Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 173 pesawat


__ADS_3

Bandara.


Akhirnya mereka sudah sampai di bandara untuk penerbangan menuju Bali. Baik dari keluarga Rendy atau Rania semuanya sudah sama-sama tiba di Bandar. Rendy dan Elang terlihat yang sibuk mengecek tiket dan yang lainnya.


Bukan hanya 2 keluarga itu yang berangkat. Ada juga 2 Art yang membantu Willo. Karena Willo juga lumpuh dan Willo juga memliki anak. Jadi mana mungkin tidak membawa Art. Walau Della maupun Rania bisa membantu. Tetapi tetap aja Willo tidak mau menggangu. Belakangan ini Willo memang sangat baik.


Yang lain duduk menunggu Rendy dan Elang mengurus segalanya. Rania duduk dengan memberikan keponakannya roti untuk pengganjal perut. Karena belum sempat sarapan.


Tidak lama akhirnya Rendy dan Elang menghampiri mereka.


" Sudah selesai?" tanya Oma Wati.


" Hmmm, iya sudah selesai ayo kita berangkat," ucap Rendy.


" Akhirnya jadi juga pergi ke Bali," sahut Nia yang kesenangan. Yang lain hanya senyum-senyum saja dengan Nia yang terlihat bahagia.


Semua pun mulai bergerak. Rudi mendorong kursi roda Willo dengan 2 Art yang mendorong troli koper. Sementara Della memegang 2 keponakannya. Oma Wati dan Ratih berjalan santai yang menenteng tas pribadi. Koper mereka juga sudah di bantu di dorong.


Untuk Anisa mendorong kopernya sendiri dan untuk Rendy satu tangannya menggenggam 5 jemari istrinya dan satu lagi menyeret koper mereka. Sementara Elang menyeret koper miliknya dan Zahra. Semuanya mempunyai tugas masing-masing.


Sampai akhirnya mereka sudah berada di dalam pesawat dengan posisi duduk masing-masing. Oma Wati bersama Ratih. Rudi bersama dengan Dedy cucunya.


Willo bersama dengan Lulu. Nia bersama dengan Della. Zahra pasti bersama Elang dan Rania juga pasti dengan suaminya dan Anisa sendiri tanpa ada temannya di sampingnya.


" Hmmm, sepi banget jalan-jalan tidak ada mama," ucap Anisa yang melihat kejendela pesawat. Tiba-tiba ada seorang penumpang Pria yang memakai hodiee hitam lengkap dengan penutup kepala, memakai masker dan kaca mata duduk di samping Anisa. Anisa hanya menoleh sebentar melihat Pria yang menurutnya aneh itu.


" Hmmm, memang dia pikir ini Korea yang ada musim dinginnya. Sampai sebetah itu memakai pakaian seperti itu," batin Anisa yang malah menilai penampilan Pria aneh di sampingnya.


Tidak lama akhirnya Pramugari pun memberikan arahan sebelum pesawat take off. Para penumpang pun mengikuti arahan pramugari yang super super ramah dan cantik-cantik itu.


Sampai akhirnya selesai memberikan arahan dari Pramugari. Akhirnya pesawat pun take off meninggalkan kota Jakarta.


Para pramugari mulai berjalan-jalan dengan mendorong troli memberikan layanan pada para penumpang.


" Kamu mau minum?" tanya Rendy pada istrinya yang duduk di sebelahnya di bagian jendela pesawat.


" Boleh," sahut Rania. Rendy pun mengambilkan air minum untuk istri tercintanya itu.

__ADS_1


" Makasih sayang," ucap Rania. Rendy mengangguk dan langsung mengusap-usap pucuk kepala Rania.


**********


Di pesawat yang sama yang berada ternyata Cindy juga ada di sana yang duduk berduan bersama dengan pria yang kemarin di lihat Rania.


Di mana Cindy menempel terus pada Pria itu dengan menyandarkan kepalanya di bahu Pria itu.


" Memang kamu sudah siapkan villa untuk kita di Bali?" tanya Cindy.


" Aku sudah siapkan dan semua sesuai keinginan kamu. Kita akan menghabiskan hari-hari kita di Bali," sahut Pria itu.


" Terima kasih Frans," ucap Cindy.


" Sama-sama," jawab Frans.


