
Pagi hari mereka semua sudah siap-siap untuk kembali ke Jakarta untuk penerbangan mereka memang pagi jam 10. Jadi jam 8 mereka sudah siap-siap.
Mobil yang membawa mereka pun sudah berada di depan Vila yang akan mengantarkan mereka ke Bandara. Elang dan Rendy ikut membantu memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil. Sementara Rudi menggendong Willo mengangkatnya dari kursi roda dan memindahkannya memasuki mobil yang di bantu oleh Rania.
" Ayo Lulu, Dedy kalian naik terlebih dahulu!" perintah Rania. Lulu dan Deddy mengangguk dan menaiki mobil di bagian bekalang yang juga bersama suster yang selalu menjaga mereka.
" Papa juga naik saja. Biar mereka yang memasukkan kursi rodanya nanti!" ucap Rania. Rudi mengangguk dan akhirnya menaiki mobil terlebih dahulu.
" Ayo Oma, mama juga naik!" titah Rania lagi yang benar-benar mengatur orang-orang untuk duduk di atas tempat tidur.
" Iya Rania kamu juga. Jangan lama-lama berdiri nanti kaki kamu sakit," sahut Ratih mengingatkan Rania hanya tersenyum mendengarnya. Setelah Oma Wati dan Ratih naik. Di susul oleh Anisa, Raisa dan juga Della yang memenuhi tempat duduk mereka.
" Kamu juga Zahra masuklah!" perintah Rania. Zahra mengangguk dan akhirnya memasuki mobil. Sementara Rania masih menunggu suaminya yang masih sibuk dengan koper-koper tersebut
Setelah itu Elang duduk di bagian paling depan bersama dengan supir.
" Ayo sayang masuk!" titah Rendy pada istrinya. Rania menganggu dan memasuki mobil yang kemudian di susul Rendy bersama dengan menutup pintu.
" Apa semuanya sudah masuk?" tanya Rendy.
" Sudah," jawab semuanya serentak.
" Yakin tidak ada yang tinggal lagi kan?" tanya Ratih memberi ingat.
" Iya tidak ada lagi," jawab semuanya serentak.
" Baiklah, kalau memang begitu sekarang kita akan melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang kejakarta. Sebelum kita berangkat. Jadi ada sebaikknya kita berdoa dulu. Berdoa di mulai!" ucap Rendy yang memimpin doa langsung semuanya mengadakan tangan ke atas memohon doa keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan.
" Amin," sahut Rendy. Semua mengucapkan Amin dengan mengusap wajah mereka.
__ADS_1
" Baiklah kita berangkat. Jalan pak!" titah Rendy.
Supir pun menjalankan mini bus itu menuju bandara. Rendy melihat ke arah Rania dengan menautkan 5 jarinya pada 5 jari Rania menggenggam erat dengan Rania menyandarkan kepalanya di bahu Rendy. Rendy juga tidak akan lupa untuk tidak mencium pucuk kepala istrinya tersebut.
Sementara Anisa yang duduk di samping jendela melihat ke arah jalanan di bagian ujung ternyata dia melihat Agam yang berdiri di samping mobil Agam. Anisa dan Agam saling melihat dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Tidak tau kapan dan kenapa Agam bisa berada di sana. Mungkin dia juga ingin melihat kepergian Anisa. Namun Anisa tersendiri juga tidak percaya jika Agam benar-benar ada di sana.
Tidak biasanya jika melihat Agam Anisa akan kesal atau bahkan mungkin akan membuang muka, najis melihat Agam. Tetapi kali ini tidak sama sekali Anisa bahkan melihat terus dengan tatapan sendu.
Jauh semakin jauh dan dan sampai Agam sudah tidak terlihat lagi. Wajah Anisa bahkan menggambarkan keresahan, kesedihan dan tidak begitu jelas dengan apa yang ada di hatinya.
Ternyata Anisa yang seperti itu di perhatikan oleh Zahra yang berada di sampingnya yang mana Zahra juga melihat Agam. Zahra pasti kebingungan dengan Anisa dan juga Agam yang malah saling lihat-lihatan.
