Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 233 Mencoba baik.


__ADS_3

Setelah pulang dari menemui Rendy. Agam langsung pulang kerumah dan di sana terlihat Anisa yang lagi beres-beres di dapur yang sepertinya sedang memasak. Anisa menyadari jika Agam pulang. Namun dia diam saja tanpa bicara apa-apa dan pura-pura tidak melihat Agam dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


" Mama jadi ke Mall?" tanya Agam tiba-tiba. Hal itu jelas mengejutkan untuk Anisa. Di mana Agam menegurnya, sampai-sampai Anisa berhenti memasak.


" Anisa!" tegur Agam. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Anisa.


" Oh, iya mama jadi pergi. Tadi mesan Taxi online dan langsung pergi," jawab Anisa dengan gugup. Dia pasti merasa tidak menyangka jika Agam berbicara padanya.


" Hmmm, begitu rupanya. Hmmm aku mau teh kamu bisa buatkan," ucap Agam.


" Oh, iya akan aku buatkan," sahut Anisa gugup yang masih membelakangi Agam.


" Ya sudah aku tunggu di atas," ucap Agam. Anisa menganggukan kepalanya. Setelah mendengar langkah kaki Agam yang menaiki anak tangga. Anisa baru membalikkan tubuhnya dan melihat kepergian Agam.


" Sungguh dia benar-benar ingin bicara denganku, kenapa tiba-tiba. Bukannya sebelumnya dia begitu marah kepadaku," batin Anisa yang tampak tidak percaya dengan Agam yang bertanya dan bahkan menyuruhnya membuatkan teh.


Tidak berpikir lama. Anisa pun langsung membuatkan untuk suaminya itu. Dari pada Agam nanti menunggunya dan nanti Agam malah marah padanya. Jadi mending dia langsung membuatkan suaminya itu teh.


*************


Anisa sudah selesai membuatkan teh yang di minta Agam dan Anisa langsung memasuki kamar untuk bertemu Agam yang sedang ada di kamar yang mana seperti biasa Agam pasti menonton TV. Dia memang suka menonton film-film luar Negri.


" Ini tehnya," ucap Anisa meletakkan teh itu di atas meja.


" Makasih," jawab Agam. Anisa mengangguk dan langsung pergi.


" Anisa!" panggil Agam. Anisa langsung membalikkan tubuhnya.


" Iya ada apa?" tanya Anisa.


" Kamu sudah selesai memasak?" tanya Agam. Anisa menganggukkan kepalanya.


" Kalau tidak ada kerjaan lagi. Tidak ada salahnya kamu duduk menemaniku untuk menonton," ucap Agama. Anisa sampai kaget mendengarnya, jika Agam menyuruhnya duduk di sampingnya.

__ADS_1


" Apa Agam sudah tidak marah lagi padaku, sehingga dia mengajakku untuk menonton," batin Anisa yang penuh dengan kebingungan.


" Anisa!" tegur Agam yang melihat istrinya itu bengong.


" Oh, iya boleh," sahut Anisa yang langsung duduk di samping Agam dan menemani Agam menonton.


Tetapi jujur Anisa malah terlihat canggung saat menonton bersama dengan suaminya. Karena sebelumnya mereka bertengkar dan pertengkaran bukannya selesai malah semakin parah dan tiba-tiba seperti ada malaikat yang mendorong dengan tiba-tiba Agam berubah dan bahkan menegurnya.


" Aku tidak pernah melihatmu menonton. Apa kamu tidak suka menonton?" tanya Agam.


" Tidak juga, aku suka. Tapi tidak suka film luar. Aku lebih suka film-film romantis negara sendiri," jawab Anisa.


" Hmmm, begitu rupanya. Menonton di bioskop kamu suka!" tanya Agam lagi.


" Suka, aku dulu sering menonton bareng Nia dan Zahra," jawab Anisa.


" Kalau nanti malam tidak hujan. Kamu mau menonton bersamaku?" tanya Agam. Anisa lebih kaget lagi dengan Agam yang mengajaknya keluar.


" Ya kalau kamu tidak mau tidak apa-apa," sahut Agam tiba-tiba.


