Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 38 keputusan yang tepat.


__ADS_3

Sarapan itu berlanjut dan memang terlihat Anisa yang tampaknya risih dengan kehadiran Rania yang sama sekali tidak di ketahuinya. Kenapa wanita itu ada di rumah itu dan sekarang dengan makan bersama.


" Anisa kamu kenapa diam saja, ayo di makan, jangan di anggurin makanannya," sahut Ratih yang ternyata memperhatikan Anisa.


" Hmmm, iya Tante," sahut Anisa yang masih melihat ke arah Rania.


" Hmmm, kenapa calon istri Gilang ada di rumah ini?" tanya Anisa yang mulutnya kelihatan gatal jika tidak bertanya hal itu membuat Rania melihat ke arah Anisa. Sementara yang lain juga bingung harus menjawab apa. Karena tidak mungkin menceritakan semuanya dengan detail. Karena jelas semuanya adalah masalah pribadi dari Rania.


" Memang ada yang salah ya kak. Kalau kak Rania datang kerumah kita. Dia hanya ingin bertamu saja. Jadi jelas tidak ada yang salah bukan," sahut Nia yang mengambil alih untuk bicara. Mendengar jawaban Nia yang tampak ketus membuat Anisa seakan tertampar yang secara tidak langsung mengatakan itu bukan urusannya.


" Siapapun boleh bertamu Kerumah ini ada dan tidak ada alasannya," lanjut Nia menegaskan.


" Kenapa Nia berbicara seperti itu. Dia seakan tidak menyukai pertanyaan ku," batin Anisa.


" Apa yang kamu bicarakan Nia. Aku hanya bertanya. Kenapa menjawab seperti itu," sahut Anisa yang tampaknya tersinggung dengan ucapan Anisa.


" Sudahlah apa yang kalian bahas di meja makan. Ayo makan. Jika bicara terus maka makanannya tidak akan habis," sahut Ratih mencoba menjadi penengah.


Anisa dan Nia pun diam dan tidak melanjutkan perdebatan mereka lagi. Dan melanjutkan makan. Walau Anisa masih risih dan penasaran dengan kehadiran Rania.


Rendy terlihat santai saat sarapan dan sarapan di piringnya juga sudah habis. Rendy mengetuk air putih sampai habis.


" Ya sudah mah, Rendy berangkat dulu, soalnya sudah siang," sahut Rendy berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri sang mama untuk berpamitan.


" Kamu tidak mengantar Rania?" tanya Ratih saat Rendy mencium punggung tangannya.


" Tidak usah Tante, aku di antar sama Zahra saja. Sekalian kami kekantor bersama," sahut Rania.


" Kamu akan langsung bekerja dan tidak akan pulang dulu," sahut Ratih tampaknya kaget.


" Iya Tante," jawab Rania.


" Ya ampun Rania, kamu jangan langsung bekerja. Kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja. Kamu seharusnya istirahat dulu. Kamu pulang tenangkan diri kamu jangan langsung bekerja," sahut Ratih memberikan saran terlihat sangat khawatir dengan Rania.


Anisa melihat Ratih tampak kesal dengan perhatian Ratih yang menurutnya berlebihan.


" Kenapa Tante Ratih sepeduli itu kepada Rania. Wajahnya tampak sangat mencemaskan Rania. Dia tidak biasanya sangat perhatian berlebihan seperti itu," batin Anisa heran dengan sikap Ratih.


" Tante, tidak usah heran Rania mem"ang dasarnya anak seperti itu," sahut Zahra yang sudah sangat mengenal Rania.


" Tetapi Rania apapun itu. Kamu harus istirahat dulu, kamu harus tenangkan pikiran kamu agar kamu bisa mendapat petunjuk yang terbaik," ucap Ratih yang memberikan saran. Rendy yang di samping mamanya hanya diam dan melihat Rania yang sangat jelas terlihat bingung dan kurang fokus.


" Ehmmm, ya sudah ma, Rendy berangkat dulu. Rania akan bersama Zahra," sahut Rendy kembali pamitan.


" Iya kamu hati-hati ya," sahut Ratih.


Rendy mengangguk dan mencium kening mamanya seperti biasanya. Kemanisan itu membuat Rania seakan tersentuh. Dia mungkin pernah berpamitan kepada orang tuanya. Mau kemanapun. Tetapi Rendy terlihat begitu manis dan sangat menyayangi mama dan juga adiknya yang di perlakukannya sama dengan seperti mamanya.


" Assalamualaikum," ucap Rendy berpamitan.


" Walaikum salam," sahut semuanya serentak kecuali Rania yang menjawab di dalam hatinya.


