
Rania begitu menunggu jawaban Rendy yang menatapnya dalam-dalam. Wajah Rendy begitu murung dan bahkan sangat sedih, mata yang bergenang yang membuat firasat Rania semakin tidak enak.
" Sayang apa terjadi sesuatu?" tanya Rania lagi yang terus menunggu jawaban itu. Rendy menganggukkan matanya dan memeluk Rania erat yang membuat Rania heran dengan arti dari pelukan suaminya itu. Tubuh Rendy yang bergetar membuat Rania penuh kebingungan.
" Apa yang terjadi?" tanya Rania yang melepas pelukan itu dan melihat ke arah suaminya.
" Allah sedang menguji kita. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Percaya lah sayang kamu bisa melewatinya," ucap Rendy dengan mengusap pipi Rania.
" Melewati apa?" tanya Rania dengan suara seraknya.
" Sayang, kamu menderita kanker rahim," ucap Rendy yang tidak bisa berbohong pada Rania. Air mata Rania menetes bersamaan dengan air mata Rendy yang kembali jatuh. Mendengar penyakit yang ada di tubuhnya membuat Rania shock dan merasa itu tidak mungkin.
" Hiks, hiks, hisk," Isak tangis itu terdengar dari Rania yang membuat Rendy memeluknya dengan erat.
" Kenapa bisa? kamu tidak bohongkan. Kenapa bisa semuanya terjadi seperti ini? bukannya Dokter bilang aku tidak apa-apa. Kamu juga bilang semuanya baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Rania dengan suara seraknya, Rendy tidak mampu menjawab apa-apa dan hanya memeluk istrinya dengan erat.
" Rendy ini pasti kesalahan bukan, ini pasti kesalahan," Rania pasti tidak mudah untuk menerima kenyataan itu. Rendy sangat mengerti dan hanya memeluk Rania untuk memberikan Rania kekuatan.
" Apa aku akan sembuh?" tanya Rania di dalam pelukan itu yang masih berharap, jika dia hanya mimpi buruk.
" Kamu bisa sembuh sayang, kamu pasti sembuh, aku akan terus ada di sisimu. Aku akan mendampingimu," ucap Rendy yang terus memberi semangat istrinya.
Rania terus menangis di pelukan itu. Rendy membiarkannya menangis. Rania memang harus menumpahkan rasa marahnya dengan penyakit yang di deritanya. Allah memang memberikan ujian terberat dalam pernikahan mereka dan hanya kekuatan yang membuat mereka menghadapi semua ujian yang terberat itu.
__ADS_1
**********
Setelah merasa tenang, Rania yang berada di atas ranjang dengan berbaring sama dengan Rendy yang juga berbaring di sampingnya dengan membawa istrinya kepelukannya. Tangan Rendy mengusap-usap pucuk kepala Rania. Rania sudah tidak histeris lagi. Namun air mata itu tetap mengalir sedikit demi sedikit.
" Kamu lupa dengan apa yang kamu dulu kepadaku. Saat kita berada di kapal," ucap Rendy.
" Apa?" tanya Rania dengan suara seraknya.
" Saat itu kamu bertanya kepadaku. Jika kita memliki anak. Apa kah rasa sayangku akan terbagi dengan anak kita dan aku mengatakan. Kita mempunyai anak kasih sayang itu tidak akan terbagi sama sekali. Rania aku tidak ingin membuat anak kita nanti cemburu jika seluruh cinta ku hanya untukmu, makanya aku memilih untuk beberapa tahun kedepan kita berdua terus," ucap Rendy. Air mata Rania menetes mendengarnya.
Rania mengerti maksud Rendy. Rendy hanya memberinya kekuatan untuk tidak berpikiran yang lain-lain dan sebelumnya Rendy juga sudah mengatakan jika janin di dalam kandungan Rania harus di angkat.
" Aku tidak ingin membuatmu menderita, merasa sakit sedikitpun. Apa lagi harus kehilangan mu. Jika hanya memiliki keturunan hanya menyiksamu. Lebih baik tidak Rania. Jika Allah menghendaki maka akan di beri jalan paling mudah untuk mempercayakan seorang anak. Tanpa menyiksamu," ucap Rendy yang terus menguatkan Rania. Rania hanya terus mengeluarkan air mata dengan memeluk suaminya erat.
