
Setelah pulang dari Restaurant Rania dan Rendy langsung beristirahat di kamar, ke-2nya juga sebelumnya juga sudah bersih-bersih dan dan sekarang hanya tinggal di beristirahat di mana ke-2nya sudah sama-sama saling berada di atas tempat tidur dengan Rania yang memeluk suaminya.
" Sayang menurut kamu bagaimana Pria yang ada di Restaurant tadi?" tanya Rendy tiba-tiba.
" Di Restaurant, dosennya Nia," sahut Rania. Randy mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Hmmmm, ya kenapa, dia tampan dan sangat sopan," sahut Rania apa adanya.
" Bukan itu maksud aku. Kamu percaya jika Nia dan Pria itu hanya antara dosen saja," sahut Rendy.
" Memang kamu lagi mikirin apa. Kamu takut ya kalau tiba-tiba Nia punya pacar," goda Rania yang seakan tau isi kepala suaminya.
" Ya kan dia masih kuliah," sahut Rendy. Jawaban dengan wajah resah itu sudah membuktikan jika Rendy tidak rela sang adik dekat-dekat dengan cowok dulu.
" Ya ampun sayang. Tapikan Nia sudah gede," sahut Rania.
" Ya walaupun sudah besar. Tapi kan dia juga harus fokus sama kuliahnya, dan masa iya sih dosen tetapi memanggilnya kakak, sok akrab banget," ucap Rendy yang tampak sewot.
" Ya mungkin aja di kampus Nia kalau yang masih muda di panggilnya kakak, yang tua baru bapak," sahut Rania yang berfikiran positif.
" Mana ada istilah seperti itu, ngaur," sahut Rendy.
" Sayang sudahlah! Nia sudah dewasa. Jadi tidak apa-apa dong kalau hanya dekat-dekat saja dulu. Lagian nih ya pria yang di Restaurant itu aku lihat juga dari matanya kayak suka sama Nia dan memang mereka masih hanya sebagai mahasiswi dan dosen. Ya walau tidak tau pastinya. Tapu aku melihat dari matanya sepertinya memang dia sangat menyukai Nia," ucap Rania yang menyampaikan pendapatnya.
" Kamu memperhatikan matanya?" tanya Rendy melihat istrinya dengan menaikkan satu alisnya.
Rania mengangkat kepalanya dan juga melihat suaminya dan menganggukkan kepalanya dan Rendy langsung meniup kencang mata istrinya.
" Sayang!" rengek Rania.
" Sembarangan lihat-lihat mata bukan muhrimnya, zina tau," kesal Rendy.
" Isssh, hanya sebentar tadi," sahut Rania.
" Hmmm, pasti kamu mengingat-ingat matanya kan?" tanya Rendy yang cemburunya minta ampun.
" Sudah lupa," sahut Rania dengan yakin.
__ADS_1
" Bohong!" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya.
" Aku serius sayang," sahut Rania.
" Baiklah aku percaya. Awas ya kalau berani menatap pria lagi, matanya yang indah ini akan aku hukum!" ucap Rendy dengan wajah seriusnya dan Rania hanya merasa lucu sampai ingin tertawa terbahak-bahak.
" Memang mau di hukum seperti apa?" tanya Rania penasaran.
" Sangat parah," sahut Rendy menegaskan.
" Iya- iya aku tidak akan melihat-lihat Pria dengan teliti. Karena untuk apa. Aku kan punya suami yang begitu tampan," ucap Rania mengusap-usap pipi suaminya dengan lembut dan mengecup bibir suaminya. Rendy hanya tersenyum saja.
" Sayang aku merindukanmu," ucap Rania yang tampaknya lagi memberi kode-kode.
" Aku juga merindukanmu," sahut Rendy yang menatap intim istrinya itu.
" Lalu kenapa tidak mengajakku untuk kesurga dunia?" tanya Rania mulai menggoda suaminya dengan tangannya mengusap-usap dada suaminya yang bahkan menggoda suaminya.
" Kamu menginginkannya?" tanya Rendy.
" Aku hanya ingin mengumpulkan pahala yang banyak," sahut Rania.
