
Zahra dan Elang sudah memasuki kamar. Zahra masuk terlebih dahulu dan di susul Elang. Kepala Elang berkeliling melihat seisi kamar Zahra.
Mata Elang jatuh pada ranjang yang mana Elang mengingat jelas dia dan Zahra making love di sana. Membuat Elang menggoyangkan kepalanya dengan cepat dengan matanya terpejam yang berusaha untuk melupakan hal itu.
" Kalau kamu mau mandi, mandilah duluan," ucap Zahra membalikkan tubuhnya yang membuat Elang mendadak kaget.
" Kamu saja duluan, aku masih menunggu pakaianku yang di bawakan supir dari tempat tinggalku sebelumnya," sahut Elang.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Zahra. Elang hanya mengangguk, Zahra menuju lemari mengambil pakaian gantinya. Terasa sedikit canggung dengan keberadaan mereka berdua di dalam kamar.
" Huhhhhhhh," hembusan napas terdengar panjang setelah melihat Zahra kekamar mandi.
" Hmmm, apa Cindy sudah sampai Jerman," ucap Elang yang tiba-tiba teringat pacarnya dan membuatnya langsung mengambil handphonenya yang ingin mengabari Cindy. Elang dengan lincah mengetik pesan. Namun tiba-tiba di hapusnya.
" Tidak Elang, kamu sudah berjanji pada Tante Ratih tidak akan berhubungan dengan Cindy. Jika aku masih suami Zahra. Walaupun sekedar pesan Wa atau telpon itu sama saja aku membantah syarat Tante Ratih. Jangan seperti ini Elang. Kamu jangan menjadi pengecut yang mengingkari janjimu," batin Elang yang menyadarkan dirinya sendiri. Jika apa yang di lakukannya benar-benar salah.
Eghek Eghek Eghek Eghek Eghek Eghek.
Tiba-tiba Zahra mual-mual di kamar mandi membuat Elang langsung melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.
" Zahra dia mula-mula," batin Elang yang terus mendengar suara mual di dalam kamar mandi. Elang meletakkan ponselnya di atas tempat tidur dan menghampiri kamar mandi.
" Zahra, kamu kenapa?" tanya Elang dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Wajah Elang terlihat begitu cemas.
" Zahra kamu baik-baik saja?" tanya Elang lagi. Dia semakin panik dengan Zahra tidak berhenti mual-mual dan bahkan tidak menjawab pertanyaan Elang.
" Zahra aku masuk ya?" tanya Elang meminta izin dengan menekan kenopi pintu yang tidak di kunci.
Elang yang khawatir akhirnya memasuki kamar mandi. Walau tidak mendapat kata iya atau tidak dari Zahra. Diamnya Zahra adalah kata iya.
Kepala Elang masuk terlebih dahulu yang ingin melihat suasana di dalam. Zahra yang sudah membuka pakainnya sebelumnya dan sekarang memakai handuk mandi masih terus mual-mual di wastafel dan Elang yang semakin khawatir langsung memasuki kamar mandi.
Elang berdiri di belakang Zahra dan memijat-mijat belakang leher Zahra, agar muntahan Zahra lancar keluar.
__ADS_1
Eghek Eghek Eghek Eghek Eghek Eghek. Bantuan Elang memang sangat berfungsi. Muntahan itu keluar sangat banyak. Elang menghidupkan keran air di wastafel dan Zahra langsung mencuci mulutnya.
" Apa sudah lebih baik?" tanya Elang. Zahra mengangguk mengangkat kepalanya melihat Elang dari cermin. Zahra membalikkan tubuhnya menghadap Elang.
" Wajah kamu pucat, apa kamu belum makan sejak tadi?" tanya Elang yang bisa melihat Zahra tidak baik-baik saja. Zahra mengangguk memang benar dia belum makan sama sekali.
" Kamu makan dulu ya," ucap Elang lembut. Namun Zahra seakan ingin bicara untuk menolak, " jangan membantah," sahut Elang yang tidak mengijinkan Zahra bicara.
" Aku akan ambil nasi kamu," sahut Elang yang langsung pergi dari hadapan Zahra. Zahra tidak bisa menolak. Atau melakukan apa lagi. Elang benar-benar begitu tegas kepadanya.
