
Ratih harus menyampaikan pembicaraan dengan Elang tadi pagi bersama Rendy 4 mata. Karena memang hanya Rendy temannya bicara dan pasti keputusan Rendy juga sangat di butuhkan.
" Mama ada apa memanggil Rendy kemari?" tanya Rendy yang duduk di depan mamanya di mana mereka berada di kamar Ratih dan duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu.
" Rendy mama ingin membahas masalah Elang dan juga Zahra," ucap Ratih. Rendy mengkerutkan dahinya dan melihat serius mamanya.
" Masalah mereka. Ada apa lagi mah dengan mereka. Bukannya masalah mereka sudah selesai?" sahut Rendy yang penuh kebingungan.
" Begini Rendy, kemarin Elang meminta izin untuk menikahi Zahra. Tetapi hanya sampai anak Zahra lahir," sahut Ratih langsung tanpa basa-basi. Hal itu membuat Rendy kaget mendengarnya.
" Maksud mama mereka akan berpisah setelah bayi Zahra lahir?" tanya Rendy dengan menekan suaranya.
" Iya Rendy," jawab Ratih.
" Lalu untuk apa menikah, kalau pada akhirnya hanya akan berpisah, bahkan berpisah di rencanakan. Mah itu sangat tidak masuk akal," sahut Rendy yang tampaknya menolak keputusan itu.
" Rendy, mama setuju dengan semua ini karena melihat dari beberapa sisi. Yang pertama Elang harus bertanggung jawab dengan Zahra. Di mana Elang mengetahui sendiri masalah kandungan Zahra. Elang menyadari tidak bisa membiarkan Zahra mengalami semuanya. Namun dia juga tidak mungkin 24 jam di sisi Zahra tanpa ikatan pernikahan," ucap Ratih.
" Kalau dia menyadari itu. Lalu kenapa harus menikah sampai bayinya lahir," sahut Rendy.
" Dia juga mempunyai wanita yang mungkin di cintainya dan mungkin masih di pertahankannya," sahut Ratih.
" Mah, bukannya ini sama saja. Dengan rencana awal Elang, menikah dengan Zahra. Tetapi masih berhubungan dengan Cindy. Bukankah sama saja ini seperti awal. Hanya Zahra yang akan menderita," ucap Rendy.
" Itu syarat yang mama minta kepadanya. Jika Elang ingin menikah dengan Zahra dan walau hanya sampai bayi bayi itu lahir. Mama memintanya untuk tidak menjalin hubungan dengan kekasihnya," sahut Ratih.
" Apa mama bisa mempercayainya," sahut Rendy ragu.
" Mama mempercayainya Rendy dan jika dia melanggarnya kita punya wewenang untuk menuntutnya yang untuk menuntutnya. Rendy mereka berdua tidak memiliki perasaan apa-apa dan bukankah memang sebaiknya mereka menikah untuk menjadi mereka sama-sama dewa dan saling memahami. Seperti yang mama katakan kepada kamu di awal tadi. Mama menyetujuinya karena melihat sisi baiknya. Di mana Zahra dan Elang pasti bisa seperti kamu dan Rania," ucap Ratih.
" Maksud mama apa?" tanya Rendy heran.
" Kamu dan Rania dulu juga saat menikah tanpa ada perasaan dan seiring berjalannya waktu. Kalian bahkan menjadi 2 orang yang tidak terpisahkan. Kalian saling mencintai satu sama lain dan ini juga yang membuat mama yakin dengan Elang," ucap Ratih dengan penuh penjelasannya.
" Rendy, mari kita berikan mereka kesempatan," ucap Ratih dengan memegang tangan Rendy. Rendy tampak berpikir sejenak dan menganggukkan matanya.
" Aku berharap apa yang mama harapkan memang nyata. Aku berharap semuanya bisa seperti itu," sahut Rendy yang akhirnya setuju. Ratih mengangguk dengan tersenyum yang penuh dengan harapan.
*********
__ADS_1
Setelah bicara dengan mamanya. Rendy memasuki kamar dan melihat Rania duduk di kursi kerjanya.
" Mama ingin bicara apa?" tanya Rania. Rendy menghampirinya dan memeluknya dari belakang dengan mencium lembut pipi Rania.
" Hmmm, Elang ingin menikah dengan Zahra," jawab Rendy, Rania terkejut melihatnya dan menengok kearah suaminya.
" Kamu serius?" tanya Rania tidak percaya. Randy mengangguk kan kepalanya. Lalu mencium kening Rania yang sudah ada di hadapannya itu. Namun pelukannya semakin erat sampai istrinya susah bergerak.
