Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 11 cecar pertanyaan.


__ADS_3

Rania benar-benar terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia juga tidak bisa menjawab langsung.


" Bukan apa-apa, Rania, kan kamu juga tau. Gilang sibuk mengurus perusahaan, ya kalau kamu juga sibuk bekerja. Itu berarti kamu tidak akan bisa mengurus rumah tangga. Untuk apa kalian menikah. Kalau kalian sibuk masing-masing," lanjut Iren tanpa basa-basi bicara.


" Rania. Gilang jelas menikah. Agar ada yang mengurusnya. Bukan malah sebaliknya atau malah yang bisa-bisa kamu nanti yang bakal merepotkan Gilang," lanjut Iren dengan ketus yang memang bicara apa adanya.


Susana di ruang tamu menjadi tegang dengan perkataan Iren yang sangat menusuk itu. Sementara Rania masih diam mematung dan Willo tersenyum miring mendengarnya dan Willo dan Rendy juga tampak resah dengan bicara tantenya yang mungkin berlebihan.


" Mbak, nanti saja kita bicarakan hal itu, yang mungkin Gilang dan Rania sudah membahas masalah itu," sahut Ratih berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung.


" Ya kan harus di bahas juga, kan bukannya itu hal yang penting dan bahkan menjadi bahan paling penting," sahut Iren yang tetap ingin membahas masalah itu.


" Mah, sudahlah," tegur Gilang pelan.


Iren langsung mengkerutkan bibirnya. Sementara Rania diam tanpa mampu bicara apa-apa. Karena memang hal itu belum di bahasa dan mana mungkin juga dia meninggalkan pekerjaannya.


" Syukurin lo emang enak di permalukan di depan semua orang," batin Willo yang menikmati suasana di ruang tamu itu.


" Ehemm," Faridah berdehem. " Mbak, kayaknya makannya sudah dingin. Bagaimana kalau kita makan dulu, mungkin kalian juga sudah lapar," ucap Farida mengalihkan pada makanan, agar calon besannya itu tidak mencecar putrinya dengan pertanyaan yang banyak.


" Oh, iya, jelas, kami juga sudah lapar," sahut Ratih yang mendukung. Agar suasana ketegangan bisa di kendali dengan baik.


" Mari ke meja makan," ajak Rudi.


" Iya, mas. Ayo ma," sahut Jaya. Dengan tidak ikhlas Iren berdiri yang tampak sangat sewot dengan Rania.


Satu per satu orang yang di ruang tamu itu pun berdiri. Termasuk juga Rendy, sementara Rania dan Gilang masih berada di ruang tamu.


" Rania maafkan mama aku," ucap Gilang merasa tidak enak.


" Kamu memang tidak cerita pada mama kamu dengan Benar-benar siapa aku dan bagaimana keluarga ku?" tanya Rania.


" Aku rasa itu tidak perlu," sahut Gilang.

__ADS_1


" Itu jelas perlu Gilang, agar kejadiannya tidak seperti ini. Apa lagi yang harus aku jawab, jika mama kamu bertanya-tanya lagi," ucap Rania yang seketika panik.


" Kamu tenang ya. Tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Gilang yang mencoba menenangkan Rania agar tidak cemas.


" Entahlah, aku tidak tau bisa tenang atau tidak," sahut Rania yang memijat kepalanya dan langsung pergi menyusul ke meja makan.


Bicara dengan Gilang juga tidak ada gunanya. Kerena dia mengira Gilang sudah menceritakan dia apa adanya dengan keluarganya yang ternyata tidak sama sekali.


********


Mereka mulai menikmati makanan yang sudah di hidangkan dan Farida jelas turun tangan sendiri untuk memasak. Agar calon besannya itu tidak kecewa.


" Ayo mbak di tambah lagi makanannya. Maaf jika makanan kami tidak sesuai selera," sahut Farida menjamu dengan baik.


" Tidak mbak, ini sudah sangat enak," sahut Ratih.