" Mereka ada hubungan apa sih sebenarnya. Apa mungkin memang mereka ada hubungan special. Tapi sepertinya memang ada karena jika tidak ada mana mungkin ke-2nya bisa seperti itu. Kemarin malam aku juga melihat Agam mengantarkan Anisa bahkan mereka pergi berduan seharian," batin Zahra yang penuh tanda tanya yang tidak mengerti dengan teka-teki hubungan Anisa dan juga Agam. Dia hanya menebak-nebak saja dengan hubungan yang penuh misteri itu.
************
Sementara Agam yang tetap berdiri di samping mobilnya melihat mini bus yang membawa Anisa dan rombongan sudah semakin jauh dan bahkan sudah tidak terlihat lagi.
" Mungkin memang benar ini pertemuan terakhir kita. Aku memang pengecut yang melakukan cara pecundang untuk mendapatkanmu. Aku tidak berpikir panjang dan hanya mementingkan diri ku sendiri. Aku benar-benar sangat brengsek," batin Agam yang memang sungguh-sungguh menyesali apa yang terjadi.
Dia hanya menganggap hubungan intim tanpa ikatan pernikahan itu biasa saja dan hal spele baginya. Tetapi setelah melakukan itu pada Anisa dia langsung menyesal dan menyadari jika dirinya memang pria yang brengsek. Bahkan dia sudah tidak berani lagi mengganggu Anisa.
*************
Setelah melakukan perjalanan. Akhirnya mereka semua sudah tiba di Jakarta. Mereka di jemput supir yang mengantarkan rombangan untuk pulang kerumah. Untuk keluarga Pak Rudi juga langsung pulang kerumahnya yang tidak singgah lagi di rumah Ratih.
Karena memang mereka juga sampainya menjelang malam. Jadi mereka memilih untuk langsung pulang. Widia dan yang lainnya juga sudah tiba di rumah. Art dan supir membantu mengeluarkan koper. Memasukkan koper kedalam rumah.
__ADS_1
" Aku kekamar dulu," sahut Anisa yang pergi begitu saja. Yang lainnya hanya mengangguk.
" Kenapa aku merasa Anisa mendadak menjadi pendiam belakangan ini," batin Rania yang ternyata menyadari perubahan dari Anisa.
" Sayang, kita juga istirahat yuk," sahut Rendy mengajak istrinya.
" Iya," sahut Rania mengangguk.
" Kami istirahat duluan ya ma," ucap Rania.
" Iya Rania," sahut Ratih. Rania dan Rendy pun pergi menuju kamar mereka.
Zahra dan Elang pun begitu. Semuanya satu persatu memang langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena sudah lelah dan lain sebagainya. Jadi bawaannya mengantuk dan ingin tidur.
**********
Hal itu ternyata tidak berlaku untuk Rania. Suaminya yang berada di kamar mandi yang sepertinya sedang mandi. Sementara Rania membongkar koper mengeluarkan isinya memisahkan pakaian kotor dan bersih. Rania tidak ada lelahnya seperti tidak ada hari esok saja.
Rendy keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya yang begitu sibuk membuat Rendy harus membuang napasnya kasar kedepan.
" Sayang, besok saja. Kamu istirahat cepat," ucap Rendy yang pasti marah jika melihat Rania.
" Nggak apa-apa tanggung sebentar lagi," sahut Rania yang tetap melakukan pekerjaannya. Tidak mendengar tanggapan Rendy membuat Rania melihat ke arah suaminya dan iya Rania sudah mendapat tatapan horor dari suaminya.
" Iya sayang," sahut Rania yang langsung menghentikan pekerjaannya. Di tatap seperti itu baru mendengarkan apa kata suaminya.
" Aku bersih-bersih sebentar di kamar mandi," ucap Rania yang melewati suaminya dengan tersenyum. Rendy hanya geleng-geleng saja.
Bersambung
__ADS_1