
Ternyata walau Agam marah. Anisa tetap pergi menemui mamanya. Tujuannya hanya ingin memberi kabar kehamilannya dari pada mamanya tau terlebih dahulu dan bisa-bisa mamanya juga akan tau jika dia sudah hamil sebelum menikah. Walau perasaan Anisa tidak tenang. Karena pertengkaran tadi pagi.
Begitu sampai di rumah itu. Raisa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu langsung memasuki rumah tanpa mengetuk pintu.
" Assalamualaikum," sapa Anisa ketika sudah memasuki rumah.
" Walaikum salam," sahut Sarah, Ratih, Zahra yang kebetulan ada di ruang tamu.
" Anisa!" sahut Sarah yang tidak percaya dengan kedatangan anaknya yang semenjak menikah tidak pernah di temuinya.
" Mama," ucap Anisa yang langsung memeluk mamanya.
" Ya ampun Anisa mama kangen sekali sama kamu," ucap Sarah yang benar-benar begitu bahagia ketika bertemu dengan Anisa.
" Iya mah, Anisa juga," sahut Anisa melepas pelukan itu. Anisa juga menyalam Ratih dan Ratih memeluknya dan juga Anisa menyapa Zahra.
" Agam tidak ikut Anisa?" tanya Ratih.
" Tidak Tante, dia lagi ada pekerjaan," jawab Anisa bohong padahal dia dan suaminya itu sedang bertengkar.
" Begitu rupanya," sahut Ratih.
" Ayo Anisa kamu duduk sayang," ucap Sarah membawa Anisa duduk di sampingnya.
" Kamu terlihat kurusan apa Agam tidak memperlakukanmu dengan baik," ucap Sarah yang mengamati tubuh Anisa yang begitu kurus.
" Dia memperlakukanku dengan baik ma," sahut Anisa.
" Tapi mama tidak percaya," sahut Sarah. Rania menuruni anak tangga dan melihat ada Anisa yang datang.
" Anisa," batin Rania yang melanjutkan menuruni anak tangga.
" Rania kamu apa kabar?" tanya Anisa begitu melihat Rania.
__ADS_1
" Aku baik-baik saja," jawab Rania tersenyum tipis yang ikut duduk di samping Zahra.
" Anisa kamu tumben sekali datang apa ada hal penting?" tanya Zahra.
" Iya, aku kemari ingin memberikan kabar bahagia," sahut Anisa.
" Apa itu?" tanya Sarah. Anisa menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Mah, sebentar lagi mama akan jadi nenek," ucap Anisa. Sarah kaget mendengarnya, begitu juga dengan Ratih, Rania dan Zahra yang terkejut mendengar kabar bahagia itu.
" Apa maksud kamu. Apa kamu hamil," sahut Sarah. Anisa mengangguk tersenyum.
" Alhamdulillah," sahut semuanya serentak yang ikut mendengar kabar bahagia itu.
" Kamu serius?" tanya Sarah yang tidak percaya. Anisa mengangguk membenarkan pernyataan yang iya katakan.
" Ya ampun Anisa ini sungguhan mama senang sekali mendengarnya," sahut Sarah yang langsung memeluk Anisa.
" Anisa kamu benar-benar wanita yang sempurna. Karena memang wanita yang bisa hamil adalah wanita yang sempurna yang bisa memberikan kebahagian untuk suaminya," ucap Sarah yang tiba-tiba membuat senyum Rania memudar.
" Ya Pria yang menikah dengan wanita yang tidak bisa memberinya anak adalah pria yang hidupnya penuh kesialan dan Agam harus beruntung dari pada Rendy," lanjut Sarah yang menyindir tidak tanggung-tanggung langsung sebut nama. Zahra dan Ratih langsung melihat ke arah Rania yang sepertinya sedih mendengar kata-kata itu.
" Mama itu bicara apa sih. Kenapa bawa-bawa nama Rendy," sahut Anisa yang tau tujuan perkataan mamanya untuk menyakiti hati Anisa.