" Rania apa kamu bisa memasak?" tanya Iren


" Rania tidak bisa memasak Tante, dia sibuk bekerja, jadi mana sempat untuk memasak," sahut Willo yang mengambil alih menjawab dengan menyudutkan Rania.


" Ya ampun kenapa mulut kakaknya Rania sejahat itu," batin Zahra geleng-geleng melihat aura tidak menyenangkan di wajah Willo yang tampak jelas tidak menyukai Rania.


" Kalau tidak bisa memasak. Gilang nanti akan makan apa. Masakan bibi terus yang menyiapkan segalanya," sahut Iren dengan sindiran.


" Tetapi kalau Gilang tidak keberatan Mbak. Bukankah tidak akan ada masalah," sahut Ratih yang terus membuat suasana tidak terlalu tegang.


" Tante, Ratih benar. Masalah memasak itu tidak terlalu penting," sahut Gilang membela Rania.


" Ya tetap saja wanita yang bisa memasak itu akan lebih baik," sahut Iren.


" Jika mau belajar tidak akan ada masalah kan Iren," sahut Oma Saraswati yang baru mengeluarkan suaranya.


" Ya apa belajar akan sempat, kalau sudah menikah belaja. Tidak ada gunanya lagi," sahut Iren dengan wajah julit nya.

__ADS_1


" Maklumlah, Tante, Rania kebanyakan bekerja. Sibuk sana-sini. Jadi jelas tidak bisa melakukan hal yang biasa di lakukan. Jangankan memasak, membersihkan kamarnya sendiri saja, mungkin dia harus banyak belajar," sahut Willo yang terus memojokkan Rania.


Rania beberapa kali membuang napasnya kedepan. Dia benar-benar menahan kesabaran dengan mulut kakaknya yang tidak bisa di kendalikan.


" Willo, Diamlah," sahut Farida menegur Willo yang sedari tadi banyak bicara.


" Mari Mbak, kita lanjutkan makannya," ucap Rudi.


" Ya ampun wanita seperti apa yang akan di nikahi Gilang," batin Iren yang gelengkan kepala.


" Jadi wanita yang di nikahi Gilang, tidak bisa apa-apa," batin Anisa


Merekapun melanjutkan makan mereka. Perasaan Rania tidak enak. Sudah tau calon mertuanya memberinya banyak pertanyaan yang menyudutkan dan di tambah lagi dengan sang kakak yang yang semakin memojokkannya.


Jadi makan Rania pun sudah tidak bersemangat lagi. Sementara Rendy hanya makan dengan tenang dan Rania bahkan merasa malu di depan Rendy sampai matanya kembali melihat ke arah Rendy.


" Apaan sih nih cewek. Kenapa coba matanya tidak lepas dari Rendy. Jangan-jangan mereka punya hubungan gelap lagi. Tapi tidak mungkin Rendy seperti itu. Kalaupun iya. Pasti wanitanya yang kegatelan," batin Anisa yang tampak tidak suka dengan Rania.


" Apa aku kembalikan sekarang ya seragamnya dia," batin Rania yang fokusnya sekarang berpindah. Dia bahkan tidak memikirkan lagi apa-apa yang di katakan calon mertuanya itu.


Sekarang dia malah memikirkan tentang pakaian Dokter Rendy yang ada padanya.


************


Makan malam berakhir. Ternyata makan malam itu tidak se indah apa yang di pikirkan Rania. Bahkan tidak ada pembahasan pernikahan di sana.


Mungkin ada keraguan pada keluarga Gilang sampai tidak ada pembicaraan pernikahan dan akan ada pertemuan serius yang akan di lakukan yang mungkin akan membicarakan pernikahan.


Ya pasti orang tua Gilang ragu dengan dirinya. Apalagi di tambah sang kakak yang menjelek-jelekkannya. Seakan dia manusia yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Tapi ya gimana Willo memang mempunyai tabiat buruk. Dia yang tidak pernah menyukai Rania. Jadi wajar saja Willo mau suka-sukanya dan jelas itu bukan yang pertama kali.


Rania hanya bisa sabar, karena jika dia membantah sang kakak yang ada Willo akan membuat ke gaduhan lebih banyak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2