" Rahim kamu tidak diangkat Rania dan tidak ada yang tidak mungkin. Tapi untuk saat aku suamimu yang tidak memberimu izin untuk mengandung sebelum kamu pulih. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa," ucap Rendy menegaskan.
" Bukannya keinginan seorang suami hanya kehadiran anak di dalam hidup mereka. Jika aku menunda untuk hamil. Itu sama saja aku tidak menyempurnakan pernikahan kita," ucap Rania.
" Pernikahan kita sudah sempurna dan anak itu hanya titipan. Jika hal ini terjadi itu artinya Allah belum mempercayai kita," sahut Rendy yang terus membuat Rania mengerti.
" Rania aku sangat mencintaimu. Ada dan tidak adanya keturunan yang engkau berikan kepadaku. Tidak akan mengubah sedikitpun rasa cintaku kepadamu. Jangan takut suatu hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Aku tidak akan menggantikan posisimu dengan orang lain. Dan jika aku menginginkan seorang anak itu hanya anak yang di kandung di rahim istriku. Yaitu kamu bukan siapa-siapa. Jadi jangan berpikiran sampai sejauh itu," ucap Rendy yang tau dengan apa yang di takutkan Rania.
" Sayang kamu mengertikan maksudku?"tanya Rendy. Rania mengangguk dan semakin memeluk Rendy dengan erat. Rendy mencium pucuk kepala Rania.
__ADS_1
" Kita akan sama-sama berjuang untuk kesembuhan kamu. Aku akan terus ada di sisimu mendampingimu sampai kapanpun. Kita akan terus seperti ini. Hanya berdua tanpa membagi cinta kita untuk siapa-siapa," ucap Rendy. Rania hanya mengangguk.
" Ya Allah kuatlah istriku untuk menghadapi semua ini. Berikan dia ke Ikhlasan untuk menerima semuanya. Berikan dia kesembuhan dan ambil rasa sakitnya. Hamba tidak ingin dia menderita," batin Rendy yang beberapa kali mencium pucuk kepala Rania.
***********
Setelah bicara dengan Rania dengan lembut, yang membujuk Rania yang membuat Rania mengerti dan paham. Akhirnya Rania menyetujui untuk pengangkatan janin yang sudah mereka impikan semala ini. Rendy dan Rania mencoba untuk ikhlas dalam ujian yang di berikan pada keluarga kecil itu.
Di temani sang mama menemui Dokter Anggi untuk menandatangani berkas pengangkatan janin. Sangat berat untuk Rendy menandatangani kertas di depannya itu.
Ratih yang duduk di samping Rendy mengusap-usap pundak Rendy untuk memberikan kekuatan pada anaknya yang mengambil keputusan berat itu.
" Bismilah nak, insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Ayo nak," ucap Ratih dengan matanya berkaca-kaca yang mencoba meyakinkan Rendy.
" Silahkan Dokter Rendy," ucap Dokter Anggi. Rendy mengangguk.
" Tidak akan terjadi apa-apa kan pada Rania setelah ini?" tanya Rendy yang ingin memastikan kondisi istrinya.
" Kita menggunakan metode operasi dan bukan pengeluaran normal. Jadi tidak mempengaruhi kesehatannya. Rasa sakitnya juga tidak akan parah," jawab Dokter.
" Maafkan ayah nak. Bukan ayah tidak menginginkanmu lahir ke dunia ini. Aku dan ibumu begitu menunggu kehadiranmu. Tetapi Allah belum mempercayai kami orang tuamu untuk membesarkan mu. Maafkan papa nak. Kamu akan tetap menjadi anak pertama kami," batin Rendy yang langsung menandatangani surat persetujuan itu.
" Ya Allah, berikan anakku dan menantuku kekuatan untuk melewati semua ujian ini. Aku yakin akan ada hikmah terindah yang tersirat di dalamnya," batin Ratih yang meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bersambung