
Rania dan suaminya turun kebawah bersama dengan Rendy suaminya. Di ruang tamu mereka mereka melihat Zahra, Elang, Nia dan Ratih yang tampak sibuk.
" Nah ini dia ini pengambil keputusannya," sahut Zahra yang langsung menghampiri Rania yang dan membawa tangan Rania yang membuat Rania bingung.
" Ada apa Zahra?" tanya Rania heran.
" Ayo sini. Sekarang kamu yang harus putusin masalah tema untuk acara baby shower," ucap Zahra yang sudah Rania duduk di sampingnya dan Rendy menyusul untuk duduk.
" Memang sudah masuk bulannya," sahut Rania.
" Iya Rania," sahut Zahra.
" Ya ampun nggak terasa banget ya," sahut Rania tersenyum.
" Makanya Zahra bingung dan kayaknya kamu harus di repotkannya lagi," sahut Ratih.
" Ya nggak apa-apa lah ma," sahut Rania santai.
" Ya sudah coba kakak lihat ni, mana-mana yang cocok," sahut Nia menunjukkan katalog untuk Rania.
Dan Rania pun mulai melihat-lihatnya dan mereka kembali ricuh dengan bertukar pikiran dan biasa pasti ada perdebatan dalam penentuan pilihan. Rendy dan Elang hanya diam saja dengan geleng-geleng yang mana itu urusan para wanita.
" Sayang ini cocok kan?" tanya Zahra pada suaminya.
" Terserah kamu aja lah," sahut Elang.
" Ini, kalau sudah jawaban terserah. Jawaban paling di benci, nggak iklhas banget jawabannya," sahut Zahra kesal dengan wajah merengutnya.
" Ya itu artinya aku menyerahkan semua sama kamu," sahut Elang.
" Ya kamu juga harus ada perbedaan dong. Kritik dan berpendapat ini itu. Kan ini anak kamu juga," sahut Zahra begitu kesalnya yang lain hanya geleng-geleng dengan ngambeknya Zahra.
__ADS_1
" Iya-iya, maaf," sahut Elang yang langsung mendekati Zahra dan mengusap-usap perut Zahra yang sudah membesar itu.
" Mama kamu sekarang tukang ngambek, sangat keterlaluan ya sayang," ucap Elang mengajak calon anaknya berbicara dan yang lainnya hanya senyum-senyum. Namun Rania tiba-tiba berekspresi datar.
" Seharunya aku juga sudah mempersiapkan semua ini. Seharunya perutku sudah seperti itu," batin Rania yang tiba-tiba menjadi sedih yang melihat Elang mengusap-usap perut Zahra yang pasti dari hati paling dalam ada rasa iri di dalam diri Rania dan Rania juga melihat suaminya yang juga tersenyum.
" Kamu memang tidak pernah menuntut ku Rendy. Tapi aku tau Rendy kamu juga pasti menginginkan keturunan dari kamu. Kamu pasti juga menginginkan seorang anak," batin Rania yang melihat suaminya terus.
Tiba-tiba Ratih melihat ekspresi menantunya itu. Yang mana menantunya itu terlihat sedih.
" Ya Allah angkatlah penyakit menantu ini. Berikan dia terus kekuatan ya Allah agar bisa menjadi jauh lebih kuat. Aku tau yang Allah akan sedih dengan melihat hal ini. Rania hanya berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya," batin Ratih yang seolah tau apa yang di rasakan menantunya.
************
Rania dan Rendy berada di dalam mobil dengan wajah Rania yang terlihat murung dengan pandangannya yang hanya melihat ke luar jendela. Rendy menoleh ke arahnya dan melihat istrinya yang begitu murung. Rendy meraih tangan Rania dan meletakkannya di pahanya dan Rania menoleh ke arah Rendy dengan tersenyum tipis
" Kenapa?" tanya Rendy. Rania menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
" Yakin tidak apa-apa?" tanya Rendy. Rania menganggukkan saja kepalanya.
