Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 8. Kedengkian Willo


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Rania juga melakukan tanggung jawabnya pada anak yang di tabraknya. Walau dia menyerahkan semua kepada Asri asistennya.


Karena dia memang sibuk beberapa hari belakangan ini dengan pekerjaan yang menumpuk sana-sini. Jadi sang asisten yang mengurus keperluan anak tersebut. Dari biaya pengobatan dan sampai seluruhnya dia benar-benar bertanggung jawab dengan semua yang di apa yang memang seharusnya di pertanggung jawabannya.


Rumah Rania juga sedang tampak sibuk Pembantu di rumah itu tampak sibuk memasak di dapur, ada juga sebagian di ruang tengah yang membantu berbagai keperluan rumah. Tidak hanya itu saja. Farida juga ikut membantu para pelayan di rumah itu.


Malam ini Gilang dan keluarganya memang akan datang melamar Rania secara resmi dan mama yang bertanggung jawab di rumah itu harus menyelesaikan semuanya agar tamu istimewanya tidak kecewa dengan jamuannya.


Farida ikut menyiapkan makanan untuk tamu-tamu yang akan di jamunya. Makanya dia dan pembantu di rumah itu sibuk. Seperti sekarang Faridah turun tangan untuk membuat beberapa cemilan, kue-kue yang lezat dan lain sebagainya.


" Harus di pastikan mateng semua ya," ucap Farida mengingatkan sambil mengaduk tepung.


" Baik Bu," jawab yang salah satu pembantu.


" Santai saja bekerjanya, jangan terburu-buru. Yang penting semuanya beres dan hasilnya bagus," ucap Farida lagi.


" Iya Bu," sahut Pembantu dengan serentak.


*********


Willo menuruni anak tangga dan melihat kesibukan pelayan di rumah itu membuatnya langsung iri hati dengan orang-orang tersebut.


" Sok sibuk, baru juga lamaran. Belum juga nikah sudah heboh sendiri. Batal baru tau rasa," batinnya dengan kedengkian hatinya melihat orang-orang yang sibuk untuk menyambut tamu Rania.


Willo melanjutkan langkahnya menuju dapur yang dia merasa di dapur juga banyak melakukan aktivitas dan dugaannya benar. Willi melihat sang mama yang sibuk dan bahkan terlihat semangat.


Jelas apa yang di lihat Willo membuat kedengkian di hatinya semakin menjadi-jadi. Dan pasti geram dengan mamanya yang benar-benar membantunya.


" Paling juga nggak jadi nikah, tapi mama sudah heboh. Nggak bisa apa belajar dari yang terjadi sebelumnya," sahut Willo yang langsung menyambar dengan menyumpahi sang adik agar gagal lagi dalam pernikahan.


" Willo,kamu ini apa-apaan sih. Nggak boleh tau kamu seperti itu," tegur Farida pada anaknya dan melanjutkan pekerjaannya.


" Memang kenyataan kan ma, dia memang seperti itu. Lagian juga kalau nih ya keluarga Gilang tau kelakuannya. Bakalan suruh anaknya untuk mundur. Nggak akan mau menikahkan anaknya dengan wanita yang tidak beres seperti itu," ucap Willo. Farida geleng-geleng.

__ADS_1


"Jadi percuma mama repot-repot buat ini, buat itu. Nggak ada gunanya. Mereka juga akan mundur setelahnya," ucap Willo dengan ketus.


" Kamu ini ya Willo, selalu aja berpikiran yang tidak-tidak. Seharusnya kamu tidak boleh seperti itu. Seharusnya kamu berpikir positif agar semuanya lancar," ucap Farida.


" Memang apa yang aku katakan benar. Mama juga sering menjadi saksinya. Seharusnya mama tidak berharap banyak," sahut Willo.


" Memang apa yang salah dengan adik kamu. Tidak ada yang salah Willo. Apa yang dengan apa lakukannya. Kamu selalu memojokkan dia mama tidak tau apa yang di lakukannya kepada kamu, makanya kamu sangat membencinya," ucap Faridah.


" Jelas dia banyak kesalahan dan mama juga bisa melihat apa-apa yang dilakukannya kepadaku," sahut Willo yang mulai emosi.


