
Rania tampak buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan melihat sudah pukul 8 malam. Dia memang kalau sudah bekerja akan lupa waktu. Jadi harap di maklumi saja kalau akhirnya Rania tetap pada pekerjaannya. Sebentar-sebentar Rania melihat arloji di tangannya jarum jam itu sangat cepat berputar.
" Aduh Rania buruan sudah jam berapa ini. Kamu bisa telat, ayo buruan, nanti kamu pulang kemalaman, bisa-bisa kayak kemarin kamu mendapat teguran," ucap nya yang terkesan buru-buru untuk mengejar waktu.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt
ponselnya yang di atas meja berdering dan Rania langsung melihat yang ternyata panggilan masuk dari papanya.
📞" Ngapain sih malam-malam begini papa nelpon," ucapnya yang langsung mengangkat telpon itu.
📞" Iya pa kenapa?" tanya Rania.
📞" Apa yang kamu lakukan?" tanya Rudi langsung dengan suara sedikit mengeras.
📞" Apa maksud papa?" tanya Rania heran dengan menyerngitkan dahinya.
📞" Jangan pura-pura tidak tau, apa yang kamu lakukan. Kamu bisa-bisanya memblokir semua kartu kredit Willo dan juga atmnya," ucap Rudi yang ternyata itu alasannya menelpon Rania.
Rania sampai harus membuang napas perlahan. Papanya memang hanya akan menelpon jika berurusan dengan Willo dan memang pasti apa yang di lakukannya akan membuat kegaduhan. Dan di sana pasti sang kakak sedang berbicara yang tidak-tidak yang akan memanas-manasi papanya.
📞" Rania kenapa kamu diam!" teriak Rudi membuat Rania tersentak kaget dengan menjauhkan sedikit hanphonnya dari telinganya.
📞" Aku punya hak untuk melakukannya!" jawab Rania dengan santainya yang juga menahan sedikit emosi.
📞" Apa yang kamu katakan. Apa kamu sudah merasa paling hebat dengan semua yang kamu miliki sampai kamu dengan suka-suka kamu memblokir kartu kredit Willo," ucap Rudi yang marah-marah pada Rania.
📞" Itu salah kak Willo sendiri pah, kalau saja kak Rania tidak menjual mobilku. Aku tidak akan melakukannya. Lagi pula aku melakukan itu untuk memberinya pelajaran. Aku yang kerja mati-matian, lalu kenapa dia seenaknya menghambur-hamburkan uang. Bahkan sampai menjual mobil ku," ucap Rania yang mulai terpancing emosi.
📞" Jadi kamu ingin mengungkit semua yang kamu berikan," sahut Rudi.
📞" Rania tidak mengungkit apapun pa. Tapi kak Willo bukan tanggung jawab Rania. Dia mempunyai suami dan seharunya suaminya yang bertanggung jawab atas dirinya. Rania bukannya tidak ikhlas atau mengungkit-ungkit apa yang Rania berikan selama ini pa," ucap Rania dengan menahan sesak karena menahan amarah.
📞" Tidak mengungkit-ungkit kamu bilang. Ikhlas kamu bilang. Kalau kamu ikhlas kamu tidak akan melakukan tindakan itu," sahut Rudi yang terus membela Willo.
📞" Papa kenapa sih selalu saja belain kak Willo. Dia salah tetap di bela. Tapi apapun yang papa katakan. Rania tidak akan mengubah keputusan Rania. Rania tidak akan memberikan kartu kredit itu lagi," ucap Rania menegaskan.
📞" Jangan membangkang kamu. Sekarang kamu pulang dan selesaikan masalah ini di rumah. Kamu semakin menikah semakin membangkang," ucap Rudi.
📞" Tidak pa, Rania tidak akan pulang dan tidak akan mengembalikan kartu kredit itu. Dia bukan tanggung jawab Rania," tegas Rania yang langsung mematikan ponselnya.
tut-tut-tut-tut-tut.
