Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 250. Mengadu.


__ADS_3

Rendy dan Rania hari ini menemui Dokter kandungan di mana Dokter itu adalah Dokter pilihan Rania yang hanya memeriksakan kebenarannya apa kah dia hamil atau tidak.


Mungkin sebagai suami pasti akan menjadi orang bahagia dengan kehamilan istrinya. Namun tidak dengan Rendy yang menemani Rania ke rumah sakit berbeda yang mana Rendy terus murung dan bahkan tidak ikut masuk kedalam dan hanya menunggu di luar dengan beberapa kali mengusap wajahnya dengan hembusan napas yang begitu berat.


Wajahnya pasti terus memerah dengan dan mata yang berkaca-kaca. Hamilnya Rania hanya membuat Rendy penuh dengan ketakutan dan malah tidak pernah tenang.


Tidak lama akhirnya Rania keluar dari ruangan Dokter dan langsung menghampiri suaminya yang duduk menunggunya.


" Sayang sudah selesai," ucap Rania menegur suaminya membuat Rendy membuang napasnya perlahan dan menghampiri suaminya.


" Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang," ucap Rendy yang yang langsung berdiri.


" Tunggu dulu, lihat hasil USGnya," ucap Rania menunjukkan foto hasil USG kandungannya. Dan Rendy sepertinya tampak tidak ingin melihatnya dan langsung meraih tangan Rania menggenggamnya erat.


" Ayo kita pulang!" ucap Rendy yang langsung membawa Rania pulang tanpa memperdulikan apa yang di berikan Rania kepadanya dan Rania yang melihat dinginnya suaminya membuatnya merasa begitu sedih.


Di dalam mobil Rania dan Rendy hanya diam saja. Hening tanpa ada pembicaraan sama sekali. Rendy fokus menyetir dan Rania yang bersandar di jok mobil hanya melihat kearah jendela dengan wajahnya yang murung dan bahkan terlihat jatuh butir air mata dan langsung cepat di hapusnya.


Rendy sempat menangkap Rania yang terlihat meneteskan air matanya yang membuat Rendy merasa bersalah dan langsung meraih tangan Rania menggenggamnya dengan erat. Namun Rania tidak merespon apa-apa. Dia tetap diam tanpa menoleh ke arah Rendy walau tangannya di genggam dengan erat.


Begitu sampai rumah, Rania terlihat langsung keluar dari mobil terlebih dahulu dan Rendy hanya melihat saja. Rendy pun menyusul istrinya yang memasuki rumah dan Rania langsung memasuki rumah dengan berpapasan dengan Ratih.


" Sudah pulang Rania?" tanya Ratih.

__ADS_1


" Iya mah, Rania mau ke atas dulu," ucap Rania yang langsung pergi begitu saja yang membuat Ratih heran dan tidak lama Rendy juga memasuki rumah.


" Assalamualaikum," sapa Rendy.


" Walaikum salam," sahut Ratih, Rendy mencium punggung tangan sang mama.


" Ada apa Rendy, apa kamu perang dingin lagi dengan istrimu?" tanya Ratih yang memang selalu mempunyai insting tinggi. Rendy tampak diam dengan wajahnya yang sendu seolah butuh ibu untuk mendengarkan curahan hatinya.


" Nak kamu kenapa?" tanya Ratih.


Rendy langsung memeluk mamanya yang ingin mendapatkan ketenangan yang membuat Ratih semakin heran dan bisa merasakan kesedihan putranya. Namun tidak di ketahuinya apa yang terjadi. Ratih pun memeluk erat dengan mengusap-usap pundak Rendy memberikan Rendy kekuatan.


Rendy dan Ratih pun akhirnya bicara dengan kepala dingin. Setelah Rendy merasa jauh lebih tenang.


" Aku yang salah mah, aku tidak bisa menerima kenyataan dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan kenyataan yang sudah ada," ucap Rendy.


" Apa yang kamu bicarakan? mama tidak mengerti?" tanya Ratih.


" Pertengkaran kami bukan kemarin telah menjadi ketakutanku dan Rania sekarang hamil," ucap Rendy dengan suara yang begitu berat untuk keluar.


