Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 268. Mario & Nia.


__ADS_3

Kampus Nia.


Nia terlihat berjalan terburu-buru dengan kepalanya yang berkeliling yang sepertinya mencari seseorang yang tidak tau siapa. Namun Nia terus mencari di setiap Arah.


" Di mana kak Mario?" gumamnya yang ternyata Mario yang di carinya. Karena kemarin melihat Mario yang pergi tanpa pamit dengannya setelah berbicara pada kakaknya membuat Nia takut jika terjadi sesuatu. Atau mungkin kakaknya membuat Mario tersinggung dan akhirnya Mario kecewa dan pulang begitu saja.


Akhirnya lelah mencari di mana Mario. Nia pun menemukan Mario yang berbicara dengan salah satu mahasiswa dan Nia tampak menunggu Mario selesai berbicara sampai akhirnya Mario menyadari keberadaan Nia.


Mario yang tampaknya tau Nia ingin bicara dengannya dan akhirnya mengakhiri obrolannya dengan mahasiswa pria itu dan Mario pun langsung menghampiri Nia yang 7 meter dari tempatnya berdiri.


" Kamu sedang menungguku?" tanya Mario. Nia menganggukkan kepalanya.


" Memang ada apa. Apa yang mau di tanyakan masalah tugas?" tanya Mario.


" Bukan begitu kak. Ini masalah kemarin. Kenapa kak Mario pulang tiba-tiba?" tanya Nia yang memang begitu penasaran dan ingin tau.


" Tidak apa-apa Nia. Karena saya mendapatkan panggilan mendadak. Makanya langsung pulang," jawab Mario apa adanya. Jawaban Mario pun sama dengan Ardian sebelumnya.


" Benar karena itu?" tanya Nia yang kelihatannya tidak percaya.


Mario menganggukkan kepalanya, " benarlah, saya minta maaf karena tidak sempat pamit sama kamu," ucap Mario.


" Kak Rendy tidak bicara apa-apa kan?" tanya Nia dengan hati-hati.


Mario mendengus dengan sedikit senyum menanggapi pertanyaan Nia yang tampak takut sesuatu, " memang kenapa? jika kakak kamu berbicara sesuatu?" tanya Mario dengan menaikkan 1 alisnya.


" Aku serius kak Mario, kak Rendy tidak tanya sesuatu yang aneh-anehkan dan dia juga tidak mengatakan ini itu sama kakakkan?" tanya Nia yang memang mencemaskan sesuatu.


" Kakak kamu banyak bertanya dan aku menjawab apa yang di tanyakan," jawab Mario mendadak membuat Nia kaget.


" Memang apa yang di tanyakan kak Rendy?" tanya Nia yang bertambah kepo. Mario tersenyum.


" Tidak sulit. Aku menjawabnya dengan mudah. Kamu jangan khawatir. Karena memang tidak ada apa-apa. Kakak kamu sangat baik dan orangnya bijaksana bicara tertata dan sangat mudah di mengerti. Kemarin saya pulang. Bukan karena apa-apa. Karena memang pada kenyataannya kemarin saat saya pulang memang ada yang menelpon. Jadi hanya itu saja. Jangan berpikir yang lain-lain," ucap Mario menjelaskan dengan semestinya.


" Benar?" tanya Nia masih ragi. Mario menganggukkan kepalanya yang membuat Nia bernapas lega.

__ADS_1


" Syukurlah jika kak Rendy tidak bicara apa pada kak Mario. Aku takut kak Rendy salah paham dengan semuanya," batin Nia.


" Sepertinya kak Rendy menepati janjinya dengan tidak memberitahu Nia masalah perasaan ku kemarin. Syukurlah kalau begitu," batin Mario.


" Hmmm, ya sudah kak Mario. Nia hanya ingin menanyakan hal itu saja. Ya sudah kalau begitu Nia mau kembali kekelas dulu," ucap Nia yang pamitan.


" Baiklah, silahkan!" sahut Mario. Nia mengangguk dan membalikkan tubuhnya.


" Nia!" panggil Mario membuat Nia tidak jadi melangkah dan kembali menghadap Mario.


" Ada apa kak?" tanya Nia.


" Kamu habis kelas. Mau kemana lagi?" tanya Mario.


" Aku, aku tidak mau kemana-mana," jawab Nia.


