
Mendapat lemparan dari Willo yang akhirnya semua orang melihat Rudi dengan penuh menunggu jawaban dari Rudi. Rania juga melihat ke arah papanya yang ingin juga tau apa papanya akan meluruskan semuanya atau malah membela Willo yang menuduhnya yang tidak-tidak.
" Pa, Rania mohon sekali ini saja. Tolonglah bijaksana dalam bertindak," batin Rania yang berharap banyak pada papanya.
" Papa harus bicara yang tegas agar masalah ini tidak semakin kacau," batin Della yang juga menjatuhkan harapan yang banyak.
" Lihatkan. Seorang ayah saja. Tidak mampu bicara yang berarti kalian sudah tau jawabannya," sahut Willo lagi. Rudi memang diam tanpa menjawab apa-apa.
Hal itu membuat air mata Rania kembali jatuh dengan matanya yang sangat penuh kekecewaan.
" Papa memang tidak pernah menyayangiku. Bahkan dia menganggap aku seperti yang di tuduhkan oleh kak Willo," batin Rania dengan derain air matanya yang merasa kecewa dengan papanya yang tidak bisa bijaksana.
Sementara Rendy terus melihat ke arah Rania yang menangis dalam diam. Tanpa melawan. Tetapi dia bisa melihat wanita itu benar-benar sangat lelah.
" Ternyata benar-benar wanita tidak beres, Gilang bisa-bisanya terjebak dengan dia dan bahkan Rendy akan menjadi korbannya," batin Anisa.
" Kasian Rania yang harus di perlakukan seperti ini," batin Zahra yang prihatin.
" Kenapa kak Rania tidak bicara sama sekali. Padahal aku sangat yakin dia bukan wanita seperti itu," batin Nia yang melihat Rania diam tanpa ada pembelaan.
" Sudah cukup! semua ini tidak ada gunanya lagi. Aku tidak sudi menjadikannya menantu," sahut Iren mengambil keputusan yang membuat semuanya kaget.
" Mbak," sahut Ratih.
" Mah, apa yang mama katakan," sahut Gilang. Sementara Rania sudah pasrah dan Willo menyimpan senyum untuk hal itu.
" Semua sudah jelas. Kamu tidak bisa menikahi dengan wanita ini. Mau jadi apa keluarga kita nanti. Jadi jangan mencari ulah," tegas Iren.
" Ini hanya salah paham mbak," sahut Faridah.
" Tidak ada yang salah paham. Semua sudah jelas dan siapa kalian. Ayo kita pergi dari sini," ucap Iren memutuskan, mengambil tasnya dengan cepat.
" Ayo pergi," ajaknya menegaskan yang melangkah duluan.
" Mbak, tunggu sebentar," sahut Faridah masih berharap banyak. Tetapi Jaya pun ikut menyusul istrinya yang juga Anisa pun ikut.
" Ma, tunggu dulu," sahut Gilang yang mengejar mamanya.
" Maaf ya mbak kami permisi dulu," ucap Ratih pamit.
" Maafkan semua ini," ucap Faridah.
" Tidak apa-apa," sahut Ratih yang berpamitan dengan sopan. Bahkan dia masih sempat memeluk Rania seperti memberi kekuatan untuk Rania.
" Tante pulang ya," ucap Ratih. Rania menganggukkan matanya.
Rendy, Zahra, dan Nia, masih dengan sopan menyalam punggung tangan Faridah dan Rudi.
__ADS_1
" Aku balik dulu," ucap Zahra pada temannya. Rania mengangguk. Lalu mereka pun pergi.
**********
" Ma tunggu!" panggil Gilang menghentikan tangan mamanya dengan memegang tangan sang mama sehingga Iren berhenti.
" Ma. Kita nggak bisa pergi begitu saja," ucap Gilang.
" Apa lagi. Mama tidak mau kamu menikah dengan wanita itu," sahut Iren menegaskan.
" Ma. Tidak ada alasan untuk tidak menikah dengan Rania," sahut Gilang yang tetap ngotot ingin menikah dengan Rania.
" Kamu buta dan tuli dengan apa yang kamu lihat hah tadi apa belum cukup membuktikan apa-apa jika wanita itu. Wanita yang tidak beres," ucap Iren.
" Ma, itu tentu tidak benar," sahut Gilang.
" Gilang kamu ya," geram Iren.
" Sudah-sudah," sahut Jaya yang sudah datang bersama yang lainnya.
" Kita bicara di rumah, jangan buat keributan di sini," ucap Jaya.
" Benar, mbak. Sebaiknya kita pulang dulu. Kita menenangkan diri dulu. Kita bicara dan bicara di rumah dengan kepala dingin," ucap Ratih menyarankan.
Iren mencoba tenang dan langsung masuk mobil dengan penuh kekesalan.
" Rendy, Zahra, Nia, Anisa ayo masuk!" perintah Ratih. Mereka pun mengangguk dan memasuki mobil yang satunya. Ada mobil Randy dan ada Gilang.
