Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 108 Gugup


__ADS_3

Rendy dan Rania sama-sama menyelesaikan sholat subuh, setelah selesai sholat subuh. Seperti biasa. Rania mencium tangan suaminya dan Rendy juga mencium hangat keningnya.


Selesai melakukan rutinitas itu. Rendy memegang pipi Rania, mengusap-usap lembut dan menatapnya dalam-dalam.


" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rendy. Membuat Raina heran.


" Iya, aku baik-baik saja. Memang apa aku tidak terlihat baik-baik saja," sahut Rania yang seketika gugup. Rendy hanya tersenyum.


" Jika ada sesuatu maka katakanlah!" ucap Rendy.


" Ya Allah, apa Rendy merasakan jika aku memang tidak baik-baik saja. Apa aku harus mengatakan pada Rendy. Jika kak Elang adalah mantan kekasih. Tapi aku tidak mungkin mengatakan itu sekarang," batin Rania yang menjadi kepikiran.


" Rania!" tegur Rendy yang membuat Rania tersentak kaget.


" Aku baik-baik saja Rendy, aku turun dulu, mau mengambil kue jagung," ucap Rania mengalihkan dan langsung dengan cepat membuka mukenanya. Lalu langsung pergi. Rendy hanya melihat sendu istrinya itu.


**********


Rania langsung kedapur untuk mengambil kue kukus yang biasa mereka nikmati bersama-sama. Rania mengambil piring dan langsung membuka panci dengan cepat.


" Auhhhh," tangan Rania kepanasan yang tiba-tiba membuka tutu panci tanpa alas. Padahal masih panah.


" Ishhhh, ya ampun," keluh Rania kepanasan dengan menggoyang-goyangkan tangannya.


" Rania kamu tidak apa-apa?" tiba-tiba Elang datang dan langsung menghampiri Rania. Elang memegang tangannya yang melepuh dengan wajah paniknya.


" Aku tidak apa-apa," sahut Rania yang langsung menarik tangannya dari pegangan Elang.


" Biar aku bantu," sahut Elang yang ingin membuka tutup panci.


" Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Rania.


" Tangan kamu sakit. Jadi biarkan aku membantumu," ucap Elang lembut.


" Tolong hentikan. Aku sudah menikah. Anggaplah aku dan tidak saling mengenal. Jadi jangan peduli dengan ku," ucap Rania menegaskan pada Elang dan Elang langsung menghadap Rania.


" Aku tau kamu sudah menikah. Aku juga tidak ingin melakukan apa-apa. Aku hanya ingin membantumu," sahut Elang menatap Rania dalam-dalam.


" Rania!" tegur Rendy yang tiba-tiba datang dan Rania langsung kaget dan bahkan tangannya kembali menyentuh panci yang masih panas.


" Ahhhhh," keluh Rania kesakitan.

__ADS_1


" Kamu tidak apa-apa," sahut Elang yang spontan memegang tangan Rania lagi. Memegang jelas di depan Rendy. Dan Rania langsung melepas dengan cepat.


" Maaf," ucap Elang seolah merasa bersalah. Rendy yang tadi mengamati langsung menghampiri Rania dan juga Elang. Rania menjadi salah tingkah dan merasa bersalah pada Rendy yang sudah di hadapannya..


" Kamu kelihatan begitu gugup?" tanya Rendy membuat jantung Rania berdetak hebat. Dia seakan tidak bisa berucap apa-apa lagi.


" Aku_ aku_ aku hanya..." sahut Rania dengan terbata-bata.


" Ayo, aku mengobati lukamu," ucap Rendy memegang lengan istrinya dan membawanya pergi dan Rendy hanya melihat Elang datar.


Ternyata pertunjukan itu di saksikan Anisa yang ada di sudut ruangan, Anisa menyunggingkan senyumnya melihat tontonan menarik itu.


" Baru hanya 1 hari sudah seperti ini. Tidak sia-sia Elang tinggal di sini. Rania-Rania terima lah balasan dari ku," batin Anisa yang menikmati pertunjukan itu.


*********


Rania duduk di sofa dan Rendy berjongkok di depannya yang mengobati luka bakar di tangannya. Mengoles salap dengan lembut, Rania terus melihat suaminya itu. Dia sangat merasa bersalah pada Rendy. Karena tidak jujur. Jika dia mengenal Elang dan bahkan adalah mantan kekasihnya.


" Kenapa kamu belakangan ini suka ceroboh?" tanya Rendy mengangkat kepalanya menatap istrinya.


" Maaf," jawab Rania.