Ratih kaget mendengarnya sampai menutup mulutnya dengan 1 tangannya yang membuatnya juga shock yang tidak tau harus bahagia atau tidak. Namun wajah Ratih tidak kalah takutnya dengan Rendy, ketika menantunya itu hamil yang pasti Rasti tau apa resiko dari kehamilan menantunya.


Ratih langsung menunduk dengan menutup ke-2 wajahnya dengan tangannya yang pasti sudah ada air mata di balik tangan itu.

__ADS_1


" Ya Allah, apa ini ujian untuk membuat kami jauh lebih kuat," kata itu yang di keluarkan Ratih untuk menanggapi pernyataan dari menantunya.


Huhhhhh, Ratih membuang napasnya perlahan kedepan dan kembali meraih tangan putranya.


" Kamu sabar ya. Mama tau perasaan kamu, ketakutan kamu, mama juga merasakan itu. Tetapi ini adalah takdir nak, untuk mengangkat derajat kamu dan istri kamu lebih baik di mata Allah," ucap Ratih yang hanya bisa memberi kekuatan pada Rendy yang dia tau apa yang di rasakan Rendy.


" Aku tidak tau mah, harus seperti apa. Aku tidak bisa membohongi diriku. Jika aku tidak menginginkan kehamilan Rania. Aku tidak bisa bersandiwara harus bahagia dengan kehamilan yang berdasarkan keputusan Rania. Sebelumnya aku mencoba untuk mengerti dan membiarkan semuanya. Tetapi setelah Rania positif hamil. Aku semakin takut dan semakin tidak bisa berbuat apa-apa. Dan tidak tau apa sikap ku kepada Rania," ucap Rendy dengan derain air matanya yang membasahi pipinya. Tangan yang bergetar yang di rasakan Ratih.


" Mama tau nak. Tetapi ini bukan salah Rania, jangan melukai Rania dengan kamu bersikap dingin dan tidak menginginkan kehamilannya. Jangan seperti itu. Ingat Rendy ini adalah kebahagian untuk Rania, jadi kamu harus di sampingnya yang terus memberinya kekuatan, jangan marah Rendy pada istrimu, jangan marah pada Tuhan. Kamu, Rania adalah pilihan. Yang mana kalian pasti bisa menjalani semua ini dan mama yakin kalian akan melewatinya. Nak kematian itu hanya milik sang pencipta. Mama juga takut sama seperti kamu. Tetapi tidak ada yang mustahil di dunia ini. Pasrahkan kepada Allah," ucap Ratih yang memberikan Rendy semangat. Rendy hanya mengangguk dan memeluk mamanya kembali.


" Kuatkan diri kamu, terus berdoa, berusaha, insyallah ada jalan yang terbaik. Percaya kepada mama ini hanya ujian dan mama yakin kamu bisa melewatinya," ucap Ratih. Rendy hanya mengangguk dengan memeluk mamanya erat.


Tempat yang terbaik untuk curhat memang adalah seorang ibu yang mana ibunya juga sangat netral yang tidak pernah berpihak pada siapapun walau Rendy adalah anaknya. Mungkin Rendy jauh lebih lega karena bisa berbagi cerita kepada mamanya.


Namun ternyata Rania mendengarkan suaminya dan mertuanya yang berbicara itu. Air mata Rania jatuh membasahi pipinya dengan tangannya yang mengusap perutnya.


" Apa salah aku telah hamil, kenapa kehamilanku tidak membuatmu bahagia," batin Rania yang merasa bahagia sendiri dengan kehamilannya yang justru membuat suaminya sedih.


Rania juga menjadi serba salah dengan kehamilannya. Kebahagiannya adalah suaminya yang mana dia ingin memberikan Rendy keturunan. Namun Rendy ternyata tidak bahagia karena jelas alasan Rendy adalah Rania. Karena kebahagian Rendy adalah Rania bukan anak.


Tidak Rendy, tidak Ratih, ataupun Rania sama-sama menangis dengan perasaan mereka masing-masing yang sama-sama bergejolak yang tidak tau apakah bahagia atau tidak sama sekali.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2