" Tidak ada yang di lakukannya. Kamu saja yang berlebihan," sahut Farida.


" Mama sekarang malah suka belain dia. Kenapa mama pengen dapat transferan lebih banya lagi," sahut Willo dengan emosi semakin tinggi.


" Cukup Willo. Kamu ini benar-benar ya," gertak Farida.


" Mama terus saja, belain dia. Sudah jelas-jelas merusak rumah tangga orang. Dia selalu merasa dirinya paling hebat. Mama bisa dengarkan selama ini. Jika dia suka mengungkit sana-sani, dan mama masih membelanya," ucap Willo dengan kesal.


" Itu karena kamu yang suka cari gara-gara," sahut Farida mencuci tangannya.


" Sudahlah, mama pusing mendengar omongan kamu," sahut Farida yang langsung pergi.


Menghadapi Willona sama saja tidak akan ada habinya. Karena Willona tidak akan pernah mau kalah.


" ishhhh. Mah, malah pergi lagi," panggil Willo.


" Jika si Rania mendengar mama membelanya. Dia pasti kebanggaan," desis Willo dengan geram.


" Tapi. Baguslah jika dia memang akan menikah. Jadi aku tidak akan perlu bertemu lagi dengannya. Dia benar-benar akan jauh dari rumah ini dan benar-benar akan keluar dari rumah ini, paling tidak aku bisa damai," batin Willo yang di sisi lain suka melihat adiknya menikah. Tetapi di sisi lain dia ingin pernikahan itu batal lagi. Agar dia bisa menghina adikknya terus menerus.


Tetapi Willo tidak sadar jika rumah yang di tempatnya adalah milik sang adik yang kapanpun. Rania jika kehilangan kesabaran bisa menendang sang kakak keluar dari rumah itu.


" Tapi kita lihat saja nanti, apa semua sesuai harapannya," desisnya dengan wajah sinisnya. Pelayan yang ada di dapur itu memperhatikan ekspresi Willo.

__ADS_1


" Ala kalian lihat-lihat," sambar Willo dengan kes. Pelayan langsung mengalihkan pandangan mereka.


" Dasar, pembantu sinting," ketus Willi menyerakkan tepung dan langsung pergi dengan kekesalan.


Pelayan itu harus mengusap dada pelan-pelan dan sabar dengan kelakukan Willo yang memang bukan seperti manusia.


************


Rania berada di ruangannya sibuk dengan beberapa tumpukan berkas. Beberapa kali Rania memijat kepalanya yang tampak berat. Mungkin dengan pekerjaannya yang sangat menumpuk.


tok-tok-tok-tok.


" Masuk!" perintah Rania.


Astri yang mengetuk pintu pun masuk dengan membawa agenda panjang hitam.


" Ini Bu, laporan yang ibu minta," ucap Astri meletakkan di meja Willo. Willo langsung mengambilnya dan membukanya dengan menyandarkan tubuhnya di kursi kerajaannya.


" Proyek dengan perusahaan Exlain, sudah selesai," sahut Astri yang melapor pekerjaannya.


" Bagus lah kalau begitu," sahut Rania melihat-lihat sebentar agenda itu.


" Hmmm, oh iya Bu, ibu juga ada wawancara besok, media dan wartawan akan berlomba-lomba besok untuk mewawancarai ibu," ucap Astri memberikan informasi.


" Kamu atur saja jadwalnya. Tetapi sebelumnya kamu cek dulu pertanyaannya, saya tidak mau jika ada pertanyaan mengenai masalah pribadi. Saya hanya akan menjawab pertanyaan dengan berhubungan dengan perusahaan," ucap Rania memberikan pesan terlebih dahulu.


" Baik Bu," jawab Astri. " Lalu bagaimana dengan berita pernikahan ibu. Apa harus di beritakan?" tanya Astri.


" Jangan dulu. Karena aku tidak bisa menjamin apa-apa. Jadi tunggu saja nanti," jawab Rania.


" Baik Bu," sahut Astri," kalau begitu saya permisi dulu," ucap Astri pamit. Rania mengangguk. Astri menundukkan kepalanya lalu langsung pergi.


" Aku juga tidak bisa berharap banyak dari hubunganku dengan gilang nantinya," batin Rania.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2