" Kalau tidak keberatan. Kita makan siang ya," ucap Mario mengajak Nia untuk makan. Seperti biasa wajah Nia akan menunjukkan kegugupan yang ragu apakah akan menerima atau tidak.


" Nia?" tegur Mario membuat Nia sedikit kaget.


" Hmmmm, ya sudah kak," jawab Nia sambil menganggukkan kepalanya.


" Makasih ya," sahut Mario tersenyum. Nia hanya mengangguk-angguk saja lagi.


" Ya sudah kalau begitu Nia masuk kelas dulu. Permisi!" ucap Nia yang pamitan. Mario mengangguk dengan tersenyum.


" Hmmm, dia anak yang baik. Dia sangat takut kakaknya bicara apa-apa sampai harus mendatangiku. Padahal aku yang takut jika kakaknya akan mengatakan apa yang aku katakan kemarin. Karena aku memang belum waktunya untuk mengatakan perasaanku. Aku tidak mau mengganggu konsentrasi belajarnya. Dia juga sedang skripsi. Jadi tunggu saja ada waktu yang tepat," batin Mario yang tersenyum lebar yang masih tetap melihat punggung Nia yang berjalan semakin jauh.


****************


Oma akhirnya sampai di Jakarta setelah lama berada di kampung. Begitu Ratih menjemputnya. Oma sebentar istrirahat di rumah dan pagi ini ingin melihat cucu menantunya.


Sudah sangat lama tidak bertemu dengan Rania. Bahkan saat Rania di vonis sakit Oma Wati memang tidak pernah menemuinya langsung karena memang jauh di kampung dan biasanya hanya lewat telpon atau Vidio Call saja.


Hari ini punya kesempatan dan memang ingin kembali menetap di Jakarta Oma pun langsung kerumah sakit dengan membawakan Rania makanan kesukaannya yang mana sekarang Ratih sedang menyuapi menantu kesayangannya itu yang duduk bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1


" Makan yang banyak, supaya bayi kamu dan pasti kamunya sehat," ucap Oma Wati dengan mengusap-usap rambut Rania.


" Iya Oma," jawab Rania dengan mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.


Oma bahkan beberapa kali membantu Rania untuk minum. Hidup Rania mungkin terlihat beruntung dengan banyaknya orang yang menyayanginya. Ya dia hanya hidup dengan penuh syukur dengan semua yang di dapatkannya.


Rendy sang suami juga sama yang pasti begitu bersyukur dengan semua yang di dapatkan istrinya yang mana keluarganya begitu menyayangi Rania.


" Oma akan menetap di Jakarta kan?" tanya Rania.


" Iya Rania. Oma akan jaga kamu di sini. Supaya kamu jangan bosan di rumah sakit," jawab Oma.


" Alhamdulillah. Ya memang aku pasti akan bosan," sahut Rania dengan tersenyum.


" Oh iya sayang. Papa dan kak Willo hari ini pulang dari ibadah umroh," sahut Ardian.


" Benarkah! jam berapa Meraka sampai?" tanya Rania yang kelihatan begitu bersemangat.


" Mungkin agak sorean. Papa akan menelpon kalau sudah sampai Bandara nanti," jawab Rendy.


" Kamu akan menjemput pak Rudi kan?" tanya Ratih.


" Iya mah pasti!" sahut Rendy.


" Alhamdulillah papa akhirnya pulang umroh. Aku sudah tidak sabar ingin meminum air zamzam titipan ku," sahut Rania begitu bahagianya.


" Ya sudah kita tunggu saja. Semoga perjalanan di pesawat bisa selamat," ucap Ratih.


" Iya ma. Hmmm kapan ya kita bisa umroh bareng. Seharusnya aku sebelum hamil kepikiran hal itu. Jadi bisa umroh bareng-bareng," ucap Rania yang kelihatan memang ingin lagi ketanah suci.


" Nanti juga kalau kamu sudah selesai melahirkan dan kondisi kamu sudah membaik. Kita berangkat umroh. Kamu jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja," ucap Oma Wati.


" Amin," sahut Rania yang aminnya pasti begitu panjang.


" Ya sudah kamu makan lagi. Jangan banyak bercerita," ucap Ratih. Rania mengangguk dan melanjutkan makannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2