Rudi melihat panggilan itu sudah mati, dengan wajahnya yang memerah penuh emosi.
__ADS_1
" Kenapa anak ini semakin kurang ajar," teriak Rudi penuh emosi.
" Mas, sudahlah, Rania punya alasan untuk memblokirnya. Jadi jangan terus mencari keributan dengannya. Dia sudah menikah dia punya Privasi dengan suaminya. Jadi sudah," sahut Faridah yang sudah pusing dengan perkara rumah tangganya yang tidak selesai-selesai.
" Mama kenapa sih, belain dia terus. Dia semakin menikah semakin tidak beres. Dia langsung marah-marah di temani suaminya Kerumah ini dan memblokir kartu kredit Willo. Lalu apa lagi setelah itu. Dia akan mengusir mama dan papa dari rumah ini. Pernikahannya dengan selingkuhannya itu hanya membawa kesialan. Suaminya itu tidak benar," ucap Willo yang malah menyalahkan suami dari Rania.
" Cukup Willo!" bentak Faridah, " kamu jangan menyalahkan suami Rania. Dia pria yang baik. Jadi jangan bicara yang tidak-tidak mengenai dia," tegas Faridah membela menantunya.
" Lihat pah, sekarang mama malah membela suaminya. Mama benar-benar sudah salah berpihak," sahut Willo mengkompori papanya.
" Sudah cukup, kalian berdua jangan ribut, kepala papa tambah pusing," gertak Rudi dengan penuh emosi memegang kepalanya.
" Mas, aku harap mas adil dalam semua ini. Rania sudah bekerja keras sejak dulu. Jadi aku mohon sama mas untuk adil kepadanya dia bukan mesin ATM kita," tegas Faridah yang langsung bangkit dari duduknya dan langsung pergi begitu saja.
" Mama, hanya akan menyesal telah membela wanita itu terus menerus," batin Willo dengan mengepal tangannya.
" Pokoknya aku harus desak papa agar Rania menormalkan kartu kredit ku," batinnya yang mempunyai rencana.
Willo mungkin sangat sering di manjakan makanya Willo seperti itu. Rudi selalu berpihak padanya dan selalu membelanya walau dia dalam keadaan salah.
**********
Ternyata Rendy yang di dalam mobilnya menghubungi Rania sedari tadi dan ponsel Rania mendadak tidak aktif setelah tadi masih sibuk.
" Tapi masa iya dia sudah pulang segini. Apa Asistennya tadi mengantarnya," batin Rendy yang tampak resah.
" Mungkin dia memang sudah pulang," ucapnya menyimpulkan sendiri.
************
Sementara Rania yang baru mendapat telpon dari papanya langsung frustasi. Rania memilih untuk mematikan ponselnya karena sang papa pasti akan menelpon lagi.
Rania duduk di bangku kerjanya dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang ke-2 sikunya menyanggah di atas meja.
" Kenapa papa selalu saja membela kak Willo. Kenapa sekalipun papa tidak pernah menegurnya dan menganggapnya salah. Bagi papa semua yang di lakukannya adalah kebenaran dan apa yang Rania lakukan adalah kesalahan. Kenapa papa Setega ini kepada Rania," ucap Rania dengan matanya berkaca-kaca dengan ketidak adilan yang di dapatkannya.
Rania beberapa kali membuang napasnya kasar dan terus mencoba menenangkan dirinya. Rania melihat arloji di tangannya.
" Sebaiknya aku pulang, ini sudah malam," ucap Rania yang bangkit dari duduknya membereskan meja kerjanya lalu langsung keluar dari ruangannya.
Rania berjalan dengan pemikirannya yang sudah tidak tenang. Dia memang keras kepala dan pasti tidak akan mengubah keputusannya. Apapun yang di katakan kakaknya. Rania ingin memberi pelajaran pada Willo agar bisa mengubah dirinya dan tidak melakukan semua hal dengan suka-suka nya.