" Maaf apa. Maaf untuk kecerobohan kamu. Atau maaf untuk yang lain?" tanya Rendy dengan suara dinginnya.


" Rania, kamu juga sering bengong," sahut Rendy mengusap lembut pipi istrinya.


" Ayo kita sarapan, yang lain pasti sudah menunggu," sahut Rania mengalihkan pembicaraan. Rendy mengangguk dengan wajah datarnya.


" Kenapa selalu mengalihkan pembicaraan. Ada apa denganmu," batin Rendy yang merasa ada yang tidak beres.


************


Sarapan di rumah itu tampak lengkap. Ratih, Oma, Wati, Nia, Zahra, Rania, Rendy, Anisa, Sarah dan Elang juga ada di sana. Dan kebetulan Elang duduk berhadapan dengan Rania.


" Elang apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Sarah tiba-tiba di tengah-tengah makan.


" Tidak Tante," jawab Elang.


" Pasti calon istri punya," sahut Anisa. Rania hanya sarapan menunduk seolah tidak ingin mendengar pembahasan itu.


" Tidak ada sama sekali," jawab Elang.

__ADS_1


" Kenapa bukan kak Anisa saja yang mendaftar menjadi calon istri kak Elang kan sama-sama singel," celetuk Nia dengan santai.


Zahra langsung tersenyum mendengarnya dan Anisa bersama ibunya langsung kesal.


" Kenapa sih bocah ini selalu ikut-ikutan," batin Anisa kesal.


" Benar tidak," sahut Nia lagi.


" Ya, kenapa tidak, iya kan Elang," sahut Zahra yang tampaknya mendukung.


" Shutttt, kalian ini malah main jodoh-jodoh di tengah-tengah makan," sahut Ratih.


" Benar, lihat Elang jadi malu," sahut Oma Wati.


" Hmmm, tapi aku lihat, Elang ini sangat tidak mudah untuk mencari wanita yang tepat. Mungkin dia memiliki kteria yang tinggi," sahut Anisa yang mencoba mengubah kecanggungan.


" Berarti kakak bukan wanita yang memiliki kteria itu. Bukannya selama ini kak Anisa sellau merasa kalau paling sempurna," sahut Nia lagi yang punya tanggapan dari setiap kata-kata Anisa.


" Apa aku merobek mulut anak ini," geram Anisa yang terus kalah dari Anisa.


" Aku tidak punya kteria yang tinggi. Hanya saja aku belum menemukan yang tepat," sahut Elang.


" Atau, jangan-jangan kamu punya masa lalu yang membuat kamu tidak bisa dekat setiap wanita," sahut Sarah. Rania mendengarnya tiba-tiba menghentikan makannya.


" Hmmm, Tante bisa saja," sahut Elang tersenyum, " tapi mungkin iya. Ada wanita yang masih aku cintai. Dia wanita yang menjadi cinta pertamaku dan jujur aku masih mencintainya sampai sekarang. Aku dan dia berpisah. Saat dia masih sekolah dan aku harus melanjutkan Study ku," ucap Elang yang sorot matanya melihat ke arah Rania.


Rania mengangkat kepalanya dan menyadari Elang sedang menatapnya. Ternyata Elang dan Rania yang saling tatap terdapat oleh Rendy. Rendy melihat istrinya melihat ke arah Rania dan juga melihat ke arah Elang.


" Lalu di mana wanita itu?" tanya Rendy tiba-tiba membuat Rania mengalihkan pandangannya dan melihat Rendy yang sekarang melihat ke arahnya.


" Aku tidak tau," sahut Elang.


" Lalu jika kamu menemuinya. Apa kamu akan bersamanya kembali?" tanya Anisa.


" Mungkin iya. Jika perasaannya masih sama. Tapi aku yakin perasaannya tidak akan pernah berubah. Karena dia dulu sering mengatakan, jika aku cinta pertamanya," ucap Elang. Rania menelan salavinanya mendengarnya yang menjadi panas dingin.


" Semoga saja kalian berjodoh," sahut Rendy. Dan Rania kaget mendengarnya.


" Ehmm, aku sudah selesai sarapan," ucap Rendy tiba-tiba, " Ma, aku berangkat dulu," ucap Rendy pamit yang langsung berdiri. " Rania kamu ikut atau tidak," tanya Rendy dengan dingin.


" Iya, aku ikut," jawab Rania dengan suara serak. Dan Rendy pergi begitu saja. Kemudian Rania menyusulnya dengan cepat setelah berpamitan pada mertuanya. Annisa dan Sarah saling melihat dengan tersenyum miring.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2