Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Epiosede 65 Suapan yang manis.


__ADS_3

Rania menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang sekarang Ratih sedang menyuapinya bubur. Ratih memang selalu menjaganya termasuk memberinya makan dengan tulus dan pasti Rania akan semakin cepat sembuh. Dia juga tidak tau kapan terakhir kali dia mendapat suapan dari seorang ibu.


" Minum?" tanya Ratih. Rania mengangguk. Ratih tersenyum dan langsung mengambilkan air putih untuk Rania dan langsung membantu Rania untuk minum. Setelah itu dia kembali menyuapi Rania.


" Di mana Zahra?" tanya Rania.


" Zahra kekantor," jawab Ratih.


" Lalu Nia mana?" tanya Rania.


" Hmmm, Rania tadi ada kuliah pagi, setelah selesai kuliah dia akan datang kemari," jawab Ratih.


" Makasih ya ma, sudah jagain dan mau merawat Rania," ucap Rania dengan wajah se-nduhnya.


" Sama-sama, kamu itu menantu yang berarti bagian dari keluarga yang itu artinya kamu sama seperti Rendy, Nia, dan juga Zahra, kalian semua sama tidak ada yang berbeda. Jadi kalau kamu sakit sudah tugas seorang ibu untuk merawatmu," ucap Ratih dengan tulus yang terus menyuapi Rania dengan lembut.


" Kamu cepat sembuh ya," ucap Ratih. Rania menganggukkan matanya.


" Apa Della tau aku sedang di rumah sakit?" tanya Rania.


" Kaki belum memberi tahunya. Kami takut belajarnya terganggu," jawab Ratih.


" Lalu papa dan kak Willo bagaiman apa mereka tau?" tanya Rania yang memang tidak melihat papa dan kakaknya.


" Iya kami sudah memberitahunya," jawab Ratih. Ratih melihat wajah sedih Rania seolah tau apa yang di pikirkan Rania.


" Hmmm.... Mungkin saja mereka sekarang ada di jalan," sahut Ratih mencoba menghibur Rania dengan mengatakan hal itu agar Rania tidak sedih yang mungkin tidak melihat keluarganya satupun.


" Mereka pasti tidak peduli dengan apa yang terjadi padaku," batin Rania yang merasa begitu sesak.


" Rania ayo makan lagi!" ucap Ratih.


" Iya ma," jawab Rania. Yang sudah tidak bersemangat dan melanjutkan makannya.


Krekkk di saat Rania makan tiba-tiba Rendy datang dan langsung memasuki ruangan tersebut. Rendy hanya melihat mamanya yang menyuapi Rania. Dan Rendy merasa bersyukur dengan kondisi Rania yang semakin membaik.


" Kamu sudah makan Rendy?" tanya ratih.


" Sudah ma tadi," jawab Rendy.


" Mama sendiri bagaimana?" tanya Rendy.


" Iya, sudah," jawab Ratih.


" Hmmm, kamu tolong lanjutin pekerjaan mama. Mama mau mengambil barang ke mobil sebentar," ucap Ratih memberikan mangkok bubur di pegangnya kepada anaknya.

__ADS_1


" Iya ma," sahut Rendy tanpa menolak.


" Rania, mama keluar sebentar ya," ucap Ratih.


" Iya ma," jawab Rania. Ratih pun akhirnya keluar dan membiarkan anak dan menantunya di ruangan itu. Setelah kepergian mamanya. Rendy pun duduk di samping Rania dan langsung menyuapi Rania.


Rania membuka mulutnya menerima suapan itu. Ternyata rasanya berbeda lagi. Ini bercampur rasa baper dengan kembali ada getaran dan malah membuat canggung.


" Apa Polisi sudah menemukan pelakunya?" tanya Rania


" Belum sama sekali," jawab Rendy.


" Siapa yang melakukannya, kenapa dia melakukan itu kepadaku," gumam Rania pelan yang begitu penasaran.


" Rania kamu jangan memikirkan masalah itu. Biar itu menjadi urusan polisi," ucap Rendy.


" Aku hanya tidak menyangka jika hal itu terjadi padaku," sahut Rania.


" Aku mengerti perasaanmu. Namanya insiden. Kita tidak tau kapan itu terjadi dan bersyukurlah karena kamu masih di beri keselamatan," ucap Rendy.


" Iya," sahut Rania. Rendy kembali menyuapi Rania dengan lembut sama seperti mamanya.


************


" Kapan aku bisa pulang?" tanya Rania.