" Hati-hati Rendy," sahut Anisa caper. Tapi Rendy tidak menoleh lagi dan melanjutkan langkahnya antara mendengar atau tidak panggilan Anisa.


" Ehmmm, kalau begitu, kamu juga seperti harus pergi Tante," sahut Zahra yang juga sudah menyelesaikan sarapannya.


" Iya kalian hati-hati ya. Rania kamu pulang ya. Istirahat dulu baru bekerja," sahut Ratih yang kembali memberikan pesan pada Rania.


" Iya Tante," sahut Rania tampaknya menurut.


Zahra berdiri menghampiri Ratih yang ingin berpamitan. Rania juga mengikut dan Ratih juga berdiri dari tempat duduknya.


" Aku antar Rania dulu Tante," ucap Zahra mencium punggung tangan Ratih.

__ADS_1


" Iya, kamu antar dia dengan baik," sahut Ratih.


Zahra hanya mengangguk saja. Dan Rania pun mencium punggung tangan Ratih. Dan berdiri tegak di depan Ratih. Ratih memegang pipi Rania lalu tersenyum dan memeluk Rania.


" Tidak ada masalah yang tidak selesai. Tante berdoa. Semoga kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat," ucap Ratih yang memeluk erat dan Rania merasakan ketenangan di dalam pelukan yang tidak pernah di dapatkannya itu.


" Kamu wanita yang kuat. Percayalah Allah tidak akan menguji hambanya di batas luar kemampuannya dan kamu adalah perempuan pilihan yang di pilih Allah untuk menjanjikan surga pada kamu," ucap Ratih yang terus memeluk Rania memberikan Rania arahan. Membuat hati Rania begitu tenang dan merasakan keteduhan.


Kata-kata wanita yang benar-benar memanusiakannya mampu membuat air matanya menetes.


" Terima kasih Tante. Terima kasih untuk semuanya," sahut Rania dengan suara seraknya.


" Tante tidak melakukan apa-apa. Kamu wanita yang baik dan percayalah hikmah terbesar dari semua ini adalah kebahagianmu yang menunggumu di depan sana," ucap Ratih melepas pelukan itu dan mengusap air mata Rania.


Nia dan Zahra tersenyum mendengarnya. Sementara Anisa tampaknya kesal dengan apa yang di lihatnya. Kedekatan Ratih dan Rania membuat rasa panas di dalam sana yang ingin meledup.


" Kenapa mereka begitu dekat. Apa yang sebenarnya terjadi dan wanita itu kenapa dia menangis," batin Anisa yang terus penasaran.


" Sudah jangan menangis lagi. Menangislah di depan Allah. Memohon kepadanya. Dan dia akan memberikan jalan yang terbaik, dan masalah yang kamu hadapi akan selesai, ucap Ratih memberikan saran.


" Iya Tante. Terima kasih atas dukungan Tante, masukan Tante. Terima kasih untuk beberapa jam yang Tante berikan kepada Rania. Rania merasa sangat tenang sekarang," ucap Rania.


" Sama-sama," sahut Ratih.


" Kalau begitu Rania pamit dulu. Sekali lagi terima kasih," ucap Rania. Ratih mengangguk. Rania melihat ke arah Nia.


" Nia kakak pulang dulu," ucap Rania pamitan.


" Iya kak, makasih sudah berkunjung ketempat Nia. Kapan-kapan kakak mampir lagi ya," ucap Nia dengan tersenyum.


" Iya, pasti. Kakak akan mampir lagi," sahut Rania.


" Ayo Zahra!" ajak Rania. Zahra mengangguk.


" Walaikum salam," sahut Ratih dan Nia serentak. Namun Anisa tampaknya tidak Sudi menjawab salam itu.


" Ya Allah semoga semuanya berjalan dengan lancar," batin Ratih dengan penuh harapan.


" Kenapa aku merasa tidak di anggap di sini. Mereka fokus pada Rania padahal aku ada di sini. Apa sebenarnya yang ada di wanita itu sampai-sampai mereka begitu perhatian kepadanya dan aku tidak di anggap ada di sini," batin Anisa Yanga tampak kesal.


**********


Zahra dan Rania berada di dalam mobil. Zahra menyetir mobil sementara Rania duduk di sebelahnya dengan menyandarkan tubuh Rania di jok mobil.


Hati dan pemikirannya sudah sedikit tenang. Walau dia sesuangguhnya tidak bisa tenang karena pasti ada-ada lagi masalah setelah ini.


" Zahra!" tegur Rania dengan suara pelannya.


" Hmm, iya kenapa?" tanya Zahra menoleh ke arah Rania.


" Kamu sudah lama tinggal bersama Tante Ratih?" tanya Rania.