" Elang menikah dengan Zahra. Tetapi masih tetap berhubungan dengan Cindy," ucap Rania heran.
" Tidak Rania, mereka tidak akan berhubungan lagi. Itu syarat yang di ajukan mama," jawab Rendy.
" Lalu bagaimana Zahra, Zahra setuju dengan pernikahan itu?" tanya Rania.
" Hmmm, mama masih akan bicara kepadanya. Elang juga sudah menyampaikan kepadanya dan katanya Zahra belum bisa memutuskan apa-apa dan nanti mama akan bicara kembali kepadanya," jawab Rendy.
" Kenapa mama setuju dengan hal itu. Bukannya mama biasanya sangat teliti untuk hal semacam itu?" tanya Rania bingung. Randy menatap dalam-dalam istrinya itu dengan tersenyum lebar.
" Ternyata mama melihat tentang kisah kita. Mama bilang kita juga dulu menikah tanpa cinta. Aku yang tiba-tiba membutuhkan menikah hanya karena bermodalkan yakin. Tetapi pada akhirnya seiring berjalannya waktu kita saling mencintai," ucap Rendy.
" Tidak, tidak seperti itu," sahut Rania membantah.
" Bukannya kamu bilang dulu, kamu sudah mengenalku yang berati cinta itu ada bukan setelah kita menikah. Tetapi memang karena kamu sudah mencintaiku terlebih dahulu. Hanya saja kamu tidak berani mengungkapkannya," ucap Rania dengan matanya menyipit membuat Rendy mendengus tersenyum dengan mengacak-acak pucuk kepala Rania.
" Sok tau kamu," sahut Rendy.
" Emang iya, ishhh nggak mau jujur," sahut Rania.
" Terserah kamu deh," sahut Rendy.
" Ya sudah sekarang lepasin, aku nggak bisa gerak, kalau kamu peluk kuat seperti ini," keluh Rania.
" Aku tidak mau," sahut Rendy menggoda istrinya.
" Isss, kamu ini, aku harus melanjutkan pekerjaan ku," sahut Rania dengan menekan suaranya. Rendy tampaknya tidak peduli dan malah semakin memeluk erat dan ingin mencium Rania. Namun Rania memundurkan wajahnya yang mana ke-2nya sama-sama saling bercanda dan menggoda satu sama lain.
***********
Elang dan Cindy sedang makan di salah satu Restaurant. Mereka berdua bahkan sudah menikmati makanan yang mereka pesan tadi.
__ADS_1
" Cindy aku bicara sesuatu sama kamu," ucap Elang di tengah-tengah makannya.
" Bicara apa?" tanya Cindy heran.
" Begini aku..."
" Aku juga mau bicara sama kamu," sahut Cindy tiba-tiba yang memotong pembicaraan Elang.
" Bicara, bicara apa?" tanya Elang heran.
" Hmmm, Elang aku akan Jerman untuk melanjutkan kuliah kedokteran untuk mengambil specialis," sahut Cindy yang pertama menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya.
" Cindy akan ke Luar Negri," batin Elang.
" Maaf ya Elang, kamu pasti kaget mendengarnya. Aku memang baru sempat membicarakan ini kepadamu. Tapi ini memang mendadak," ucap Cindy dengan wajahnya yang merasa bersalah.
" Berapa lama?" tanya Elang.
" Hmmm, setahunan lah, kita jadi LDR deh," sahut Cindy.
" Ini sungguh kebetulan. Cindy ke Luar Negri. Itu artinya aku tidak perlu mencari alasan pada Cindy untuk tidak bertemu selama aku menikah dengan Zahra," batin Elang.
" Maaf ya Elang," sahut Cindy.
" Kenapa harus minta maaf, kamu kan pergi untuk bekerja. Jadi apa yang harus di maafkan," sahut Elang.
" Jadi kamu tidak marah?" tanya Cindy. Elang menggeleng kan kepalanya.
" Kamu juga tidak apa-apa. Kalau kita LDR?" tanya Cindy lagi. Elang menggeleng lagi.
" Makasih ya, kamu sudah mengerti aku," ucap Cindy Elang mengangguk tersenyum.
Jelas Elang tidak banyak komplen atas apa yang terjadi. Karena memang Elang juga menggunakan kesempatan itu.
" Oh, iya kamu tadi mau bicara apa?" tanya Cindy.
" Tidak jadi," sahut Elang.
" Ohhh, begitu," sahut Cindy dengan santai.
__ADS_1
Bersambung