
Raina harus menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia memang sudah sembuh total dan juga kembali bekerja di perusahaan yang sangat membutuhkannya. Setelah istirahat 1 hari di rumah bersama suaminya.
Rania pun Rendy pun kembali ke perusahaan untuk bekerja, sama dengan Rendy yang juga bertugas di rumah sakit. Dia tidak mengambil masa cuti libur kerjanya lagi.
Rendy mengantarkan Raina ke perusahaan Erlangga.
" Makasih, sudah mengantarkanku," ucap Raina sembari membuka seat beltnya.
" Sama-sama," sahut Rendy " Hmmm, nanti kalau sudah pulang, telpon aku. Jangan menunggu di luar, kamu di dalam saja. Dan kalau mau kemana-mana kamu harus sama Astri," ucap Rendy tampak posesif. Bagaimana tidak posesif dia masih takut istrinya kenapa-kenapa. Apa lagi orang yang menusuk Rania belum juga tertangkap.
" Iya," sahut Raina tersenyum dengan jawaban singkat, " ya sudah aku masuk dulu," ucap Raina pamit. Rendy mengangguk. Sebelum ke luar dari mobil. Rania mencium punggung tangan suaminya dan Raina menyodorkan keningnya untuk di cium. Rendy tersenyum dan melakukan hal yang ternyata menjadi kebiasaan Rania.
" Daaa," ucap Raina pamit. Rendy mengangguk saja.
Raina pun keluar dari mobil dan masih membungkuk melambaikan tangannya pada suaminya. Rendy hanya mengangkat tangannya saja. Rania masih tetap berdiri sampai mobil suaminya pergi. Rania menarik napasnya panjang dan memasuki Perusahaan tersebut.
Ternyata Monica melihat hal itu. Dia tampak sinis dan tidak suka dengan kembalinya Rania keperusahan tersebut. Karena memang Rania adalah saingannya. Makanya dua tidak suka.
" Kenapa sih, dia harus kembali lagi. Kenapa dia tidak mati saja dan lagian kenapa sih Rania itu sangat beruntung. Dia bahkan menikah dengan Dokter terkenal dan lihat dia sangat bahagia. Kenapa dia sellau hidup dengan penuh keberuntungan," oceh Monica yang panas melihat ke bahagian orang lain.
" Hmmm, dasar wanita sial," desisnya dengan penuh kebencian.
**********
Rania melakukan banyak pekerjaan yang menumpuk di ruangannya. Maklum sudah lama tidak berada di perusahaan itu. Wajar kalau kerjaan menumpuk.
tok-tok-tok-tok.
" Masuk!" titah Rania. Pintu terbuka yang ternyata menampilkan Astri.
" Ini Bu, dokumen yang ibu minta," ucap Astri. Rania langsung mengambilnya dari tangan Astri dan membolak-baliknya sebentar. Raina melihat ke arah Astri tampak seperti ada yang ingin di tanyakannya.
" Ibu butuh sesuatu?" tanya Astri. Rania menutup dokumen yang di berikan Astri padanya.
" Kamu duduklah!" perintah Rania. Astri pasti bingung. Namun dia tetap duduk.
" Hmmm, ada apa ya Bu?" tanya Astri heran.
" Hmmm, saya mau bertanya sesuatu sama kamu," ucap Raina yang tampak ragu.
" Iya Bu ada apa?" tanya Astri.
__ADS_1
" Hmmm, begini kamu kan sudah menikah. Jadi saya mau bertanya mengenai seputar pernikahan," ucap Raina. Astri mengkerutkan dahinya. Dia memang pasti heran karena tidak biasanya Raina membicarakan hal pribadi dan pasti masalah pekerjaan.
" Iya Bu, memang ada apa?" tanya Astri.
" Kamu pertama nikah sama suami kamu bagaimana?" tanya Raina.
" Seperti biasa pada umumnya pasangan pengantin baru. Seperti ibu mungkin yang kalau menikah akan melakukan hal yang wajib dulu," jawab Astri simple.
" Hal wajib, maksudnya?" tanya Rania tampak tidak mengerti.
" Masa ibu tidak tau ya malam pertama," sahut Astri dengan cepat.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Mendengarnya membuat Rania langsung batuk.
" Ibu tidak apa-apa?" tanya Astri panik.
" Tidak-tidak, aku tidak apa-apa," sahut Raina.
" Kenapa juga dia harus bahas masalah itu," batin Rania yang menggaruk-garuk lehernya.