" Baru sekitar 4 tahunan sih. Selama ini aku tinggal di Jakarta sendirian. Tinggal di rumah sendiri tanpa ada siapa-siapa. Kamu kan tau sendiri orang tuaku sudah tiada. Lalu karena ada insiden yang terjadi 4 tahun lalu. Jadi Tante Ratih menyuruhku tinggal bersama mereka. Dia mengatakan. Dari pada dia tidak tidur karena memikirkan ku terus lebih baik aku tinggal bersamanya dan dia bisa menjagaku dan mengawasiku," jawab Zahra dengan penjelasan yang lengkap.


" Kamu sepupu seperti apa dengan Rendy?" tanya Rania.


" Mamaku adalah adik Tante Ratih," jawab Zahra.


" Pasti kamu sangat bahagia tinggal bersama rente Ratih," sahut Rania. Zahra menoleh sebentar ke arah Rania.


" Hmm, kamu benar, aku memang sangat bahagia. Tante Ratih orangnya sangat baik. Aku sudah menganggapnya sebagai seorang ibu. Kalau aku salah dia akan menegurku, kalau aku sedih dia akan selalu ada. Dia tidak pernah membedakan ku dengan Nia atau pun Rendy. Jadi aku merasa tidak pernah kehilangan sosok ibu. Walau sampai kapanpun ibuku tidak bisa tergantikan siapapun. Tetapi Tante Ratih sudah memberikan aku pengganti sosok yang luar biasa yang membuatku tidak pernah kesepian," jelas Zahra sambil terus menyetir dengan raut wajahnya yang sangat bahagia menceritakan Ratih kepada Rania.


" Tante Ratih dan keluarganya sudah menganggapku anak sendiri. Sejak orang tuaku meninggal mereka yang mengawasiku maupun aku tinggal bersama mereka atau tidak," lanjut Zahra lagi.

__ADS_1


" Aku juga melihat, Tante Ratih sangat baik. Sangat beruntung jika orang-orang bisa berada di sisinya dan dekat dengannya," sahut Rania yang tampak iri dengan Zahra.


" Kamu bisa aja Rania. Di mana-mana semua ibu itu sama. Karena ibu dan ayah akan selalu mencintai anakannya. Jadi semua orang juga beruntung. Termasuk kamu yang pasti jauh lebih beruntung. Karena ke- orang tuamu yang masih hidup," ucap Zahra. Rania mendengus tersenyum mendengarnya.


" Kamu tidak tau saja bagaiman keluarga ku. Keluargaku sangat berantakan. Aku mempunyai keluarga. Tetapi berasa tidak mempunyai keluarga," batin Rania yang tampak sedih. Orang-orang memang hanya melihat dari luarnya saja. Tanpa tau apa yang di rasakannya yang sebenarnya.


" Sudah sampai," sahut Zahra yang sudah memberhentikan mobilnya di depan rumah Rania. Rania tampak melamun sampai tidak menyadari hal itu.


" Rania!" tegur Zahra.


" Hmm, iya," sahut Rania sedikit bengong. " Oh, ternyata sudah sampai," sahut Rania. Zahra mengangguk-angguk.


" Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih untuk tumpangannya dan maaf sudah merepotkan mu," sahut Rania dengan lembut.


" Sudahlah, kamu ini seperti sama siapa aja pakai- pakai makasih segala," sahut Zahra.


" Ya sudah masuk dulu," ucap Rania pamit lagi. Zahra mengangguk dan Rania pun turun dari mobil.


" Hati-hati," ucap Rania. Zahra mengangguk dan langsung melajukan mobilnya. Dia memang harus secepatnya pergi. Karena memang masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya.


Rania memang mengurungkan niatnya untuk kekantor. Setelah mendapat arahan dari Ratih. Apa yang di katakan Ratih memang benar. Dia harus beristirahat untuk memfokuskan pikirannya.


Rania menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan dan melangkah memasuki rumahnya.


" Rania!" panggilan suara pria membuat langkah Rania terhenti dan perlahan membalikkan tubuhnya dan melihat Pria yang memanggilnya yang tak lain adalah Gilang yang langsung menghampirinya dan wajah Rania seketika berubah menjadi marah dengan Gilang yang berada di hadapannya.


" Ngapain kamu di sini?" tanya Rania dengan suaranya yang sedikit mengeras yang jelas menunjukkan kemarahan kepada pria itu.


" Rania, dengarkan aku dulu," sahut Gilang memegang tangan Rania. Namun langsung di tepis Rania.


" Jangan menyentuhku. Aku tidak Sudi di sentuh Pria menjijikan seperti kamu," tegas Rania menunjuk tepat di wajah Gilang.