" Kan mama memang benar. Iya kan mbak. Coba aja dari dulu Anisa sama Rendy menikah sekarang kita pasti sudah menimang cucu. Lihat Anisa menikah dengan Agam baru satu bulan dan lihatlah aku sebentar lagi jadi nenek, sementara Rania dan Rendy yang sudah menikah lama belum bisa mengandung dan bahkan di vonis tidak bisa memiliki anak," ucap Sarah yang memang benar-benar menyakiti hati Rania.
" Sarah apa yang kamu bicarakan," sahut Ratih.
" Kenyataan yang aku bicarakan. Kamu tidak sakit hatikan Rania. Kan itu kebenarannya mana mungkin kamu sakit hati. Itu hanya kesadaran untuk kamu," sahut Sarah yang terus berkata yang menyakitkan Rania.
" Mama sudahlah!" tegur Anisa.
" Anisa mama itu hanya ingin mengatakan pada Rania agar dia tidak egois. Jika tidak bisa memberikan kebahagian, keturunan kepada suami. Maka lepaskan dia. Rendy berhak bahagia dengan menikah pada wanita lain. Dia berhak hidup bahagia. Jadi jangan egois," sahut Sarah yang mulutnya memang tidak bisa di jaganya dan Rania akhirnya meneteskan air mata yang menyadari kekurangannya.
__ADS_1
" Sarah apa yang kamu bicarakan. Kamu jangan bicara yang tidak kamu bicarakan," sahut Ratih menggertak yang mana Sarah sudah kelewatan pada Rania.
" Mah, sudahlah, itu memang benar," sahut Rania yang merasa sesak sampai kesulitan bicara.
" Lihat mbak, benarkan apa yang saya katakan. Rania juga menyadarinya. Mungkin dosanya terlalu banyak sampai di hukum tidak bisa memiliki keturunan dan lihat masih begitu egois menginginkan suaminya. Rania dalam kehidupan itu hanya di perlukan keturunan. Kamu lihat Anisa yang sudah hamil dan coba aja dia menikah dengan Rendy pasti hidup Rendy jauh lebih bahagia yang memiliki anak dan tidak seperti kamu yang tidak bisa memberikan Rendy keturunan," ucap Sarah dengan menegaskan tanpa ampunan bicara pada Rania.
" Cukup!" bentak Rendy yang tiba-tiba datang dan mendengar semua penghinaan itu pada istrinya.
Sarah dan semua orang melihat ke arah Rendy kecuali Rania yang tetap duduk dengan tubuh bergetar dan air mata yang mengalir deras. Rendy yang penuh kemarahan langsung berjalan mendekati ruang tamu.
" Rendy!" lirih Sarah.
" Mama selalu aja cari masalah," batin Anisa yang terlihat pusing menghadapi mamanya yang tidak pernah berubah sama sekali.
" Apa yang Tante katakan pada istriku," ucap Rendy dengan menekan suaranya yang masih menahan amarahnya.
" Tante hanya mengatakan apa yang benar," sahut Sarah.
" Tante, tolong pergi dari rumah ini," usir Rendy dengan suara rendah dengan mata yang tajam pada Sarah. Mendengar kalimat Rendy membuat semua orang kaget termasuk Anisa.
" Rendy kamu mengusir Tante," sahut Sarah yang tidak percaya.
" Aku mohon pergi dari rumah ini sebelum matahari tenggelam. Aku tidak bisa membuat istriku tinggal 1 rumah yang tidak bisa menghargainya dan pergilah dari sini," tegas Rendy yang tanpa banyak bicara langsung mengusir Sarah dengan terang-terangan
Ratih, seakan tidak bisa berbuat apa-apa. Ya menurutnya wajar Rendy semarah itu dan langsung mengusir Sarah.
" Rendy ini hanya masalah kecil dan kamu mengusir Tante," sahut Sarah.
" Cukup!" bentak Rendy, " aku bilang keluar dari rumah ini. Bagiku siapa yang menyakiti istriku. Aku tidak akan membiarkannya ada di sini!" tegas Rendy yang penuh dengan emosi.
Rendy langsung menghampiri Rania memegang tangan Rania dan langsung membawa Rania pergi dari ruang tamu dan Rania mengikut saja. Hatinya yang hancur memang sangat membutuhkan suaminya ada di sisinya.
Bersambung
__ADS_1