" Ma, kunci mobil Rendy tertinggal di dalam. Rendy ambil dulu," ucap Rendy yang baru menyadari. Ratih mengangguk dan Rendy langsung masuk kedalam rumah.
********
Kepergian keluarga Gilang membuat Willo tersenyum manis.
" Mampus kamu Rania memang enak," batin Willo tersenyum penuh kemenangan.
" Apa kakak puas," sahut Rania yang baru mengeluarkan suaranya.
" Apa yang aku katakan salah. Apa yang aku katakan memang kenyataannya. Kamu wanita murahan yang merusak rumah tangga orang," teriak Willo.
" Kakak yang murahan. Cara bicara kakak. Benar-benar sangat kampungan. Kakak yang punya masalah dengan suami mu. Tapi kamu malah melibatkan ku dan mengacaukan semuanya. Jadi siapa yang murahan," sahut Rania yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
" Rania cukup!" gertak Rudi. Rania mendengus mendengarnya.
" Papa bisa bersuara. Aku kira tidak. Sedari tadi dia," tunjuk Rania pada Willi. " Berbicara yang tidak-tidak di depan orang yang akan menjadi keluargaku dan papa malah diam dan tidak bisa membentak seperti ini," sahut Rania marah-marah kepada Rudi yang tidak bisa bijaksana.
" Sekarang aku benar-benar sadar. Kenapa aku bisa mempunyai kakak yang tabiatnya seperti yang ternyata berasal dari orang tuanya," tegas Rania.
__ADS_1
" Rania!" Bentak Rudi kepancing emosi.
" Kamu benar-benar tidak bisa menjaga mulut kamu," teriak Rudi.
" Mulut siapa yang tidak bisa di jaga. Jika mulutku seperti ini. Karena aku mempunyai kakak dan juga papa yang seperti itu," teriak Rania.
Plakkkkkkk.
Rudi pun kembali melayangkan tangannya untuk Rania. Di tempatnya Rania bersamaan datangnya dengan Rendy yang ingin mengambil kunci mobilnya dan melihat Rania ditampar.
Sementara Willo tersenyum miring melihat Rania yang mendapat pukulan. Siapa yang membuat masalah siapa yang di tampar.
" Mas sudah cukup," sahut Farida schok.
" Anak ini sangat kurang ajar," ucap Rudi yang langsung pergi. Dan Rania hanya diam mendapat pukulan dengan memegang pipinya yang merah.
" Nak Rendy," ucap Faridah melihat Rendy datang tiba-tiba.
" Maaf Tante. Saya hanya ingin mengambil kunci mobil," ucap Rendy.
" Silahkan," sahut Faridah. Rania melihat Rendy langsung mengusap air matanya dan langsung pergi. Rendy hanya melihat kepergian Rania.
Dark hatinya yang paling dalam. Pasti merasa sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Rania yang pasti sangat memprihatinkan.
" Saya permisi!" ucap Rendy pamit. Faridah mengangguk.
" Kamu benar-benar keterlaluan Willo. Kapan kamu tidak membuat ulah. Kamu sudah mempermalukan keluarga," ucap Faridah benar-benar emosi dengan Willo.
" Mama selalu...
" Cukup," sahut Faridah tidak ingin mendengar Willo. Tidak ada gunanya bicara dengan kamu," tegas Faridah langsung pergi.
" Mah," panggil Willo dan Willo melihat suaminya sudah duduk dengan teler membuatnya kesal.
" Isssss," desisnya dan langsung pergi meninggalkan suaminya yang terkapar tanpa ada mempedulikannya.
**********
Rania memasuki kamarnya dan duduk dipinggir ranjang dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Lalu mengusap wajahnya sampai kepucuk kepalanya dengan air matanya yang masih mengalir.
" Kenapa semua ini terjadi lagi. Apa memang iya aku tidak pantas untuk menikah. Apa aku tidak pantas untuk bahagia. Kenapa harus aku lagi. Kenapa semuanya harus menimpaku," ucap Rania menangis terisak-isak yang sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Di mana pernikahannya akan kembali batal.
" Tuhan. Apa dosa yang aku lakukan. Sampai kau tidak bisa melihatku bahagia. Apa yang sudah aku lakukan. Sampai semuanya seperti ini. Aku selalu mendapatkan semua ini. Aku selalu di salahkan. Tidak ada orang tua yang ingin aku menjadi menantunya. Dosa apa yang aku lakukan. Sampai aku mendapatkan semua ini," ucap Rania yang mengeluhkan kembali kondisinya. Semua yang di alaminya membuatnya benar-benar putus asa.
" Aku lelah. Aku benar-benar lelah dengan semua ini, aku sangat lelah," ucapnya lagi yang terus mengusap wajahnya, beberapa kali menyeka air matanya. Menangis terisak-isak meratapi nasibnya yang tidak pernah sesuai harapannya.
Bersambung....
__ADS_1