***********
Sementara Anisa masih menarik tangan Adam yang sampai depan pagar rumah.
" Kapan kamu akan melepas tanganku," sahut Adam membuat langkah Anisa berhenti.
Anisa melotot dan membalikkan tubuhnya, dia sepertinya baru menyadari jika sedari tadi memegang tangan Adam. Mata Anisa sampai mau keluar dengan melihat tangan Adam di pegangnya. Namun Agam menaikkan 1 alisnya melihat Anisa.
" Ishhh, amit-amit," sahut Anisa yang langsung menjatuhkan tangan Agam dan seolah jijik dengan Agam.
" Cukup, jangan bicara lagi," sahut Anisa. Agam tersentak diam.
" He, Pria gila, ngapain kamu datang kemari coba," ucap Anisa yang marah-marah.
" Bukannya tadi aku sudah mengatakan tujuanku kemari untuk menemuimu," sahut Agam dengan santai.
" Aku tidak perlu dengan tujuanmu. Yang jelas aku denganmu tidak urusan apa-apa dan seharusnya kamu tidak punya hak untuk datang kemari dan mengaku-ngaku mengenalku. Aku tidak ingin berurusan denganmu. Cukup kemarin kesialanku dengan bertemu denganmu. Jadi aku peringatkan. Jangan berani-beraninya datang kemari lagi dan apa lagi hanya untuk menemuiku," ucap Anisa marah-marah dengan penuh penegasan dan penekanan pada Agam.
" Ada apa denganmu. Tadi kamu terlihat manis saat di depan keluargamu dan sekarang, kenapa kamu memarahiku?
" Itu karena kamu sangat lancang datang kerumah ini. Aku dan kamu tidak hubungan apa-apa. Jadi jangan pernah menggangguku sedikit saja," ucap Anisa dengan menunjuk tepat di wajah Agam.
" Anisa, kamu jangan marah-marah terus. Aku niat baik datang kemari. Aku hanya ingin menyambung tali silaturahmi," sahut Agam.
__ADS_1
" Aku tidak peduli!" teriak Anisa yang lama-kelamaan ingin menerkam Agam.
" Jangan berteriak-teriak, nanti yang lain akan berpikiran aneh-aneh," sahut Agam. Anisa merapatkan giginya geram dengan Pria yang selalu santai ini. Sementara dirinya sudah begitu panik.
Anisa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang ingin menenangkan dirinya sementara.
" Apa yang kamu inginkan?" tanya Anisa dengan menekan suaranya. Adam tersenyum mendengarnya.
" Nah, seperti itu dong, kalau bicara pelankan kamu terlihat sangat cantik," sahut Agam menggombal Anisa.
" Jangan banyak cerita katakan apa yang kamu inginkan," sahut Anisa.
" Anisa, aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin berteman denganmu dan sepertinya keluargamu orang-orangnya asyik-asyik. Jadi aku hanya ingin melakukan pendekatan," sahut Agam yang jujur apa adanya. Jelas jawaban itu membuat Anisa naik pitam.
" Tapi aku tidak mau di dekati olehmu. Kita tidak hubungan apa-apa dan lupakan dengan kejadian kemarin," sahut Anisa.
" Hmmm, mana mungkin aku melupakannya secepat itu. Kau aneh sekali. Aku saja masih terbayang-bayang saat membuka bajumu dan meliahat..."
" Cukup.....! bentak Anisa.
" Pergi kamu dari sini, sebelum aku telpon polisi!" usir Anisa dengan mengancam.
" Kenapa bawa-bawa polisi," sahut Agam heran.
" Aku bilang pergi!" teriak Anisa menunjuk pintu pagar. Agam tampaknya tidak mau. Namun Anisa langsung mendorong paksa Agam sampai keluar kamar dan usaha Anisa tidak sia-sia. Agam berhasil keluar pagar dan Anisa langsung menutup pagar.
" Awas kamu jika berani datang lagi," ucap Anisa.
" Aku pasti datang Anisa. Aku tidak mungkin melepasmu," sahut Agam.
" Terserah apa katamu," ucap Anisa yang langsung pergi yang tidak mau mencari gara-gara dengan Agam.
" Mau mengusirku atau tidak aku pasti akan tetap menemuimu," batin Agam menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Bersambung