Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 82 penginapan


__ADS_3

Mendengar ajakan Rendy membuat Rania masih diam dan tidak menjawab atau memutuskan apapun.


" Aku tidak memaksamu Rania. Lagian kamu juga sudah lama meninggalkan pekerjaanmu dan aku juga tidak mau. Kamu harus meninggalkan lagi pekerjaanmu dengan ikut bersamaku. Karena waktunya cukup lama," ucap Rendy yang mengingatkan terlebih dahulu.


" Tapi aku mau ikut," sahut Rania dengan cepat. Membuat Rendy melihat ke arahnya.


" Kamu mau ikut?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Kamu yakin?" tanya Rendy memastikan. Rania mengangguk cepat. Tidak ada keraguan untuknya.


" Boleh kan aku ikut?" tanya Rania memastikan. Rendy menganggukkan matanya membuat Rania tersenyum mengembang. Mungkin jika berada di sisi Rendy. Dia merasa jauh lebih aman.


***********


Memutuskan untuk ikut dengan suaminya yang bertugas. Yang akhirnya Rendy dan Rania pun sudah bersiap-siap dan sekarang sedang berpamitan dengan ke-2 orang tuanya.


Terlihat Rania memeluk ibu mertuanya itu dengan erat.


" Kamu hati-hati ya di sana, kabarin mama kalau terjadi apa-apa," ucap Ratih.


" Iya ma," jawab Rania melepas pelukan itu. Ratih mengusap pipi Rania lalu mencium keningnya yang tersenyum lega.


" Jaga istri kamu Rendy," ucap Ratih.


" Pasti ma," sahut Rendy.


" Hmmm, kak Rendy, punya uang banyak masa iya, ngajak istrinya bulan madu ke pelosok," sahut Nia menggoda membuat Rendy menaikkan 1 alisnya dan Rania menjadi malu.


" Nia, siapa yang bulan madu, kakak itu menjalan kan tugas kesana," sahut Rendy.


" Hmmm, masa iya," sahut Nia.


" Nia, kamu ini ya, nggak ada habis-habisnya menggoda kakak kamu," sahut Ratih menjewer pelan telinga Nia.


" Ihhhhh, mama sakit tau," keluh Rania.


" Makanya jangan jahil," sahut Zahra.

__ADS_1


" Sudah, lah, kalian sana pergi. Nanti ketinggalan pesawat. Jangan dengarkan ala kata Nia," sahut Ratih.


" Iya ma, kalau begitu kami permisi dulu," sahut Rendy


" Iya hati-hati di sana," sahut Ratih. Rendy mengangguk mencium punggung tangan sang mama memeluknya dan juga berpamitan lagi dengan adiknya. Rania juga memeluk Zahra dan terakhir Nia adik iparnya.


" Jangan lupa pulang bawa hadiah garis 2 garis biru," bisik Nia membuat Rania ngeri dengan permintaan adiknya itu.


" Kami ini," ucap Rania dengan wajahnya yang memerah.


Setelah berpamitan. Rendy dan Rania pun akhirnya memasuki mobil. Ratih, Zahra dan Nia melambaikan tangan mereka.


" Ya Allah, aku percaya setiap musibah pasti ada hikmahnya dan ini lah hikmahnya. Di mana engkau memberikan kedekatan pada Rania dan juga Rendy. Aku sangat berharap 2 pasangan suami istri itu bisa saling mencintai, saling menjaga terlebih lagi saling melindungi," batik Ratih dengan penuh harapan pada Rania dan Rendy.


" Aku tau Rania adalah wanita yang baik dan sangat wajar dia mendapatkan Rendy. Mereka saling melengkapi," batin Zahra tersenyum dengan kebagian simple temannya.


" Ya Allah semoga benar-benar kak Rania bisa mengandung. Agar aku punya keponakan," batin Nia yang ngebet punya keponakan.


" Ayo kita masuk," ajak Ratih.


" Iya ma," jawab Nia dan masuk bersama Zahra.


" Untuk apa aku di sini. Kalau Rendy pergi dan malah membawa Rania. Semuanya sia-sia. Aku tidak ada gunanya di sini," batin Anisa tampak kecewa.


