
1 bulan kemudian.
Alhamdulillah Rania masih di berikan kesehatan sampai sekarang. Bahkan Rania sudah keluar dari rumah sakit karena memang dia memang tidak pernah menentang apa kata suaminya agar dia bisa sembuh dengan cepat.
Usia kandungannya sudah memasuki usia 7 bulan di mana hari ini Rania sedang mengadakan acara 7 bulanan bersama keluarganya yang lengkap dengan adat yang begitu kental.
Rania begitu cantik dengan pakaian tertutupnya dari atas sampai bawah yang tidak lupa dengan melati yang ada di kepalanya dan di bagian dadanya untuk melengkapi proses siraman hari ini.
Dia begitu bersyukur dengan kesempatan yang ada yang hari-harinya masih terlewatkan dalam kehamilannya yang bisa mendapatkan banyak proses dari hari ke hari bersama janin yang masih bertahan di kandungannya.
Dinginnya air yang di siramkan suaminya itu membuat tubuhnya sedikit menggigil. Namun wajahnya terus tersenyum. Selesai memandikan istrinya Rendy mencium kening istrinya, mencium pipinya kiri dan kanan dan pasti tidak lupa mencium perut sang istri yang sudah menonjol dengan ucapan bismillah dan pasti ingin berdoa agar bayinya di berikan keselamatan.
Setelah Rendy selesai papanya Rudi pun melakukan hal yang sama dengan Rendy memandikan putrinya dengan satu centong.
" Selamat ya sayang," ucap Rudi mencium kening Rania. Rania mengangguk yang sangat bahagia papanya datang di hari bahagianya.
Ibu kesayangannya mertuanya pun melakukan hal yang sama. Hari itu mungkin bahagia. Tetapi Ratih hanya terharu dan pasti bersyukur dengan kesempatan yang di berikan Alla untuk kebahagian menantunya yang mana menantunya merasakan apa yang di inginkannya selama ini.
Selesai siraman, mereka juga mengabadikan foto bersama dengan Nia, Rudi, Oma, Ratih, Willo dan ke-2 anaknya dan pasti Rendy saat ini yang menggendong istrinya ala bridal style.
Walau hamil 7 bulan. Tetapi Rania begitu ringan karena memang berat badannya terus berkurang, walau dia banyak makan. Banyak foto-foto yang di abadikan dengan keluarga yang penuh kebahagian itu dan pasti tidak lupa dengan Zahra dan Elang bersama bintang yang juga baru datang dan ikut bergabung saat acara foto-foto belum selesai.
Acara di lanjutkan dengan adat seperti pada umumnya di mana sekarang Rania dan Rendy yang sedang berjualan rujak. Rania banyak mendapatkan ucapan selamat dia untuk dirinya dan bayinya.
Dia memang sangat bahagia di hari 7 bulanan itu yang penuh dengan kebahagian dan kenikmatan itu. Yang pasti banyak momen-momen yang tidak akan pernah di lewatkan Rania bersama keluarga yang memberinya kebahagian yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
************
__ADS_1
Hari berganti, Minggu di lalu dan bulan telah kembali di lewatkan.
Rania yang berada di dalam kamar yang bernuansa pink kamar yang tidak terlalu besar namun begitu cantik dan di lihat dari isi kamar itu adalah kamar bayi yang sudah di siapkan Rania dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Rania sekarang sedang memberi silang pada kalender di tanggal sembilan. Lalu menghitung dengan jarinya.
" 28 hari lagi. Kamu akan lahir sayang," ucap Rania mengusap-usap perutnya. Ya kesehatannya memang sangat membaik. Bahkan semenjak pulang dari rumah sakit Rania tidak pernah drop lagi. Hanya nyeri-nyeri sedikit yang memang itu biasa terjadi pada ibu-ibu di usia kandungan yang sudah tua.