Sudah di kasih hidup enak bukannya bersyukur. Tetapi malah terus menganggu Rania. Orang tidak tau diri itu benar-benar nyata.
__ADS_1
Kantor memang malam hari pasti sepi. Tetapi Rania sudah terbiasa dengan hal itu. Karena memang dia yang akan menjadi penghuni terakhir di kantor itu.
Rania memasuki lift. Lift yang di dalamnya hanya ada dia sendiri. Rania memencet tombol lift. Sesaat pintu lift ingin tertutup. Tiba-tiba sebuah tangan langsung menahannya dan memunculkan Gilang di depan pintu lift yang membuat Rania kaget.
" Gilang," lirih Rania dengan wajah kagetnya.
Gilang langsung memasuki lift dan membuat Rania semakin terkejut dan wajahnya semakin panik.
" Apa yang kamu lakukan Gilang, ngapain kamu masuk," ucap Rania terlihat cemas ketika Gilang sudah ada di sampingnya.
" Lift ini bukan milik kamu, jadi terserahku," jawab Gilang dengan santai. Rania yang merasa kurang nyaman langsung menekan tombol lift ingin keluar. Namun Gilang dengan cepat menghentikannya.
" Gilang, apa-apaan kamu lepaskan," berontak Rania.
" Kenapa kamu menghindariku," ucap Gilang.
" Apa yang kamu katakan, lepaskan," ucap Rania yang tangannya terus di cegah Gilang saat dia ingin keluar dari ruangan itu. Tetapi Gilang yang tampak kesal langsung menarik tubuh kecil Rania dan menghempasnya kedinding lift dan dengan ke-2 tangan Rania di tempelkannya kedinding dengan cengkraman kuat dan menghimpit tubuh Rania.
" Apa yang kamu lakukan!" bentak Rania.
" Kenapa. Aku hanya merindukanmu," sahut Gilang.
" Gila kamu. Aku sudah menikah, menjauh dari ku," ucap Rania berusaha memberontak.
" Menikah katamu. Kamu menikah dengan Rendy sepupu ku. Karena pada dasarnya kamu mengincarnya. Kamu menyukainya dari awal dan mencari alsan untuk membatalkan pernikahan kita," ucap Gilang membuat Rania kaget dengan matanya berkeliling menatap Pria gila di hadapannya
" Apa yang kamu katakan, jangan bicara sembarangan. Aku menikah dengan Rendy. Itu tidak ada masalahnya denganmu. Dan masalah pembatalan pernikahan kita. Itu karena kamu berselingkuh dengan Monica," gertak Rania bicara geram di depan Rania. Membuat Gilang mendengus kasar.
" Oh iya, itu hanya akal-akalan mu saja," sahut Gilang.
" Lepaskan aku Gilang, kamu benar-benar sudah gila," teriak Rania.
" Aku tidak akan melepaskanmu. Sebelum aku bisa menyentuhmu," ucap Gilang dengan seriangi nakal membuat Rania bertambah panik.
" Apa yang ingin kamu lakukan, jangan macam-macam pada ku," teriak Rania. Gilang menyunggingkan senyumnya dengan memiringkan kepalanya yang ingin melecehkan Rania. Namun Rania menghindar.
Ting.
Pintu lift terbuka. Ternyata Rendy ada di depan pintu lift dan melihat kelakukan tercela Gilang pada istrinya. Gilang menoleh kearah pintu lift dan kaget melihat Rendy dan Rania juga dan dengan cepat mendorong tubuh Gilang dari hadapannya dan Rania berlari keluar dari lift dan langsung bersembunyi di belakang Rendy.
Sementara Rendy menatap Gilang dengan tajam dan Gilang dengan gelisah berada di dalam lift yang terpergok macam-macam dengan istrinya.
Bersambung
__ADS_1