Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 73 mengikuti suami bekerja.


__ADS_3

Rania, Rendy, Ratih, Nia, Zahra dan Anisa sedang sarapan bersama-sama. Dan terlihat Anisa yang tampak sibuk seolah melayani semua orang yang ada di sana.


" Tante mau nasi gorengnya," ucap Anisa yang langsung menyendok kan nasi goreng ke piring Ratih.


" Terima kasih Anisa. Kamu tidak perlu repot-repot," sahut Ratih.


" Tidak apa-apa Tante, ini kan hal yang biasa Anisa lakukan, jawab Anisa. Anisa melihat ke arah Rendy yang piringnya masih kosong.


" Aku ambilkan punya kamu ya Rendy," ucap Anisa yang langsung bertindak.


" Tidak usah Anisa, aku bisa sendiri," jawab Rendy yang langsung menolak dengan mengambil sendok terlebih dahulu. Anisa tersenyum mendengarnya. Rendy pun menyendokkan nasi goreng tersebut yang ternyata menyendokkan ke piring Rania istrinya.


" Makasih," ucap Rania. Rendy menganggukkan matanya. Sontak apa yang di lakukan Rendy membuat Anisa jengkel dengan kemesraan yang di tampilkan itu.


" Apa rasa nasi goreng berbeda Tante?" tanya Anisa.


" Tidak Anisa tetap sama," jawab Ratih sambil mengunyah makannya.


" Syukurlah kalau begitu. Anisa senang bisa membuat cita rasa di lidah Tante yang menjadikan hal itu biasa. Semoga masakan Anisa yang lainnya. Tante selalu ingat rasanya," ucap Anisa tersenyum Ratih hanya menggangguk saja.


" Kamu juga Rania, harus belajar memasak. Supaya masakan kamu di ingat oleh orang," sahut Anisa yang melempar pada Rania. Membuat Rania melihat ke arahnya.


" Terima kasih sarannya," sahut Rania dengan datar.


" Kamu harus tau Rania, keluarga ini memerlukan menantu sepertiku bukan kamu," batin Anisa tersenyum miring


" Rania apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Ratih membuat Rania melihat Ratih.


" Sudah mah, Rania jauh lebih baik sekarang. Hanya tinggal pembukaan jaitannya saja. Rania juga tidak merasa sakit lagi dan sudah lebih leluasa untuk bergerak," jawab Rania dengan senyum tipisnya.


" Syukurlah lah kalau begitu," sahut Ratih merasa lega.


" Memang kapan jaitannya di buka kak?" tanya Nia.


" Nanti sore Nia," jawab Rania.


" Lalu bagaimana dengan pelakunya apa sudah ketemu?" tanya Ratih.


" Masalah itu Rania tidak tau ma, Rania menyerahkan pada kantor masalah perkembangannya," sahut Rania.


" Belum Tante. Polisi juga sering bolak-balik kekantor untuk menyelidiki masalah ini dan memang sialnya aja belum ketemu siapa pelakunya," sahut Zahra yang memang mengikuti kasus ini dan juga di percayakan Rania membantu Astri dan pihak berwajib untuk menyelidiki kasus yang di alami Rania.

__ADS_1


" Ya Allah, kenapa lama sekali pelakunya tertangkap, siapa dia sebenarnya," ucap Ratih yang kelihatan panik.


" Kita berdoa saja ma, semoga cepat di temukan pelakunya dan mendapatkan hukuman yang sesuai," sahut Rendy.


" Amin, mama juga berharap bisa seperti itu," sahut Ratih.


" Ini sangat bahaya untuk kak Rania, kalau pelakunya belum ketemu. Bisa saja dia masih melakukan hal itu lagi nanti," sahut Nia yang juga ikut khawatir.


" Apa yang di bicarakan Nia benar," sahut Ratih.


" Hmmm," Anisa berdehem. " Rania setiap musibah itu pasti ada pemancingnya. Mungkin saja kamu melakukan sesuatu sampai orang tersebut ingin membunuhmu," ucap Anisa.


" Maksud kamu?" tanya Rania heran. Anisa tersenyum.


" Rania, kamu pasti banyak musuh. Makanya banyak orang yang ingin mencelakaimu. Makanya kita sebagai manusia harus hati-hati dalam hidup. Harus mengurangi musuh agar kita hidup tenang," ucap Anisa yang penuh sindiran pada Rania.