" Kenapa sih Rendy selalu saja membela Rania apa-apa Rania, dikit-dikit Rania. Jika dia terus bersama Rania. Aku tidak akan punya kesempatan untuk bersamanya lagi," batin Anisa mengepal tangannya dengan penuh kemarahan.


" Sia-sia semuanya," desis Anisa.


************


Rania dan Rendy pun sampai di desa di mana Rendy menjalankan tugasnya. Mereka tiba di depan rumah panggung yang terbuat dari kayu.


" Ini tempatku tinggal," ucap Rendy. Rania mengangguk saja melihat di sekitar rumah tersebut. Di mana rumah itu tidak jauh dari sungai yang suara airnya yang terdengar di telinga.


" Ayo masuk!" ajak Rendy yang melihat Rania masih bengong. Rania mengangguk dan akhirnya memilih untuk masuk kedalam rumah itu dengan Rendy mengangkat kopernya.


Rendy membuka pintu rumah dan di dalam rumah itu langsung terdapat ruang tamu yang kursinya juga terbuat dari rotan bambu dan dan terlihat simple namun begitu nyaman. Rendy meletakkan koper Rania di sudut ruangan dan Rendy beralih ke dapur yang terlihat dari ruang tamu yang ternyata menuangkan air putih dan kembali menghadap Rania.

__ADS_1


" Minumlah!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan akhirnya meminum air putih itu. Tenggorokannya memang kering. Di perjalanan mungkin sama sekali Rania belum ada minum.


" Hmmm, di sini ada kamar 2 kamu mau satu kamar atau mau sendiri-sendiri?" tanya Rendy.


" Hmmm," Rania tampak ragu menjawab. Namun Rendy masih menunggu jawabannya.


" Kita satu kamar saja," jawab Rania pelan.


" Aku sedikit penakut, dan ini desa,dan banyak pohon di sekitar sini. Aku takut terjadi sesuatu. Tidak berani sendirian di kamar," ucap Rania yang dengan memberikan alasannya. Padahal Rendy tidak bertanya apa-apa.


Tetapi apa yang di katakan Rania membuat Rendy tersenyum tipis.


" Kamu kenapa kenapa tersenyum Aku serius. Aku tidak bohong," sahut Rania yang takut Rendy menganggapnya hanya mengada-ada.


" Ya sudah, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa, ayo kita istirahat," sahut Rendy. Rania mengangguk cepat dan mengikuti Rendy memasuki kamar mereka.


Rendy membuka pintu kamar dan masuk terlebih dahulu. Rania melihat seisi kamar yang memang tampak sederhana dan tempat tidur itu pun terlihat kecil. Dia dan Rendy jika berada di atasnya bisa saling menghimpit.


Di kamar juga tidak ada sofa atau apapun benar-benar hanya sepetak dan juga terdapat lemari.


" Kamar mandinya tidak ada di dalam. Tetapi ada di belakang," ucap Rendy sebelum Rania bertanya.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Rania pelan.


" Aku mau ganti baju di mana?" tanya Rania.


" Ya di sini lah di mana lagi," jawab Rendy.


" Kamu tetap di sini?" tanya Rania pelan dengan menunduk. Membuat Rendy mendengus dan melangkah mendekati Rania.


" Aku harus keluar?" tanya Rendy dengan menaikkan alisnya. Rania mengangguk pelan membuat Rendy tersenyum lagi.


" Baiklah," sahut Rendy yang langsung keluar. Rania bernapas lega.


" Ya ampun kenapa lagi jantungku kembali tidak tenang seperti ini. Rendy juga sangat dekat. Dia tidak tau apa. Aku tidak bisa bernapas. Kalau dia bicara sedekat itu," batin Rania mengusap-usap dadanya dengan beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan.


" Hmmm, sebaiknya aku cepat-cepat ganti baju. Dia juga sepertinya mau istirahat. Aku tidak boleh mengganggunya," batin Rania yang langsung membuka kopernya dan dengan buru-buru mencari baju tidurnya yang di pakainya untuk tidur. Sebelum Rendy masuk kekamarnya.

__ADS_1


Padahal Rendy juga sudah beberapa kali melihat tubuhnya. Tetapi tetap dia malu jika masih harus mempertontonkan tubuhnya pada Rendy. Walau Rendy adalah suaminya.


Bersambung


__ADS_2