" Hmmmm, Elang tidak mengabariku sama sekali. Mungkin dia memang sangat mengerti. Jika aku mang sedang sibuk di Jerman. Baguslah jika begitu. Jadi aku bisa menghabiskan waktuku bersama Frans. Aku dan dia sudah lama tidak bersama," batin Cindy yang kepikiran Elang.


" Aku ketoilet sebentar ya," ucap Frans.


" Hmmm, jangan lama-lama," ucap Cindy.


Saat ketoilet Frans harus melewati lorong bagian Rombongan Rania dan yang lainnya dan saat Frans lewat tidak sengaja mata Rania menoleh ke arah Frans yang seperti merasa tidak asing baginya.


" Bukannya dia Pria yang kemarin aku pernah lihat bersama Cindy!" batin Rania mengingat-ingat Pria itu. Rania sampai menengok kebelakang untuk memastikan Pria itu benar atau tidak Pria yang di kenalnya.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Rendy yang melihat istrinya gelisah.


" Aku seperti mengenalnya," sahut Rania dan Rendy pun melihat orang yang berjalan yang di maksud Rania.


" Siapa dia?" tanya Rendy yang memang tidak melihat wajahnya dan hanya melihat punggungnya saja.


" Aku juga tidak tau. Aku hanya merasa seperti mengenalnya saja," sahut Rania.


" Hmmm, mungkin salah satu klien kamu. Bukannya kamu itu banyak klien," ucap Rendy.


" Iya kamu benar. Pasti hanya salah satu klienku saja," sahut Rania. Rendy mengangguk. Rania masih terlihat begitu resah. Pria yang di lihatnya bersama Cindy sekarang di lihatnya lagi dan jelas itu membuatnya menjadi kepikiran.

__ADS_1


**********


Anisa yang merasa jenuh hanya menonton YouTube di ponselnya. Pria yang di sampingnya membuka topi penutup kepalanya membuka maskernya dan kaca matanya yang mana ternyata Pria itu adalah Agam.


Agam melirik Anisa dengan ekor matanya dengan Agam mengeluarkan smirky indahnya. Sepertinya Agam mengikuti Anisa. Makanya bisa-bisanya dia sudah berada di samping Anisa. Entah apa yang di lakukan Agam yang jelas dia sudah berada di samping Anisa.


" Mbak, mas, mau minum!" tiba-tiba pramugari lewat dan menawarkan Anisa dan Agam minuman.


" Boleh 1," sahut Anisa melihat ke arah Paramugari dan dia belum menyadari Agam di sampingnya.


" Terima kasih silahkan di nikmati," sahut Pramugari langsung pergi.


" Sama-sama," sahut Agam. Mendengar suara yang merasa tidak asing itu membuat Anisa melihat kesampingnya.


Anisa tersentak kaget saat mengetahui jika sedari tadi Pria di sampingnya itu adalah Agam dan dengan tanpa dosa Agam tersenyum pada Anisa sementara mata Anisa sudah melotot yang ingin keluar.


" Kamu!" pekik Anisa yang benar-benar schock.


" Hai Anisa!" sapa Agam tanpa dosa.


" Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anisa dengan suaranya lumayan keras. Namun dua menyadari itu pesawat dan mengecilkan volume suaranya sebelum menjadi bahan perhatian.


" Kamu ngapain di sini?" tanya Anisa lagi dengan menekan suaranya.


" Ya duduklah mau ngapain lagi," sahut Agam dengan entengnya.


" Aku tau brengsek kamu duduk. Tapi kenapa bisa di sini," geram Anisa.


" Ini tempat umum. Jadi terserah dong, aku ada di sini atau tidak," sahut Agam dengan santai.


" Jangan bilang kamu mengikutiku," tebak Anisa. Agam mengangkat ke-2 bahunya.


" Kamu benar-benar ya, pergi tidak kamu!" usir Anisa.


" Jangan aneh-aneh. Kamu pikir ini angkot menyuruh pergi asal-asalan. Jangan aneh-aneh. Kamu aja yang turun sana. Terjun payung sekalian," ucap Agam dengan Santai.


" Isss, sialan!" geram Anisa yang kelihatan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia menyadari itu adalah pesawat dan mana mungkin membuat keributan apalagi harus turun. Sementara Agam hanya tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2