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka yang mana suaminya datang dengan membawa segelas susu dan piring kecil yang berisi kue kesukaan suaminya yang juga menjadi favoritnya. Rendy melangkah mendekati istrinya dan langsung memberikan istrinya susu tersebut dan Rania duduk di atas tempat tidur lalu meminumnya.
Rendy menyusul duduk di samping istrinya dan memberikan istrinya juga kue tersebut yang pasti dengan di suapi.
" Enak?" tanya Rendy. Rania mengangguk. Rendy mengusap-usap rambut Rania dan mencium kening Rania dengan lembut.
" Aku memang sengaja sayang banyak-banyak menghabiskan waktu di kamar anak kita. Biar nanti kalau anak kita menangis dia itu seperti melihatku. Karena dia aku sering berada di sini. Jadi dia tidak akan kesepian dan pasti tidak akan rewel," ucap Rania yang terus saja bicara seolah-olah dia mau pergi.
" Iya deh, kamu yang paling tau apa yang terbaik untuknya," sahut Rendy.
" Tidak bisa begitu sayang. Kamu harus tau apa yang terbaik untuknya. Dan kamu juga harus belajar banyak. Supaya kamu tidak kewalahan nantinya," ucap Rania. Rendy hanya menganggukkan saja kepalanya. Terserah istrinya mau bicara apa.
" Oh iya sayang," sahut Rania.
" Ada apa?" tanya Rendy.
" Aku sudah menyiapkan nama untuk putri kita," ucap Rania.
__ADS_1
" Nama!" sahut Rendy. Rania mengangguk.
" Memang apa namanya?" tanya Rendy.
" Tsamara Asyifa," jawab Rania.
" Cantik apa artinya," sahut Rendy.
" Artinya anak perempuan yang bermanfaat untuk sesamanya dan penawar hati untuk orang tuanya," jawab Rania. Rendy mengangguk-angguk saja.
" Jadi dia akan jadi penawar hati untuk ayahnya yang jika kesepian karena merindukan ibunya. Jadi ayahnya tidak akan pernah kesepian sama sekali," ucap Rania menatap suaminya dalam-dalam.
Rendy tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca mendengar kata-kata istrinya.
" Memang kenapa harus kesepian. Bukannya kamu berjanji untuk kita membesarkan anak kit," sahut Rendy mengusap-usap rambut Rania.
" Memang alangkah indahnya jika hal itu terjadi. Tapi sayang..." Rania memegang kedua tangan suaminya. Rendy merasakan tangan Rania begitu dingin, " maafkan aku. Aku sudah tidak bisa meminta terlalu banyak lagi sama Allah. Dia selama ini mengabulkan doaku. Memberiku kesehatan agar aku bisa melaksanakan banyak hal dalam kehamilanku , kita foto-foto bersama, menghabiskan banyak waktu berdua, foto-foto dalam perutku besar, merayakan 7 bulanan dan bahkan memberiku kesempatan untuk mempersiapkan semua ini sampai sekarang. Dia memberiku kenikmatan tanpa mengeluh sakit. Aku sudah merasa cukup dengan semua ini. Jadi aku minta maaf. Aku tidak bisa meminta lagi kepadanya untuk tetap bersama kamu," ucap Rania air matanya yang menetes dan Rendy langsung mengusapnya dengan lembut.
" Apa itu artinya kamu akan pergi?" tanya Rendy begitu sesak dadanya mengeluarkan kata-kata itu. Rania tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak akan pergi. Aku tetap berada di hati kamu," ucap Rania meletakkan tangannya di dada suaminya.
" Sayang aku hanya berdoa sekarang ini agar di berikan kelancaran untuk kelahiran anak kita. Aku takut jika meminta lebih nanti Allah marah," ucap Rania.
" Maafkan aku ya. Percayalah jodoh itu bukan hanya di dunia tapi di sana. Aku akan tetap bersamamu dan akan menjadi bidadari di surga untukmu," ucap Rania. Rendy yang pasrah hanya mengangguk dan memeluk istrinya dengan erat yang juga membuat air matanya harus jatuh.
Bersambung
__ADS_1