" Memang siapa musuh kak Rania," sahut Nia.


" Nia, mana kita tau siapa musuhnya. Yang jelas setiap yang terjadi ada sebab dan akibatnya," sahut Anisa lagi.


" Sudah-sudah jangan berspekulasi yang lain dulu. Kita belum tau perlakukannya siapa dan motifnya siapa. Polisi sedang mencarinya. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh yang malah membuat kita semua jadi tidak konsentrasi. Kita serahkan pada pihak yang berwajib," sahut Zahra.


" Rania mama hanya pesan sama kamu. Kamu jangan kemana-mana dulu ya sampai pelakunya ketemu. Kalau ada apa-apa kamu sama Rendy aja ini demi ke amanan kamu," ucap Ratih memberi saran.


" Dia merasa paling di khawatirkan, bentar lagi juga akan di buang. Kenapa sih di tidak matinya saat itu," batin Anisa yang melihat Rania sinis. Dan Rania juga melihat Anisa.


" Apa dia tidak menyukaiku. Apa salahku kepadanya. Kenapa dia tidak menyukaiku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa kepadanya dan apa dia menyukai Rendy," batin Rania yang mempunyai feeling bahwa Anisa memang tidak menyukai dirinya.


" Rania!" tegur Rendy.


" Iya, kenapa?" tanya Rania.


" Makanlah, kenapa kamu diam saja?" tanya Rendy.


" Tidak apa-apa Rendy," jawab Rania.


" Kamu tidak memikirkan masalah itu kan?" tanya Rendy.


" Tidak. Bukannya polisi sudah mengurusnya. Jadi aku tidak memikirkannya," sahut Rania.


" Hmmm, ya sudah kamu sarapan," ucap Rendy. Rania mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun kembali menikmati sarapan mereka. Dan Rendy tampaknya selesai sarapan dan meminum air putih.


" Ma, Rendy harus Kerumah sakit," ucap Rendy yang pamit berangkat kerja.


" Iya kamu hati-hati ya," sahut Ratih.


" Aku boleh ikut?" tanya Rania tiba-tiba menoleh kearah Rendy. Yang pasti membuat Rendy bingung dan Anisa pasti sewot mendengarnya.


" Kamu mau ikut?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Aku bosan di rumah dan aku juga tidak bisa bekerja. Jadi aku rasa kalau aku ikut Kerumah sakit. Akan mengurangi rasa bosanku," ucap Rania.


" Ngapain sih nih anak ikut-ikutan segala. Memang dia anak kecil apa. Ikut-ikutan suaminya untuk kerja, dasar gatal," batin Anisa kesal.


" Ya sudah kalau kamu mau ikut," sahut Rendy tampak tidak masalah membawa istrinya.


" Serius boleh," sahut Rania kesenangan. Rendy mengangguk.


" Makasih," sahut Rania. Yang lainnya juga tersenyum mendengarnya.


" Ya jelas lah di masih ikut. Namanya juga istri kesayangan," sahut Nia yang menggoda kakaknya kembali.


" Nia, sudah," tegur Ratih. Nia hanya tertawa cengengesan.


" Rania memang pintar cari perhatian di depan Rendy dan juga keluarga ini," batin Anisa mulai tidak mood.


" Ya sudah mah, kalau begitu Rendy Kerumah sakit dulu," ucap Rendy pamit.


" Rania juga ma," sahut Rania menyusul suaminya mencium punggung tangan wanita baik itu.


" Iya, kalian hati-hati ya. Rendy kamu jagain Rania ya," ucap Ratih memberi saran.


" Iya mah, mama tenang aja," sahut Rendy.


" Ya sudah kami pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Rendy pamit dengan ucapan salamanya.


" Walaikum salam," sahut yang lainnya dengan serentak.


" Ishhhh, kenapa Rania jadi ikut sih, apa dia sengaja ingin berduaan dengan Rendy," batin Anisa kesal.


" Mah, Nia juga berangkat kekampus juga," sahut Nia yang juga sudah selesai sarapan.

__ADS_1


" Zahra juga sekalian," sahut Zahra yang juga pamit dan sama-sama pergi. Dan hanya menyapa Anisa saja sebentar.


Bersambung


__ADS_2