Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 274 Masakan.


__ADS_3

Rania pun melepas pelukannya dari adik iparnya itu dan mengusap air mata Nia di pipi mulus yang gembul itu. Lalu mencium kening Nia dengan lembut.


" Jangan cengeng. Kamu tidak boleh cengeng," ucap Rania.


" Kakak yang membuatku cengeng," ucap Nia. Rania tersenyum.


" Ya sudah kakak mau jalan-jalan lagi. Kamu stop balas pesan Mario. Nanti saja balas pesannya," ucap Rania mengingatkan.


" Iya kak Rania," sahut Nia mengangguk dengan tersenyum. Rania kembali berdiri dan kembali berjalan-jalan.


Sementara Nia hanya terus melihat kakak iparnya itu dengan wajahnya yang sendu.


" Ya Allah, berilah kak Rania kesembuhan. Dia sudah berjuang selama 9 bulan. Aku berharap dia bisa sembuh dan usahanya tidak akan sia-sia. Maafkan aku ya Allah. Jika aku lebih tidak ingin Kaka Rania melahirkan. Karena aku takut dia kenapa-kenapa. Bukannya aku tidak menginginkan karunia darimu. Aku sangat bersyukur dengan karunia itu. Tetapi aku takut kak Rania akan pergi. Aku takut jika akan bertukaran. Dia wanita yang sangat baik, yang begitu penyabar. Jangan ambil dia ya Allah," batin Nia yang terus melihat kakak iparnya itu.


Rania mungkin tidak seperti orang sakit. Dia bahkan terus tersenyum yang menyembunyikan rasa sakitnya yang padahal pasti dia sebenarnya merasa sakit. Karena terlihat dari tekstur tubuhnya yang menunjukkan penurunan. Namun tetap untuk membuat semua orang untuk tidak memikirkannya Rania harus berpura-pura tegar


Ternyata di atas sana di teras lantai dua Rendy dan Ratih juga melihat Rania yang belajar berjalan. Rendy hanya menatap sendu dengan ke-2 tangannya di letakkan di pagar teras.


" Apa persiapan untuk persalinan Rania kamu sudah siapkan?" tanya Ratih.


" Sudah mah, semuanya sudah di siapkan. Beberapa Dokter Wanita yang sesuai keinginan Rania juga sudah di siapkan semuanya," ucap Rendy.


Ratih menoleh kearah Rendy melihat wajah putranya yang terlihat menyimpan banyak kesedihan dan rasa takut yang tidak bisa di sembunyikan, " Lalu kamu bagaimana apa kamu sudah siap," tanya Ratih.


Rendy melihat ke arah mamanya. Mata itu berkaca-kaca yang mungkin tanpa iya mengatakan apapun mamanya sudah tau jawabannya. Rendy memang bukan tuhan. Tetapi dia Dokter dan dia tau apa yang akan terjadi pada istrinya mungkin sebagai seorang Dokter hal ini yang akan paling berat untuknya.


Tidak mendapat jawaban apa-apa dari putranya membuat Ratih mengusap pundak Rendy. Usapan itu adalah kekuatan untuk putranya agar tegar dalam menghadapi semuanya.


" Kita serahkan semuanya kepada Allah," ucap Ratih. Rendy menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk mamanya ya biarlah dia berada di pelukan wanita yang pasti sangat tau betapa hancurnya hatinya saat akan menunggu-nunggu seseorang yang penting dalam hidupnya akan pergi.

__ADS_1


Tidak dapat di pungkiri jika memang Rendy sangat takut dengan hal terburuk itu. Dan mungkin gambarannya sudah terlihat di depan matanya.


Pelukan ibu dan anak itu terlihat oleh Rania yang berhenti berjalan saat matanya melihat keatas dan melihat suaminya yang memeluk ibunya.


" Jangan sedih sayang, aku tidak akan kemana-mana. Aku tidak mau kamu bersedih setiap hari karena memikirkan kondisi ku. Percayalah sayang aku akan tetap ada di hati kamu. Aku tidak akan pernah pergi," batin Rania yang sangat tau apa yang di pikirkan suaminya. Apa yang membuat suaminya sedih dan iya apa lagi jika tidak karena suaminya yang takut dia sampai kenapa-kenapa.