" 3/4 hari lagi luka kamu belum kering dan masih butuh pantauan dari Dokter," jawab Rendy.


" Kenapa lama sekali pulangnya. Apa tidak bisa di percepat," sahut Rania tampaknya bosan dengan rumah sakit.


" Bisa Rania, tidak ada yang tidak bisa. Hanya saja kamu masih butuh perawatan," jawab rendy.


" Rendy," ucap Rania mendongakkan kepalanya melihat Rendy.


" Ada apa?" tanya Rendy.


" Aku mau di rawat di rumah saja. Aku bosan di rumah sakit. Lagian kalau masalah luka kan kamu Dokter. Bukannya sama saja di rumah atau di sini," ucap Rania dengan wajah lesunya.


" Bisakan aku di rawat di rumah saja. Lagian kasian juga mama. Harus bolak-balik kerumah sakit. Aku nggak mau merepotkan mama, Nia dan juga Zahra. Kalau di rumah aku lebih nyaman dan suasana juga berbeda. Udaranya juga terasa berbeda," ucap Rania seakan meminta persetujuan Rendy. Namun Rendy terlihat masih berpikir dengan wajahnya yang berat untuk memberi izin.


" Apa tidak boleh?" tanya Rania yang dengan wajah kecewanya.


" Kamu yakin mau di rawat di rumah?" tanya Rendy. Rania menganggukkan kepalanya.


" Bolehkan?" tanya Rania memastikan.

__ADS_1


" Ya sudah, kalau memang itu maumu. Tapi dengan 1 catatan," sahut Rendy memberikan syarat.


" Apa?" tanya Rania penasaran.


" Walau di rawat di rumah. Kamu tidak boleh bekerja, kamu harus sembuh dulu baru bekerja," tegas Rendy.


" Kan aku memang tidak mungkin kekantor," sahut Rania.


" Bekerja bukan hanya di kantor. Tetapi di kamar. Kamu selalu menghabiskan waktumu untuk hal itu. Jadi selama masa perawatan jangan memegang pekerjaan dulu. Kamu harus fokus pada kesembuhanmu," ucap Rendy penuh penekanan dan penegasan pada istrinya.


" Jika kamu setuju, maka aku akan memberimu izin untuk di rawan di rumah," ucap Aditya membuat pilihan.


" Ya sudah kalau begitu aku mau," sahut Rania tampak masalah.


" Bagus kalau begitu," sahut Rendy. Rania dan kembali melihat kedepan yang penting dia keluar dari rumah sakit. Jadi dia tidak merasa bosan sama sekali.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.


Rania tiba-tiba terbatuk.


" Kamu mau minum?" tanya Rendy melihat Rania batuk-batuk sambil menutup mulutnya.


" Iya. Tenggorokanku, terasa kering," jawab Rania.


" Ya sudah kamu tunggu di sini aku akan mengambilnya," sahut Rendy. Rania mengangguk dan Rendy pun langsung pergi.


Rania pun menunggu Rendy yang mengambilnya air minum. Tidak tau kemana Rendy mencarinya. Rania mendorong kursi rodanya sedikit untuk mencari tempat ternyaman.


" Ohhhh, jadi itu istrinya Dokter Rendy," Rania tiba-tiba mendengarkan suara 2 orang suster yang tampaknya menggibah.


" Pantes saja Dokter Rendy sampai sebegitunya pada pasien itu. Ternyata istrinya.


" Aku juga awalnya kaget. Dokter Rendy tidak seperti biasanya. Dia terlihat panik dan begitu cemas saat menangani pasien itu eh ternyata itu istrinya. Pantes kayak takut kehilangan gitu," sahut suster yang satunya.


" Ya iyalah namanya juga istrinya. Aku saja tercengang saat Dokter Rendy memberikan darahnya," sahut suster yang satunya yang pasti hal itu membuat Rania kaget mendengarnya.


" Ya kalau istri jangankan darah nyawapun di berikan. Mungkin Dokter Rendy sangat mencintai istrinya," sahut suster yang satunya.


" Ya mereka cocoklah Dokter Rendy tampan dan istrinya juga cantik," ucap Suster.


Sementara Rania masih terkejut mendengar pembicaraan suster tersebut.


" Jadi Rendy mendonorkan darahnya kepadaku," batin Rania yang tidak percaya dengan hal itu. Banyak hutang kebaikan yang di berikan Rendy kepadanya dan dia tidak tau bagaimana cara membalasnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2