" Hmmm, oh iya apa sih yang kamu lakukan agar membuat suamimu senang?" tanya Raina.
" Contohnya? tanya Raina yang tampak penasaran.
" Memberinya kejutan pada hari ulang tahunnya itu contoh paling umumnya," jawab Astri.
" Ulang tahun. Aku saja tidak tau kapan Rendy ulang tahun," batin Rania yang tampak penuh pikiran.
" Lagian nih ya Bu, suami itu sebenarnya gampang senangnya. Kita cukup memberinya perhatian yang lebih, menyiapkan segala keperluannya dan yang paling utama...." Astri tidak melanjutkan kata-katanya.
" Apa yang paling utama?" tanya Raina penasaran.
" Membuatnya senang di atas ranjang," jawab Astri pelan. Rania langsung menelan salavinanya saat mendengar hal itu.
" Maksud kamu berhubungan intim?" tanya Rania memastikan. Astri mengangguk.
" Nggak ada yang salah dong Bu. Karena itu suatu hal yang membuat suami kita bahagia. Apa lagi kalau kita yang mengajaknya. Kita berpenampilan cantik, seksi. Wau suami kita akan bahagia dan yakin tidak akan kecantol dengan wanita lain," ucap Astri yang memperjelas pembicaraannya. Rania tampak serius menyimaknya.
" Apa itu artinya kalau kita tidak melakukan itu. Suami kita akan pergi?" tanya Rania.
" Hmm, pasti Bu, dia akan mencari wanita lain untuk memberikannya hal itu," sahut Astri tampak heboh bila di ajak bicara seperti itu.
__ADS_1
" Tapi kalau suami kita baik. Mana mungkin dia melakukan hal itu," ucap Rania yang tampaknya sedikit cemas..
" Hmmm... Bu, sebaik-baiknya pria atau Sumi. Jika tidak mendapatkan hal itu. Pasti akan tetap melakukan hal itu juga. Yakin sama saya," sahut Astri yang semakin membuat Rania panik.
" Nggak, mana mungkin Rendy seperti, dia sangat baik. Lagian dia kok yang tidak mau melakukannya. Jadi mana mungkin dia sampai seperti itu," batin Rania yang jadi kepikiran dengan Rendy. Karena mendengar omongan Astri.
" Ibu kenapa?" tanya Astri.
" Hmmm, tidak, saya tidak kenapa-kenapa," jawab Rania, " Ahhhh, sudahlah kamu kembali bekerja saja," ucap Rania yang akhirnya pusing sendiri.
" Baiklah Bu! saya permisi dulu," ucap Astri yang langsung pamit.
" Huhhhhhh," Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan.
" Ahhhh, sudah lah Rania jangan memikirkan hal itu," batinnya menggoyang-goyangkan kepalanya yang tidak mau memikirkan apa yang di katakan Astri.
**********
Raina yang sudah berada di rumah bersama Rendy. Rendy sedang berada di kamar mandi yang sedang mandi dan Rania sendiri sibuk mencari-cari sesuatu di dalam laci-laci.
" Bagaimana ya cara mencari tau ulang tahun Rendy, di mana lagi akte kelahirannya," gerutu Rania yang ternyata sibuk mencari-cari akte kelahiran Rendy untuk mengetahui ulang tahun Rendy.
Saat mencari-cari Rania malah menemukan buku nikah dia dan Rendy.
" Hmmm, bukannya di buku nikah juga ada tanggal kelahiran ya," batin Rania yang baru kepikiran. Dengan cepat Rania mengambil buku nikah itu dan langsung membukanya.
" 10 September," lirihnya yang membacakan tgl lahir Rendy.
" Kamu ngapain?" tanya Rendy yang tiba-tiba sudah ada di belakang Rania membuat Rania kaget.
" Aisss, kenapa Rendy sudah selesai mandi saja," batin Rania dengan memejamkan matanya.
" Rania!" tegur Rendy. Rania langsung memasukkan kembali buku nikah itu kedalam laci. Menutup perlahan dan membalikkan tubuhnya melihat kearah Rendy.
" Oh, aku, aku tidak ngapain-ngapain kok, hanya beberes," ucap Rania gugup.
" Ohhh, begitu," sahut Rendy. Rania mengangguk-angguk tersenyum.
" Ya sudah sana kamu mandi, aku sudah selesai," ucap Rendy. Rania mengangguk saja yang berusaha tenang.
Bersambung
__ADS_1