" Oke, aku tidak akan menyentuhmu. Aku datang menemui ingin menjelaskan semuanya bahwa apa yang kamu lihat..."


" Hanya salah paham," sahut Rania yang langsung memotong kata-kata Gilang, " Kamu pikir aku buta Gilang. Aku melihat sendiri perbuatan mu yang sangat menjijikkan itu. Aku melihatmu bersama dengan Monica di dalam kamar, di atas ranjang, aku melihat semua perbuatan mu dan kau masih mengatakan jika aku hanya salah paham," teriak Rania dengan suara menggelegarnya.


" Tidak Rania, semua tidak seperti itu. Aku tidak tau kenapa semuanya bisa seperti itu. Aku tidak tau Rania kenapa aku bisa ada di sana dan aku juga tidak mengenal Monica. Aku hanya merasa di jebak Rania," sahut Gilang yang mencari pembelaan dengan beribu penjelasannya yang pasti tidak masuk akal untuk Rania.


" Aku tidak bodoh Gilang kamu jelas baik-baik saja dan aku sudah melihat semua perbuatan mu selama ini. Di mana selama ini kamu bermain di belakangku. Kau mengira kamu pria yang baik. Tetapi ternyata apa. Kamu sangat jahat kamu sangat hina, kamu berselingkuh dengan rekan kerja ku sendiri. Kamu brengsek. Kamu benar-benar biadap," umpat Rania mengeluarkan semua kemarahannya kepada Gilang.


" Tidak Rania, aku tidak seperti itu. Aku mohon Rania jangan marah. Kita akan menikah. Jadi jangan marah-marah. Karena apa yang kamu lihat tidak dengan apa yang kamu pikirkan," ucap Gilang masih berusaha membujuk Rania.


" Apa kamu bilang menikah. Kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan aku akan menikah denganmu. Aku tidak bodoh pernikahan yang sudah kamu buat dengan semua kata-kata manis mu sudah berantakan. Aku tidak Sudi menikah dengan pria seperti mu," sahut Rania menegaskan yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahan itu.


" Apa maksud kamu Rania. Apa yang kamu katakan Rania?" tanya Gilang dengan wajah kagetnya.


" Aku rasa kamu tidak tuli, aku tidak mau menikah denganmu. Kamu dan Monica, terserah mau melakukan apa. Aku tidak peduli. Pernikahan itu sudah tidak ada. Aku tidak akan menikah dengan mu brengsek," tegas Rania menekankan sekali lagi.


" Tidak Rania, kamu tidak bisa membatalkan pernikahan kita begitu saja. Apa kamu lupa persiapannya sudah hampir selesai. Dan jika kamu membatalkannya. Kamu harus memikirkan keluarga kamu dan keluargaku. Juga kamu yang akan menanggung malu," sahut Gilang memperingatkan Rania.


" Kamu dengar ya Gilang. Pernikahan kita batal itu akibat perbuatan kamu dan kamu bisa mengatakan kepada keluarga mu alasan aku membatalkan pernikahan kita. Karena jelas masalah datang pada kamu dan untuk diriku sendiri. Aku lebih baik malu. Mendapat hinaan dan gunjingan di bandingkan harus menikah denganmu," tegas Rania yang berbicara to the point.


Mendengar keputusan Rania jelas membuat Rendy kaget yang berarti rencananya dan Monica akan berantakan.


" Jadi aku peringatkan kepadamu. Jangan pernah menggangguku dan muncul di hadapan ku. Hubungan kita sudah berakhir. Kamu adalah yang bertanggung jawab atas semuanya. Kamu yang sudah menghancurkan semuanya," tegas Rania menunjuk tepat di wajah Gilang.


" Aku sangat kecewa kepadamu Gilang, kamu sudah menghancurkan segalanya," ucap Rania dengan penuh kebencian dan langsung pergi dari hadapan Gilang. Pria yang di percayai nya yang juga sudah mematahkan dirinya.


" Rania tunggu!" teriak Gilang memanggil Rania. Namun Rania tidak peduli dan tetap memasuki rumahnya.


" Rania, Rania, dengarkan aku dulu. Kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita secara sepihak. Kamu tidak bisa melakukan semua itu Rania. Tidak bisa Rania," teriak Gilang yang tidak ada mempedulikannya. Bahkan Rania sudah terlihat memasuki rumahnya.


" Ahhhhh, sial," sahut Gilang meremas rambutnya frustasi yang tidak bisa membujuk Rania. Rania juga tidak bodoh yang percaya-percaya saja dengan kata-kata Gilang dan sekarang Gilang dan rencananya berantakan semuanya dengan batalnya pernikahan itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2