" Bagaimana dong?" tanya Rendy. Rania yang tersenyum hanya menggedikkan bahunya seolah menyerahkan semua pada suaminya. Rendy tersenyum dengan membelai-belai pipi istrinya dan akhirnya mencium bibir istrinya.
Berciuman dengan mesra untuk memberikan istrinya kebahagian. Yang memang harus romantis pada Rania dan dia juga melayani dengan baik istrinya tanpa akan menyakiti dan melukai istrinya tersebut.
Pasangan suami istri itu bermesraan di atas tempat tidur yang saling memberikan sentuhan di tempat-tempat sensitif yang membuat ke-2nya melayang-layang yang sama-sama merasakan indahnya surga dunia.
*************
Pagi hari seperti biasanya Rendy sudah siap-siap untuk kerumah sakit. Rendy pun menuruni anak tangga tanpa Rania. Karena Rania masih ketoilet dan menyuruh suaminya untuk turun terlebih dahulu.
Saat sampai di anak tangga paling bawah Rendy melihat seseorang di ruang tamu yang mana Pria yang tidak asing baginya yang berbicara dengan mamanya. Siapa lagi jika bukan Mario yang kemarin di temuinya di Restaurant. Rendy yang kaget dan bertanya-tanya langsung menghampiri ke ruang tamu.
" Kamu mau kerumah sakit Rendy?" sahut Ratih. Rendy mengangguk dan Mario menundukkan kepalanya pada Rendy.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Rendy dengan wajahnya yang masih terkejut.
__ADS_1
" Saya mau menjemput Nia, kebetulan jadwal saya hari ini ada. Jadi sekalian berangkat sama Nia," jawab Mario.
" Tau dari mana kamu rumah ini?" tanya Rendy yang tampak datar.
" Bertanya pada Nia!" jawab Mario.
" Berarti sudah janjian," sahut Rendy menebak.
" Iya," jawab Mario jujur apa adanya. Mario juga tampak begitu gugup. Mungkin karena merasa Rendy mengintimidasinya yang membuatnya merasa ada yang salah pada dirinya.
Tidak lama Nia pun akhirnya datang yang kebetulan datang bersama Rania yang sama-sama menuruni anak tangga.
" Dia jemput kamu?" tanya Rania pelan. Nia mengangguk dengan wajah gelisahnya yang sama-sama menghampiri ruang tamu bersama kakak iparnya dan Rendy langsung melihat adiknya itu.
" Kamu nggak bilang sama kakak kalau sedang ingin di jemput," ucap Rendy.
" Maaf kak, soalnya mendadak," sahut Nia gugup.
" Rendy sudah lah, Mario juga sekalian ingin kekampuskan, jadi biarkan saja tidak apa-apa jika pergi sama Nia," sahut Ratih.
" Ya sudah kalian hati-hati. Langsung kekampus. Kalau niatnya mengantar kekampus maka antar kekampus. Kalau mengajak main maka minta izin main. Jangan ada sekalian," ucap Rendy yang terlihat begitu galak.
Mario jika memang serius pada Nia. Harus ekstra bekerja kerasa. Karena kakaknya pasti tidak sembarangan untuk Pria mendekati adiknya.
" Kamu mengertikan?" tanya Rendy
" Iya kak," jawab Mario yang keringat dingin. Dia Pria tampan yang begitu cool dan tampak cuek dan memang sepertinya bukan Pria pecicilan dan terlihat begitu berwibawa. Tetapi kali ini seperti semua itu hilang di depan Rendy yang mana dia sampai keringat dingin.
" Ya sudah berangkatlah. Nanti kalian terlambat," ucap Rendy. Mario menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah Nia berangkat dulu," sahut Nia yang langsung mencium punggung tangan mamanya, kakaknya dan juga Rania. Hal yang sama juga di lakukan Mario.
" Assalamualaikum," ucap Nia.
" Walaikum salam," sahut mereka serentak dan Nia dan Mario langsung pergi.
" Anak orang sampai di buat keringat dingin. Galak amat suami aku," ucap Rania mengusap-usap pipi Rendy. Ratih hanya geleng-geleng. Dia juga tau anaknya itu begitu menyayangi adiknya dan pasti ingin adiknya tidak salah pilih lagi.
__ADS_1
Bersambung