" Itu memang tidak normal, kamu jangan khawatir. Kita konsultasi ya dengan Dokter Anggi," ucap Rendy dengan lembut. Rania mengangguk dan meletakkan kepalanya di bahu Rendy.
" Sayang apa menderita kanker rahim bisa menghilangkan nyawa," ucap Rania tiba-tiba dan Rendy langsung melihat Rania yang masih di bahunya.
" Kenapa bertanya seperti itu Rania?" ucap Rendy.
" Aku kan hanya bertanya saja," jawab Rania.
" Rania kamu bertanya seperti itu. Pasti pikiran kamu sudah penuh kemana-mana," ucap Rendy.
" Kamu kan suamiku dan suamiku seorang Dokter. Jadi aku hanya bertanya saja. Karena kamu Dokter," jawab Rania mencari alasan.
__ADS_1
" Kematian bukan milik kita Rania. Jadi jangan memprediksi segala hal yang tidak penting," ucap Rendy mengingatkan istrinya.
" Kamu mengertikan?" tanya Rendy. Rania menganggukkan saja kepalanya.
************
Rania Selesai di periksa Dokter kandungannya dan sekarang sedang berhadapan duduk dengan Dokter Anggi yang mana tidak ada Rendy di sana yang mungkin sedang ada pasien.
" Bagaimana keadaan saya Dok?" tanya Rania
" Bu Rania lebih perhatikan makan ya. Jangan terlalu banyak pikiran dan enjoy dalam menjalan hari-hari, obatnya juga teratur di minum," ucap Dokter memberi saran pada Rania.
" Lalu apa yang terjadi pada saya Dokter," sahut Rania yang ingin langsung intinya.
" Ya siklus menstruasi Bu Rania di akibatkan dari kanker yang ibu derita yang sudah naik jadi stadium 3," sahut Dokter. Rania kaget mendengarnya di mana dia bukannya semakin sembuh malah semakin parah.
" Tapi saya sudah melakukan semuanya, pengobatan rutin dan di awal-awal saya sudah menuruti semuanya yang Dokter katakan. Lalu kenapa bisa makin parah bukannya semakin sembuh," sahut Rania yang tampaknya lelah dengan penyakit yang di deritanya
" Bu Rania harus bersabar penyakit memang seperti itu," sahut Dokter.
" Jika saya saja mengikuti semua kata Dokter bisa membuat saya malah makin parah. Lalu untuk apa saya mengikutinya selama ini. Saya sudah mengambil resiko berat dengan menggugurkan anak saya dengan alasan kata Dokter saya akan sembuh. Tapi apa anak itu sudah tidak ada, Dokter melarang saya berhubungan dengan suami saya. Saya melakukannya walau saya dan suami saya tersiksa dan itu di lakukan berbulan-bulan sampai akhirnya saya dan suami saya harus berhubungan menggunakan obat agar saya tidak hamil saya mengikuti semuanya. Lalu apa. Apa artinya dengan semua yang saya ikuti ujung-ujungnya seperti ini juga makin parah," sahut Rania yang marah-marah yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
" Bu Rania tenang dulu. Ini adalah cobaan," sahut Dokter berusaha menenangkan Rania. Rania berdiri.
" Saya yang mengalami semuanya dan Dokter hanya mempermainkan saya saja. Anak saya sudah tidak ada dan sekarang baru di bilang makin parah," teriak Rania. Rendy yang tiba-tiba masuk melihat suasana tegang itu membuat Rendy kaget.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Rendy melihat istrinya yang marah-marah.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Rendy dengan memegang ke-2 pipi Rania yang berlinang air mata.
" Aku capek. Aku capek dengan semua peraturan Dokter yang ujung-ujungnya semuanya seperti ini. Seharusnya aku tidak pernah setuju dengan anak kita yang di korbankan. Seharusnya aku tidak pernah setuju," sahut Rania yang melepaskan tangan Rendy dari pipinya dan langsung pergi. Yang membuat Rendy kaget dengan sikap Rania yang histeris.
__ADS_1
" Rania!" panggil Rendy yang benar-benar bingung dengan Rania yang menangis dan marah-marah.
Bersambung