melakukan pendekatan dengan Nia. Yang seperti aku bilang tadi malam Nia mungkin masih jaga jarak karena juga takut sama kamu. Tetapi Mario berusaha untuk mendekati Nia," jelas Rania
Rendy semakin gelisah memikirkannya. Seperti tidak rela jika sang adik harus memiliki kekasih yang mana Rendy masih menganggap adiknya itu masih kecil.
" Sayang sebagai kakak laki-laki. Kamu harus siap. Jika suatu saat nanti pasti ada pria yang melanjutkan tugas kamu untuk bertanggung jawab pada Nia. Dia sudah dewasa dan pasti Nia juga akan menikah nantinya," ucap Rania.
" Aku tidak melarangnya menikah. Aku hanya tidak ingin Nia harus membuang-buang waktu hanya untuk berpacaran. Aku takut tidak bisa menjaga dirinya," sahut Rendy mengatakan rasa ke khawatirannya pada adiknya.
" Aku mengetuk. Nia juga pasti paham. Dia itu adik dari Pria yang hebat. Jika semua itu salah, aku yakin Nia juga akan menganggap salah. Dia sangat paham agama dan tau. Mana yang baik dan mana yang tidak. Jadi kamu harus memberikan kepercayaan yang banyak untuk Nia," ucap Rania yang memberikan masukan pada suaminya itu.
" Iya. Sama dengan kamu. Belakangan kamu dekat dengannya. Kamu juga sering-sering ya memberinya ingat, nasehat dan sebagainya masalah pergaulan," ucap Rendy memberi amanah pada istrinya.
" Iya sayang," sahut Rania dengan semangatnya.
__ADS_1
" Ya sudah, kita jadi ke Mall hari ini?" tanya Rendy.
" Jadi dong. Tetapi kamu ikut masuk ya. Soalnya aku nggak mau belanja sendirian," ucap Rania.
Rendy menganggukkan kepalanya, " baik sayang," sahut Rendy yang membuat Rania tersenyum lebar.
***********.
Tidak lama akhirnya mobil mereka pun sampai Mall yang biasa di kunjungi Rania. Randy dan Rania sama-sama keluar dari mobil.
" Jangan lama-lama ya sayang," ucap Rendy mengingatkan terlebih dahulu yang harus paham pria memang sangat bosan menunggu istrinya untuk berbelanja.
" Aku nggak janji," sahut Rania.
" Kamu ini," sahut Rendy.
Baru ingin melangkah tiba-tiba di waktu yang bersamaan Agam dan Anisa juga keluar dari mobil dan tidak sengaja bertemu dengan Rendy dan Rania.
" Rania!" tegur Anisa.
" Hey Anisa," sahut Rania, " kalian mau masuk juga?" tanya Rania.
" Iya mau beli beberapa peralatan, soalnya masih ada yang belum kebeli," jawab Anisa.
" Begitu rupanya. Ya sudah bereng aja," sahut Rania. Anisa mengangguk.
" Hmmm, sayang kamu kan sudah ada Anisa. Bagaimana jika belanjanya sama Anisa saja. Kau nunggu di sini," ucap Rendy yang memang tidak hobi belanja.
" Benar Anisa kamu sama Rania aja. Biar kami nunggu di sini," sahut Agam yang setuju dengan Rendy. Anisa dan Rania saling melihat.
" Iya deh," sahut mereka serentak membuat Rendy dan Agam tersenyum.
" Ya sudah kami masuk dulu," ucap Rania.
__ADS_1
" Iya sayang hati-hati," sahut Rendy. Anisa dan Rania bergandengan untuk masuk kedalam Mall. Rendy dan Agam juga mencari lapak untuk mengobrol.
Bersambung