
Malam semakin larut. Hujan deras turun. Ternyata Rania dan Rendy masih berada di dalam gubuk tersebut. Nenek melarang mereka pulang karena hujan.
Rania dan Rendy duduk yang bersebelahan di atas kardus yang mungkin alas lantai dan pasti itu sangat tidak nyaman. Ternyata sang nenek menyiapkan makanan ala kadarnya di depan mereka. Apapun itu nenek harus menyiapkan makan malam. Karena memang sudah waktunya.
" Ayo, kita makan malam sama-sama dulu," ucap sang nenek yang berada di depan mereka yang bersebelahan dengan Sandi.
" Seharusnya tidak repot-repot Bu seperti ini," sahut Rendy merasa tidak enak.
" Tidak ada yang repot, ini sudah waktunya makan malam dan harus makan malam," sahut sang nenek. Yang tetap menghidangkan. Mata Rania turun ke bawah dan melihat menu makanan itu.
Yang ada nasi, dengan lauk, ikan gembung goreng, dan juga sambel terasi, dan sayur asem.
" Maaf neng Rania hanya ini yang ada," sahut sang nenek yang melihat wajah Rania tampak tidak berselera. Mungkin di pikiran nenek Rania pasti tidak pernah memakan makanan itu. Jangankan memakan. Melihatnya pun mungkin tidak pernah.
" Tidak apa-apa, nek, ini pasti enak, justru Rania merasa tidak enak sudah merepotkan nenek," sahut Rania dengan cepat. Mungkin eksperesinya membuat sang nenek tersindir.
" Ya sudah ayo kalian makan, yang banyak," ucap sang nenek yang langsung menyendokkan nasi kepiting Rania dan Rendy.
" Sedikit saja nek," sahut Rania yang tidak mau makan banyak. Rania melihat kearah nenek dan juga Rendy.
" Bukan apa-apa nek, soalnya Rania lagi diet," sahut Rania yang memberikan alasannya kenapa makannya sedikit. Dia takut sang nenek salah paham padanya.
" Begitu rupanya," sahut nenek.
" Kalau nanti Rania kurang, pasti akan menambah lagi," sahut Rania dengan cepat ketika melihat wajah sang nenek berubah menjadi sedih.
" Hmmm, pasti kamu akan kurang," sahut sang nenek dengan yakin. Rania mengangguk-angguk saja.
" Ayo silahkan ambil lauknya," sahut nenek mempersilahkan.
Rendy dan Rania saling mengangguk dan ke-2nya sama-sama mengambil dan malah mengambil sayur asem bersamaan sehingga sendok itu terdapat ke-2 tangan mereka yang saling menumpuk membuat keduanya saling melihat.
Rendy dengan cepat melepas tangannya dari tangan Rania.
__ADS_1
" Kamu saja duluan," ucap Rendy tampak kaku.
Rania mengangguk pelan dan mengambil terlebih dahulu. Rania terlihat membuang napasnya perlahan. Tidak tau kenapa dia memang sangat gugup. Karena mungkin berada di samping Rendy.
Nenek sudah memasukkan nasi dan lauk ke piring Sandi.
" Kamu harus makan yang banyak agar cepat sembuh," ucap sang nenek.
" Iya nek," jawab Sandi.
" Ayo nak, Rendy, nak Rania di makan makanan yang apa adanya ini," ucap nenek yang terus menyuguhkan ke-2 tamunya itu.
" Iya nek," jawab Rania malu-malu dan Rendy mengangguk-angguk.
Dan akhirnya mereka pun akhirnya makan bersama menggunakan tangan. Pasti Rania sangat gugup yang baru pertama kali melakukan hal itu setelan sekian lama dan Mungkin dia juga bertambah gugup karena makan bersama dengan Rendy yang takut jika ulahnya membuat Rendy berpikiran jika dia wanita yang nggak banget.
Hujan deras itu mendampingi mereka yang makan bersama. Ternyata makanan yang di makan Rania yang sedikit itu habis. Dia tampak menikmati. Mungkin juga suasananya yang membuatnya menikmati makanan itu.
Wajah Rania terlihat masih kurang untuk makan. Tetapi mungkin dia malu untuk tambah. Rendy yang di sampingnya melihat kegelisahan Rania yang ingin tambah mungkin.
" Tidak, aku sudah kenyang," jawab Rania pelan.