************


Rania terlihat sibuk di dapur ya dia pagi-pagi sekali sudah bangun. Setelah sholat subuh dengan suaminya Rania memilih untuk kedapur yang kelihatan menyiapkan sarapan hari ini.


Rendy mencari-cari istrinya yang tidak kembali-kembali kedalam kamar membuat Rendy mencarinya dan akhirnya menemukan Rania di dapur yang sedang sibuk memasak.


" Kamu ngapain sayang?" tanya Rendy yang sudah berdiri di belakang istrinya yang mencium rambut istrinya. Di rumah memang Rania tidak memakai jilbab karena semuanya di rumah adalah mahramnya jadi hanya di luar rumah saja Rania memakai jilbab.


" Lagi masak," jawab Rania.


" Tumben amat masak. Kenapa tidak memanggilku?" tanya Rendy yang tidak mau istrinya sampai kelelahan atau apapun.


" Baiklah aku bantuin ya," ucap Rendy mengambil alih dengan memegang penggorengan.


" Tidak usah sayang," Rania langsung menepis tangan Rendy, " biar aku saja," sahut Rania dengan suaranya yang manja.


" Kamu jangan banyak-banyak berdiri. Memang kaki kamu tidak sakit apa," ucap Rendy.


" Sayang justru banyak-banyak berdiri. Supaya lahirannya lancar," ucap Rania menegaskan.


" Tapi kaki kamu akan sakit," ucap Rendy.


" Ya sudah gendong," sahut Rania yang langsung bermanja.

__ADS_1


" Kamu ini, masa iya kamu memasak harus di gendong," sahut Rendy.


" Ya habisnya kamu bawel terus," sahut Rania.


" Makanya biar aku yang memasaknya. Kamu duduk aja," sahut Rendy. Rania menggelengkan kepalanya dengan manja yang tidak akan menuruti suaminya itu.


" Kamu ini ya keras kepala," Rendy sampai gemes dengan kelakukan istrinya.


" Kita masak berdua," sahut Rania memutuskan.


" Iya terserah kamu," sahut Rendy geleng-geleng. Rania yang menang tersenyum lebar yang suaminya tidak bisa mencegahnya untuk memasak.


Akhirnya masakan Rania jadi dan sekarang telah di nikmati oleh Ratih, Nia, Rendy dan Oma Wati.


" Bagaimana enak tidak basi goreng putih mentega buatan aku?" tanya Rania yang ingin mendapatkan komentar atas masakannya.


" Sangat enak Rania, kenapa tidak dari dulu memasak makanan seperti ini. Kamu ini pelit sekali sama resep," sahut Oma Wati dengan nada bercandaan.


" Rania sering masak nasi goreng seperti ini kok Oma," sahut Rendy.


" Tapi kok kita nggak pernah makan," sahut Nia menautkan alisnya yang memang baru memakannya sekarang.


" Kakak hanya membuatkan untuk Rendy. Kalau dia lapar tiba-tiba dan ingin makan. Jadi hanya makanan simple ini yang bisa kakak buat. Ternyata Rendy tidak bohong selama ini. Kakak pikir dia bohong ternyata memang benar enak setelah kalian mencobanya," sahut Rania dengan wajah cerianya.


" Ya memang enak. Tetapi kenapa hanya membuatkan untuk kak Rendy. Benar kata Oma. Kakak itu pelit sekali hanya memberikan untuk kak Rendy saja," sahut Nia dengan wajahnya yang mulai merengut.


" Nia kamu ini ya, sekarang sudah di buatkan bukannya berterima kasih malah banyak protes," sahut Ratih.


" Habisnya kak Rania makanan seenak ini hanya di berikan pada suaminya tercinta saja," sahut Nia.

__ADS_1


" Ya sudah sekarang sudah di masakkan. Lagian kapan lagi kalian mencicipi makanan favorit suamiku. Untuk masih ada kesempatan," celetuk Rania dengan senyumnya yang membuat orang-orang terdiam sejenak dan merasa canggung.


Bersambung


__ADS_2