" Memang aku ada bilang tidak mau," sahut Anisa.


" Berarti kamu mau?" tanya Agam memastikan. Anisa mengangguk pelan. Agam tersenyum mendengarnya.


*********


Rania yang berada di dalam kamar mandi memegang perutnya dengan kuat yang merasa begitu nyeri pada perutnya.


" Apa ini tanggal aku datang bulan, kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali," batin Rania dengan merasa perih di perutnya dan terus memegang dengan tangannya sampai Rania membungkuk karena begitu sakit di perutnya tersebut.


" Aaaaahhhhh," teriaknya yang semakin sakit dan bahkan Rania terduduk di lantai. Suara air di kamar mandi membuat Rendy yang di atas tempat tidur tidak mendengar apa-apa. Namun Rendy menoleh ke arah kamar mandi seakan merasa ada yang aneh.


" Lama sekali Rania di kamar mandi," batin Rendy yang merasa ada sesuatu pada istrinya tersebut. Rendy langsung bangkit dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi dan mendekatkan telinganya pada pintu yang mana yang di dengarnya memang hanya suara air.

__ADS_1


" Sayang kamu kenapa lama sekali. Kamu baik-baik aja?" tanya Rendy dengan mengetuk pintu.


" Sayang kamu baik-baik aja. Sayang!" panggil Rendy yang terus mengetuk pintu. Merasa ada yang tidak beres. Rendy langsung membuka pintu kamar mandi dan kaget melihat istrinya yang terduduk dengan memegang perutnya.


" Sayang!" pekik Rendy kaget yang langsung mendekati Rania dengan berjongkok di depan Rania.


" Ya Allah Rania. Kamu kenapa?" tanya Rendy dengan panik.


" Sakit, perutku sakit. Aku tidak tau kenapa perih sekali. Aku sepertinya datang bulan, makanya seperti ini," ucap Rania yang sampai menangis karena menhan sakit di tubuhnya.


" Ya Allah Rania," Rendy yang panik langsung menggendong istrinya keluarga dari kamar mandi dan terdapat noda darah di lantai yang di duduki Rania.


" Astagfirullah Al Azdim," lirih Rendy yang semakin panik dan membawa istrinya keluar dari kamar mandi. Rendy mendudukkan Rania di sofa dan langsung berlari menuju lemari. Di mana Rendy mengambil pakaian Rania, pakaian dalam dan juga pembalut Rania.


Rendy menghampiri Rania dan membantu sang istri untuk membuka pakaiannya yang terdapat noda darah dan memang iya. Rania sedang menstruasi tingkat berlebihan.


" Aku akan menggantinya sendiri," ucap Rania yang mana mengambil pembalut itu dari tangan suaminya. Rendy mengangguk dan membantu istrinya kekamar mandi kembali. Sofa jadi penuh darah dan Rendy langsung membersihkannya tanpa merasa jijik atau apapun.


Setalah Rania sudah memakai pembalut dan berganti pakaian. Rendy membantunya untuk merebahkan diri di tempat tidur. Rendy juga memberi Rania obat penahan rasa sakit memberinya air putih.


" Kamu sudah merasa enakan?" tanya Rendy. Rania mengangguk dengan memegang tangan suaminya erat.


" Tapi kenapa deras sekali. Seperti air yang memancur. Ini tidak biasanya dan biasanya aku selalu normal. Lalu deras seperti ini aku akan bolak balik mengganti pembalut DNA stok pembalutnya tidak cukup," ucap Rania dengan suara seraknya yang mengeluhkan keadaannya.


" Kamu jangan khawatir sayang. Aku akan membelikannya untukmu. Jadi jangan memikirkan yang lain-lain. Biarkan aku yang memikirkan masalah itu," ucap Rendy.


" Kamu tidak apa-apa pergi membeli pembalut untukku?" tanya Rania heran.


" Memang ada yang salah. Kalau suamimu mau melakukan itu?" tanya Ardian. Rania menggeleng.


" Lalu kenapa protes. Jangan banyak protes kamu istirahat saja," ucap Rendy. Rania menganggukkan kepalanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2