Rendy mengangguk saja. Dan melanjutkan makannya dan Rania menelan salavinanya yang sepertinya ingin tambah. Tetapi malu dan apalagi sudah menolak tawaran Rendy. Yang seharusnya dia menerima tawaran itu agar dia tidak seperti ini.
" Nek saya boleh, tambah lagi," ucap Rania pelan yang malu-malu. Rendy mendengarnya mendengus pelan dengan senyum miring di wajahnya.
" Oh, boleh-boleh. Kan tadi nenek juga bilang kamu harus makan yang banyak, kamu sih ngambilnya sedikit," ucap sang nenek yang sangat senang jika Rania tambah.
" Iya nek," sahut Rania semakin malu dan langsung menambah. Mungkin masakan sederhana itu membuatnya lahap makan.
" Tadi di tanya tidak mau, sekarang baru ingin tambah. Malu-malu tidak akan membuatnya kenyang," batin Rendy yang tersenyum miring. Rania menoleh kearah Rendy dan menangkap senyum Rendy.
" Apa dia menertawakanku," batin Rania yang benar-benar malu di hadapan Rendy.
__ADS_1
Rania berpikiran jika Rendy pasti mengejeknya. Rania juga merasa sangat malu. Dengan ulahnya yang malu-malu kucing. Dia malah seperti orang bodoh.
" Aisha kamu sih Rania, kenapa juga harus sampai melakukan hal seperti itu," batinnya lagi yang menyalahkan dirinya sendiri dengan kebodohannya.
" Di habiskan makanannya," ucap nenek yang terus menawarkan.
" Iya nek," sahut Rania dengan gugup dan menunduk.
Rania melihat ikan gembung yang sangat enak itu tinggal 1 potong lagi. Saat tangannya ingin mengambilnya. Rendy sudah terlebih dahulu dan terlihat wajah Raina yang begitu lemas seakan kecewa.
Rendy menangkap ekspresi itu dan langsung meletakkan di piring Rania yang jelas membuat Rania kaget.
" Untukku?" tanya Rania. Randy mengangguk.
" Makanlah, aku sudah kenyang," ucap Rendy.
" Terima kasih," sahut Rania tersenyum tipis dan kembali melanjutkan makanannya.
*************
Akhirnya makan malam itu berakhir. Hujan turun membuat Rendy dan Rania tidak bisa pulang. Seharusnya bisa-bisanya saja. Tetapi sang nenek melarang dan tetap ingin mereka tidur di dalam rumah yang kecil itu.
Akhirnya Rendy dan Rania tidak bisa berbicara apa-apa. Mereka pun akhirnya tertidur dengan jarak di ujung-ujung. Sementara Sandi dan nenek di dalam kamar yang berpintu tirai.
Rania dan Rendy berjarak 5 meter saja. Rania maupun Rendy pasti sangat gugup dengan keadaan mereka sekarang. Rendy berbaring lurus dengan satu tangannya di letakkan di atas kepalanya sebagai bantal dan Rania juga lurus dengan bantal. Memang tidak ada bantal untuk Rendy. Jadi hanya Rania yang mendapatkan bantal itu.
" Apa kakinya Sandi akan secepatnya sembuh?" tanya Rania membuka obrolan di antara mereka. Tanpa menoleh ke arah Rendy.
" Kemungkinan dia akan sembuh. Tapi mungkin butuh waktu lama. Dan tempat ini mempersulitnya untuk bergerak banyak. Makanya kejadian tadi akan terulang lagi," jawab Rendy yang juga tidak melihat Rania.
" Jika hal itu membuat kesembuhannya semakin sulit. Asisten ku sedang menyiapkan rumah untuk mereka. Yang mungkin akan lebih luas dan Sandi bisa berlari berjalan," ucap Rania yang menyampaikan rencananya. Randy menoleh ke arah Rania.
" Kamu membelikan mereka rumah?" tanya Rendy memastikan. Rania menoleh ke arah Rendy.
__ADS_1
" Jangan salah paham dulu. Aku tidak bermaksud untuk menyogok mereka. Tetapi aku hanya ingin membantu mereka. Apa lagi yang seperti kamu katakan Sandy juga bermasalah dalam pencernaan dan aku hanya ingin membantu mereka," jelas Rania sebelum Rendy salah paham.
Bersambung